1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Kim yang Dikenal dan Tidak Dikenal

5 April 2013

Sama seperti ayahnya Kim Jong-Il, pemimpin muda Korea Utara Kim Jong-Un lebih banyak dipandang orang luar sebagai campuran memabukkan antara ketidakpahaman, kekonyolan sekaligus ketakutan.

https://p.dw.com/p/18Abg
Foto: Reuters

Beberapa tahun lalu, orang-orang menggelengkan kepala dengan bingung ketika melihat foto-foto Kim Jong-Un berpesta dengan bekas bintang NBA nan flamboyan, Dennis Rodman di Pyongyang, setelah mereka bersama-sama menyaksikan sebuah pertandingan basket.

Satu bulan kemudian, orang-orang terheran-heran dengan kemungkinan bahwa dia bisa jadi akan membawa semenanjung Korea ke arah bencana konflik.

Krisis yang sedang terjadi saat ini, berikut ancaman nuklir dan dorongan mengerikan yang disampaikan Kim kepada tentaranya untuk “mematahkan pinggang para musuh yang gila dan menggorok leher mereka sampai putus“ telah menempatkan pemimpin muda itu ke dalam sorotan dunia.

Kim yang tidak berpengalaman

Meski lebih dikenal publik dibanding ayahnya yang tertutup, Kim masih menjadi tokoh misterius, khususnya kepribadiannya.

Dia muda, tapi masih belum jelas seberapa muda. Dia punya istri yang menarik dan gaya, tapi berapa banyak dan apa jenis kelamin anak yang dia punya masih menjadi misteri.

Sejauh ini yang diketahui tentang selera pribadinya adalah ketertarikannya pada taman hiburan dan karakter Disney. Itu berdampingan secara aneh dengan posisinya sebagai seorang Komandan Tertinggi dari sebuah negara yang memiliki angkatan bersenjata kelima terbesar dunia yang memiliki persenjataan nuklir.

Satu hal yang sering digambarkan media tentang dia adalah: tidak berpengalaman.

Jika Kim Jong-Il telah dipersiapkan sebelum mengambil alih kekuasaan dari ayahnya -- pemimpin pendiri Korut Kim Il-Sung -- maka Kim Jong-Un harus menduduki kursi yang masih hangat oleh pendahulu yang juga ayahnya yang meninggal dunia pada Desember 2011.

Dunia tak tahu cara menghadapi Kim

“Saya pikir kita masih tidak tahu apa yang sedang dia lakukan, kalau mau jujur,“ kata Mansourov.

“Meski dia menyerempet bahaya sepanjang waktu, tapi ada sebuah catatan di mana Kim Jong-Il mundur dari jurang bahaya. Kita pada dasarnya tahu di mana batas dia, di mana rem-nya dan tombol apa yang harus ditekan untuk membuat dia tetap sopan.“

“Dengan anaknya, kita tidak belum punya rekam jejak. Kita tidak tahu apa batasnya, seberapa jauh kita bisa menekan dia atau apakah dia memiliki rem atau tidak,” kata dia.

Di Korea Selatan yang lebih punya pengalaman dari siapapun dalam menghadapi perilaku Korea Utara, para analis mengatakan apa yang disebut orang sebagai “petualangan” ceroboh yang ada dalam diri Kim, faktanya bisa jadi adalah pragmatisme yang telah terukur dengan baik.

“Kim hanya punya waktu singkat untuk mempersiapkan kepemimpinan, yang artinya dia harus menggerakkan semuanya dengan lebih cepat dan agresif dengan cara dia, untuk mengamankan kontrol dia atas elit kekuasaan,” kata Chang Yong-Seok, peneliti senior di Institut Perdamaian dan Penyatuan Universitas Nasional Seoul.

Meniru ayahnya?

“Ini tidak begitu aneh. Kim Jong-Il juga masih memperkuat statusnya sebagai suksesor ketika dia mengumumkan setengah pernyataan perang pada puncak kriris program Nuklir Korea pada 1993-1994,“ kata Chiang.

Dalam sebuah rezim yang lingkaran dalamnya bekerja dalam gelap seperti Korea Utara, pasti muncul pertanyaan apakah Kim betul-betul berkuasa -- atau dia sekedar boneka yang dimanipulasi oleh para Jenderal dan pejabat-pejabatnya.

Yang Moo-Jin, seorang profesor di Universitas Studi Korea Utara di Seoul, membantah spekulasi semacam itu.

"Saya percaya dia telah menunjukkan diri menguasai penuh partai dan militer,” kata Yang sambil menunjuk sikap “tegas” dan bahkan tanpa belas kasih yang ditunjukkan Kim saat melakukan pembersihan di kalangan pejabat tinggi, setelah dia naik ke tampuk kekuasaan.

“Memang betul dia dikelilingi sekelompok mentor berpengalaman, tapi itu tidak membuat dia lemah. Dia membuat keputusan atas berbagai urusan negara. Sistemnya selalu seperti itu,” kata dia menambahkan.

Banyak ahli melihat bahwa Kim telah mengikuti pedoman yang ditunjukkan ayahnya dengan merekayasa krisis dan kemudian dengan tajam menaikkan pertaruhannya untuk membuat komunitas internasional bergairah memberikan konsesi untuk menurunkan ketegangan. 

ab/cp (afp, dpa, ap)