1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Ketika Investor Menanti Presiden Terpilih

12 Juni 2014

Milyaran dollar investasi asing menanti hasil pemilihan presiden Indonesia, dengan paling tidak satu perusahaan besar memilih menunda investasi setelah bekas jenderal pasukan khusus menguat dalam survei terakhir.

https://p.dw.com/p/1CH57
Foto: Fotolia/Africa Studio

Pesaingan ketat dalam pemilu 9 Juli mendatang akan menentukan siapa, diantara gubernur Jakarta Joko Widodo atau Jokowi dan bekas jenderal Prabowo Subianto, yang akan memegang kendali atas negara kekuatan ekonomi terbesar Asia Tenggara untuk lima tahun ke depan.

Keduanya menawarkan agenda yang lebih nasionalistik, yang didukung oleh persepsi umum bahwa ekonomi Indonesia sudah terlalu lama bergantung pada penjualan sumber daya alam yang murah kepada pihak asing dan pemerintahan yang lama hanya sedikit melakukan usaha untuk memelihara, dan melindungi berbagai perusahaan lokal.

Tapi Prabowo dianggap mempunyai corak nasionalisme ekonomi yang lebih keras, sementara Jokowo dilihat sebagai administrator yang lebih mampu turun tangan mengatasi masalah. Dan meski Indonesia mempunyai tenaga kerja yang banyak dan relatif murah, dengan kelas menengah yang terus berkembang, namun banyak investor mengatakan mereka akan menanti hasil pemilu.

Investor besar menanti

Di puncak daftar investor asing dengan uang besar yang siap dikucurkan itu adalah perusahaan asal Taiwan Foxconn Technology Group, pabrik kontrak elektronik terbesar dunia dan merupakan salah satu pemasok utama bagi Apple Inc.

Pimpinan perusahaan itu Terry Gou, tidak merahasiakan fakta selama kunjungannya Februari lalu ke Jakarta bahwa ia suka Jokowi, ketika berdiskusi tentang kemungkinan membawa perusahaannya untuk berinvestasi besar di ibukota Jakarta.

Pada saat itu, Jokowi sangat unggul dalam jajak pendapat. Kini gubernur Jakarta itu masih memimpin, tapi Prabowo belakangan didukung partai kuat Golkar dan sejumlah jajak pendapat menunjukkan bekas jenderal itu berhasil mempertipis jarak dukungan dengan Jokowi. Sementara di lain pihak jumlah pemilih yang belum menentukan suara masih sangat besar berkisar 40 persen, demikian hasil sebuah survei.

Foxconn, yang terdaftar sebagai Hon Hai Precision Industry Co Ltd di Taiwan, kini menunggu pemerintahan baru sebelum memutuskan apakah mereka akan melanjutkan rencana proyek manufaktur senilai 1 milyar dollar atau sekitar hampir Rp 12 trilyun di Indonesia, demikian sumber di perusahaan itu menyebutkan.

Poin kunci pertimbangan Foxconn kelihatannya adalah soal pembebasan tanah di Jakarta serta birokrasi yang berbelit-belit.

”Terkait permintaan Foxconn tersebut, tak ada orang yang bisa mereka ajak bicara tentang orang yang keputusannya bisa diandalkan,” kata seorang sumber yang sangat dekat dengan pengambilan keputusan di Foxconn.

“Indonesia adalah pasar besar bagi Foxconn. Foxconn benar-benar berharap akan ada arah yang jelas dalam kebijakan mereka setelah pemilu.“

Jokowi lebih pro-pasar

Komunitas investor cenderung menyukai Jokowi, bekas pengusaha furnitur, dibanding Prabowo, demikian menurut para senior eksekutif dan pemain pasar modal.

“Secara umum, orang-orang bisnis merasa bahwa Jokowi lebih ramah-pasar,“ kata Kenichi Tomiyoshi, Presiden direktur Japan External Trade Organization di Jakarta.

Jokowi punya reputasi sebagai pemimpin yang bekerja dan memecahkan masalah, demikian kata seorang analis.

“Banyak masalah bisnis yang dihadapi di Indonesia terkait isu operasional seperti pembebasan lahan. Berdasarkan rekam jejak, dia (Jokowi) kelihatannya lebih dekat atau terlibat langsung untuk memecahkan isu-isu ini,” kata Anton Alifandi, seorang analis dari IHS.

“Jika Jokowi menang, bisnis akan melihat apa yang dia lakukan dalam enam bulan atau satu tahun pertama. Jika mereka melihat hasilnya dan ia bisa melaksanakan apa yang ia janjikan, anda akan menyaksikan para investor asing masuk.”

ab/hp (afp,ap,rtr)