Kolom: Saya Perempuan dari Dunia Arab, Apakah Saya Tertindas?

Perempuan yang mengenakan jilbab tertindas di masyarakat yang didominasi pria, demikian keyakinan populer di Barat. Namun Rim Dawa mengatakan di negara asalnya Suriah yang patriarkis, masalahnya tidak sesederhana itu.

"Kamu tertindas!" Itulah stereotip yang menghuni isi kepala kebanyakan orang-orang di Barat tentang perempuan berjilbab di dunia Arab. Benarkah demikian?

Bagaimana menurut Anda?

Klik di sini untuk mengikuti diskusi

Saya teringat akan seorang teman di Suriah yang pernah mengatakan kepada saya bahwa dia membenci label pada botol parfum. "Seharusnya tidak perlu ada pemisahan parfum untuk perempuan dan pria," katanya. "Saya lebih suka wewangian yang dijual untuk pria."

Dia tidak bercanda. Tentu saja, parfum tidak terlalu penting baginya. Sebaliknya dia muak dengan situasi yang dihadapinya dan butuh napas kebebasan.

Teman saya adalah ibu dari dua anak dan bercerai pada usia muda. Dia telah menghabiskan waktu bertahun-tahun yang melelahkan di pengadilan, dalam sengketa tunjangan anak. Dan ia lelah atas perasaan menjadi korban. Dia juga menghabiskan waktu bertahun-tahun mencari pekerjaan yang layak, tetapi tidak berhasil.

Bagaimana patriarki mempengaruhi pemikiran paling pribadi seorang perempuan

Itulah kenyataan pahit sistem patriarki di Suriah, di mana cara terbaik untuk menjaga perempuan agar tetap terkendali adalah dengan membatasi kebebasan mereka untuk bekerja.

Sementara itu, laki-laki yang membatasi kebebasan perempuan, berpidato panjang memuji hak asasi manusia, padahal pemikiran mereka ‘masih tersangkut' di abad pertengahan.

Sebagai seorang remaja, saya biasa menulis puisi-puisi naif. Seperti teman-teman sebaya saya, saya akan menulis nama "Suriah" dalam puisi saya sebagai seolah-olah kekasih saya, karena saya tidak berani menorehkan nama anak lelaki yang saya kagumi dengan tinta. Sebagai gantinya, saya menyembunyikan nama itu dengan nama negara, untuk menghindari anggapan dan reputasi buruk dari masyarakat.

Anak laki-laki bebas menyukai gadis-gadis dan tidak perlu malu untuk mengekspresikan perasaan mereka. Sebaliknya, sebagai anak perempuan, kami tidak diberikan hak istimewa yang sama.

Lika Liku Perdebatan Jilbab di Jerman

Masuknya pekerja asing dari Turki

1961: Republik Federal dan Turki mencapai perjanjian perekrutan tenaga kerja. Jutaan orang Turki datang ke Jerman sebagai pekerja tamu dalam beberapa dekade setelahnya - kebanyakan dari mereka tetap tinggal. Ini juga memperkenalkan masyarakat Jerman pada jilbab sebagai ciri busana Muslim perempuan.

Lika Liku Perdebatan Jilbab di Jerman

Kehidupan yang bermartabat bagi umat Islam

2002: Dalam Piagam Islam, Dewan Pusat Muslim di Jerman berkomitmen pada konstitusi sementara dan pada saat bersamaan menuntut kehidupan yang bermartabat bagi umat Islam di Republik Federal Jerman. Hal ini termasuk dalam mengenakan jilbab.

Lika Liku Perdebatan Jilbab di Jerman

Tiada alasan untuk memecat seseorang karena jilbab

2003: Mahkamah Konstitusi Federal menjunjung tinggi putusan Pengadilan Perburuhan Federal di Erfurt tahun 2002, yang mengatakan tidak ada alasan cukup untuk memecat seseorang karena mengenakan jilbab karena alasan agama di sebuah tempat kerja non-pemerintah.

Lika Liku Perdebatan Jilbab di Jerman

Guru Muslim tak boleh dilarang kenakan jilbab ketika mengajar

2003: Dalam kasus Fereshta Ludin, Mahkamah Konstitusi memutuskan bahwa seorang guru Muslim perempuan tidak dapat dilarang mengenakan jilbab selama jam pelajaran tanpa aturan hukum tertentu. Hal ini menempatkan tanggung jawab pada parlemen negara untuk membuat undang-undang tentang masalah ini. Perdebatan ini dibawa ke Mahkamah Konstitusi Federal.

Lika Liku Perdebatan Jilbab di Jerman

Pengadilan HAM Eropa Bahas masalah jilbab untuk pertama kalinya

2004: Pengadilan Hak Asasi Manusia Eropa membahas masalah jilbab untuk pertama kalinya dan menjunjung larangan yang diberlakukan oleh lembaga pelatihan Turki. Para hakim di Strasbourg menolak pengaduan bahwa undang-undang itu melanggar hak atas kebebasan beragama dan hak atas kebebasan berekspresi.

Lika Liku Perdebatan Jilbab di Jerman

Larangan penggunaan topi sebagai pernyataan agama

2011: Pengadilan Perburuhan Federal di Erfurt mengatur bahwa penggunaan topi di sekolah dapat dianggap sebagai pernyataan agama dan karenanya dapat dilarang. Pengadilan melanjutkan dengan mengatakan bahwa penutup kepala "jelas dipakai sebagai pengganti jilbab".

Lika Liku Perdebatan Jilbab di Jerman

Larangan di Bayern dicabut

2015: Mahkamah Konstitusi Federal menolak larangan jilbab panjang bagi guru Muslim perempuan di sekolah umum. Larangan hanya mungkin, katanya, jika pemakaian penutup kepala Muslim menimbulkan risiko konkret yang menyebabkan gangguan di sekolah.

Lika Liku Perdebatan Jilbab di Jerman

Pegawai magang menang di pengadilan dalam perkara jilbab

2016: Pengadilan Administratif di Augsburg menetapkan bahwa larangan jilbab bagi seorang mahasiswa jurusan hukum saat magang di kantor hukum di Bayern adalah melanggar hukum dan mengatakan bahwa hal itu merupakan campur tangan dalam kebebasan beragama dan pendidikan tanpa dasar hukum.

Lika Liku Perdebatan Jilbab di Jerman

Kebebasan beragama di Jerman

Kebebasan beragama adalah hak fundamental di Jerman. Berdasarkan hukum Eropa, kebebasan beragama dijamin oleh Piagam Hak Fundamental Uni Eropa. Setiap warga/penduduk Jerman memiliki hak untuk beragama dan menjalankan agamanya tanpa persyaratan atasu dibatasi. Dan tidak seorangpun dipaksa untuk menjalankan atau mengamalkan ibadah keagamaan. Editor: ap/vlz (qantara)

Moral campuran

Saya tidak akan pernah melupakan tatapan dan komentar yang saya dapatkan ketika saya mengendarai sepeda di depan umum pada usia 20 tahun. Naik sepeda itu wajar jika saya seorang pria, namun dianggap tabu bagi perempuan dewasa.

Sepeda, tentu saja, hanyalah permulaan. Lainnya? Tabu bagi perempuan untuk hidup sendirian, bepergian sendirian atau bahkan berjalan di malam hari. Di banyak tempat, mereka tidak diizinkan memiliki teman pria - dan sekolah menengah dipisahkan berdasarkan jenis kelamin.

Ketika tinggal di Jerman, saya kagum saat saya melihat perempuan berada di kantor-kantor politik. Kanselirnya pun perempuan, yakni Angela Merkel. Saya hampir tidak ingat apakah ada perempuan duduk di parlemen atau kementerian Suriah.

Perdebatan besar soal burkini dan jilbab

Ketika kontroversi burkini muncul di Eropa, di mana beberapa wilayah berniat melarang pakaian renang seluruh tubuh yang dikenakan oleh beberapa wanita Muslim, saya jadi teringat cerita teman Suriah lainnya.

Di Jerman, dia mendapat beberapa pertanyaan ‘ajaib‘ tentang jilbabnya. Misalnya, apakah dia sebenarnya berambut dan apakah dia harus mandi lengkap dengan jilbab di kepalanya.

Yang lain menyarankannya untuk melepas jilbab, karena dia sekarang tinggal di Jerman dan bebas untuk melakukan itu. Sangat sulit baginya untuk menjelaskan kepada mereka bahwa mengenakan jilbab adalah pilihan pribadinya; dia tidak dipaksa untuk mengenakannya.

Jadi, meskipun rambutnya tertutup, pemikirannya terbuka, dia punya ambisi dan ia pun berpendidikan.

Namun, bagi banyak orang Jerman dan Eropa, jilbab tetap menjadi simbol penindasan.

Kenapa saya tidak memakai jilbab

Di sini, di Jerman, saya sering harus menjelaskan mengapa, tidak seperti teman saya, saya tidak mengenakan jilbab.

Saya tumbuh di kota Salamiyah yang relatif liberal, di mana penutup kepala bukan suatu keharusan bagi perempuan. Namun, ketika saya bepergian ke daerah lain, seperti Hama, saya menghormati kebiasaan setempat dalam berbusana.

Beberapa perempuan mengenakan jilbab karena keyakinan agama mereka sendiri, yang lain memilih untuk tidak mengenakannya karena keyakinan atau pola asuh dalam keluarganya. Tetapi bagi saya, jilbab adalah pilihan perempuan dan bukan merupakan tanda penindasan dari masyarakat patriarki.

Kami punya cukup kebebasan lain yang dibatasi oleh orang-orang yang berkuasa. Dan meskipun komunitas saya tidak memiliki masalah dengan perempuan tak berjilbab, sisa kebebasan kami terbatas.

Niqab Squad: Mereka yang Bertahan di Balik Cadar

Membentuk kelompok solidaritas

Indadari Mindrayanti sangat aktif dengan instagramnya. Selebriti instagram ini membagikan dakwah dengan gambar dan teks, menjawab pertanyaan fans, dan mengurusi bisnisnya lewat media sosial. Pada tahun 2017, bersama sahabat-sahabatnya ia mendirikan Niqab Squad, untuk membantu perempuan-perempuan yang baru mengenakan cadar dalam beradaptasi.

Niqab Squad: Mereka yang Bertahan di Balik Cadar

Punya masing-masing kelebihan

Meski dikenal di kalangan selebriti, Indadari bukan seorang artis. Beberapa sahabatnya merupakan ‘public figure‘ dan mereka bersama-sama mendorong terbentuknya Niqab Squad. Mereka di antaranya Ustdzah Rosdiana dan Dian Opick, desainer Diana Nurliana. Ada juga dari kalangan professional seperti Tri Ningtyas.

Niqab Squad: Mereka yang Bertahan di Balik Cadar

Jadi desainer

Indadari ingin menunjukkan bahwa mereka yang tertutup di balik cadar juga punya potensinya masing. Di antaranya seperti desainer Diana Nurliana, sahabatnya. Di balik selubung hitam yang kerap dikenakannya sehari-hari, ia mempu merancang gaun-gaun indah.Namanya sudah bergema di panggung mode Indonesia mulai dari ajang Indonesia Fashion Week hingga Jakarta Fashion Week sejak 2015 lalu.

Niqab Squad: Mereka yang Bertahan di Balik Cadar

Belajar macam-macam hal

Anggota Niqab Squad pun diwarnai beragam profesi, dari pedagang, dokter, auditor keuangan, pengacara, desainer, hingga pelatih taekwondo. Mereka saling berbagi ilmu. Bergabung dengn Niqab Squad, para anggota diberi kesempatan untuk mempelajari berbagai hal seperti belajar fotografi, memanah, berkuda, berenang, hingga mengembangkan kemampuan berbisnis.

Niqab Squad: Mereka yang Bertahan di Balik Cadar

Kerap sulit mendapat pekerjaan

“Saya bekerja di bagian administrasi sektor ekspor-impor,” ujar Tri Nigtyas. Usianya baru di awal kepala tiga. Ia bercerita kawan-kawannya yang bercadar banyak yang sulit mendapat pekerjaan. Ia mengaku cukup beruntung malah ditawari pekerjaan ini ketika telah bercadar. Sebelumnya ia memang bergelut lama di bidang ekspor impor.

Niqab Squad: Mereka yang Bertahan di Balik Cadar

Jadi pelatih taekwondo

Dalam kesehariannya, Arlyna berpenampilan syar'i. Namun gaya busananya ketika berniqab tidak selalu serba hitam tapi juga warna-warni. Di akun instagramnya ia terlihat kerap naik motor besar. Dengan mengenakan niqab, ia berbagi ilmu bela diri taekwondo yang digelutinya sejak lama.

Niqab Squad: Mereka yang Bertahan di Balik Cadar

Menjadi fotografer

Di balik cadarnya, Azthry Ibrahim berprofesi sebagai fotografer. Dari SMA ia sudah menggeluti dunia foto. Ia juga membagikan keaahliannya pada para hijaber lain yang banyak ingin belajar memotret. Meski memakai cadar, ia mengaku tak ada kesulitan dalam men jalankan profesinya. Kebanyakan foto yang ia buat bertema kemanusiaa, panorama dan pernikahan.

Niqab Squad: Mereka yang Bertahan di Balik Cadar

Menangkis anggapan radikal, memunculkan kesan positif

Selain pengajian, menurut Tyas, kegiatan Niqab Squad lainnya adalah kerap melakukan sosialisasi. untuk memunculkan kesan ramah dan tidak seperti yang biasa orang bayangkan pada umumnya. Selain itu tak jarang mereka mengundang pakar khusus untuk mengajarkan hal-hal baru.

Niqab Squad: Mereka yang Bertahan di Balik Cadar

Belajar melukis tangan

ketika ingin mengembangkan keahlian melukis tangan dengan hyena, mereka mengundang pelatih yang bisa mengajarkan bagaimana melukis hyena dengan baik. Saat butuh keahlian bagaimana membuat nasi bento, mereka mengundang chef bento profesional.

Niqab Squad: Mereka yang Bertahan di Balik Cadar

Perempuan bercadar pengurus jenazah

Pelatihan mengurus jenazah juga dilakukan Niqab Squad Jakarta. Mereka membentuk formasi melingkar, lalu Koordinator Niqab Squad Jakarta Tri Ningtyas Anggraeni memaparkan tahapan mengurus jenazah. Memandikan jenazah, butuh ketelatenan. Ada banyak bagian yang tak boleh luput untuk dibersihkan.

Niqab Squad: Mereka yang Bertahan di Balik Cadar

Jumlahnya terus berkembang

Awal terbentuk, Niqab Squad memperoleh sambutan luar biasa. Dua bulan setelah berdiri, ratusan perempuan bercadar hadir dalam pertemuan pertama di suatu masjid di Jakarta. Kini jumlah anggotanya terus berkembang. Dalam setahun mereka sudah meraup ribuan anggota bari dari sekitar 30 cabang di Indonesia dan beberapa negara seperti Malaysia, Taiwan dan Afrika Selatan. (Ed: Purwaningsih/rzn)

'Saya tidak akan menyerah'

Menengok ke belakang, saya tetap berbesar hati dengan langkah-langkah kecil kemajuan yang telah dibuat masyarakat Suriah menuju kesetaraan gender.

Meskipun tidak ada undang-undang yang diubah dan laki-laki masih memegang kendali, saya mengamati bahwa jumlah perempuan Suriah yang sadar akan hak-hak mereka - seperti teman saya yang suka parfum pria - terus bertambah.

Saya berharap, semakin banyak perempuan bisa menyuarakan hati mereka dan tidak hanya merasa bebas, tetapi juga menjalani kebebasan mereka.

Sementara itu, teman saya di Suriah masih berusaha meninggalkan negara itu untuk melindungi anak-anaknya dari perang yang sedang berlangsung, namun ayah anak-anak itu menolak memberi mereka izin untuk pergi.

Namun demikian, dia tidak akan pernah berhenti berusaha. Dia mengatakan kepada saya, "Saya mungkin teraniaya, tetapi saya tidak akan menyerah."

Saya dapat merasakan kepedihannya, karena saya juga mengalami persekusi di Suriah hanya karena jenis kelamin saya.

Di sini di Jerman, saya merasa aman, terlindungi, dan bebas. Tapi saya kini istirahat sejenak dari bersepeda, hingga memar yang saya alami akibat jatuh dari sepeda baru-baru ini benar-benar sembuh.

Penulis:

Rim Dawa lahir dan besar di Salamiyah, Suriah. Ia  datang ke Jerman pada 2012 untuk menyelesaikan gelar masternya di studi media internasional. Ia kini menjadi jurnalis di departemen bahasa Arab DW.

Menyelubungi Rambut dengan Alasan Religius

Di balik Selubung

Perempuan Muslim yang menyelubungi rambut mereka bukan boneka kepercayaan mereka, demikian seniman video Nilbar Güres. Empat foto ini diambil dari pertunjukannya "Soyunma/Undressing," (2006). Dalam show ini ia menyingkap selubung satu demi satu sambil menyebut nama perempuan di keluarganya.

Menyelubungi Rambut dengan Alasan Religius

Rambut Palsu

Dalam foto yang berjudul "Covered" (2009) Anna Shteynshleyger kenakan dua wig berbeda. Wig adalah penutup rambut yang biasa dikenakan perempuan Yahudi religius. Hingga akhir abad 17 perempuan Yahudi kenakan "tichel," yaitu semacam kerudung, untuk selubungi rambut. Ketika wig mulai tersebar luas, ini jadi alternatif sangat bagus bagi "scheitel," yaitu penutup kepala tradisional perempuan Ortodoks.

Menyelubungi Rambut dengan Alasan Religius

Satu Kepercayaan, Beberapa Agama

Kerudung pendek, panjang, dikenakan erat pada tubuh atau disemat di leher. Berbagai macam cara perempuan Muslim mengenakan penutup kepada. Tapi apa artinya? Pameran ini menunjukkan perbedaaannya, juga menunjukkan penutup kepala mana berasal dari kebudayaan mana, dan kepercayaan mana. Termasuk juga makna lebih luasnya.

Menyelubungi Rambut dengan Alasan Religius

Menutup Kepala Saat Ibadah

Fotografer Marija Mihailova mendokumentasikan ritual di gereja Ortodoks Rusia di Berlin. Saat ibadah, kaum perempuan menutup kepala mereka. Ini kebiasaan yang sudah jarang terlihat di gereja Protestan dan Katolik.

Menyelubungi Rambut dengan Alasan Religius

Terselubung Rambut

Rambut panjang dan hitam adalah kecantikan yang ideal di banyak negara Arab. Itu disimbolkan patung ini, "Chelgis I" (2002), karya seniman Iran Mandana Moghaddam. Walaupun rambutnya cantik, ini jadi penutup yang sepenuhnya menyembunyikan identitas sang gadis. Karya ini diilhami dongeng Persia tentang gadis yang dipenjara, yang mengenakan rambut kepang 40.

Menyelubungi Rambut dengan Alasan Religius

Rambut Eksklusif Hanya bagi Suami

Kata "tichel" dalam bahasa Yiddi berarti penutup kepala yang khas bagi perempuan Yahudi Ortodoks. Foto dari tahun 2001 oleh Leora Laor ini mendokumentasikannya, saat berkunjung ke distrik ultra ortodoks Mea Schearim di Yerusalem. Menurut kepercayaan mereka, setelah menikah hanya suami yang boleh melihat rambut mereka. Oleh sebab itu harus ditutupi dengan kerudung atau wig.

Menyelubungi Rambut dengan Alasan Religius

Di Tempat Terbuka

Federica Valabrega membuat foto Perempuan Yahudi di Coney Island, New York tahun 2011. Walaupun mengenakan penutup rambut, rambut mereka tetap bisa terlihat sedikit. Ritual keagamaan ada banyak di dunia, dan bagaimana perempuan menginterpretasikannya secara kreatif juga berbeda-beda.

Menyelubungi Rambut dengan Alasan Religius

Tertutup Walau di Pantai

Bermain air di pantai walaupun tetap setia kepada kepercayaan? Bagi banyak perempuan Muslim, burkini sudah memungkinkannya, karena hanya menunjukkan sedikit kepada serta tubuh. Tapi di Barat, busana ini dinilai provokasi oleh sebagian orang. Penulis: Nadine Wojcik (ml/ap)


Ikuti kami