1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Israel dan Palestina Jajaki Perundingan Tidak Langsung

26 April 2010

Dengan diiringi bentrokan di Yerusalem Timur, Utusan Khusus AS George Mitchell mengakhiri lawatannya di Timur Tengah. Kedua pihak kini mulai menjajaki langkah kompromi yang berujung dengan pembentukan negara Palestina.

https://p.dw.com/p/N62X
Presiden Palestine Mahmud Abbas (kanan) menyambut utusan khusus AS George Mitchell (kiri)Foto: AP

Di depan anggota kabinet di Yerusalem Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu tampil optimis. Ia yakin dalam waktu dekat ini akan digelar „perundingan tidak langsung“ dengan pemimpin pemerintah Palestina Mahmud Abbas.

"Israel ingin segera melakukan perudingan. Amerika Serikat ingin segera melakukan perundingan. Saya mengharapkan, semoga pemerintah Palestina juga ingin segera melakukan perundingan," demikian tandas Netanyahu.

Israel USA George Mitchell bei Benjamin Netanyahu in Jerusalem
George Mitchell (kiri) bersama PM Israel Benjamin Netanyahu (kanan)Foto: AP

Netanjahu mengaku, pihaknya baru akan mendapat kejelasan mengeni sikap Palestina dan kelanjutan rencana perundingan dalam beberapa hari kedepan."Saya berharap, perundingan dapat dilakukan. Pertemuan kami dengan AS dan perwakilan Palestina berlangsung positif,“ ujarnya.

Di awal kunjungan tiga hari utusan khusus AS George Mitchell di Timur Tengah Jumat lalu (23/4), berdasarkan keterangan kalangan pemerintah seperti yang dilaporkan media lokal, Netanyahu memperhitungkan bahwa kunjungan Mitchell akan mencapai kemajuan baru.

Namun di hadapan publik ia masih menolak untuk memenuhi tuntutan Gedung Putih serta pemerintah Palestina agar pembangunan pemukiman baru di wilayah yang disengketakan di Yerusalem Timur dihentikan.

Mitchelll berencana melanjutkan upayanya untuk menghidupkan kembali perundingan tidak langsung di bawah mediasi Amerika Serikat. Ia menyempatkan menyerahkan undangan dari presiden AS Barack Obama kepada presiden Palestina, Mahmud Abbas untuk menemuinya di Washington Mai mendatang. Namun tanggalnya hingga saat ini belum ditetapkan, demikian diungkapkan juru runding Palestina Saeb Erekat hari Minggu kemarin (25/4).

Minggu siang (25/4) sekitar 30 orang ekstremis kanan Israel memasuki bagian Timur Yerusalem dengan membawa bendera dan meneriakkan yel-yel anti Palestina di daerah Silwan.

Dengan aksi tersebut mereka ingin mendemonstrasikan kedaulatan Israel atas seluruh wilayah Yerusalem. Warga Palestina yang geram menyerang aparat kepolisian Israel yang mengawal mars tersebut dengan batu dan bom molotov.

Di bawah pimpinan aktivis kanan Baruch Marzel, mulai dari tembok ratapan 30 pengikut kubu ekstremis kanan itu berjalan sampai ke Silwan. Sambil berjalan Marzel mengatakan, mereka ingin menunjukkan pada Netanyahu, Obama dan Mitchell, bahwa merekalah penguasa Yerusalem.

Kepolisian dilaporkan sempat membubarkan demonstrasi tandingan yang digelar oleh aktivis perdamaian Israel. Mereka secara simbolik mengibarkan bendera Palestina dan memboyong spanduk bertuliskan "Tolak fasisme" dan "Hentikan Pemukiman di Timur Yerusalem!"

Sebelumnya Netanyahu mengajukan permohonan kepada kejaksaan, agar aksi unjuk rasa itu ditangguhkan. Namun tidak berhasil. Sebagai tanda penghinaan warga Palestina mengibarkan bendera Palestina di depan rumahnya dan melemparkan sepatu ke jalanan.

Warga Palestina membakar ban mobil, melempari aparat keamanan Israel dengan batu dan memprovokasi demonstran kanan. Sedikitnya empat demonstran dan dua polisi dilaporkan luka-luka ringan akibat aksi protes tersebut.

Direktur Pusat Informasi Arab di Silawan, Djawad Siyam menuding pemerintah Israel mendukung upaya kelompok ekstrem kanan. Menurutnya, aksi tersebut tidak cuma mewakili pandangan kaum ekstremis melainkan juga pemerintah Israel.

Perdana Menteri Benjamin Netanjahu awal pekan lalu kembali menegaskan penolakannya untuk menghentikan pembangunan pemukiman Yahudi di wilayah Palestina yang diduduki. Hal tersebut merupakan syarat utama yang diajukan Palestina bagi dibukanya kembali perundingan damai.

Meski demikian media-media Israel melaporkan, kedua belah pihak telah menjajaki upaya kompromi. Menurut laporan tersebut Israel nantinya tetap diperbolehkan membangun perumahan Yahudi di timur Yerusalem, namun tidak di wilayah yang didiami oleh mayoritas warga Arab.

Collage Barack Obama, Benjamin Netanjahu und Mahmud Abbas
Presiden AS Barack Obama, PM Israel Benjamin Netanyahu dan Presiden Palestina Mahmud AbbasFoto: AP/DW

Netanyahu juga disinyalir bersedia mengakui kedaulatan negara Palestina atas Jalur Gaza dan Tepi Barat Yordan. Mengenai batas negara masih akan dirundingkan lebih lanjut.

Clement Verenkotte/Andriani Nangoy

Editor: Rizki Nugraha