Jonru Ginting Ditangkap Polisi

Jonru ditangkap oleh kepolisian dengan dakwaan menebar informasi palsu dan ujaran kebencian. Jika terbukti bersalah ia terancam hukuman penjara enam tahun dan denda maksimal 1 milyar Rupiah.

Kepolisian menangkap Jon Riah Ukur Ginting alias Jonru Ginting atas tuduhan "menebar ujaran kebencian". Ia dinilai melanggar Undang-Undang tentang Informasi dan Transaksi Elektronik. Jonru awalnya menjalani pemeriksaan sebagai saksi di kepolisian sejak Kamis (28/9). Namun statusnya berubah tersangka pada Jumat (29/9) dini hari.

Kuasa hukum Jonru, Juju Purwanto, mengritik penahanan kliennya "terlalu dipaksakan," karena penetapan status tersangka yang dinilai terburu-buru. "Pemeriksaan dari sore kemarin itu sampai lewat tengah malam tuh, dinihari, sebetulnya dari proses penyelidikan, tiba-tiba tersangka, langsung ditahan. dipaksakan lah," katanya kepada VIVA.co.id.

Adalah Muanas Al-Aidid, seorang pengacara, yang melaporkan Jonru ke kepolisian. Ia melampirkan beberapa unggahan Jonru di media sosial sebagai bukti.

Realita Getir di Balik Gelombang Islamisasi Suku Anak Dalam

Nomaden Sumatera Pindah Agama

Indonesia saat ini memiliki sekitar 70 juta anggota suku pedalaman, mulai dari Dayak di Kalimantan hingga suku Mentawai di Sumatera. Namun dari semua, Suku Anak Dalam adalah salah satu yang paling unik karena gaya hidupnya yang berpindah-pindah alias nomaden. Belakangan banyak anggota suku asli Jambi dan Sumatera Selatan itu yang memeluk agama Islam.

Realita Getir di Balik Gelombang Islamisasi Suku Anak Dalam

Digusur Manusia, Berpaling ke Tuhan

Baru-baru ini sebanyak 200 dari 3.500 anggota Suku Anak Dalam menanggalkan kepercayaan Animisme setelah menerima ajakan sebuah LSM Islam yang difasilitasi oleh Kementerian Sosial. Banyak yang terdorong oleh harapan kemakmuran, menyusul kehancuran ruang hidup akibat terdesak oleh perkebunan kelapa sawit dan tambang batu bara.

Realita Getir di Balik Gelombang Islamisasi Suku Anak Dalam

Demi Kemakmuran

"Syukurlah pemerintah sekarang memperhatikan kami. Sebelum pindah agama mereka tidak peduli", kata Muhammad Yusuf, seorang anggota Suku Anak Dalam yang berganti nama setelah memeluk Islam melalui program pemerintah. Ia meyakini dengan pindah agama kehidupannya akan menjadi lebih baik.

Realita Getir di Balik Gelombang Islamisasi Suku Anak Dalam

Solusi Sesat Komersialisasi Hutan

Pemerintah menilai Islamisasi suku pedalaman merupakan langkah baik. Program Kementerian Sosial antara lain mengajak anggota suku untuk tinggal menetap dengan menyediakan rumah dan infrastruktur pendidikan dan kesehatan. Namun aktivis menilai fenomena tersebut didorong oleh rasa frustasi karena gaya hidup mereka terancam oleh komersialisasi hutan.

Realita Getir di Balik Gelombang Islamisasi Suku Anak Dalam

Agama, KTP dan Kesejahteraan

Yusuf mengakui alasan pindah agama karena masalah ketahanan pangan yang terancam lantaran pemilik lahan membatasi area berburu bagi Suku Anak Dalam. Pria yang punya 10 anak itu mengaku ingin mendapat KTP agar bisa mengakses layanan kesehatan dan pendidikan gratis yang disediakan pemerintah. Memeluk Islam dan hidup menetap mempermudah hal tersebut.

Realita Getir di Balik Gelombang Islamisasi Suku Anak Dalam

Setia Pada Tradisi

Meski begitu masih banyak anggota Suku Anak Dalam yang tetap setia pada ajaran leluhurnya. Sebagian besar masih menjaga tradisi berburu dan hidup berpindah tiga kali sebulan untuk mencari ladang berburu baru atau ketika salah seorang anggota suku meninggal dunia.

Realita Getir di Balik Gelombang Islamisasi Suku Anak Dalam

Panggilan Leluhur

Kondisi kehidupan Suku Anak Dalam tergolong berat. Sebagian besar terlihat kurus dan terkesan mengalami malnutrisi lantaran hanya memakan hasil berburu. "Menurut tradisi kami, pindah agama dilarang," kata Mail, salah seorang ketua Suku Anak Dalam. "Kalau melanggar, kami takut dimakan harimau," imbuhnya kepada AFP.

Realita Getir di Balik Gelombang Islamisasi Suku Anak Dalam

Pilihan Akhir Kaum Terbuang

Aktivis HAM menilai suku pedalaman sering tidak punya pilihan selain pindah agama untuk mendapat kehidupan yang lebih layak. "Mereka harus meminta bantuan ulama atau gereja buat mencari perlindungan," di tengah laju kerusakan hutan dan komerisalisasi lahan, kata Rukka Sombolinggi, Sekjend Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN). Sumber: AFP, Reuters, Antara

Kontroversi seputar pria asal Sumatera Utara itu memuncak pada sebuah acara televisi, di mana ia menuding Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menerima uang sogokan senilai 1,5 milyar Rupiah untuk mendukung Perppu Ormas. Dia juga diperkarakan karena menebar tuduhan miring tentang asal usul Presiden Joko Widodo.

Muannas menilai Jonru harus ditindak karena pengaruhnya di media sosial. "Bayangkan dengan followers segitu banyak, informasi yang dia sampaikan - apapun - sudah diketahui oleh publik," katanya sperti dilansir BBC. Jonru saat ini memiliki 1,47 juta pengikut di Facebook, 92,5 ribu pengikut di Twitter dan 55,7 ribu di Instagram.

Jika terbukti bersalah menebar informasi palsu dan ujaran kebencian, Jonru bisa terjerat hukuman maksimal 6 tahun penjara dan denda maksimal 1 milyar Rupiah.

6 Kabar Hoax yang Menyulut Perang

Fenomena Beracun

Kabar bohong kembali mengalami kebangkitan di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Pada hakikatnya, berita palsu yang marak di media-media sosial saat ini tidak berbeda dengan propaganda hitam yang disebar buat memicu perang dan kebencian pada abad silam. Fenomena itu mengandalkan jumlah massa untuk membumikan sebuah kebohongan. Karena semakin banyak yang percaya, semakin nyata juga sebuah berita

6 Kabar Hoax yang Menyulut Perang

Oplah Berganda buat Hearst

Pada 1889 pengusaha AS William Hearst ingin agar AS mengobarkan perang terhadap Spanyol di Amerika Selatan. Untuk itu ia memanfaatkan surat kabarnya, Morning Journal, buat menyebar kabar bohong dan menyeret opini publik, antara lain tentang serdadu Spanyol yang menelanjangi perempuan AS. Hearst mengintip peluang bisnis. Karena sejak perang berkecamuk, oplah Morning Journal berlipat ganda

6 Kabar Hoax yang Menyulut Perang

Kebohongan Memicu Perang Dunia

Awal September 1939, Adolf Hitler mengabarkan kepada parlemen Jerman bahwa militer Polandia telah "menembaki tentara Jerman pada pukul 05:45." Ia lalu bersumpah akan membalas dendam. Kebohongan yang memicu Perang Dunia II itu terungkap setelah ketahuan tentara Jerman sendiri yang membunuh pasukan perbatasan Polandia. Karena sejak 1938 Jerman sudah mempersiapkan pendudukan terhadap jirannya itu.

6 Kabar Hoax yang Menyulut Perang

Kampanye Hitam McNamara

Kementerian Pertahanan AS mengabarkan bahwa kapal perang USS Maddox ditembaki kapal Vietnam Utara pada 2 dan 4 Agustus 1964. Insiden di Teluk Tonkin itu mendorong Kongres AS menerbitkan resolusi yang menjadi landasan hukum buat Presiden Lyndon B. Johnson untuk menyerang Vietnam. Tapi tahun 1995 bekas menhan AS, Robert McNamara, mengakui insiden tersebut adalah berita palsu.

6 Kabar Hoax yang Menyulut Perang

Kesaksian Palsu Nariyah

Seorang remaja putri Kuwait, Nariyah, bersaksi di depan kongres AS pada 19.10.1990 tentang kebiadaban prajurit Irak yang membunuh puluhan balita. Kesaksian tersebut ikut menyulut Perang Teluk. Belakangan ketahuan Nariyah adalah putri duta besar Kuwait dan kesaksiannya merupakan bagian dari kampanye perusahaan iklan, Hill & Knowlton atas permintaan pemerintah Kuwait.

6 Kabar Hoax yang Menyulut Perang

Operasi Tapal Besi

April 2000 pemerintah Bulgaria meneruskan laporan dinas rahasia Jerman tentang rencana pembersihan etnis ala Holocaust oleh Serbia terhadap etnis Albania dan Kosovo. Buktinya adalah citra udara dari lokasi kamp konsentrasi. Laporan tersebut menggerakkan NATO untuk melancarkan serangan udara terhadap Serbia. Rencana yang diberi kode "Operasi Tapal Besi" itu tidak pernah terbukti hingga kini.

6 Kabar Hoax yang Menyulut Perang

Bukti Kosong Powell

Pada 5 Februari 2003 Menteri Luar Negeri AS, Colin Powell, mengklaim memiliki bukti kepemilikan senjata pemusnah massal oleh Irak pada sebuah sidang Dewan Keamanan PBB. Meski tak mendapat mandat PBB, Presiden AS George W. Bush, akhirnya tetap menginvasi Irak buat meruntuhkan rejim Saddam Hussein. Hingga kini senjata biologi dan kimia yang diklaim dimiliki Irak tidak pernah ditemukan.

rzn/yf (antara, kompas, viva, bbc)


Ikuti kami