1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
SosialJerman

Kisah Nyata di Balik 'Cara Jualan Narkoba Online (Cepat)'

Dagmar Breitenbach | Manasi Gopalakrishnan
6 Agustus 2021

Dari rumah orang tuanya di Kota Leipzig, Jerman, seorang remaja menjalankan bisnis narkoba. Netflix mengangkat kisahnya dalam film.

https://p.dw.com/p/3ydKO
Film Netflix - Shiny Flakes: The Teenage Drug Lord
Maximilian dalam salah satu adegan film NetflixFoto: picture alliance/dpa/Netflix

Remaja yang mengedarkan narkoba secara online — itulah tema cerita salah satu serial Netflix: "How to Sell Drugs Online (fast)” alias "Bagaimana Cara Menjual Narkoba Lewat Online (Secara Cepat)”. Serial itu memenangkan penghargaan.

Pembuat serial tersebut terinspirasi oleh kisah nyata gembong narkoba remaja Jerman: Maximilian Schmidt.

Netflix menindaklanjuti serial laris itu dengan film dokumenter "Shiny Flakes: The Teenage Drug Lord”. Film ini mengungkapkan bagaimana, pada usia 18 tahun, Schmidt membangun kerajaan obat bius yang dia beri nama "Shiny Flakes " -- dari kamar tidurnya pada tahun 2013. Keluarganya sama sekali tidak menyadari hal tersebut

"Pada awalnya saya merasa gugup akan hal itu," kata Schmidt dalam film tersebut. Dia sadar akan melakukan sesuatu yang ilegal dan takut bahwa "polisi akan datang."

Sutradara Jerman Eva Müller menemani Schmidt selama beberapa tahun. Timnya dengan susah payah membangun kembali kamar tidur masa kecilnya, hingga ke perabotan dan seprai yang sama persis seperti dulu. Dia menyuruhnya memerankan kembali adegan demi adegan, mengobrol dengan pemasok palsu, mengemas pil merah muda yang sebenarnya permen di dalam kantong-kantong. Müller berbicara dengannya, mewawancarai pengacaranya, direktur penjara, jaksa penuntut umum, dan pakar psikologi yang mendampingi Schmidt.

Dalam percakapan email dengan DW, Müller mengatakan bahwa ide film tersebut adalah untuk mencari jawaban atas pertanyaan: Bagaimana seorang anak muda, yang tidak pernah terlibat kriminal, berubah menjadi kriminal dengan duduk di depan komputernya di rumah?

'Ini gila'

Selama lebih dari setahun, Schmidt menjual lebih dari 900 kilogram hashish, kokain, ekstasi, LSD, dan obat resep, demikian menurut laporan media. Pemuda itu mengirimkan barang-barang ini melalui pos ke seluruh dunia, secara efektif menggunakan tukang pos sebagai kurirnya yang tidak curiga. Ini adalah bisnis yang sangat profesional: pembayaran dilakukan di muka, pesanan diproses dan dikirim, "isinya bukan sepatu, melainkan obat-obatan," kata Schmidt. Faktanya, dia menjalankan "Amazon jenisnya sendiri" untuk hampir semua obat-obatan, kata pengacara pembela Stefan Costabel dalam film tersebut.

Bahkan ada testimoni pelanggan atas layanannya, yang salah satunya dia bacakan dengan lantang di film: "Dua gigi saya langsung rontok, barang ini benar-benar membuat Anda kesal." Schmidt menyeringai, tampak cukup puas dengan dirinya sendiri.

Faktanya, hal ini juga yang dikatakan psikolog yang ditunjuk secara hukum mendampingi Schmidt, kata sutradara Müller. "Psikolog, yang menulis laporan tentang dia selama persidangan, mengatakan apa yang diungkapkan Maximilian Schmidt: 'Saya tidak mengalami penyesalan atau rasa bersalah, tetapi kebanggaan.'"

Müller juga mengatakan Schmidt dengan senang hati menceritakan kisahnya kepada semua orang - jika tidak, tentu saja dia tidak akan menyetujui film tersebut sejak awal. Itu juga yang menjadi alasan mengapa dia pun memastikan agar kru film bisa berbicara dengan polisi, pengacara, dan orang lain yang terlibat dalam kasus ini guna mendapatkan perspektif yang seimbang.

Tidak ada hati nurani yang terusik

Dalam salah satu adegan, Müller bertanya kepada Schmidt: Apakah hati nuraninya tidak pernah mengusiknya sama sekali, karena dialah yang harus disalahkan sebab membuat orang kecanduan narkoba. Pemuda itu menjawab: Tidak! Menurutnya jika orang tidak membeli darinya, mereka akan mendapatkan narkoba dari tempat lain. Dan pelanggan tampaknya bisa menemukannya melalui pencarian Google. "Ini gila," kata Schmidt. "Dalam arti positif."

Beberapa paket obat yang tidak terkirim akhirnya membawa penyelidik ke Schmidt, demikian menurut laporan media Jerman. Pada bulan Februari 2015, polisi menangkap pemuda tersebut, yang saat itu berusia 20 tahun, di apartemen keluarga Schmidt di Leipzig. Polisi menyita 320 kilogram narkoba senilai beberapa juta euro.

Schmidt dijatuhi hukuman tujuh tahun penjara remaja. Empat tahun kemudian, pada tahun 2019, ia dibebaskan dari penjara.

Menurut Redaktionsnetzwerk Deutschland, jaringan perusahaan media Jerman, Schmidt kini diselidiki lagi karena menjual narkotika ilegal setelah dibebaskan dari penjara - meskipun kali ini mungkin tidak sendirian melakukannya.

Sutradara Eva Müller juga mengatakan krunya menyadari fakta bahwa Schmidt adalah seseorang yang tidak ragu-ragu sebelum melakukan kejahatan serius. Terlepas dari itu, dia senang bagaimana film itu diproduksi, juga karena sulit untuk menggambarkan secara visual kejahatan yang terjadi secara online. "Saya rasa kami telah berhasil menyuguhkan film tema kejahatan online dengan cara yang menarik, menghibur, dan mencerahkan," kata Müller. (hp/ap)