1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Komunisme Masih Berjaya di Vietnam

7 November 2014

25 tahun lalu, rejim komunis di Jerman Timur runtuh. Di Vietnam, partai komunis tetap jaya dan berhasil mendongkrak ekonomi. Di Indonesia, diskusi tentang PKI dan peristiwa 1965 tetap jadi tabu.

https://p.dw.com/p/1DiMX
Foto: AFP/Getty Images

25 tahun setelah runtuhnya tembok Berlin, komunisme tetap berkibar di Vietnam, walaupun wajahnya sudah berubah jauh. Partai Komunis Vietnam menjadi jaminan bagi banyak orang untuk meniti karir. Sebagai anggota ASEAN, tokoh-tokoh partainya dihormati di kalangan pemimpin Asia, termasuk Indonesia. Tetapi di Indonesia, diskusi tentang tragedi 1965 dan pembantaian PKI serta orang-orang yang dituduh sebagai simpatisannya belum bisa dilakukan secara terbuka.

Namanya sebut saja Van, anggota Partai Komunis Vietnam (CPV), usia 28 tahun. Dengan santai perempuan muda itu duduk di sebuah Cafe mewah di Hanoi. Dengan celana jeans skinny, baju cardigan mahal, dan iPhone 5 di tangannya. Dia tidak bersedia menyebutkan nama aslinya.

"Saya masuk partai karena pekerjaan saya," kata Van, yang bekerja di salah satu media pemerintah. Sebagai anggota partai, dia lebih mudah mendapat promosi untuk jabatan yang lebih tinggi.

Van dilahirkan dalam keluarga yang cukup berada. Dia adalah bagian dari generasi baru di Vietnam, yang getol membeli barang-barang mahal. Tentang sejarah kelam Vietnam selama masa-masa perang melawan Amerika Serikat, dia tidak tahu banyak.

Bertahan dengan pragmatisme

Kehebatan Partai Komunis Vietnam adalah keberhasilannya keluar dari citra suram dengan mengundang masuk perusahaan-perusahaan global, seperti Starbucks dan McDonalds. Dengan pendekatan pragmatis ini, CPV mampu bertahan sebagai partai hegemoni sekaligus mendongkrak perekonomian.

"Sistem politik gaya Lenin sampai sekarang bisa bertahan di Vietnam dan Laos. Sistem yang otoriter bisa terus berkuasa, walaupun masyarakatnya sudah berubah," kata Carl Thayer dari University of New South Wales di Australia.

Adalah pemimpin revolusioner Ho Chi Minh yang berhasil menggalang perjuangan melawan penjajah Perancis tahun 1950-an.

"Ho Chi Minh berhasil melihat pentingnya menggabungkan prinsip-prinsip komunisme dengan sistem moral Konghucu," kata penulis buku David Priestland, yang menulis tentang komunisme di Vietnam.

Sampai sekarang, pemerintah Vietnam tetap mempromosikan "ajaran-ajaran moral Ho Chi Minh" di sekolah, media dan plakat-plakat yang tersebar di jalan-jalan.

Reformasi ekonomi

Banyak pengamat menilai, komunisme di Vietnam sebenarnya tinggal kulitnya saja. "Legitimasi Partai Komunis ditentukan oleh kemampuannya menyediakan barang-barang konsumsi kepada rakyat, bukan berdasarkan prinsip-prinsip moral," kata Thayer.

Ini dimulai tahun 1986 dengan pencanangan reformasi ekonomi yang disebut gerakan "doi moi", yang menghapuskan sistem ekonomi terpusat dan membuka perekonomian untuk para investor asing. Sejak itu, standar hidup di Vietnam terus meningkat.

Pada akhirnya, kapitalisme dan globalisasi telah membantu Partai Komunis Cina mempertahankan kekuasaannya.

Tapi, bisakah sistem ini bertahan di Vietnam dalam tahun-tahun mendatang? Di Jerman Timur, rejim komunis bangkrut dan runtuh setelah berkuasa lebih dari 40 tahun.

Komunisme Vietnam bukan sesuatu yang ditakuti lagi di negara-negara Asia. Vietnam malah menjadi anggota ASEAN tahun 1995, dan akan menjadi bagian dari Masyarakat Ekonomi ASEAN mulai 2015.

Di Indonesia, komunisme masih jadi kata yang menakutkan. Presiden Jokowi sempat diisukan sebagai komunis oleh lawan-lawan politiknya selama kampanye pemilu presiden. Tentang sejarah pembantaian PKI dan orang-orang yang dituduh sebagai simpatisannya masih belum bisa didiskusikan secara terbuka.

hp/yf (dpa)