1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Malangnya Nasib Mantan Atlet Indonesia

Kantor Berita 68H23 Maret 2007

Pertengahan Februari lalu, Indonesia kehilangan bekas petinju terbaik tingkat amatir dan profesional, Rachman Kilikili. Rachman ditemukan tewas gantung diri lantaran stres tak kunjung beroleh pekerjaan. Tragedi Rachman hanya potret kecil naasnya nasib atlet selepas masa jaya mereka.

https://p.dw.com/p/CTBT

Di pintu enam Stadion Gelora Bung Karno. Sejumlah remaja tampak berkeringat di atas sasana tinju, seolah tanpa lelah terus berlatih. Sekian tahun lalu, Rachman Kilikili yang ada di atas ring tinju tersebut. Dengan latihan yang padat dan ketat, ia menjadi juara dunia kelas bulu Federasi Tinju Internasional, IBF.

Namun begitu cahaya kejayaan tak lagi jatuh pada Rachman, namanya tenggelam. Sebelum mengakhiri hidupnya, Rachman pernah berkeluh tentang hidupnya. Kata kawan Rachman yang juga atlet lari, Toni Balubun, Rachman mengeluh lantaran tak satu pun lamaran kerja yang dibuatnya sukses. Padahal ketika nama Rachman masih bersinar, begitu banyak yang menawarkan pekerjaan.

”Waktu dia turun waktu chrisjon muncul, stamina dia menurun dia melamar kerja dimana-mana katanya ga diterima, cuma ada diomiongan doang tapi kesana ga ada tanggung jawab. jadi itu menjadi pikiran. jadi dia masa bodoh, sampai dia bilang kalau saya ga bawa nama bangsa ini boleh. saya tinju dimana-mana membawa nama bangsa saya. kita negara indonesia kok begini, saya cari kerja aja susah, nah dia stresnya disitu.”

Tak cuma Rachman yang diabaikan negara begitu pamornya redup. Tapi juga petinju bekas juara Asia, Ferry Moniaga. Petinju kelahiran Tanjung Pinang ini bercerita, sekarang yang tersisa hanya lembaran kertas penghargaan.

”ada selembar kertas, beberapa lembar kertas penghargaan atlet terbaik dua kali, kemudian bintang kelas dua atau bintang apa itu aja

Ferry memulai karir tinju sejak di bangku SMP. Prestasi tertinggi Ferry adalah menjadi juara Asia tahun 1980. Juga sempat masuk lima besar petinju terbaik dunia dalam ajang Olimpiade di Munchen, Jerman.

”Tahun 1980 juara medali emasnya. Kalau medali perak medali perunggu di kejuaraan asia atau asian games sering. tapi baru dapat juara satunya di tahun 1980. demikian pula olimpiade tahun 1972, kalau dihitung-hitung lima besar atau peringkat lima dari tiga puluh delapan peserta.”

Meski prestasi terang benderang, nasib Ferry Moniaga kini sungguh redup. Ayah empat anak ini masih hidup menumpang di rumah adiknya di kawasan Bekasi. Ia pun tak punya pekerjaan tetap. Cerita miris serupa datang dari bekas juara lari SEA Games 1987, Martha Kase. Atlet asal Kupang, Nusa Tenggara Timur ini harus berjualan minuman botol untuk menghidupi keluarganya.

”Setelah tahun 2000 saya alihkan sebagai pedagang kaki lima. petama saya dagang teh botol di plaza barat, kedua saya pindah ke pintu pssi ketiga saya pindah ke pintu masjid al-bana dan selanjutnya saya pindah ke parkir timur .”

Padahal karir Martha dimulai sejak dini, dari tahun 1979. Sejak ia mengikuti Pekan Olahraga dan Seni tingkat Sekolah Dasar. Gelar demi gelar diraihnya, sampai akhirnya di tahun 2000 Martha tak lagi dilirik negara. Ia merasa diabaikan.

”Tak ada yang diberikan oleh pemerintah. mana ada yang diberikan pemerintah, ga ada. kalau prestasi kita bagus ya kita masih dipakai. kalau prestasi kita sudah ga bagus ya udah cukup sampai disini aja.”

Tak adakah yang dilakukan demi membalas jasa para atlet ini?

Ketua Ikatan Atlet Nasional Indonesia (IANI) Icuk Sugiarto mengatakan, ribuan atlet sampai sekarang masih menganggur dan tidak diperhatikan oleh negara.

”Mereka hanya perhatikan atlet yang lagi dipakai. atlet yang sebelumnya mereka ga pernah care ga pernah perduli. istilahnya yang mewakili sebelum tim itu ada mereka sudah ga ingat lagi. Kadang kita juga merasa sakit.”

Lalu bagaimana sikap KONI, Komite Olahraga Nasional Indonesia?

Pertengahan Februari lalu, Rita Subowo terpilih sebagai Ketua Umum yang baru dari Komite Olahraga Nasional Indonesia, KONI. Rita berjanji akan lebih memperhatikan nasib dan kesejahteraan para atlet. Termasuk atlet yang sudah tak berjaya lagi. Kuncinya, kata Rita, adalah pendidikan.

”Di dalam masa ini kita lebih tekankan lagi pada pb dan ppnya, juga turut membantu. pada saat mereka menjadi atlet nasional itu pendidikannya diperhatikan. jadi yang masih sekolah dasar seperti senam itu diberi kemudahan agar mereka dapat menyelesaikan sekolah pada waktunya mungkin dengan memberi guru tambahan atau mengapproach sekolahnya supaya pada jam latihan tidak ikut sekolah tapi sesudah itu diluar jam sekolah mereka diberikan pelajaran tambahan.”

Gagasan Rita ini didukung pengamat olahraga, MF Siregar. Kata dia, atlet memang harus dibekali keahlian dan pendidian, selain kemampuan olahraga.

”Mereka itu tidak hanya dilatih untuk prestasi dunia, tapi dibekali kemampuan dan potensi untuk bisa menghidupi diri sendiri. ini kadang-kadang kita lupa.”

Pemerintah punya langkah lain. Menteri Pemuda dan Olahraga Adhyaksa Dault mengatakan, untuk kesejahteraan atlet, pemerintah akan mengupayakan dana jaminan hidup bagi mereka.

”Kan ada undang-undangnya tinggal diterjemahkan dalam bentuk anggaran kemudian diajukan ke dpr kita sekarang sedang mau melihat dan menata atlet-atlet yang berprestasi, nanti bentuknya adalah jaminan hidup.”

DPR pun berjanji bakal memberi tunjangan dan beasiswa. Ketua Komisi X Heri Akhmadi mengatakan, pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBNP) 2006, sudah ada dana yang dialokasikan untuk beasiswa bagi atlet yang pernah berprestasi.

”Sebenarnya DPR tidak hanya rekomendasi tapi kami sudah merumuskan beberapa hal. pertama waktu kita membahas undang-undang, ketentuan tentang kesejahteraan atlet itu sudah dicoba dirumuskan antara lain dengan memberikan, pemerintah diwajibkan untuk memberikan tunjangan kepada mereka yang berprestasi itu. kemudian yang kedua kita dalam apbnp kemarin sudah merumuskan tunjangan dalam bentuk beasiswa”.

Ikatan Atlet Nasional Indonesia IANI juga berjanji bakal memperjuangkan kesejahteraan para atlet. Ketua IANI Icuk Sugiarto

”Memperjuangkan bagaimana ke depan sendiri para atlet pelaku olahraga berprestasi ini mendapat perhatian yang layak sehingga tidak ada lagi suara-suara orang menjadi takut untuk menjadi seorang atlet, nah itu harus hilang. obsesi kita ke depan bagaimana profesi atlet ini tidak kalah dengan profesi-profesi yang lain.”

Yakinlah, bisa kok memperhatikan kesejahteraan atlet pasca masa jaya mereka. Pengamat olahraga MF Siregar mengambil contoh apa yang dilakukan negara lain. Misalnya Korea Selatan, yang memberi jaminan hidup buat atletnya..

”Di indonesia ini kita masih melihat bahwa bonus. tapi tidak ada jaminan sekolah sampai selesai, tidak ada jaminan asuransi belum ada jaminan dapat tunjangan seumur hidup. paling sedikit kalau dia ada jaminan tiga bidang ini itu merupakan ketentraman modal pokok dia ada. dia mau lari kemana-mana mau berguling kemana-mana juga pangkal persoalan ada sedikit yang dia sisihkan yang dia percayakan untuk mempertahankan hidup. ini justru belum ada di Indonesia. alangkah baiknya kita juga menengok keluar negeri bagimana mengamankan ini.”

Janji bagi para atlet yang sudah lewat masa jayanya datang dari berbagai penjuru. Di atas kertas, janji apa pun terasa manis. Tapi kalau tak dilakoni, sama saja bohong. Kalau atlet-atlet yang pernah berjaya itu tak kunjung diperhatikan kesejahteraannya, bukankah itu ’habis manis sepah dibuang’?