1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Islamis Kuasai Mali Utara

17 Juli 2012

Ekstrimis Islam kini usir pemberontak Tuareg di Mali utara. Penghancuran makam bersejarah terus berlanjut, warga menderita akibat hukum syariah. Kekerasan atas perempuan dan anak-anak serta kelaparan kini resahkan PBB.

https://p.dw.com/p/15ZGH
Militiaman from the Ansar Dine Islamic group, who said they had come from Niger and Mauritania, ride on a vehicle at Kidal in northeastern Mali, in this June 16, 2012 file photo. Islamists of the Ansar Dine rebel group which in April seized Mali's north along with Tuareg separatists destroyed at least eight Timbuktu mausoleums and several tombs, centuries-old shrines reflecting the local Sufi version of Islam in what is known as the "City of 333 Saints". Picture taken June 16, 2012. To match Analysis MALI-CRISIS/TIMBUKTU REUTERS/Adama Diarra/Files (MALI - Tags: POLITICS CIVIL UNREST CONFLICT RELIGION)
Foto: Reuters

Beberapa pekan lalu, bendera Mali masih berkibar di kantor administrasi propinsi di kota Timbuktu. Sekarang, polisi Islam menduduki kantor itu, dan di atas gedung berkibar bendera berwarna hitam milik gerakan Ansar Dine. Di jalan utama, kelompok yang menyebut diri penjaga iman itu menempatkan plakat berukuran besar, yang bertuliskan: Timbuktu berdasarkan Islam. Hukum Islam syariah berlaku di sini.

Juru bicara Oumar Ould Hamaha menjelaskan, "Kami ingin melaksanakan hukum syariah di seluruh Mali dan Afrika, mulai dari matahari terbit sampai terbenam! Kita semua harus hidup dan bertindak sesuai sikap orang Islam yang baik, dan mati sebagai martir. Sebagian besar warga Mali sudah beragama Islam, tetapi mereka perlu kepemimpinan. Kami akan memerintahkan kepada mereka, bagaimana mereka harus hidup."

A traditional mud structure stands in the Malian city of Timbuktu in this May 15, 2012 file photo. The al Qaeda-linked Islamist fighters who have used pick-axes, shovels and hammers to shatter earthen tombs and shrines of local saints in Mali's fabled desert city of Timbuktu say they are defending the purity of their faith against idol worship. But historians say their campaign of destruction in the UNESCO-listed city is pulverizing part of the history of Islam in Africa, which includes a centuries-old message of tolerance. Picture taken May 15, 2012. To match Analysis MALI-CRISIS/TIMBUKTU REUTERS/Adama Diarra/Files (MALI - Tags: POLITICS RELIGION SOCIETY)
Salah satu bangunan bersejarah di TimbuktuFoto: Reuters

Hukum Syariah

Tetapi hidup di bawah kekuasaan Ansar Dine ibaratnya mimpi buruk bagi warga di bagian utara Mali. Perempuan, yang tidak menutup muka dengan cadar, dipecut di muka umum. Bahan pangan sangat kurang dan penyakit mulai menyebar. Organisai bantuan melaporkan adanya pemerkosaan, dan anak-anak direkrut menjadi tentara.

Penghancuran makam bersejarah di Timbuktu juga terus berjalan. Orang-orang ekstrimis Islam itu menganggap kepercayaan akan orang suci tidak sesuai dengan Islam. Abdrahmane Ben Essayouti, imam mesjid Sankoré bertutur, "Timbuktu hampir kehilangan jiwanya. Timbuktu dilanda vandalisme yang tak terkira. Para pembunuh berdarah dingin menempatkan pisau di leher warga Timbuktu!"

--- DW-Grafik: Peter Steinmetz
Peta Mali dengan Timbuktu dan ibukota Bamako

Dorong Perlawanan

Perdana Menteri sementara Mali, Cheick Modibo Diarra kini mendorong diadakannya perlawanan besar untuk menghalau kelompok radikal Islam dari bagian utara negara itu, dan merebut kembali daerah Tuareg, Azawad. Persatuan Negara-Negara Afrika Barat (ECOWAS) terus melancarkan tekanan terhadap PBB. Masyarakat internasional harus segera mengeluarkan resolusi. Mali perlu lampu hijau, agar dapat mengirimkan pasukan berjumlah 3.300 orang, yang dipimpin Nigeria, ke Mali utara.

Florent Geel, petugas urusan daerah Sahel (kawasan yang membatasi daerah Gurun Sahara dan selatan Sahara) dari Liga Hak Asasi Internasional berpendapat, intervensi militer berbahaya, selama ibukota Mali, Bamako, masih berada di tangan orang yang menggulingkan kekuasaan. "Kami tidak mengarapkannya," demikian Geel sambil menambahkan, "Penempatan militer tidak bertanggungjawab, selama di bagian selatan Mali tidak ada stabilitas politik." Menurutnya, orang harus terus berunding dengan penguasa bagian utara. Jika itu tidak berhasil, walaupun disesalkan, inervensi militer menjadi alternatif berikutnya.

People load on onto a truck carrying residents fleeing south from an Islamic insurgency in northern Mali at the trading town of Mopti, June 19, 2012. The U.N. Security Council on Monday declared its readiness to consider backing West African military intervention in Mali, where rebels and Islamist militants have seized control of much of the country, but said it needed more details on the plan. Picture taken June 19, 2012. REUTERS/Adama Diarra (MALI - Tags: POLITICS CIVIL UNREST CONFLICT RELIGION)
Warga yang melarikan diri dari kota Mopti di bagian utara, akibat perluasan kekuasaan Ansar Dine (19/06)Foto: Reuters

Bantuan dari Luar Dibutuhkan

Perundingan antara utara dan selatan tidak berhasil. Tampaknya, Mali tidak mampu mengatasi sendiri. Walaupun negara itu berhasil membentuk pemerintahan baru, mengatasi masalah dengan kelompok ekstrimis di utara tidak mudah tanpa bantuan dari luar. Pertama, pasukan ECOWAS tidak punya pengalaman berperang melawan kelompok radikal Islam di gurun pasir. Kedua, Perancis yang dulu menjadi penjajah kemungkinan besar tidak mau campur tangan. Di Mali Perancis juga tidak dianggap pihak yang jujur.

Ketiga, Aljazair jelas tidak ingin perang terjadi di dekatnya. Di samping itu, sepertinya dinas rahasia Aljazair menjadikan kepala Ansar Dine, Iyad Ag Ghali, sebagai mitra diskusi. Yaitu untuk mengimbangi pemimpin Al Qaeda yang tidak disukai di daerah Maghreb, serta kelompok jihad MUJAO (The Unity Movement for Jihad in West Africa).

epa02792849 Cheik Modibo Diarra, chairman of Microsoft Africa attends a press conference to present the George Arthur Forrest foundation, in Brussels, Belgium, 24 June 2011. The foundation wants to contribute to a good economic, social and political government in Africa. EPA/NICOLAS MAETERLINCK ***BELGIUM OUT*** +++(c) dpa - Bildfunk+++
Perdana Menteri Sheik Modibo DiarraFoto: picture-alliance/dpa

Skenario Buruk

Pakar terorisme Yves Trotignon mengatakan, "Jika orang mengulur waktu, itu akan menguntungkan kaum radikal Islam. ECOWAS hampir tidak punya kemampuan untuk mendesak jalan keluar perundingan. Sementara itu Perancis menghadapi blokade, karena hubungan diplomatisnya dengan Aljazair yang sulit dari segi sejarah." Selain itu, tidak ada yang tahu, seberapa kuat Ansar Dine dan berapa jumlah pengikut MUJAO. Juga berapa lama mereka dapat menahan serangan barat atau pasukan ECOWAS. Demikian ditambahkan Trotignon.

Kekacauan nampaknya sempurna, sementara situasi politik dalam dan luar negeri mengalami jalan buntu. Tidak ada orang yang menginginkan terbentuknya daerah Sahel yang radikal Islam di bagian utara Mali. Tidak ada yang ingin berlangsungnya perang tidak menentu dan tak kunjung berakhir di padang pasir. Tetapi skenario ini tampaknya semakin akan menjadi kenyataan, selama jalan keluar diplomatis tidak tercapai.

Alexander Göbel / Marjory Linardy

Editor: Hendra Pasuhuk