1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Kisah Alois Alzheimer dan Pasien Alzheimer Pertamanya

19 Desember 2020

Alois Alzheimer yang saat itu masih berusia 37 tahun pertama bertemu dengan Auguste D., pasien dengan kondisi yang belum pernah terdokumentasi. Saat ini dunia tahu bahwa Auguste D. menderita penyakit Alzheimer.

https://p.dw.com/p/3mrQH
Potret Alois Alzheimer
Potret Alois AlzheimerFoto: gemeinfrei

Di akhir November 1901 di sebuah klinik di Frankfurt, Jerman, seorang psikiater muda dihadapkan pada sebuah kasus aneh yang belum pernah terdokumentasikan sebelumnya. Pasien perempuan itu berusia 51 tahun dan dikenali dengan nama Auguste D., dibawa oleh keluarganya ke klinik tersebut pada 25 November 1901.

Auguste D. dilaporkan mulai kesulitan mengingat berbagai hal, merasa cemas tanpa alasan di apartemennya sendiri. Ia juga mulai cemburu berlebihan terhadap suaminya, curiga kepada orang-orang yang biasa berada di sekitarnya, dan merasa segala percakapan yang terjadi adalah tentang dirinya. Lama-kelamaan Auguste D. jadi sangat takut akan kematian hingga tubuhnya menggigil, ia juga mulai mengetuk dan membunyikan bel pintu para tetangganya. 

Psikiater itu, Alois Alzheimer yang pada saat itu berusia 37 tahun membaca catatan tentang pasien dengan cermat. Tidak ada sejarah kecanduan alkohol atau penyakit mental dari kedua orang tua Auguste D. Tidak ada tanda penyakit sifilis. Ia sendiri menikah dengan seorang klerik, memiliki seorang putri yang sehat, dan tidak pernah mengalami aborsi. Ia tampak cerdas, rapi, agak cemas tapi sopan. Namun keluarganya khawatir akan perubahan perilaku Auguste D. 

Meski kemunduran mental yang progresif karena faktor usia tua adalah hal yang dianggap biasa, saat itu belum pernah ada dokumentasi tentang penyakit aneh yang diderita perempuan itu. Selama Auguste D. berada di dalam perawatannya, Alois Alzheimer secara terperinci mencatat apa yang dia lihat dan amati.

Auguste D., pasien bersejarah Alois Alzheimer
Auguste D., pasien bersejarah Alois Alzheimer di sebuah klinik di Frankfurt.Foto: picture-alliance/dpa/Konrad Maurer

Kutipan catatan Alois Alzheimer ini dapat kembali dibaca dalam tulisan Konrad Maurer dari Departemen Psikiatri dan Fisioterapi, Johann Wolfgang Goethe-University, Frankfurt yang dimuat dalam buku berjudul Alzheimer: 100 Years and Beyond.

Murid yang “unggul dalam ilmu sains”

Alois Azheimer lahir pada 14 Juni 1864 di Markbreit, Bayern, Jerman. Ketika lulus dari sekolah menengah atas di ibu kota distrik di Aschaffenburg, para gurunya menyatakan bahwa Alzheimer punya “keunggulan di bidang ilmu sains.” Ternyata, sains juga adalah hobinya di waktu luang.

Selepas sekolah, Alzheimer melanjutkan pendidikan di sekolah kedokteran di Tübingen, Berlin, dan Würzburg. Ia menerima gelar Doktor Medis dari Universitas Würzburg pada tahun 1887. Ia diangkat sebagai asisten klinis di Irrenanstalt di Frankfurt pada usia 23 tahun.

Di sini Alzheimer bekerja sama dengan ahli saraf Franz Nissl dalam meneliti patologi sistem saraf. Alzheimer dan Nissl kemudian menjadi kawan sekaligus kolega yang juga menerbitkan karya bersama. Pada siang hari mereka bekerja bersama di rumah sakit, selepas bekerja, mereka duduk bersama di laboratorium sambil melakukan penelitian dan mendiskusikan hasil-hasilnya. 

Tahun 1894, Alois Alzheimer menikahi Cecilie Geisenheimer, seorang janda Yahudi yang berkecukupan. Mereka kemudian dikaruniai tiga orang anak yakni Gertrud, Hans dan Maria. Namun istrinya ini tidak berumur panjang. Cecilie meninggal di tahun 1901, ketiga anak mereka kemudian berada di bawah pengasuhan adik perempuan Alois Alzheimer, Maria.

Sepeninggal Cecilie, Alzheimer terus meneliti otak manusia. Hingga kemudian hari pada tahun 1912, Universitas Breslau menunjuk Alzheimer sebagai profesor psikiatri dan direktur Institut Psikiatri dan Neurologis. Alzheimer melanjutkan penelitian di sana selama tiga tahun berikutnya.

Pertemuan bersejarah antara dokter dan pasien

Namun dalam pertemuan pertamanya dengan pasien Auguste D. di klinik di Frankfurt pada tahun 1901, Alzheimer dibuat bertanya-tanya. Ia memutuskan untuk menangani kasus ini dengan teliti.

Tanggal 26 November 1901, ia menulis tentang Auguste D. bahwa perempuan itu “duduk di atas tempat tidurnya dengan ekspresi tidak berdaya.” Semua pertanyaan Alzheimer, baik itu terkait nama perempuan atau nama keluarga perempuan itu, dijawab dengan “Auguste.” Demikian juga pertanyaan lainnya.

“Siapa nama suami Anda?” tanya dokter Alzheimer.
“Auguste, saya pikir,” jawab Auguste D.

“Saat awal-awal masuk klinik, perilakunya didominasi oleh ketidakberdayaan total. Dia bingung akan waktu dan tempat. Terkadang dia mengatakan bahwa dia tidak mengerti apa-apa dan tidak tahu mau ke mana. Terkadang dia mengigau, dan membawa-bawa bagian tentang tempat tidurnya, memanggil suami dan putrinya, dan mengalami halusinasi pendengaran. Seringkali dia berteriak dengan suara yang menakutkan selama berjam-jam,” tulis Alzheimer dalam catatannya.

Penyakit itu dinamai Alzheimer

Kini dunia kedokteran sudah mengetahui bahwa ini adalah tanda-tanda dari penyakit yang sekarang dikenal sebagai Alzheimer. Namun saat itu, Alois Alzheimer membawa kasus ini ke Emil Kraepelin, seorang psikiater terkemuka di sekolah kedokteran di Münich, Jerman. Adalah Kraepelin yang kemudian mengusulkan penamaan kondisi pasien Auguste D. dengan nama Alzheimer.

Alzheimer kemudian menuliskan makalah penting tentang kasus ini pada tahun 1906, bahwa gejala yang dialami oleh Auguste D. menyimpang dari pola penyakit yang diketahui sebelumnya. Laporannya juga menyoroti apa yang dia temukan saat melakukan otopsi setelah kematian Auguste D., yakni adanya kumpulan kelainan pada sel otak.

Pada tahun 1907 ia mempresentasikan makalahnya di sebuah konvensi. Bagian korteks serebral otak pasiennya rusak parah. Lebih khusus lagi, sel-sel saraf di bagian otak ini memiliki endapan padat di sekitarnya (plak) sedangkan serat di dalamnya terpelintir (kusut).

Seperti dikutip dari laman Deutsche Alzheimer Gesellschaft, pada tahun 1913 saat sedang dalam perjalanan menuju Breslau, ia tertular penyakit serius yang juga menyerang jantungnya. Alois Alzheimer tidak pernah sembuh dari penyakit ini. dan meninggal pada 19 Desember 1915 pada usia 51 tahun tahun. Alois Alzheimer pun dimakamkan di pemakaman di Frankfurt am Main, tepat di samping peristirahatan terakhir istrinya yang telah pergi bertahun sebelumnya.

Selain penelitian tentang demensia, Alzheimer juga memberi kontribusi yang penting pada bidang histologi, melakukan observasi signifikan pada epilepsi, tumor otak, dan bidang lainnya. Secara luas ia dikagumi sebagai seorang peneliti yang berdedikasi, serta guru yang murah hati.

ae/vlz (berbagai sumber)