1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
KesehatanAsia

Kenapa Proses Kilat Pengembangan Vaksin Tidak Berisiko

4 September 2020

Ilmuwan di seluruh dunia berlomba-lomba memecahkan rekor waktu pengembangan vaksin corona. Namun berbeda dengan kekhawatiran umum, pakar imunologi meyakini kecepatan proses pengembangan vaksin tidak menimbulkan risiko.

https://p.dw.com/p/3hxAK
Ilustrasi pengembangan vaksin virus corona
Ilustrasi pengembangan vaksin virus coronaFoto: picture-alliance/Sven Simon

Lebih dari 170 kandidat vaksin SARS-CoV-2 sedang dikembangkan. Tujuh di antaranya sudah memasuki fase ketiga dan terakhir dalam studi klinis. Proses yang biasanya berlangsung selama bertahun-tahun, kini dibuat secepat kilat. Pengembangan vaksin ini menjadi perlombaan antara hidup dan mati, antara uang dan kekuasaan.

Sejak awal, penelitian vaksin Covid-19 telah menjadi obyek politik. Presiden AS Donald Trump misalnya, menuduh Lembaga Pengawasan Bahan Pangan dan Obat-obatan (FDA) sengaja memperlambat pengembangan vaksin untuk mencegah Donald Trump memanfaatkannya demi kepentingan kampanye Pilpres, November mendatang.

Tapi apakah vaksin benar-benar bisa mengakhiri krisis corona? Untuk menjawabnya, reporter DW Julia Vergin, berbincang dengan ahli Imunologi, Prof. Dr. Thomas Kamradt.

DW: Jika vaksinnya ditemukan, semuanya akan membaik, apakah harapan ini realistis?

Thomas Kamradt: Saya pribadi akan merasa puas jika sudah ada vaksin yang aman, bahkan jika harus diperbaharui setiap dua tahun sekali, asalkan vaksin ini bisa menghentikan laju infeksi. Mungkin vaksin ini tidak bisa mencegah orang mendapat gejala ringan dari Covid-19. Tapi minimal vaksin ini bisa mencegah berkembangnya gejala akut seperti kegagalan pernafasan atau kegagalan organ tubuh.

Jadi jika Anda bertanya, apa yang kita tunggu? itulah jawabannya. Jika vaksin mampu menurunkan gejala mematikan menjadi gejala ringan, saya sudah menganggapnya sebagai keberhasilan. Jika vaksin itu punya khasiat lebih dari itu, maka pengembangannya adalah keberhasilan besar.

"Kekebalan kelompok adalah metode zaman batu."

Baru-baru ini ada laporan kasus infeksi baru terhadap seorang pemuda Hong Kong yang sebelumnya sudah pernah terjangkit virus corona. Padahal saat itu orang masih meyakini, siapapun yang sudah terinfeksi akan kebal terhadap virus. Apakah kasus ini ikut memupus kebenaran teori "kekebalan kelompok"?

Terlepas dari laporannnya, kekebalan kelompok adalah metode zaman batu! Jika kita melihat, seberapa tinggi laju infeksi yang dibutuhkan dan seberapa tinggi tingkat kematiannya, maka hal itu adalah metode dari zaman batu, yang akan membutuhkan waktu sangat lama. Kita kan harus beranggapan, bahwa kekebalan tubuh tidak akan bertahan seumur hidup. Sebab itu saya berharap tidak ada lagi yang menggunakan teori itu. Kekebalan kelompok hanya bisa dicapai lewat vaksinasi.

Terlepas dari kasus individual, seandainya ada beberapa jenis lain virus corona yang bisa menjangkiti manusia berulangkali, apa artinya ini untuk pengembangan vaksin?

Perubahan pada virus sangat menarik secara epidemiologis, karena dengan begitu kita bisa melacak klaster infeksi. Sampai saat ini belum ada indikasi, bahwa perbedaan pada keluarga virus SARS-CoV-2 menjadi krusial untuk keampuhan vaksinnya. Hal ini tentu berbeda dengan penyakit flu.

Beberapa ilmuwan mewanti-wanti terhadap proses penelitian yang terlalu cepat, sehingga menggandakan risiko beredarnya vaksin baru yang tidak aman atau tidak ampuh. Apakah proses pengembangan vaksin corona terlalu cepat? 

Sejauh ini, tidak. Biasanya pengembangan vaksin berlangsung lebih dari 10 tahun, sampai vaksinnya tersedia secara massal. Rekor tercepat sejauh ini dipegang vaksin Ebola, yang hanya membutuhkan lima tahun sampai surat izinnya keluar. Dan saat ini semua berlangsung jauh lebih cepat.

IIni punya alasan yang berbeda-beda. Yang pertama kita sudah mengetahui sejarah SARS dan MERS, dan bahwa protein pada selubung virus bisa menjadi sasaran yang bagus untuk imunisasi. Artinya kita tidak perlu memulai dari nol. Selain itu ada teknologi baru. Sampai belum lama ini kita masih harus mengirimkan sampel virus ke laboratorium di seluruh dunia untuk dikembangbiakkan. Dalam kasus corona, ilmuwan Cina sudah memublikasikan hasil pengurutan DNA pada bulan Januari. Hasilnya lalu dibandingkan dengan virus SARS dan MERS. Proses ini berlangsung sangat cepat. Sebab itu sejak Maret, sudah ada yang memulai uji klinis fase pertama, yakni vaksin berbasis mRNA buatan Moderna.

Apa yang juga mempercepat prosesnya adalah langkah-langkah yang biasanya berlangsung secara berurutan, kini dikerjakan secara serentak. Misalnya saat ini pun kapasitas produksi vaksin bermunculan di mana-mana.

Yang tidak boleh terjadi adalah upaya membuat uji keamanan vaksin menjadi lebih longgar. Meskipun wabah ini tergolong parah, setidaknya 80% pengidap tidak merasakan gejala berat, hanya gejala ringan. Artinya jika saya melakukan vaksinasi terhadap virus itu, saya harus yakin bahwa vaksinnya tidak akan menimbulkan kerusakan. Karena yang mendapat vaksin adalah manusia sehat.

Meski cepat, minim risiko

Jika vaksinnya sudah tersedia, pertanyaannya adalah siapa yang ingin divaksin. Menurut analisa Hamburg Center for Health Economics, kesediaan warga Uni Eropa untuk menjalani vaksinasi sudah menurun. Kekhawatiran terbesar warga adalah efek samping dari vaksin tersebut. Apakah Anda bisa memahami kekhawatiran ini?

Dalam hal ini komunikasi menjadi sangat penting. Bahkan para pakar terkejut betapa prosesnya bisa dilangsungkan secara bersamaan dan dalam tempo yang cepat. Semua membutuhkan uang, tapi tanpa risiko. Apa yang harus jelas adalah uji keamanan tidak boleh dipercepat atau diperlonggar ketimbang biasanya.

Gelombang flu akan tiba seiring datangnya musim dingin. Apakah penting untuk menjalani vaksinasi influenza, terutama di tengah wabah seperti ini?

Keuntungannya adalah perlindungan diri, karena kita belum tahu apakah kekebalan tubuh kita akan menjadi sangat lemah oleh penyakit flu, sehingga lebih rentan terinfeksi Covid-19. Keuntungan lain adalah untuk tidak membebani sistem kesehatan publik. Karena influenza pun bisa memiliki tingkat kematian yang tinggi, memiliki gejala yang mirip sehingga pihak rumah sakit tidak bisa langsung membedakan apakah kasusnya Covid-19 atau influenza.

Jadi kalau pasien influenza tidak membanjiri sistem kesehatan, karena sudah menjalani imunisasi, maka kita memiliki ruang gerak lebih besar untuk benar-benar merawat pasien yang sakit.

Siapa yang harus mendapat dosis pertama vaksin SARS-CoV-2?

Idealnya vaksin ini ampuh pada kaum manula. Mereka lah yang mengalami gejala berat. Vaksin influenza misalnya tidak terlalu ampuh pada tubuh kaum lansia, ketimbang pada kaum muda. Hal ini bisa diimbangi dengan pembagian dosis yang sesuai. Tapi ini sudah harus diketahui pada saat uji klinis.

Lalu semua manusia yang pernah memiliki penyakit bawaan, harus mendapat vaksin secara dini. Selain itu, vaksin juga harus dibagikan kepada orang yang berisiko tinggi terjangkit virus atau menyebarkannya. Seorang pemuda sehat yang hidup seorang diri di hutan, bisa jadi yang terakhir yang mendapat vaksin.

Prof. Dr. Thomas Kamradt adalah Direktur Institut Imunologi di Universitas Jena dan Presiden Asosiasi Imunologi Jerman.

Wawancara oleh Julia Vergin.