1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
Konflik

Iran Serang Pangkalan Militer AS, Harga Minyak Melonjak

8 Januari 2020

Iran menyerang dengan puluhan rudal ke dua pangkalan militer AS di Irak, termasuk pangkalan udara Ain Assad. Presiden AS Donald Trump menyatakan, situasi pasukan AS di Irak "dalam keadaan baik".

https://p.dw.com/p/3Vsod
Irak Militärbasis
Foto: picture-alliance/AP Photo/N. Nasser

Rabu (08/01) waktu setempat, Iran menembakkan puluhan rudal ke pangkalan udara di Irak yang menjadi markas militer AS. Ini merupakan aksi serangan balas dendam Iran atas pembunuhan pejabat tinggi militer Iran, Jenderal Qassem Soleimani oleh AS dalam serangan roket di Baghdad, Jumat (02/01).

Walaupun tidak menyebut langsung Iran, militer Irak dalam pernyataannya secara rinci menyebutkan ada sebanyak 22 rudal ditembakkan ke markas milter AS di Irak pada Rabu (08/01) dini hari waktu setempat.

"Di antara pukul 1:45 am hingga 2:15 am, Iraq dihantam 22 misil, 17 jatuh di pangkalan udara Ain al-Assad dan lima di kota Arbil," jelas seorang pejabat tinggi militer Irak seperti dikutip dari kantor berita AFP.

"Tidak ada korban dari pasukan Irak," dia menambahkan.

Menteri Pertahanan Iran, Amir Hatami, dalam pernyataannya mengatakan aksi balasan Iran terhadap AS telah dilakukan secara terukur.

"Kami menggunakan rudal jarak pendek... Saya harap ini akan menjadi pelajaran berharga bagi Amerika," papar Hatami.

"Respon Iran akan sebanding dengan apa yang Amerika lakukan," lanjutnya. Hatami juga menyebut bahwa Presiden AS Donald Trump telah mengubah Amerika menjadi pemerintahan teroris.

Baca jugaJerman dan Uni Eropa Terjepit di Tengah Krisis AS-Iran

Serangan ini makin meningkatkan ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran. Meruncingna konflik ini membuat harga minyak di pasaran dunia melonjak lebih dari 4,5% menjadi US$ 65,54 per barrel.

"Harga minyak dunia melonjak dan ini memberi keuntungan bagi Iran. Amerika harus berhenti mengganggu wilayah kami dan membiarkan masyarakat kami hidup," ujar Menteri Perminyakan Iran, Bijan Zanganeh.

"All is well!"

Serangan Iran ke Irak ditanggapi Presiden AS Donald Trump lewat di akun Twitter-nya. Trump mengatakan bahwa sejauh ini keadaan markas militer AS di Irak dalam keadaan baik-baik saja. Amerika memiliki pasukan militer terkuat dengan persenjataan terbaik di dunia, tulis Trump. Ia berjanji akan memberikan keterangan lebih lanjut pada hari Kamis (09/01) pagi.

Kementerian Pertahanan AS Pentagon dalam pernyataannya mengatakan, belum ada laporan korban jiwa, dan mereka masih menaksir besarnya kerusakan yang ditimbulkan akibat serangan tersebut.

Pentagon mengatakan serangan yang dilakukan Iran menargetkan pangkalan-pangkalan udara yang jadi markas militer AS serta pasukan koalisi internasional. Iran menyerang dengan menembakkan "lebih dari satu lusin rudal balistik." Pentagon juga telah menetapkan status siaga darurat terhadap markas-markas militer AS di Irak seiring meningkatkanya ketegangan antara AS dengan Iran.

Baca juga"Blunder" Militer AS Kirim Surat Penarikan Pasukan ke Irak, Seharusnya Tidak Dikirim

Rute penerbangan dialihkan

Dengan serangan rudal Iran ke markas militer AS di Irak, kemungkinan pecahnya konflik yang lebih besar dan luas makin terbuka. Berbagai maskapai penerbangan kini mengalihkan rute penerbangannya di Timur Tengah dan menghindari wilayah udara Iran maupun Irak.

Maskapai Jerman Lufthansa mengatakan, pihaknya sementara tidak akan terbang melintasi Iran dan Irak "hingga ada pemberitahuan lebih lanjut." Maskapai asal Australia, Qantas, juga harus merubah rute penerbangan London-Perth, untuk menghindari wilayah udara Iran dan Irak. Karena rute penerbangan jadi lebih panjang sekitar 40 sampai50 menit), pesawat Qantas hanya bisa mengangkut lebih sedikit penumpang dan membawa lebih banyak bahan bakar.

Baca jugaPesawat Ukraina Jatuh di Iran, Semua Penumpang Tewas

Maskapai asal Asia Tenggara, Malaysia Airlines dan Singapore Airlines juga mengatakan akan menghindari wilayah udara Iran.

Administrasi Penerbangan Federal AS FAA melarang pesawat dan pilot Amerika untuk melakukan penerbangan di wilayah udara Irak, Iran, dan Teluk Persia, demi menjaga keselamatan warga sipil AS yang hendak melakukan penerbangan.

rap/hp (dari berbagai sumber)