1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
Sosial

Anak-.Anak Sekolah di Afsel Diajar Melawan Pemerkosa

24 Oktober 2018

Di sekolah-sekolah di Soweto, Afrika Selatan, anak-anak perempuan dilatih melawan ancaman perkosaan. Anak laki-laki diajak lebih empati terhadap kaum perempuan.

https://p.dw.com/p/36bjd
Kindesmissbrauch Gewalt gegen Kinder sexuelle Gewalt Misshandlung
Foto: picture-alliance/dpa/L.Thal

Di sebuah ruang kelas di kota Soweto, Afrika Selatan, anak-anak gadis mendengarkan sebuah topik dengan seksama, yakni belajar bagaimana menghindari ancaman perkosaan yang menyelubungi kehidupan sehari-hari mereka.

"Kalian anggap saja bahwa itu adalah testis pemerkosa," kata pelatih Dimakatso Monokoli, mengulurkan sebuah objek. Seorang gadis kecil berusia 11 tahun memandang benda tersebut tanpa berkedip dan langsung memberikan tendangan lutut yang kuat.

Latihan ini adalah bagian dari strategi pembelaan diri untuk berjaga-jaga terhadap ancaman pemerkosaan, dan diajarkan di sekolah Thabisang, Soweto. Statistik resmi menunjukkan bahwa lebih dari 110 perkosaan dilaporkan ke polisi setiap harinya di Afrika Selatan. Ironisnya, beberapa penelitian menyatakan hanya satu dari 13 perkosaan dilaporkan ke polisi.

Berita-berita baru-baru ini telah memicu perasaan horor terkini di kalangan masyarakat Afrika Selatan, atas prevalensi pemerkosaan.

Pada bulan September 2018, seorang perempuan muda  berusia 17 tahun diperkosa di bangsal rumah sakit bersalin oleh seorang pria yang berpura-pura menjadi dokter, hanya satu hari setelah dia melahirkan.

Tak lama dari kejadian itu, seorang anak perempuan berusia tujuh tahun diperkosa di toilet sebuah restoran populer di ibukota Pretoria. Rekaman video mengenainya muncul beberapa saat setelah serangan itu.

Usulan kebiri kimia

Aktivis-aktivis perempuan Kongres Nasional Afrika menuntut tindakan tegas. "Kami telah mencoba yang terbaik ... tidak ada yang tampaknya bisa menurunkan (jumlah serangan) itu. Oleh karena itu, kami menyerukan (hukuman) pengebirian kimia (bagi pelakunya)," kata sekretaris umum ANCWL, Meokgo Matuba.

Di kelas lainnya di sekolah di Soweto, Monokoli mengajarkan anak-anak bukan hanya membela diri, tetapi bagaimana anak perempuan dapat membaca dan bereaksi terhadap situasi yang berpotensi berisiko.

"Jangan pernah, pernah membuat kesalahan dengan berada di ruangan yang sama dengan seseorang yang Anda tidak merasa nyaman," katanya."Kalian tidak seharusnya sendirian dengan orang itu." Ditambahkannya, jika diserang: "Berteriaklah sekencang yang kalian bisa."

Monokoli bekerja untuk Action Breaks Silence (ABS), sebuah badan amal Afrika Selatan yang bekerja dengan sekolah-sekolah untuk mendidik anak perempuan untuk membela diri.

Anak pria juga diajak berperan melawan kekerasan

Aktivitas organisasi ini juga menjalankan program "Hero Empathy" bagi anak laki-laki untuk mencegah perilaku kasar. Pendiri ABS Debi Steven sendiri pernah diperkosa saat ia masih kecil dan telah menghabiskan waktu puluhan tahun untuk mengajar dan memberi konsultasi di sekolah dan perusahaan.

"Kekerasan telah dianggap sebagai hal biasa di Afrika Selatan," katanya kepada AFP. "Ada begitu banyak pemerkosaan sehingga orang menjadi tidak sensitif terhadap hal itu."

Dia menmbantu pelatihan bela diri dengan kesadaran mental. "Pembelaan diri memberi perempuan rasa percaya diri untuk menetapkan batas," katanya.

"Jika saya memiliki pendidikan tentang apa yang salah dan benar, saya tahu apa yang menyalahgunakannya dan saya akan mengidentifikasi saat orang lain mulai menyalahgunakan saya secara emosional, fisik, seksual, finansial. "Dalam banyak kasus, kekerasan seksual dilakukan oleh kerabat atau orang yang dikenal korban. Steven mengatakan dua perempuan dibunuh setiap hari oleh pasangan mereka atau mantan pasangan di Afrika Selatan.

Di kelas, para anak perempuan  mengenakan seragam sekolah biru dan kaos kaki panjang tampak fokus mendengarkan penjelasan. "Kami akan mengajari kalian cara bertarung cerdas," kata seorang instruktur pria. Di kelas itu, para siswa kadang-kadang berbagi kisah dengan instruktur tentang kekerasan yang mereka derita.

Ungkap perasaan

Di sekolah Soweto yang lain, anak laki-laki dalam program "Hero Emphaty" atau "Pahlawan Empati" berlari dalam permainan yang mendorong mereka untuk menunjukkan emosi dan mengembangkan empati terhadap perasaan orang lain.

Mereka harus bertindak berdasarkan suasana hati seperti kemarahan atau kesedihan sementara teman sekelas mereka mencoba menebak bagaimana perasaan mereka - tidak selalu berhasil.

"Dalam komunitas Afrika, sering diajarkan bahwa anak laki-laki (seharusnya tidak) menunjukkan emosi. Ketika Anda menunjukkan emosi, itu seperti tanda kelemahan," kata instruktur Isaac Mkhize.

ABS telah mengajar lebih dari 13.000 anak. Pelayanan kesehatan pemerintah bahkan telah meminta badan amal ini untuk melatih 160 staf baru.

Seorang ibu, Mali Masondo, menjelaskan betapa dalamnya rasa takut akan perkosaan yang tertanam dalam kehidupan sehari-hari anak-anak dan keluarga.

"Anda tidak tahu siapa yang harus dipercaya, siapa yang harus dicintai dan siapa yang harus dirawat," katanya. "Kadang-kadang Anda bahkan tidak mengizinkan orang untuk mencintai anak-anak Anda seperti yang mereka inginkan karena setiap kali pula Anda curiga."

ap/ml (afp)