1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Türkei Israel

21 Oktober 2009

Hubungan antara Israel dan Turki memburuk belakangan. Ankara tidak menyetujui kebijakan yang dijalankan Israel di Palestina. Yang diuntungkan dari kebekuan hubungan Turki dan Israel adalah Suriah.

https://p.dw.com/p/KATL
Foto: DW

Setahun lalu, hubungan Ankara dan Yerusalem masih normal. Militer kedua negara melakukan manuver militer bersama. Perdana Menteri Turki Erdogan bertindak sebagai penengah antara Israel dan Suriah saat merundingkan pengembalian Dataran Tinggi Golan kepada Damaskus.

Tapi hubungan antara Turki dan Israel menegang awal tahun ini menyusul serangan Israel terhadap kelompok Hamas. Dalam konfrontasi berdarah ini, kedua pihak melakukan sejumlah pelanggaran berat terhadap kemanusiaan. Ini adalah temuan laporan Goldstone, laporan PBB yang sengit diperdebatkan.

Dalam Forum Ekonomi Dunia di Davos bulan Januari lalu, PM Turki Erdogan menuduh Presiden Israel Shimon Peres bahwa Israel membunuh anak-anak yang tidak bersalah di Jalur Gaza. Di Turki, digelar demonstrasi untuk menunjukkan solidaritas bagi warga Palestina.

Menyusul pertemuan di Davos, hubungan Israel dan Turki makin beku. Yerusalem menarik diri dari perundingan dengan Suriah mengenai pengembalian Dataran Tinggi Golan. Dan ketegangan antara kedua negara terus berlanjut. Pekan lalu, Turki secara mengejutkan membatalkan undangan bagi Israel untuk mengikuti manuver udara 'Rajawali Anatolia'.

Apa sebenarnya alasan Turki membatalkan undangan tersebut? Perdana Menteri Erdogan mengatakan, ini adalah "keinginan rakyat Turki" dan dengan begitu merujuk langsung pada perang Gaza. Menurut kalangan diplomat, Turki tidak ingin pesawat jet Israel yang digunakan membombardir kawasan Gaza terbang melintasi Turki untuk latihan militer.

Tapi menurut militer Turki, alasan pembatalan latihan militer bersama adalah karena Israel mengundur pengiriman peralatan militer senilai 180 juta Dollar.

Terlepas dari alasan sebenarnya mengapa Turki membatalkan manuver militer bersama dengan Israel, hal yang mungkin lebih menyakitkan lagi bagi Israel adalah Turki kini menjajaki kerja sama militer baru. Turki merencanakan manuver militer bersama dengan Suriah di perbatasan bersama antar kedua negara.

Komentar nyinyir terdengar dari Israel, mengingat Israel dan Suriah masih mempersengketakan Dataran Tinggi Golan dan Damaskus adalah mitra dekat Iran. Israel menguatirkan masa depan kemitraan militer dengan Turki.

Sementara kepala staf jendral Turki Basburg berkomentar, negaranya menolak untuk diatur oleh negara manapun menyoal siapa yang menjadi mitra dalam manuver militernya, dua hal makin terlihat jelas: Turki perlahan mulai memperluas kemitraannya yang selama ini condong pro barat. Dan Israel terancam kehilangan satu-satunya kawan di kawasan Timur Tengah.

Hubungan Israel dan Turki belum pernah seburuk ini. Ankara tidak akan melupakan fakta bahwa tentara Israel memasuki Jalur Gaza, sementara Turki memediasi antara Israel dan Suriah. Selain itu, saat berkunjung ke Turki, bekas perdana menteri Israel Ehud Olmert saat mengatakan Israel tak berencana menyerang Jalur Gaza. Tapi hanya beberapa hari setelahnya, tentara Israel memasuki kawasan Gaza.

Ulrich Pick/Ziphora Robina
Editor: Dewi Gunawan-Ladener