Mantan Manajer Kampanye Trump Paul Manafort Divonis Hukuman Penjara

Paul Manafort, mantan kepala kampanye Donald Trump, telah dijatuhi hukuman hampir empat tahun penjara karena pajak dan penipuan bank. Kejahatan itu terungkap selama investigasi khusus Robert Mueller di Rusia.

Paul Manafort, mantan manajer kampanye Presiden AS Donald Trump, dijatuhi hukuman penjara 47 bulan, Kamis (07/03). Putusan itu merupakan pukulan berat bagi pemerintah dan hukuman penjara terberat yang dijatuhkan kepada orang-orang yang pernah ada di lingkaran dalam presiden.

Kejahatan itu terungkap selama investigasi penasihat khusus Robert Mueller tentang peran Rusia dalam pemilu presiden 2016.

Manafort, seorang konsultan politik veteran Partai Republik, dinyatakan bersalah atas lima tuduhan penipuan pajak, dua tuduhan penipuan bank dan satu tuduhan merahasiakan kepemilikan rekening bank asing. Selain hukuman penjara, mantan ajudan Trump ini harus membayar denda US$ 50.000 atau sekitar 716 juta Rupiah dan ganti rugi lebih dari US$ 24 juta.

Namun masalah hukum Manafort belum berakhir. Dia masih harus menanti hukuman dalam kasus kedua di Washington minggu depan, di mana dia mengaku bersalah atas dua tuduhan konspirasi dan mempengaruhi saksi. Hukuman maksimum adalah 10 tahun.

Kronologi Hubungan Trump Dengan Rusia

2013: Trump Dekati Russia

Pada 18 Juni 2013 Donald Trump berkicau di Twitter: "Kontes kecantikan Miss Universe akan disiarkan langsung dari MOSKOW, Rusia. Ini akan semakin mendekatkan dua negara." Ia kemudian menambahkan, "Apakah anda kira Putin akan hadir - jika ya, apakah ia akan menjadi sahabat baru saya?" Pada Oktober di tahun yang sama Trump mengakui telah melakukan "banyak bisnis dengan Rusia."

Kronologi Hubungan Trump Dengan Rusia

September 2015: Dugaan Serangan Siber

Seroang agen FBI mewanti-wanti Komite Nasional Partai Demokrat (DNC) ihwal serangan siber. Pada 18 Mei 2016 James Cloapper, Direktur Komunitas Intelijen, mengatakan ada "sejumlah indikasi" serangan siber terhadap salah satu tim kampanye pemilu kepresidenan. Sebulan kemudian DNC mengaku menjadi korban serangan siber oleh peretas Rusia.

Kronologi Hubungan Trump Dengan Rusia

20 Juli 2016: Kislyak Isyaratkan Dukungan

Senator Jeff Sessions yang sejak awal mendukung Donald Trump dan memimpin Komite Penasehat Keamanan Nasional milik kandidat Partai Republik itu bertemu dengan Duta Besar Rusia Sergey Kislyak dan sekelompok duta besar lain di sela-sela Konvensi Nasional Partai Republik. Sessions awalnya sempat membantah bertemu Kislyak. Tapi Gedung Putih kemudian mengakui kebenaran kabar tersebut.

Kronologi Hubungan Trump Dengan Rusia

22 Juli 2016. Assange Terlibat

Di tengah masa kampanye situs WikiLeaks milik Julian Assange memublikasikan 20.000 email milik petinggi partai Demokrat yang dicuri dari server DNC. Kumpulan email tersebut mengungkap bagaimana petinggi partai lebih mengunggulkan Hillary Clinton, ketimbang pesaingnya Senator Bernie Sanders.

Kronologi Hubungan Trump Dengan Rusia

25 Juli 2016: FBI Turun Tangan

Menyusul unggahan WikiLeaks Badan Investigasi Federal AS (FB) mengumumkan pihaknya membuka penyelidikan terhadap serangan siber pada masa kampanye. "Kebocoran semacam ini selalu kami anggap serius," ujar Direktur James Comey. Penyelidikan FBI lalu memicu kritik tajam atas kecerobohan tim kampanye Hillary Clinton dalam menyimpan informasi rahasia.

Kronologi Hubungan Trump Dengan Rusia

8 November 2016: Trump Terpilih

Donald Trump terpilih sebagai presiden Amerika Serikat mesi kalah jumlah suara, namun menang dalam jumlah delegasi. Uniknya pada 9 November parlemen Rusia merayakan kabar kemenangan Trump dengan bertepuk tangan di sela-sela sidang.

Kronologi Hubungan Trump Dengan Rusia

10 November 2016: Gedung Putih Membantah

Wakil Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Rybakov mengakui adanya "kontak" antara pemerintah Rusia dengan tim kampanye Trump selama pemilihan umum kepresidenan. "Tentu saja kami mengenal sebagian besar anggota tim kampanyenya," kata Rybakov. Trump membantah klaim tersebut.

Kronologi Hubungan Trump Dengan Rusia

18 November 2016: Flynn Datang dan Pergi

Trump mengangkat Jendral Michael Flynn sebagai penasehat keamanan nasional. Bekas kepala Dinas Intelijen Militer itu pernah menjadi penasehat kebijakan luar negeri selama masa kampanye. Flynn mengundurkan diri bulan Februari setelah tergerus isu kedekatannya dengan Rusia. Ia antara lain pernah bertemu dengan Presiden Vladimir Putin dalam sebuah acara pribadi di Moskow.

Kronologi Hubungan Trump Dengan Rusia

26 Januari 2017: Surat Maut dari Jaksa Agung

Jaksa Agung AS Sally Yates mengabarkan Gedung Putih bahwa Flynn berbohong mengenai pertemuannya dengan Duta Besar Rusia Kislyak. Ia meyakini Rusia memiliki rahasia yang bisa digunakan untuk memeras Flynn. Tidak lama kemudian Trump memecat Yates dan menunjuk Jeff Sessions sebagai penggantinya.

Kronologi Hubungan Trump Dengan Rusia

2 Maret 2017: Sessions Tunduk

Trump mengatakan ia memiliki "kepercayaan penuh" pada Jaksa Agung Jeff Sessions. Tokoh konservatif itu lalu mengatakan ia tidak akan terlibat dalam semua investigasi yang berkaitan dengan hubungan antara tim kampanye Trump dengan Rusia.

Kronologi Hubungan Trump Dengan Rusia

20 Maret 2017: FBI Usut Trump

Direktur FBI James Comey mengkonfirmasikan kepada parlemen bahwa lembaganya memulai investigasi dugaan hubungan ilegal antara Rusia dan tim kampanye Trump. Pada hari yang sama Presiden Trump menyerang pemberitaan tentang investigasi Rusia lewat Twitter.

Kronologi Hubungan Trump Dengan Rusia

9 Mei 2017: Trump Pecat Comey

Menyusul penyelidikan oleh FBI, Trump lalu memecat James Comey. "Meski saya menghargai sikap anda mengabarkan saya dalam tiga kesempatan bahwa saya tidak sedang diselidiki, saya tetap mendukung penilaian Departemen Kehakiman bahwa anda tidak mampu memimpin FBI dengan efektif," tulis Trump dalam surat pemecatan Comey.

Kronologi Hubungan Trump Dengan Rusia

17 Mei 2017: Mueller Tiba, Trump Meradang

Menyusul konflik kepentingan yang memaksa Jaksa Agung Jeff Sessions menarik diri dari investigasi Rusia, wakilnya Rod Rosenstein menunjuk bekas Direktur FBI Robert Mueller sebagai penyidik khusus kasus dugaan intervensi Rusia. Langkah tersebut tidak diambil tanpa keterlibatan Gedung Putih. Awal Juni Mueller menempatkan Trump sebagai tokoh kunci dalam penyelidikan tersebut.

Kemungkinan pengampunan

Manafort menjabat sebagai ketua kampanye Trump 2016 selama dua bulan. Penyelidik mulai memeriksa Manafort ketika diketahui bahwa ia telah menghadiri pertemuan dengan orang-orang Rusia pada Juni 2016 di Trump Tower, New York. Pihak Rusia saat itu berjanji menemukan "berita buruk" tentang saingan politik Trump, Hillary Clinton.

Sejak Manafort divonis, Trump telah memanggilnya "orang baik" dan lewat akun Twitter Trump menulis bahwa tuduhan terhadapnya berkaitan dengan bisnis Manafort bertahun-tahun sebelum ia terlibat dengan kampanye 2016.

Pada November lalu, Trump mengatakan dia tidak mengesampingkan kemungkinan memberikan pengampunan presiden kepada mantan ajudannya. Paul Manafort menjadi orang pertama dari 34 orang dan tiga perusahaan yang dituntut oleh Mueller untuk diadili.

vlz/hp (AFP, AP, Reuters, dpa)

Daftar Skandal Presiden AS

Thomas Jefferson (1801-1809)

Adalah Sally Hemings, budak berdarah campuran, yang menjadi noktah hitam dalam karir panjang presiden ketiga Amerika Serikat, Thomas Jefferson. Sang presiden ditengarai melakukan hubungan seksual dengan budak miliknya sendiri yang melahirkan enam orang anak. Hasil uji DNA 200 tahun kemudian memastikan hubungan darah antara Jefferson dan salah seorang anak Hemings.

Daftar Skandal Presiden AS

Warren G. Harding (1921-1923)

Dua hal yang dikenang dari Warren G. Harding, yakni reputasinya sebagai presiden Amerika Serikat terburuk sepanjang massa dan rangkaian skandalnya dengan sejumlah perempuan. Selama kekuasaannya yang singkat ia tergolong rajin membuat skandal seks. Balada cintanya yang paling tersohor adalah hubungan mesranya dengan Carrie Fulton Phillips yang digaji 5.000 Dollar AS per bulan agar tutup mulut.

Daftar Skandal Presiden AS

Richard Nixon (1969-1974)

Nixon bukan sosok yang dikenang baik dalam sejarah AS. Reputasinya ambruk lantaran terbukti ikut mengagas pencurian informasi dari kantor pusat Partai Demokrat yang dikenal sebagai skandal Watergate. Setelah terungkap ke publik, Nixon bahkan sempat berusaha menghalangi proses penyelidikan dengan memecat penyidik khusus yang ditugaskan mengungkap skandal tersebut. Ia akhirnya mengundurkan diri.

Daftar Skandal Presiden AS

Ronald Reagan (1981-1989)

Reagan adalah panutan buat kader dan simpatisan Partai Republik. Masa kepresidenanya dikenal lewat sikap keras Gedung Putih terhadap Uni Sovyet. Namun begitu ia sempat terkena skandal ketika membiarkan kelompok pemberontak Nikaragua sokongan CIA, Contra, membiayai perjuangan lewat penyelundupan narkoba. Namun Reagan tidak tersentuh oleh skandal tersebut.

Daftar Skandal Presiden AS

Bill Clinton (1993-2001)

Kendati terbukti melakukan hubungan intim dengan pegawai magang Gedung Putih, Monica Lewinsky, bekas Presiden Bill Clinton masih menikmati popularitas yang tinggi hingga kini. Terutama reaksi isterinya, Hillary Clinton, yang menyatakan dukungan kepada suaminya di depan umum, turut menyelamatkan karir sang presiden. Kasus Lewinsky adalah skandal seks terakhir di Gedung Putih.

Daftar Skandal Presiden AS

Donald Trump (2017)

Lusinan skandal yang ia cetak tidak mampu menghalangi usaha Donald Trump merebut Gedung Putih dari Partai Demokrat. Namun sejak berkuasa, Trump dirundung lusinan kasus yang menghantui masa pemerintahannya yang baru seumur jagung. Belum setengah tahun berkuasa, Trump sudah terancam dimakzulkan lantaran kedekatannya dengan Rusia.

Tema

Ikuti kami