1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
BudayaTimur Tengah

Kunjungan Sri Paus Soroti Nasib Muram Katolik-Kaldea di Irak

8 Desember 2020

Jika Paus Fransiskus berkunjung ke Irak Maret tahun depan, dia akan mendapati minoritas Katolik-Kaldea yang menyusut akibat perang berkepanjangan. Dia diwanti-wanti terhadap kemunduran Kristen di tanah kelahiran sendiri.

https://p.dw.com/p/3mPPC
Sebuah gereja yang dibakar gerilayawan Islamic State di Bakhdida, kota berpenduduk mayoritas Kristen di Irak.
Sebuah gereja yang dibakar gerilayawan Islamic State di Bakhdida, kota berpenduduk mayoritas Kristen di Irak. Foto: picture-alliance/NurPhoto/M. Moskwa

Minoritas Katolik di Irak bakal kedatangan kunjungan penting dari Vatikan. Maret tahun depan, Paus Fransiskus bakal berkunjung ke negeri di tepi dua sungai itu. Lawatan Sri Paus membawanya ke kota-kota berpenduduk Katolik yang kebanyakan berada di bekas jantung kekuasaan Islamic State. 

Sebab itu pula pemimpin Katolik Kaldea Irak, Louis Raphael I. Sako, sempat berkeberatan ketika beberapa bulan silam Vatikan mengumumkan rencana kunjungan Sri Paus.  

Fransiskus dijadwalkan mengunjungi ibu kota Baghdad, situs peninggalan Sumeria, Ur, Erbil, Mosul dan Bakhdida, kota berpenduduk mayoritas Katolik di utara Irak. Dua kota terakhir di Dataran Niniwe itu sempat menjadi sarang Islamic State, sebelum direbut pemerintah Irak empat tahun silam. 

Minoritas Kristen di Irak merupakan pengikut Gereja Katolik-Kaldea, sebuah Gereja Partikular Ritus Timur yang menginduk kepada Vatikan. Adapun lembaga tertinggi Katolik-Kaldea, Patriarkat Kaldea Babilon, berkedudukan di ibu kota Baghdad.  

Di negeri yang didominasi mayoritas Syiah Islam itu, populasi Katolik ditaksir berjumlah antara 400.000 hingga satu juta penduduk. Banyak yang sudah melarikan diri ke Amerika Utara, Australia atau Eropa Barat. Menurut data teranyar, minoritas Kristen di Irak hanya berkisar satu persen dari jumlah populasi total. 

Sako termasuk yang paling gencar memperingatkan kemunduran agama Kristen di tanah kelahiran sendiri. Dia melobi politisi-politisi beragama Kristen di Baghdad agar bersatu demi melindungi kuota anggota parlemen bagi minoritas agama di Irak. Patriark Babilonia itu juga rajin mengkampanyekan hak-hak minoritas, terutama bagi pemeluk Kristen. 

Paus Fransiskus menghargai Sako dalam kapasitasnya sebagai pembuka pintu dialog dengan Islam. Hubungan keduanya memuncak pada Juli 2018 silam, ketika Sri Paus mengangkat Sako sebagai Kardinal menjelang ulang tahunnya yang ke70. 

Patriark Babilonia, Louis Raphael I. Sako
Patriark Babilonia, Louis Raphael I. SakoFoto: DW/M. Al-Said

Dukungan Vatikan bagi pemuka Katolik di Baghdad dinilai krusial. Sako yang diangkat sebagai Patriark Babilonia pada 2013 itu mengemban tanggungjawab pelik, menyusul situasi keamanan yang tak kunjung membaik di Irak.  

Kemunduran Katolik-Kaldea di Irak 

Tahun lalu Patriark Babilonia meminta warga Kristen tidak merayakan Natal, sebagai penghormatan atas demonstran yang tewas dalam gelombang protes. Pun misa tengah malam, yang saban tahun diselanggarakan di Baghdad, harus dibatalkan. Menurutnya situasi keamanan terlalu sensitif untuk sebuah perayaan. 

Di awal tahun Sako masih mewanti-wanti terhadap situasi keamanan  yang menurutnya serupa “gunung api menjelang erupsi.” Irak saat itu baru menghadapi gelombang aksi protes. Demonstran yang kebanyakan kaum muda meratapi tingginya angka kemiskinan, pengangguran dan buruknya layanan publik.  

Sako pun ikut mengeluhkan, betapa Irak tidak mampu keluar dari lingkaran sektarianisme, korupsi, nepotisme dan lemahnya penegakan hukum. Kebuntuan tersebut diperburuk oleh pandemi corona yang sejauh ini sudah menelan 12.400 korban jiwa. 

Naiknya Mustafa al-Kadhimi ke kursi perdana menteri dinilai sang patriark sebagai sebuah harapan. Politisi Syiah yang menggantikan Adil Abd al-Mahdi itu diyakini mampu menyatukan Irak, meredam praktik korupsi dan menghentikan militerisasi negara.  

Menurut Sako, al-Kadhimi “adalah seseorang yang jujur, tidak berafiliasi dengan salah satu partai politik dan selalu membuka pintu bagi dialog.”  

Stabilitas Irak belum menentu pasca kejatuhan imperium teror Islamic State. Hingga kini, baru sekitar 40% warga Kristen yang kembali ke kampung halaman, setelah diusir ISIS enam tahun silam. Sementara sisanya memilih menetap di luar negeri atau di wilayah Kurdi, menurut Keuskupan di Baghdad. 

Sako menghabiskan selama sebelas tahun bekerja di Mosul sebagai seorang pendeta. Pada 2002 dia diangkat sebagai Uskup Kirkuk dan mulai berkecimpung di dalam politik. Februari lalu, Sako berkunjung ke Vatikan lantaran mengkhawatirkan konflik dan krisis ekonomi yang memaksa warga Kristen mengungsikan diri. 

Dalam pertemuan dengan Sri Paus, enam patriark Gereja Katolik Timur di Irak mengabarkan situasi di kawasan, usai sebelumnya berkonsultasi dengan pemimpin Gereja Katolik Timur di Lebanon. Saat itu Sako menolak rencana kunjungan Fransiskus ke Irak. 

“Sayangnya situasi saat ini tidak memungkinkan,” katanya. 

rzn/hp (kna, mideasteye, dpa)