Makin Banyak Warga Turki Jadi Ateis, Gara-Gara Erdogan?

Sebuah survei baru menunjukkan, jumlah warga Turki yang jadi ateis meningkat tiga kali lipat dalam 10 tahun terakhir. Banyak pengamat Turki berpendapat, Presiden Recep Tayyip Erdogan salah satu alasannya.

Menurut survei terbaru yang dilaksanakan lembaga jajak pendapat Konda, makin banyak warga Turki yang sekarang menyatakan mereka berpaling ke ateisme. Selama sepuluh tahun terakhir, jumlahnya naik tiga kali lipat. Sementara warga Turki yang menyatakan menganut agama Islam dan benar-benar menjalankannya turun dari 55 menjadi 51 persen.

"Memang terjadi koersi agama di Turki," kata Ahmet Balyemez yang berusia 36 tahun. Dia mengaku sudah lebih 10 tahun menjadi ateis. Berbeda dengan ateisme di Indonesia, di Turki orang bebas-bebas saja mengaku menjadi ateis.

"Banyak orang yang bertanya pada dirinya: Inikah wajah Islam yang sebenarnya?" kata Ahmet Balyemez yang bekerja sebagai spesialis komputer. "Karena kalau mengamati perilaku para tokoh politik Islam, kelihatan bahwa mereka sekarang mencoba meniru praktik Islam pada masa-masa awal kelahirannya. Jadi, yang kita saksikan saat ini adalah Islam primordial."

 Ahmet Balyemez

Ahmet Balyenez, lebih 10 tahun menjadi ateis di Turki

Balyemez mengatakan, dia dibesarkan dalam keluarga yang sangat religius. "Puasa dan salat adalah hal terpenting bagi saya waktu itu." Tapi suatu saat, dia memutuskan untuk menjadi seorang ateis.

Ritual atau etika?

Direktorat Urusan Agama di Turki, Diyanet, tahun 2019 mendeklarasikan bahwa 99 persen warga Turki mengidentifikasi dirinya sebagai penganut Islam. Namun survei yang dilakukan Konda menunjukkan perkembangan yang sangat lain. Hanya 51 persen warga Turki yang menyatakan mereka beragama Islam dan memang menjalankannya. Hasil survei Konda langsung menyulut debat kontroversial.

Tapi Ahli Teologi Cemil Kilic berpendapat, kedua angka itu sama-sama betul. Memang secara formal, 99 persen warga Turki mungkin merasa mereka beragama Islam. Tapi banyak dari mereka yang hanya memahami Islam dalam konteks kultural dan sosiologis, bukan dalam konteks keagamaan, katanya.

Politik

Bangkitnya Turki di bawah Erdogan

Di Turki dan di luar negeri, sosok Recep Tayyip Erdogan menimbulkan efek berlawanan. Ada yang menggambarkannya sebagai "sultan" Ottoman baru dan ada juga yang menganggapnya pemimpin yang otoriter. DW mengeksplorasi bangkitnya pemimpin Turki ini dari masa awal berkampanye untuk urusan Islamis hingga menjadi presiden di negara yang memiliki kekuatan militer terbesar kedua di NATO.

Politik

Walikota Istanbul yang pernah dipenjara

Setelah bertahun-tahun bergerak di jajaran Partai Kesejahteraan yang berakar Islamis, Erdogan terpilih sebagai walikota Istanbul pada 1994. Namun empat tahun kemudian, partai itu dinyatakan inkonstitusional karena mengancam sistem pemerintahan sekuler Turki dan dibubarkan. Ia kemudian dipenjara empat bulan karena pembacaan puisi kontroversial di depan umum dan akibatnya ia kehilangan jabatannya.

Politik

Memimpin republik

Erdogan mendirikan Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP), yang memenangkan mayoritas kursi pada tahun 2002. Dia diangkat menjadi perdana menteri pada tahun 2003. Di tahun-tahun pertamanya, Erdogan bekerja untuk menyediakan layanan sosial, meningkatkan ekonomi dan menerapkan reformasi demokratis. Beberapa orang berpendapat bahwa Erdogan mengubah haluan pemerintahan Turki menjadi lebih religius.

Politik

Ingin generasi yang saleh

Meskipun konstitusi Turki menjamin sistem sekluarisme, pengamat yakin bahwa Erdogan telah berhasil membersihkan sistem sekuler di sana. Pemimpin Turki ini mengatakan bahwa salah satu tujuannya adalah untuk membangkitkan "generasi yang saleh." Pendukung Erdogan memuji inisiatifnya dengan alasan bahwa tahun-tahun diskriminasi terhadap Muslim yang religius akhirnya bisa berakhir.

Politik

Berhasil lolos dari usaha kudeta

Pada Juli 2016, kudeta militer gagal yang menargetkan Erdogan dan pemerintahannya menyebabkan lebih dari 200 orang tewas, termasuk warga sipil dan tentara. Setelah upaya kudeta, Erdogan mengumumkan keadaan darurat dan bersumpah untuk "membersihkan" militer. "Di Turki, angkatan bersenjata tidak mengatur negara atau memimpin negara. Mereka tidak bisa," katanya.

Politik

Penumpasan oposisi

Sejak kudeta gagal, pihak berwenang menangkap lebih dari 50.000 orang di angkatan bersenjata, kepolisian, pengadilan, sekolah dan media. Erdogan menuduh Fethullah Gulen (seorang ulama yang diasingkan di AS dan mantan sekutu Erdogan) dan para pendukungnya telah mencoba merusak pemerintahan. Namun organisasi HAM meyakini tuduhan itu merupakan sarana untuk memperkuat kekuasaan dan pengaruhnya.

Politik

Didukung dan dikritik

Meskipun Erdogan menikmati dukungan signifikan di Turki dan komunitas diaspora Turki, dia dikritik karena kebijakannya yang keras dan aksi-aksi terhadap militan Kurdi setelah runtuhnya proses perdamaian pada 2015. Januari 2018, Erdogan meluncurkan serangan mematikan ke utara Suriah (Afrin), sebuah operasi yang secara luas dikecam oleh organisasi HAM.

Politik

Era baru?

Menjabat sebagai presiden Turki sejak 2014, Erdogan ingin memperpanjang jabatannya. Pemilu bulan Juni akan menandai transisi Turki menjadi negara presidensial bergaya eksekutif. Namun disinyalir, lanskap media Turki didominasi oleh kelompok yang punya hubungan dengan Partai AKP yang berkuasa. Para pengamat percaya, pemilu ini menandai era baru bagi Turki - belum jelas, era baik atau buruk.(na/hp)

Cemil Kilic menambahkan, menjadi penganut agama Islam bukan sekadar memakai busana Islam dan melakukan ritual-ritual tertentu saja. "Menilai apakah seseorang religius atau tidak harus berdasar pada pengamatan, apakah orang itu memang menganut nilai-nilai etis dan kemanusiaan (dari suatu agama)." Kalau melihat dari praktiknya, "tidak sampai 60 persen warga Turki yang bisa dibilang menjalankan agama Islam," tandas Kilic.

Erdogan membawa agama ke ranah politik

Di Turki, lanjut Kilic, agama sekarang menjadi erat dengan kepentingan dan praktik politik. "Acara salat besar-besaran sering jadi ajang untuk menunjukkan loyalitas kepada kepemimpinan politik. Dan khotbah di masjid-masjid jadi lebih mencerminkan pandangan politik penguasa."

Cemil Kilic, türkischer Theologe

Ahli Teologi Cemil Kilic

Kilic menjelaskan, meningkatnya warga Turki yang mengaku ateis tidak berarti hilangnya nilai-nilai moral dan etika. "Sebagian ateis malah punya nilai-nilai etika dan moral yang jauh lebih kuat ketimbang banyak warga yang mengaku Muslim," kata dia.

Menurut Cemil Kilic, perkembangan ini tidak lepas dari hampir 16 tahun pemerintahan Recep Tayyip Erdogan. Karena sejak dia menjadi Perdana Menteri tahun 2014 dan kemudian sekarang menjadi presiden, menyebar kebiasaan bahwa para pejabat pemerintahan menggunakan agama untuk melegitimasi kebijakan politik mereka. Kecenderungan ini malah membuat makin banyak orang jadi skeptis terhadap Islam.

Tema

Screenshot Ateizm Derneği

Laman Facebook organisasi ateis Turki "Ateizm Dernegi"

Pemaksaan interpretasi tertentu bangkitkan skeptisisme

"Makin banyak orang yang menolak interpretasi Islam yang dipaksakan oleh instansi dan organisasi kenegaraan, termasuk kelompok-kelompok agama yang dekat ke pemerintahan," kata Kilic. Banyak yang tidak senang agama dipaksakan menjadi satu bentuk resmi yang dilegitimasi pemerintah. "Itu sebabnya, jumlah warga yang menjadi ateis makin banyak," jelasnya.

Selin Ozkohen, perempuan yang menjadi Ketua Organisasi Ateis Turki "Ateizm Dernegi", mengatakan, upaya Erdogan menjadikan Turki negara yang makin religius malah berdampak sebaliknya.

"Organisasi agama malah mendiskreditkan dirinya sendiri," katanya dan melanjutkan: "Pemerintahan dan kebijakan politik seharusnya tidak didominasi satu sekte agama, karena ini hanya akan membuat makin banyak orang mempertanyakan agama itu dan lebih senang menjadi ateis yang humanis."

Selin Ozkohen menuturkan: "Sekarang, makin banyak orang yang secara terbuka mengaku mereka adalah ateis." Sekalipun masih ada tekanan dari masjid dan pemerintah. "Tahun 2019 misalnya, anak-anak sekolah masih tetap diwajibkan belajar agama (Islam)," katanya.

Budaya

#1. Cina

Tradisi Cina tidak mengenal istilah agama dalam prinsipnya yang mengatur hubungan antara manusia dan Tuhan, melainkan ajaran nenek moyang yang terwujud dalam bentuk Taoisme atau Khonghucu. Sebab itu tidak heran jika dalam jajak pendapat lembaga penelitian Gallup, sekitar 61% penduduk Cina mengaku tidak bertuhan. Sementara 29% mengaku tidak taat beragama.

Budaya

#2. Hong Kong

Sebagian besar penduduk Hongkong menganut kepercayaan tradisional Tionghoa. Sementara lainnya memeluk agama Kristen, Protestan, Taoisme atau Buddha. Namun menurut jajak pendapat Gallup, sekitar 34% penduduk bekas jajahan Inggris itu mengaku tidak percaya kepada Tuhan.

Budaya

#3. Jepang

Serupa Cina, sebagian besar penduduk Jepang menganut kepercayaan etnis Shinto alias agama para dewa. Dalam hakekatnya Shintoisme tidak mengenal prinsip ketuhanan seperti agama samawi. Sebab itu pula banyak penganut Shinto yang mengaku tidak bertuhan. Gallup menemukan sekitar 31% penduduk Jepang mengklaim dirinya sebagai Atheis.

Budaya

#4. Republik Ceko

Sekitar 30% penduduk Republik Ceko mengaku tidak bertuhan. Sementara jumlah terbesar memilih tidak menjawab perihal agama yang dianut. Faktanya, agama sulit berjejak di negeri di jantung Eropa tersebut. Penganut Katholik dan Protestan misalnya cuma berkisar 12 persen dari total populasi.

Budaya

#5. Spanyol

Katholik mewakili porsi terbesar dari penduduk Spanyol yang beragama. Sementara sisanya tersebar antara Protestan atau Islam. Uniknya kendati beragama, sebagian besar penduduk Spanyol mengaku tidak taat menjalani ritual keagamaan. Sementara 20% mengaku atheis atau agnostik.

(Ed:hp/ts)