Lembaga Pemasyarakatan di Indonesia, Penghukuman Atau Perbaikan? (Kisah dari Penjara, Bagian I)

Seberapa efektif penjara sebagai sarana perbaikan? Feby Indirani menyelami langsung kehidupan di penjara Indonesia yang rata-rata kelebihan kapasitas sehingga tidak lagi manusiawi.

Ketika saya rutin keluar-masuk penjara di semester kedua 2016,  orang-orang dekat saya was-was dan berkali-kali mengingatkan saya untuk waspada. Secara umum mereka lebih cemas daripada saya sendiri, tapi sesekali rasa khawatir tak urung melintas.

Seperti hari itu ketika saya hanya ditemani seorang petugas melewati lapangan yang sangat ramai karena sedang ada pertandingan olahraga. Sempat tercetus pikiran yang merindingkan bulu kuduk. Saya berada di dalam penjara yang kelebihan kapasitas, dikelilingi ratusan lelaki yang menyandang status narapidana (napi). Kalau tiba-tiba terjadi kerusuhan seperti yang kerap diberitakan di media, bagaimana nasib saya?

Feby Indirani, indonesische Autorin

Feby Indirani adalah penulis sejumlah buku fiksi dan nonfiksi.

Di lain kesempatan, saya mendapat izin untuk beberapa menit saja melihat situasi sel di salah satu lapas terpadat di Jawa. Ada sekitar 600 orang menghuni blok tersebut sedangkan saya didampingi oleh dua orang petugas, dan satu petugas yang sedang berjaga di dalam blok—jelas bukan jumlah yang sepadan. Saya merasakan begitu banyak tatapan yang tertuju pada saya, seperti lampu sorot. Muka saya pun menghangat.

Kembali terlintas pikiran itu, jika sampai terjadi sesuatu, habislah saya. 

Syukurlah, selama saya meliput—baik penjara laki-laki maupun wanita--situasi selalu aman terkendali. Memang tak terhindarkan jika sebagai orang luar, saya menjadi sasaran perhatian dan sapaan-sapaan dari para napi pria. Ada saja misalnya napi pria yang tiba-tiba bernyanyi atau bersiul seolah ingin mengundang perhatian saya yang kebetulan lewat.

"Senang banget dengar Mbak ketawa,” ujar seorang napi pria berusia 30-an di bengkel kerja lembaga pemasyarakatan (lapas) kelas I Tangerang, di sela proses wawancara santai kami. "Sudah lama banget nggak dengar suara cewek,” sambungnya.

Kesempatan liputan di puluhan lapas di berbagai wilayah di Indonesia itu saya peroleh karena mengerjakan tulisan untuk Second Chance Foundation yang didirikan Evy Amir Syamsuddin, satu dari sedikit lembaga non pemerintah yang memberikan perhatian khusus pada narapidana dan memiliki visi memajukan mereka.

"Sudah banyak organisasi sosial yang mengurus berbagai kelompok yang kurang beruntung, tapi jarang yang memperhatikan masalah napi. Rata-rata orang lebih ingin menghukum atau mengabaikan mereka,” kata Evy, yang mulai konsisten memperhatikan isu napi sejak mendampingi Amir Syamsuddin sebagai Menteri Hukum dan HAM di Kabinet Indonesia Bersatu II (2011-2014) lalu memutuskan melanjutkan misinya dengan mendirikan yayasan.  

Itu benar. Jauh lebih mudah bagi orang tergerak membantu anak yatim, penyandang difabel, ataupun penderita sakit. Tapi narapidana? Bukankah mereka masuk penjara karena kesalahan sendiri? Bukankah ada orang ‘baik-baik' yang sudah jadi korban dari kejahatan mereka?

Lanjut ke halaman 2

Sosial

Jumlah penjahat turun, arus pengungsi melonjak

Belanda telah membuka pintu penjaranya yang kosong untuk mengakomodasi masuknya migran pencari suaka. Tingkat kejahatan di negara itu telah terus menurun selama bertahun-tahun. Puluhan lembaga pemasyarakatan telah ditutup sama sekali. Ketika árus pengungsi melonjak, Badan Pusat Penerimaan Pencari Suaka Belanda melihat penjara-penjara kosong ini sebagai solusi.

Sosial

Hidup dalam sel

Fotografer Muhammed Muheisen, dua kali peraih pengghargaan Pulitzer Prize dan kepala fotografer Associated Press untuk Timur Tengah, dalam beberapa tahun terakhir memotret krisis pengungsi. Ia mengabadikan kehidupan baru para pengungsi yang ditampung di penjara kosong ini. Tampak dalam foto, seorang gadis Afghanistan bernama Shazia Lutfi melongok dari pintu sel.

Sosial

Bisa juga jadi salon

Butuh enam bulan bagi sang fotografer untuk diizinkan masuk ke penjara tersebut. Berhari-hari waktu dihabiskannya untuk mengenal pengungsi lebih dekat. tampak dalam foto, Yassir Hajji, asal Irak, tengah merapikan alis istrinya, Gerbia, di sebuah ruang sel.

Sosial

Belajar bahasa Belanda

Pengungsi tidak diizinkan untuk bekerja, tetapi mereka berlatih berbicara bahasa Belanda dan naik sepeda --keterampilan penting untuk hidup di Belanda. Karena mereka melakukan semua itu di penjara, maka tidak mengusik warga. Pada umunya para pengungsi berkomentar: "Kami di sini di bawah atap, di tempat penampungan, jadi kami merasa aman."

Sosial

Bebas untuk tinggal maupun pergi

Para pengungsi tersebut tinggal di penjara sekitar 6 bulan sebelum mendapat keputusan suaka. Mereka bebas untuk tinggal dan pergi kapan saja. Beberapa pengungsi bahkan menjalin persahabatan dengan warga Belanda.

Sosial

Tak ada penjahat, aman untuk tinggal

Seorang pengungsi Suriah bahkan berkata pada Muhesein, bahwa penjara ini memberinya harapan untuk hidup. “Jika sebuah penjara tak ada tahanannya, maka artinya ini adalah negara yang aman, dimana saya ingin hidup.” Pengungsi lainnya,asal Afghanistan --Siratullah Hayatullah tampak asyik minum teh dengan tenang di depan kamarnya.

Sosial

Fasilitasnya lengkap

Pengungsi Afghanistan Siratullah Hayatullah mencuci pakaiannya di ruang cuci. Infrastruktur dalam penjara cukup lengkap sehingga memudahkan pengungsi untuk menjalani hidup mereka sementara.

Sosial

Tanpa diskriminasi

Pengungsi asal Maroko ini berpose di dalam kamarnya di penjara. Ia seorang gay. Selama di sini, tak pernah ia merasakan diskriminasi. Sebelumnya penjara di Belanda pernah dimanfaatkan juga untuk menampung tahanan dari Belgia dan Norwegia.

Sosial

Bebas beribadah

Pengungsi Irak, Fatima Hussein beribadah di ruangannya di bekas penjara de Koepel di Haarlem.

Sosial

Sehat jasmani dan rohani

Meski boleh keluar masuk penjara sesuka hati, bisa jadi kadang-kadang timbul rasa bosan. Mereka bisa juga berolah raga untuk mengisi waktu senggang.

Sosial

Main basket juga bisa

Pengungsi asal Mongolia, Naaran Baatar, berusia 40 tahun. Di penjara, ia bisa main basket. Di hatinya terpupuk harapan akan hidup baru dan kebebasan.

Sosial

Menenun harapan haru

Pengungsi Somalia, Ijaawa Mohamed, duduk di kursi di luar ruangan. Meski tinggal di penjara, mereka rata-rata merasa aman dan menenun harapan atas kehidupan baru. Editor : ap/as (nationalgeograpic,smh,nbc,dailymail) Foto: Muhammed Muheisen (ap)

Lalu untuk apa lagi mereka dikasihani ?

Ada kecenderungan masyarakat kita untuk menghukum si tertuduh tanpa ampun. Ketika ada masalah yang terjadi, apapun sifat dan jenis dari kasusnya, warga sepertinya tidak puas kalau orang tersebut belum sampai dijebloskan ke dalam penjara dan dihukum seberat-beratnya. (Tentu itu masih lebih baik dibandingkan main hakim sendiri yang juga masih terjadi.) Di sisi lain, isu kelebihan kapasitas selalu menjadi persoalan utama penjara-penjara di Indonesia.

Tema

Per Agustus 2016 ketika saya datang ke Lapas Kelas I Cipinang, Jakarta, penghuninya sudah tiga kali lipat dari kapasitas sesungguhnya. Andai ia sebuah kapal laut, sudah pasti akan tenggelam. Kapasitas untuk 984 orang harus ditempati 2838 orang.  Ruang sel yang sewajarnya berisi 3 orang terpaksa ditempati 7 orang. Sel 5 orang dipaksakan untuk ditempati 13 orang dan sel 7 orang harus ditempati 21 orang.

Tinggal lama di dalam  penjara yang begitu padat, berdesakan dan berebut oksigen, sudah pasti menimbulkan tekanan tersendiri. Tak heran kerap kita dengar berita rusuh, tawuran, sampai napi yang kabur.

Kehidupan Penjara

Suasana pengaturan ruang di dalam penjara sehari-hari saya rasakan mirip dengan sekolah asrama—rata-rata memiliki aula, lapangan, ruang-ruang kerja petugas dan bengkel kerja. Blok kamar huni tempat tinggal napi berada di bagian belakang. Sejumlah lapas betul-betul tampak asri dengan taman-taman yang terawat di berbagai sudut. Salah satu amatan saya, lapas yang dipimpin kepala lapas perempuan (apakah itu penjara khusus perempuan ataupun campur) kelihatan lebih teratur, indah, dan tertib dibandingkan lapas yang dipimpin lelaki.

Begitu pula dengan rutinitas para napi. Setiap pagi para napi memiliki jadwal beraktivitas sesuai tugas masing-masing. Ada yang bertugas membersihkan lingkungan, merawat kebun, mengerjakan kerajinan tangan, sampai membantu petugas untuk urusan administrasi sederhana dan menerima keluarga yang berkunjung—yang terakhir ini disebut dengan tamping atau tahanan pendamping. Mereka adalah  napi yang berkelakuan baik dan sudah memasuki masa asimilasi.  Jika sedang ada kegiatan yang mereka persiapkan seperti pertunjukan kesenian untuk peringatan hari-hari penting, akan ada waktu dalam sehari yang napi sisihkan untuk berlatih. Belum lagi jadwal untuk melaksanakan kegiatan ritual sosial dari masing-masing agama, misalnya pengajian untuk yang Muslim dan berdoa bersama bagi yang Kristen.  

Berita Video

Penjagaan Ketat Tidak Cukup

Juli 2015, raja obat bius Meksiko Joaquin “El Chapo” Guzman berhasil kabur dari penjara Altiplano lewat terowongan yang ia gali di kamar mandi. Keberhasilan ini merupakan yang ke-2 baginya, setelah 14 tahun lalu ia juga berhasil melarikan diri dari penjara yang dijaga dengan ketat.

Berita Video

Menghilang dari Alcatraz

Dengan menggunakan sendok dan bor buatan senderi, tiga perampok bank menggali lubang di sel mereka dan berhasil kabur dari Alcatraz pada tahun 1962. Sampai sekarang keberadaan mereka masih menjadi misteri.

Berita Video

Acungan Jempol untuk Percobaan Ini

Juan Ramirez Tijerina ditahan di sebuah penjara di Meksiko karena terbukti miliki senjata secara illegal. Tahun 2011, ia mendapat kunjungan dari istrinya yang datang dengan sebuah koper besar. Saat sang istri keluar, sipir penjara memeriksa koper yang dibawanya dan mendapatkan Ramirez meringkuk di dalamnya.

Berita Video

Salah Satu Terbesar di Eropa

Pelarian 38 anggota Pasukan Republik Irlandia IRA dari penjara Maze dicatat sebagai yang paling menggemparkan di Eropa. Dengan senjata api dan pisau seludupan, mereka melumpuhkan petugas. Rencananya pasukan IRA akan menunggu di depan penjara, membantu pelarian ini. Tapi karena salah perhitungan waktu, 5 menit lebih cepat, para narapidana harus meneruskan pelarian mereka sendirian.

Berita Video

Spesialis Udara

Bagai adegan film aksi Hollywood: Sebanyak dua kali Pascal Payet berusaha lari dari penjara dengan helikopter. Tahun 2001, terpidana pembunuhan ini kabur dari penjara di sebuah desa di Perancis menggunakan helikopter yang ia bajak. Tahun 2007, kembali ia menggunakan helikopter untuk kabur. Sebelumnya ia membantu tiga napi lain untuk kabur dari penjara, juga dengan helikopter.

Berita Video

Buronan Paling Dicari

Saat menunggu persidangan, pembunuh berantai Theodore Robert Bundy melarikan diri dengan melompat dari jendela perpustakaan pengadilan. Ia berhasil ditangkap kembali. Dari sel tempat mendekam di Colorado, ia kembali berhasil melarikan diri lewat lubang di langit-langit, setelah sebelumnya ia "melakukan diet“ untuk menurunkan berat badan sampai sekitar 15 kg.

Berita Video

Mencari Telur Paskah

Walter Stürm dipenjara karena kasus pencurian. Ia melarikan diri pada tahun 1981 dari sebuah penjara di Swiss, dan meninggalkan pesan "Keluar untuk cari telur Paskah“. Baginya pelarian ini merupakan keberhasilannya yang ketiga kali.

Berita Video

Pencarian Besar-besaran

6 Juni 2015, dua narapidana kasus pembunuhan, David Sweat dan Richard Matt, kabur dari penjara kota New York, dengan membuat lubang di dinding sel. Upaya penangkapan kedua buronan ini merupakan salah satu aksi terbesar yang pernah digelar di AS. 26 Juni 2015, Richard Matt tewas dalam baku tembak dengan polisi, sementara David Sweat ditangkap dalam keadaan luka parah dua hari kemudian.

Petugas sedapat mungkin selalu memastikan napi keluar dari selnya dan berkegiatan. Meski ada saja napi yang bandel dan sulit diatur. Pernah saya tanyakan ke beberapa petugas tentang bagaimana mereka menangani napi yang jumlahnya jauh lebih banyak. Jawaban yang saya dapatkan rata-rata sama, pendekatan kekeluargaan akan lebih manjur. "Kita perlakukan secara manusiawi, sebagai teman, saudara yang memiliki kebaikan dalam diri mereka. Itu kuncinya,” ujar seorang petugas.

Sebagai contoh, rasio penjagaan di Rutan Salemba 1:161 orang sedangkan Lapas Banjarmasin 1:450 (data Institute for Criminal Justice Reform 2014).  Jika sampai terjadi seluruh napi berkomplot untuk berontak, tak akan mungkin mampu dibendung oleh para petugas. Namun itu tidak pernah terjadi, dan kalaupun ada kerusuhan sesungguhnya hanyah dilakukan sekelompok kecil napi saja. 

Sejak era 1970-an, pemerintah tidak lagi menggunakan kata penjara melainkan lapas. Istilah narapidana secara resmi juga sudah tidak digunakan lagi diganti menjadi warga binaan pemasyarakatan atau WBP.  Saya perhatikan di semua penjara yang saya datangi, ada pemandangan yang biasa terjadi, yaitu jika petugas lewat,  napi di sekitarnya akan bergantian mencium tangan mereka seperti perilaku anak-anak terhadap guru atau orang tua mereka.

Secara umum program pembinaan terbagi ke dalam dua kategori yaitu kepribadian dan kemandirian. Kepribadian adalah pembinaan untuk bidang spiritual, pendidikan termasuk di dalamnya kesenian seperti musik, teater dan sebagainya, sedangkan program kemandirian adalah kegiatan di bengkel kerja produktif. 

Bengkel kerja memang ditujukan agar warga binaan menggunakan waktu untuk mengerjakan sesuatu yang bermanfaat sesuai minat dan bakat mereka.  Sayangnya tidak semua warga binaan bisa masuk ke bengkel kerja ini. Di lapas Kelas I Cipinang, bengkel kerja hanya bisa menampung 300 orang. 

Jika produk yang mereka hasilkan terjual, mereka juga akan mendapatkan sedikit upah.  Upah itu dicatat di buku simpanan, karena napi sebetulnya tidak boleh memegang uang tunai. Mereka biasanya bisa memegang semacam kupon yang bisa digunakan sebagai alat tukar di dalam lapas. Sebagian napi berusaha menabung upah yang mereka terima untuk diberikan kepada keluarga mereka, namun lebih sering terjadi upah itu terpakai saja untuk biaya hidup sehari-hari penjara. 

Lanjut ke halaman 3

Kembali ke halaman 1


Sosial

Sentuhan terakhir …

… setelah itu kontestan melangkah ke catwalk hasil improvisasi di penjara perempuan Talavare Bruce di Rio de Janeiro. Sukarelawan datang spesial ke penjara dengan penjagaan keamanan tinggi itu untuk kontes ini. Tepatnya untuk mendandani para narapidana.

Sosial

Gaun bukan seragam penjara

Kontes hampir mulai. Hanya 10 dari 440 narapidana berhasil masuk ke babak final. Yang dinilai bukan saja kecantikan mereka, tapi juga sikap dan tidak-tanduknya.

Sosial

Alasan untuk bangga

Sebagian besar narapidana ditahan di penjara Talavera Bruce akibat tindakan kriminal menyangkut obat terlarang. Menurut statistik Kementrian Kehakiman Brasil, jumlah perempuan yang dipenjara meningkat 600% dari tahun 2000 ke 2014. Kontes kecantikan tahunan ini jadi "interupsi" dari rutinitas penjara yang disambut baik.

Sosial

Dua putaran lagi

Sang juri mengamati dengan kritis para perempuan yang mengenakan gaun malam dan mode pakaian tepi pantai. Penampilan, sikap tubuh dan atraksi adalah kriteria yang diperhitungkan. Juara pertama mendapat kipas angin. Juara kedua mendapat pengering rambut, dan juara ketiga memperoleh alat penata rambut.

Sosial

Langkah menuju resosialisasi

Kepala penjara mengatakan, para perempuan narapidana bisa memperoleh rasa percaya diri yang sehat dengan berparade di depan narapidana lain di atas catwalk berkarpet merah hasil improvisasi. Ini baik untuk hidup mereka setelah meninggalkan penjara, kata para narapidana.

Sosial

"Jiwa saya terbebas"

Tahun ini, yang jadi juara satu adalah Mayana Alves (kanan). Hadiahnya diserahkan oleh pemenang kontes tahun lalu, yang diperbolehkan lagi naik catwalk untuk tujuan itu. "Di saat seperti ini, saya tidak merasa ada di penjara," kata Michelle Rangel (kiri), yang berusia 28 tahun. "Jiwa saya terbebas," katanya.

Sosial

Pelukan sang ibu

Pemenang pertama tahun ini, Mayana Alves, menunjukkan sejumlah tato di tubuhnya. "Tentu saya lebih suka kalau bisa bebas. Tapi saya akan membawa hadiah ini jika bebas nanti." Baginya yang terpenting adalah, ibunya boleh hadir saat kontes diadakan.

Sosial

Pemenangnya semua orang

Hadiah pertama memang jadi sesuatu yang istimewa dan sedikit kenikmatan di dalam tembok penjara. Tapi semua finalis mendapat keuntungan karena berpartisipasi. Karena klimaksnya adalah pertemuan dengan keluarga dan teman setelah acara berakhir. Rossana Goncalves bisa bertemu dengan empat dari lima anaknya lagi. Penulis: Nicolas Martin (ml/hp)

Kok begitu? Saya tadinya mengira seluruh biaya hidup di penjara itu gratis

Para napi memang mendapatkan jatah makan, tapi amat minim. Di salah satu lapas yang saya datangi misalnya jatah makan itu adalah Rp 8900 untuk tiga kali makan. Berdasarkan cerita-cerita para napi, rata-rata makanannya begitu sulit ditelan.

"Yah kalau nggak terlalu keras, atau tidak ada rasanya. Pernah ada masakan daging, tapi keras kayak karet, saya kasih ke kucing juga pada nggak mau,” ujar seorang napi. Dari sekian banyak lapas, yang kualitas makanannya dipujikan oleh napi mereka hanya LP Wanita Malang.

Tapi di setiap lapas rata-rata ada divisi memasak yang dikelola para napi dan bisa menerima pesanan. Biasanya juga ada kantin dan warung kebutuhan sehari-hari. Uang para napi ini—jika ada—biasanya habis untuk jajan dan belanja di dalam penjara.

"Biasanya sih, kalau kita rajin ada aja kok cara untuk dapat uang,” ujar seorang napi perempuan.

Di dalam penjara, sama saja dengan di luar, lapisan berdasarkan kelas sosial pun terbentuk. Napi yang beruntung masih dijenguk keluarganya akan mendapatkan bekal uang yang berhasil mereka sembunyikan dari petugas. Napi yang kurang beruntung dapat bekerja untuk mereka, dari mulai memijat hingga mencucikan baju, dan mendapatkan cipratan uang ataupun makanan enak yang dibawakan keluarga si beruntung.  

Politik

Tembak

Terpidana dengan mata tertutup kain hitam, duduk atau berdiri terikat di depan satu eksekutor atau satu regu tembak. Satu regu tembak biasanya terdiri dari beberapa personil militer atau aparat penegak hukum, yang diperintahkan untuk menembak secara bersamaan. Metode ini dipakai diantaranya di Indonesia, Cina, Arab Saudi, Taiwan, Korea Utara.

Politik

Suntikan Maut

Biasanya terdiri dari tiga bahan kimia: natrium pentonal (obat bius), pancuronium bromide (untuk melumpuhkan) dan kalium klorida (untuk menghentikan jantung). Terdengar tidak menyakitkan. Namun, jika eksekusi gagal, terpidana mati bisa meregang ajal secara menyakitkan dalam waktu cukup lama. Metode ini dipakai diantaranya di Amerika Serikat, Cina, Vietnam.

Politik

Kursi Listrik

Terpidana mati sebelumnya dicukur, sebelum mengenakan topi metal berelektroda yang di dalamnya dilapisi spons yang dibasahi larutan garam. Listrik dengan tegangan antara 500 dan 2000 volt dialirkan selama 30 detik, dan diulang beberapa kali sampai terpidana dinyatakan meninggal. Metode ini dipakai di Amerika Serikat.

Politik

Gantung

Diantaranya dipakai di Afghanistan, Bangladesh, India, Iran, Iraq, Jepang, Malaysia, dan Kuwait. Eksekusi hukuman mati ini pertama kali diterapkan sekitar 2.500 tahun lalu pada masa Kekaisaran Persia. Di beberapa negara terpidana ditimbang berat badannya untuk menentukan panjang tali. Jika tali terlalu pendek, terpidana dapat tercekik, dan kematian baru datang setelah 45 menit.

Politik

Pancung

Pemenggalan kepala telah digunakan sebagai satu bentuk eksekusi mati selama ribuan tahun. Saat ini, Arab Saudi adalah satu-satunya negara yang memakai metode ini. Biasanya eksekusi dilaksanakan di halaman mesjid usai shalat Jumat atau pada hari raya. Menurut Amnesty International, setidaknya 79 orang dihukum pancung di Arab Saudi pada tahun 2013.

Politik

Lainnya

Masih ada beberapa metode eksekusi mati, walaupun jarang dipakai. Diantaranya adalah: rajam, kamar gas dan juga menjatuhkan terpidana dari ketinggian.

Tapi seberuntung-beruntungnya berada di dalam penjara, tetap saja tidak enak

Kita yang berada di luar penjara sering membaca berita tentang sel mewah ataupun narapidana yang mendapatkan keistimewaan karena para petugas bisa disogok. Saya memang tidak bisa memastikan bahwa semua itu tidak ada.  Tapi yang ingin saya katakan adalah bagaimanapun persentasi yang paling besar adalah napi yang hidup dengan segala keterbatasan, berebut oksigen dan ruang tinggal dengan situasi lapas yang sesak. Banyak napi yang sudah tidak kebagian sel tidur di aula yang disulap menjadi barak dengan menggelar kasur, seperti suasana darurat pengungsian.

Institute for Criminal Justice Reform (ICJR) menilai sistem peradilan pidana Indonesia cenderung kaku, sehingga kasus sekecil apa pun biasanya akan dilanjutkan prosesnya sampai dengan ditahan bahkan dipenjara.

Saya pernah bertemu dengan seorang ibu tunggal berusia 50-an yang adalah seorang pengelola rumah kos khusus perempuan di Jakarta. Seorang ibu yang Anda mungkin akan heran melihatnya berada di dalam penjara, karena tak mungkin rasanya orang seperti itu bisa berbuat kejahatan.

Baca juga:

Eks Wartawan Perang Divonis 7 Bulan Penjara di Bali Karena Narkoba

Buwas Ingin Penjara Narkoba Dijaga Hantu

Menurutnya, ia masuk penjara karena kelalaiannya membolehkan seorang penghuni kos ‘meminjam' rekening banknya untuk menerima uang. Ternyata di kemudian hari, si penghuni kos ini tertangkap di Kalimantan sebagai pekerja seks komersial. Polisi mengusut latar belakangnya sampai mata rantai penyelidikan akhirnya membawa kepada ibu kos tersebut, yang kemudian dianggap terlibat perdagangan perempuan karena rekeningnya beberapa kali dipakai menerima hasil transaksi.

"Saya berani sumpah, saya tidak tahu apa-apa. Hanya niat membantu saja,” ujar si ibu kepada saya sambil menangis berderai-derai. Ia divonis tujuh tahun penjara.  Saya hanya berupaya mengendalikan diri agar tidak ikut menangis bersamanya.

Apa yang dikatakannya boleh jadi bohong, dan saya memang tak bakat jadi penyidik karena terlalu mudah percaya. Namun saya menemukan begitu banyak orang di penjara yang serupa dengan ibu ini; mereka orang-orang biasa yang pernah melakukan kelalaian dan kekeliruan. Tapi apakah memang apapun kesalahannya, haruslah penjara yang menjadi solusinya?

Lanjut ke halaman 4

Kembali ke halaman 2

Politik

Tak Ada Pengunjung

Fotografer Reuter Lucas Jackson melakukan perjalanan ke pangkalan Amerika Serikat Camp Delta di Teluk Guantanamo, Kuba. Di sana ia diizinkan untuk memotret Camp VI. Foto menunjukkan ruang makan dan beberapa sel penjara.

Politik

Membunuh Waktu

Tahanan di Camp VI diperbolehkan menonton televisi. Penjara militer AS di Guantanamo dihujani kritik sejak dibuka pada tahun 2002, karena di sini orang-orang ditahan sewenang-wenang, tanpa surat perintah penahanan, surat dakwaan atau peluang diadili.

Politik

Ruang Hidup

Tempat tidur sederhana, toilet terbuka: Beginilah gambaran kamar tahanan di kamp Guantanamo. Tapi tak jelas apa semua tahanan hidup di ruangan seperti ini. Presiden AS, Barack Obama sudah berusaha sekian lama untuk menutup penjara kontroversial ini, tapi gagal.

Politik

Perpustakaan Penjara

Di sini para tahanan boleh membaca. Di perpustakaan terdapat buku-buku berbahasa Arab dan berbahasa Inggris. Perpustakaan ini di bawah pengawasan ketat. Tak jelas, sejauh mana perpustakaan ini digunakan, dan apakah para tahanan Guantanamo benar-benar boleh menikmati “kemewahan" ini.

Politik

Perawatan Medis

Bahkan di rumah sakit penjara, Jackson diizinkan untuk memotret. Hasil jepretannya misalnya rak yang dipenuhi dengan obat-obatan ini. Tidak Jelas, obat ini untuk tahanan atau untuk anggota militer.

Politik

Hidup Anonim di Guantanamo

Tahanan tidak boleh difoto di depan lensa secara terbuka. Gambar penghuni penjara ini, yang diambil Jackson dari luar jendela penjara, adalah pengecualian.

Politik

Di Bawah Pengawasan Ketat

Kondisi yang paling buruk - seperti kandang terbuka di bawah terik matahari di Camp X-Ray ini - tampaknya sudah ditiadakan. Tapi bahkan hingga kini para penghuni penjara hampir tidak memiliki ruang privat, karena pengawasan ketat dilakukan terus menerus.

Politik

Akan Dikemanakan?

Meskipun awalnya jumlah orang yang ditahan di pangkalan militer Guantanamo mencapai sekitar 800-an, saat ini jumlahnya berkurang di bawah seratus orang. Aktivis hak asasi manusia berharap agar penjara ini ditutup sesegera mungkin. Namun, belum jelas akan dipindahkan kemana para tahanan yang tersisa ini dan negara mana yang akan menerima mereka.

Lapas kelebihan penghuni

Data sampai dengan Juni 2017, Kapasitas Rutan dan Lapas di Indonesia adalah 122. 204 orang, dengan kapasitas itu, jumlah penghuninya mencapai 225.835 orang atau terdapat kelebihan beban penghuni sejumlah 185%.  

Dengan pendekatan penjara sebagai kebijakan pemidanaan yang kerap digunakan pemerintah, sampai kapanpun isu kelebihan kapasitas penjara tidak akan pernah teratasi. Seluruh masalah yang kronis di lapas : mulai dari tawuran, peredaran narkoba, petugas korup, dan sebagainya akan selalu terjadi, karena rasio petugas dan fasilitas lapas tidak sebanding dengan jumlah napi yang selalu bertambah.

Politik

Camp Delta Guantanamo

Penjara Militer Camp Delta Guantanamo adalah tempat penahanan tersangka teroris dengan reputasi terburuk sedunia. Ratusan tahanan tanpa proses pengadilan dijebloskan ke penjara. Presiden Barack Obama berjanji menutupnya pada masa jabatan pertama, tapi hingga kini gagal. Sejumlah tahanan kini disebar ke seluruh dunia ke negara yang bersedia menampung bekas tahanan yang tidak jelas kesalahannya.

Politik

Tahanan Guantanamo

Tahanan tersangka teroris dengan seragam penjara warna oranye tidak mendapatkan hak-haknya sebagai tahanan perang. Mereka juga tidak diproses sesuai hukum internasional. Alasannya mereka adalah milisi tempur yang tidak berseragam dan tidak jelas kesatuannya. Kebanyakan diciduk dari Irak, Afghanistan dan kawasan Timur Tengah.

Politik

Water Boarding

Cara penyiksaan CIA yang paling brutal dikenal dengan sebutan Water Boarding. Tahanan dikondisikan seolah-olah akan mati tenggelam dalam air. Cara penyiksaan itu diperagakan dalam aksi protes di Manhattan AS. Mantan Presiden George W.Bush menyatakan cara itu bukan penyiksaan melainkan interogasi secara keras.

Politik

Penjara Abu Ghraib Bagdad

Penjara Abu Ghraib di ibukota Irak, Bagdad menjadi simbol bagi aksi penyiksaan CIA dalam perang melawan terorisme pasca serangan 11 September 2001. Puluhan tahanan dilecehkan martabatnya dan diperlakukan lebih buruk dari hewan. Sebagai konsekuensinya, hanya pelaku berpangkat rendah yang dihukum ringan di AS, dengan tuduhan melakukan kesalahan prosedur.

Politik

Gambar Penyiksaan Mendunia

Gambar tahanan Abu Ghraib yang disuruh berdiri di atas sebuah peti, kepalanya ditutupi kantung kain dan kedua tangannya dihubungkan ke kabel listrik dengan cepat menyebar ke seluruh dunia, setelah televisi CBS menayangkan program berdurasi satu jam April 2004. Foto-foto penyiksaan lebih brutal dan sadis menyusul dibocorkan beberapa hari kemudian.

Politik

Bagram Afghanistan

Penjara rahasia CIA yang juga terkenal dengan praktik penyiksaannya adalah yang berlokasi di pangkalan militer Bagram, Afghanistan. Organisasi pembela hak asasi menjulukinya “Guantanamo di Afghanistan.” Di penjara militer di utara Kabul itu dalam satu kurun waktu, ditahan hingga lebih 600 orang yang dituduh sebagai teroris dan ditangkap militer Amerika Serikat.

Politik

Penjara Rahasia di Eropa

Sebuah bangunan bekas sekolah menunggang kuda di Antaviliai, Lithuania, 20 kilometer di luar ibukota Vilnius, diduga keras merupakan penjara rahasia CIA. Di sini disebutkan dilakukan penyiksaan tahanan tersangka teroris Al Qaida. Selain di Lithuania, CIA dilaporkan punya penjara rahasia di Rumania dan Polandia, dua negara lain anggota Uni Eropa.

Di beberapa berita media daring tentang kelebihan kapasitas penjara, saya pernah membaca komentar-komentar netizen yang sadis seperti : makanya tembak saja tuh semua napi, hanya memenuhi penjara dan menghabiskan uang negara saja.  Komentar serupa sebetulnya sering pula kita dengar dari percakapan sehari-hari. Hasrat mendendam dan menghukum yang mengerikan. Sepertinya tidak banyak orang yang mau berbesar hati untuk memberikan kesempatan kedua. 

Pemerintah mau tidak mau harus mulai memikirkan alternatif kebijakan pemidanaan. Saat ini hampir tidak ada fasilitas korektif lain yang dikembangkan pemerintah, seperti kerja sosial dan rehabilitasi. Lapas seolah dirancang untuk menjadi tempat akhir menampung beban peradilan, bukan sebagai lembaga yang mempersiapkan para napi untuk kembali ke masyarakat.
 

Penulis: Feby Indirani (ap/vlz) adalah penulis sejumlah buku fiksi dan nonfiksi. Ia menginisiasi gerakan Relaksasi Beragama (Relax, It's Just Religion).Buku terbarunya adalah Bukan Perawan Maria (Pabrikultur, 2017), 69 things to be Grateful about being Single (GPU, 2017) dan Made in Prison (KPG, 2017)

@FebyIndirani

*Setiap tulisan yang dimuat dalam #DWnesia menjadi tanggung jawab penulis.

Akhirnya Bebas

Setelah bebas, Mikhail Khodorkovsky tampil dalam konferensi pers di Berlin hari Minggu (22/12). "Saya baru menghirup kebebasan 36 jam yang lalu, jadi saya belum punya rencana tentang kegiatan saya di masa depan," katanya ketika ditanya wartawan tentang kegiatan selanjutnya. Khodorkovsky dibebaskan hari Jumat (20/12).

Sukses dalam Bisnis

Mikhail Khodorkovsky mulai meniti karir tahun 1989. Ketika itu ia menjadi direktur sebuah bank swasta dalam rangka privatisasi. Sejak itu karirnya terus menanjak. Tahun 1997 ia menjadi Direktur Utama Yukos, salah satu perusahaan minyak terbesar Rusia. Dengan Yukos ia naik menjadi miliarder Rusia.

Berbeda Pandangan

Pengaruh dan kekuasaan Khodorkovsky semakin besar. Ia mulai mengeritik korupsi di Rusia dan mendukung partai oposisi yang menentang kebijakan Presiden Putin. Dalam diskusi televisi Februari 2003, Khodorkovsky secara terbuka mengeritik Putin. Beberapa bulan kemudian ia ditahan atas tuduhan manipulasi.

Masuk Penjara

Bulan Juni 2004 proses pengadilan dimulai terhadap Khodorkovsky dan rekan bisnisnya Platon Lebedev. Mei 2005 keduanya dijatuhi hukuman penjara 9 tahun atas tuduhan melakukan penipuan dan mendirikan kelompok kriminal.

Yukos Dihancurkan

Perusahaan Yukos akhirnya dipecah-pecah. Sebagian besar dijual ke perusahaan negara Rosneft. Otak di balik penghancuran Yukos diduga adalah Igor Sechin, orang kepercayaan Presiden Putin yang sekarang menjadi Direktur Utama Rosneft.

Ditahan di Siberia

Khodorkovsky awalnya ditahan di perbatasan antara Rusia, Cina dan Mongolia. Desember 2006 ia dipindahkan ke sebuah penjara dekat perbatasan ke Finlandia. Ketika seorang tahanan perlu perawatan dokter, Khodorkovsky melakukan mogok makan selama 11 hari. Tahanan itu akhirnya mendapat perawatan.

Jalan Panjang Menuju Kebebasan

Tahun 2010 Khodorkovsky untuk kedua kalinya diajukan ke pengadilan. Aksi protes muncul menentang proses pengadilan yang dianggap berlatar belakang politis itu. Tapi Presiden Putin bersikeras menahan tokoh yang dianggap ingin melawan kebijakannya. Akhir Desember 2013, Putin akhirnya memberi amnesti.

Tiba di Jerman

Khodorkovsky langsung diterbangkan ke Berlin. Ia disambut oleh mantan Menlu Jerman Hans Dietrich Genscher. Di belakang layar, Genscher sejak dua tahun melakukan pembicaraan dengan Rusia agar Khodorkovsky dibebaskan. Genscher melakukan pertemuan tertutup dua kali dengan Putin.

Menginap di Berlin

Khodorkovsky menginap di Hotel Adlon. Banyak media berusaha mendapat pernyataan langsung dari bekas raja minyak itu dan menunggu di depan hotel. Tapi Khodorkovsky minta waktu untuk beristirahat dan bertemu lebih dulu dengan keluarganya. Orangtuanya datang dari Moskow ke Berlin.

Menghirup Kebebasan

Dalam konferensi pers di Berlin, Khodorkovsky mengatakan ia tidak mau terjun berebut kekuasaan di Rusia. Ia ingin membantu tahanan politik yang masih mendekam di penjara. Setelah sepuluh tahun penjara, ia ingin lebih dulu menghirup kebebasan sebelum merencanakan masa depan.