1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
Kesehatan

Studi: 1,8 Juta Orang di Jerman Dapat Terinfeksi Corona

Kristie Pladson | Alexander Freund
5 Mei 2020

Studi baru menunjukkan bahwa tingkat infeksi virus corona di Jerman bisa jadi lebih tinggi dari perkiraan semula. Sekitar 1,8 juta orang disebut dapat terinfeksi secara nasional, dan seperempat dari mereka tanpa gejala.

https://p.dw.com/p/3bmCR
Pandemi Korona Jerman | Hotspot Heinsberg | Tanda masuk
Foto: picture-alliance/dpa/J. Güttler

Dalam edisi terakhir Laporan Heinsberg yang banyak diperbincangkan, para peneliti dari Universitas Bonn di Jerman menyimpulkan bahwa jumlah infeksi virus corona di Jerman bisa 10 kali lebih tinggi dari yang diperkirakan saat ini. Laporan tersebut merupakan hasil pengamatan lebih dekat terkait efek COVID-19 pada komunitas kecil di Jerman. 

Dipimpin oleh ahli virologi Hendrik Streeck, para peneliti memeriksa efek virus corona pada komunitas Gangelt di distrik Heinsberg, yang berada di negara bagian barat Jerman, Rhine-Westphalia Utara. Komunitas Gangelt dihantam wabah COVID-19 yang sangat parah setelah virus corona dilaporkan menyebar pada perayaan karnaval lokal yang diadakan pada Februari silam. 

Peneliti Bonn itu mempelajari garis infeksi di Gangelt, termasuk kelompok mana yang terinfeksi, gejala apa yang mereka tunjukkan, dan seberapa sering infeksi virus mengakibatkan kematian. 

Lebih dari 900 orang dari 404 rumah tangga berbeda pun menjalani pengujian COVID-19. Hasilnya, sekitar 15 persen dari mereka dinyatakan positif COVID-19. Angka ini lima kali lebih tinggi dari tingkat kasus yang dilaporkan secara nasional. 

Angka ini dalam skala nasional juga bisa berarti bahwa kasus infeksi di Jerman telah tembus 1,8 juta kasus, atau 10 kali jumlah kasus yang saat ini dilaporkan oleh Robert Koch Institute (RKI). 

Saat ini, angka RKI menunjukkan bahwa ada sekitar 163.000 kasus positif virus corona di Jerman. 

Hampir seperempat dari komunitas positif tanpa gejala 

Para peneliti juga menemukan bahwa 22% dari semua kasus infeksi di komunitas Gangelt tidak menunjukkan gejala, artinya orang-orang tersebut tidak menunjukkan gejala yang berkaitan dengan COVID-19, termasuk demam atau batuk. 

Angka kasus tanpa gejala ini sejalan dengan temuan dari Cina dan Korea Selatan, di mana sekitar seperlima dari mereka yang terinfeksi dilaporkan tidak menyadari bahwa mereka sakit. Dan karena itu pula mereka tidak menyadari bahwa mereka dapat menginfeksi orang-orang di sekitar mereka. 

“Asumsi dari Streecks yang menyatakan bahwa kami memiliki sejumlah besar kasus yang tidak dilaporkan kini telah diverifikasi secara ilmiah,” kata Armin Laschet, Perdana Menteri Rhine-Westphalia Utara. Ia menambahkan bahwa laporan Heinsberg itu telah menjadi dokumen penting yang berguna sebagai bahan diskusi di masa mendatang terkait kebijakan-kebijakan penanganan COVID-19 lebih lanjut di Jerman. 

“Hasilnya dapat membantu meningkatkan pemodelan yang digunakan untuk memperkirakan bagaimana virus itu menyebar,” kata Gunther Hartmann, yang turut menulis laporan tersebut. “Sejauh ini, basis data dalam hal ini relatif goyah,” tambahnya. 

“Tugas masyarakat dan kaum politik” 

Meski begitu, beberapa pihak menyatakan bahwa menganggap studi lokal itu mewakili situasi nasional di Jerman merupakan hal yang salah. 

Tingkat kematian di Gangelt, misalnya, ditemukan berada di angka 0,36%. Namun, dengan jumlah infeksi yang tinggi, komunitas tersebut bisa menjadi contoh “populasi dengan prevalensi tinggi”.  Angka seperti itu tidak dapat diekstrapolasi ke seluruh Jerman, di mana konsentrasi infeksi jauh lebih bervariasi. 

Setelah sebelumnya menerima kritik keras terkait hasil penelitian awal mereka pada bulan April, para peneliti dari Universitas Bonn itu kini lebih berhati-hati tentang kemungkinan implikasi yang ditimbulkan oleh studi mereka.  

“Kesimpulan apa pun yang ditarik dari hasil penelitian bergantung pada banyak faktor,” kata Streeck. “Temuan maupun kesimpulan penelitian yang digunakan sebagai evaluasi untuk sebuah keputusan konkret adalah peran masyarakat dan kaum politik,” tambahnya. (gtp/ha)