ISIS Terkepung di Kantong Terakhir "Kalifat Islam" di Suriah

Militan kelompok teror ISIS di Suriah terkurung di kantong terakhir "khalifat Islam" mereka di desa Baghouz. Mereka diberitakan menahan sekitar 2000 warga sipil sebagai "tameng hidup".

Para militan ISIS di Suriah kini terkepung di wilayah seluas kurang dari 500 meter persegi di desa Baghouz di Suriah timur dekat perbatasan ke Irak. Pasukan Demokratik Suriah (SDF) yang didukung militer AS mengatakan hari Minggu (17/2), mereka mencegah warga sipil melarikan diri dengan memblokir jalan keluar dari desa.

Seorang pejuang SDF mengatakan kepada kantor berita AFP, frekuensi yang digunakan para jihadis untuk berkomunikasi telah mati. "Sekarang mereka benar-benar terjepit dan mereka tidak memiliki banyak walkie talkie. Mereka tidak banyak berbicara satu sama lain," tambahnya.

Juru bicara SDF Mustefa Bali mengatakan, ISIS sekarang telah memblokir jalan-jalan keluar dari desa dan mencegah hingga 2.000 warga sipil melarikan diri. "Daesh sudah menutup semua jalan," katanya, menggunakan nama Arab untuk ISIS.

Warga sipil yang berhasil melarikan diri dari Baghouz memberitakan, militan ISIS menggunakan perempuan dan anak-anak "sebagai tameng hidup," kata Sean Ryan, juru bicara koalisi pimpinan AS.

Ribuan orang mengungsi dari Baghouz dalam beberapa pekan terakhir, namun tidak ada pengungsi baru yang tiba di tempat penampungan hari Minggu. Puluhan tenda yang disiapkan terlihat kosong. "Sudah sejak dua hari tidak ada lagi yang keluar," kata seorang anggota SDF kepada AFP.

Menlu UE bahas krisis Suriah dan tuntutan AS

Hari Senin (18/7), para menteri luar negeri Uni Eropa bertemu di Brussels untuk membahas krisis Suriah, terutama soal anggota ISIS asal dari Eropa yang berangkat ke Suriah dan sekarang ditahan berada dalam tahanan kelompok Kurdi. Para pemimpin Kurdi beberapa kali meminta pemerintah Eropa untuk menjemput warganya kembali ke negara asal mereka. Kebanyakan yang ditahan berasal dari Inggris, Prancis, Jerman, Irlandia, Kanada dan Italia, banyak juga yang ditahan  adalah perempuan dengan anak-anaknya.

Hingga kini negara-negara Eropa bereaksi lambat dan ingin memastikan lebih dulu identitas mereka yang ditahan di Suriah dan memastikan apakah kasus mereka bisa dibawa ke pengadilan di negara asalnya.

Presiden AS Donald Trump melalui Twitter mendesak negara-negara Eropa untuk segera menjemput sekitar 800 warganya yang bergabung dengan ISIS dan tertangkap di Suriah. "Amerika Serikat meminta Inggris, Prancis, Jerman dan sekutu Eropa lainnya untuk mengambil kembali lebih dari 800 pejuang ISIS yang kami tangkap di Suriah dan mengadili mereka," kata Donald Trump dan mengancam: jika tidak, "kita terpaksa akan membebaskan mereka."

Reaksi dari Paris dan Berlin

Di Jerman, sumber-sumber kementerian luar negeri mengatakan "pemerintah sedang memeriksa opsi untuk memungkinkan warga negara Jerman meninggalkan Suriah, terutama dalam kasus kemanusiaan". Namun Menteri Luar Negeri Heiko Maas menolak tuntutan Donald Trump. Selama tidak ada informasi dan proses penyidikan di Suriah, "sangat sulit untuk mewujudkan" tuntutan AS, kata Heiko Maas di televisi Jerman ARD hari Minggu (17/2).

Dia menegaskan, setiap warganegara Jerman pada prinsipnya punya hak untuk kembali ke negaranya. Namun di Suriah sulit untuk membuktikan kewargamegaraan seseorang. Jika ada anggota ISIS yang kembali, di Jerman harus segera dimulai penyelidikan, kata Maas. Untuk itu diperlukan cukup informasi dari Suriah.

Menlu Jerman Heiko Maas

Pejabat Kementerian Dalam Negeri Perancis Prancis, Laurent Nunez menolak tuntutan Trump dan mengatakan, di Suriah, "pihak Kurdi yang menahan mereka dan kami percaya pada kemampuan mereka untuk mengadili."

Jika mereka kembali, "mereka semua akan diadili dan dipenjara," sambungnya. Sebuah sumber Prancis mengatakan sekitar 150 warga negara Perancis, termasuk 90 anak-anak, sudah dipulangkan ke negaranya.

Penyesalan Para WNI Simpatisan ISIS

Tergiur janji manis

Banyak keluarga tergiur dengan janji kekalifatan Islamic State alias ISIS di Suriah dan Irak yang ditawarkan lewat internet. Harapan mendapat pendidikan dan layanan kesehatan gratis, upah tinggi dan jalani keislaman kekhalifahan mendorong gadis Indonesia memboyong keluarganya ke Suriah.

Penyesalan Para WNI Simpatisan ISIS

Sampai menjual properti

Keluarga Nurshardrina Khairadhania, bahkan sampai menjual rumah, kendaraan dan perhiasan untuk membiayai perjalanan mereka ke Raqqa, Suriah. Sesampainya di sana, kenyataan tak sesuai harapan. Tiap perempuan muda dipaksa menikahi gerilayawan ISIS. Semntara yang pria wajib memanggul senjata dan berperang. Nur dan bibinya masuk dalam daftar calon pengantin yang disiapkan buat para gerilyawan.

Penyesalan Para WNI Simpatisan ISIS

Beberapa bulan penuh derita

Beberapa bulan setelah menderita di Raqqa, Nur dan keluarganya melarikan diri dengan membayar penyelundup buat keluar dari wilayah ISIS. Neneknya meninggal dunia, pamannya tewas dalam sebuah serangan udara dan beberapa anggota keluarga lainnya dideportasi sejak baru tiba di Turki. Bersama ibu, adik dan sanak saudara yang lainnya Nur berhasil masuk kamp pengungsi Ain Issa, milik militer Kurdi.

Penyesalan Para WNI Simpatisan ISIS

Jalani interogasi

Para WNI pria yang lari dari ISIS pertama-tama diamankan militer Kurdi dan diinterogasi. Setelah perundingan panjang, kini mereka dipulangkan ke Indonesia dan jalani program deradikalisasi yang disiapkan pemerintah. Menyesal! Tinggal kata tersebut yang bisa dilontarkan.

Penyesalan Para WNI Simpatisan ISIS

Surga atau neraka?

Banyak relawan dari Indonesia yang ingin menjadi jihadis atau pengantin jihadis, untuk mengejar 'surga' yang dijanjikan Islamic State di Suriah atau Irak. Namun menurut mereka yang ditemui adalah 'neraka'

Penyesalan Para WNI Simpatisan ISIS

Nur: IS tidak sesuai kaidah Islam

Dalam wawancara dengan Associated Press, Nur menceritakan perilaku jihadis ISIS tidak sesuai kaidah Islam yang ia pahami. "ISIS melakukan represi, tak ada keadilan dan tak ada perdamaian. Warga sipil harus membayar semua hal, listrik, layanan keseahatan dan lainnya. Sementara jihadis ISIS mendapatkannya secara gratis."

Penyesalan Para WNI Simpatisan ISIS

Proses pemulangan

Banyak kalangan yang tergolong naif atau garis keras atau gabungan keduanya bergabung dengan ISIS, pada akhirnya menyerahkan diri atau ditangkap aparat keamanan. Pejabat Kurdi di Raqqa menyebutkan proses itu interogasi diperkirakan berlangsung hingga enam bulan, sebelum diambil keputusan bagi yang bersangkutan.

Penyesalan Para WNI Simpatisan ISIS

Termasuk dari Jerman

Banyak warga negera-negara lain yang juga terbuai janji ISIS. Termasuk dari Jerman. Majalah mingguan Jerman Der Spiegel melaporkan bulan Juli 2017, sejumlah perempuan Jerman yang bergabung dengan ISIS dalam beberapa tahun terakhir, termasuk gadis berusia 16 tahun dari kota kecil Pulsnitz dekat Dresden, menyesal bergabung dengan ISIS. Ed (ap/as/berbagai sumber)

hp/ap (afp, rtr, dpa)


Ikuti kami