Lapangan Tahrir Kembali Membara

Bentrokan berdarah antara demonstran dan militer untuk pertamakalinya terjadi di Mesir sejak kejatuhan Presiden Housni Mubarak. Penduduk mulai kehabisan sabar dan kehilangan kepercayaan kepada Dewan Militer yang berkuasa

Revolusi kembali bangkit di lapangan Tahrir. Ribuan pengunjuk rasa yang masih disergap rasa tegang membahas insiden yang terjadi pada Jumat malam (9/4). Pecahan kaca dan batu bertebaran di mana-mana. Di setiap pintu masuk, militer membentangkan kawat duri. Para demonstran juga mengawasi semua orang yang ingin memasuki lapangan, persis seperti saat 18 hari perlawanan rakyat menentang Housni Mubarrak dua bulan lalu.

"Kami adalah anggota keamanan sipil dan ingin melindungi mereka yang ada di dalam lapangan. Kami harus mencegah militer membunuh lebih banyak penduduk, seperti yang terjadi semalam. Mereka menggunakan peluru tajam. Tiga pahlawan revolusi meninggal," kata Sabr Mahmoud, seorang warga sipil yang berjaga-jaga.

Kementrian Kesehatan menyebut hanya satu jumlah korban yang tewas. Sebaliknya para dokter melaporkan dua orang meninggal dunia. Para demonstran dicibir oleh Dewan Militer sebagai "elemen radikal dan tidak tunduk pada hukum." Bertentangan dengan kabar yang beredar, militer menampik telah menggunakan peluru tajam.

Hubungan Singkat Sipil-Militer

Padahal belum lama ini penduduk Mesir mengelu-elukan para serdadu ketika militer mengambilalih kekuasaan dari rejim Mubarak. Namun hubungan romantis itu berjalan singkat, setidaknya hingga hari Sabtu. Seperti kata penduduk yang berada di sekitar lapangan Tahrir

"Lihatlah di sini," kata seorang perempuan yang menggenggam tiga selongsong peluru. Ketiganya diduga berasal dari serdadu pemerintah. "Begitu cara mereka melindungi rejim lama yang korup," kata pria lain.


NO FLASH Proteste in Ägypten

Para pengunjuk rasa di Mesir meneriakkan slogan anti Kementrian Pertahanan pasca bentorkan berdarah Jumat malam (8/4)


Banyak aktivis gerakam Demokrasi sejak beberapa pekan telah mencurigai, militer berusaha menghindari proses demokratisasi di Mesir. Hari Jumat sekitar satu juta penduduk berdemonstrasi menentang Dewan Militer. Mereka menuntut pemecatan semua pejabat pemerintah yang setia pada rejim lama dan diajukannya mantan Presiden Mubarak ke pengadilan.

"Kami melawan Dewan Militer!"

Suara-suara protes melawan militer semakin sering terdengar, terutama hari Sabtu di lapangan Tahrir. "Rakyat ingin kejatuhan Dewan Militer," teriak para demonstran.

Jumat (08/04) malam sejumlah perwira militer mengungkapkan solidaritas dengan para pengunjuk rasa dan mendesak pengunduran diri Ketua Dewan Militer, Jendral Tantawi. Dengan pentungan kayu dan peluru tajam, aparat keamanan pada jam tiga pagi berhasil mengosongkan lapangan tersebut.

Beberapa mobil terbakar dilalap api. Sabr Mahmoud meyakini, militer sendiri yang membakar mobil-mobil tersebut. “Maaf," katanya, "kami melawan Dewan Militer, melawan pimpinan militer. Tapi bukan melawan militer Mesir secara umum. Mereka kan hanya mematuhi perintah atasan," tuturnya.

Jürgen Stryjak/ Rizki Nugraha
Editor: Dyan Kostermanns

Konten terkait

Ikuti kami