1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
Bencana

Mengapa Letusan Gunung Agung Berbahaya

29 September 2017

Gunung Agung pernah memperlihatkan kedasyatan letusannya di masa lampau. Sekali lagi ia bergolak. Ahli geofisika Jacqueline Salzer menjelaskan kepada DW bagaimana gunung berapi tersebut memiliki potensi yang mematikan.

https://p.dw.com/p/2kxfS
Indonesien Gunung Agung drohender Vulkanausbruch auf Bali
Foto: Reuters/D. Whiteside

DW: Gunung berapi seperti apa sebenarnya Gunung Agung di Bali?

Jacqueline Salzer: Itu adalah gunung berapi campuran, juga dikenal sebagai "stratovolcano". Gunung api yang demikian kerap ditemukan pada zona subduksi tektonik. Di Bali, lempeng Indo-Australia menelusup ke bawah lempeng Sunda. Ini bagian dari cincin api pasifik. Di daerah tersebut, kita kerap menemukan lava yang sangat kental, tidak seperti "shield volcano", yang lavanya lebih cair.

Ini artinya pada zona letusan, lava gunung api, abu vulkanik serta materil letusan lainnya menumpuk dengan tajam. Ini ciri khas gunung api yang berbentuk kerucut. Gunung Agung adalah gunung tertinggi di Bali, dengan ketinggian mencapai 3.140 meter.

Deutschland Jacqueline Salzer Geophysikerin
Ahli Geofisika, Jacqueline Salzer memantau aktivitas gunung berapi Avachinskaya Sopka di Kamchatka, Rusia. Foto: Jacqueline Salzer

Seberapa berbahaya gunung api yang demikian?

Jika magmanya sangat kental, maka gunung berapi tersebut sangat eksplosif. Penyebabnya karena gas yang terperangkap di dalam magma mendapat tekanan. Ketika magma naik ke permukaan maka tekanannya pun semakin meningkat. Tapi ketika gunung berapi meletus, maka tiba-tiba gas tersebut pun terbebas. Dengan demikian, letusan benar-benar memuntahkan magma menjadi beberapa bagian, yang menyebabkan awan abu yang sangat besar. Letusan ini akan berulang dan bisa berlanjut selama beberapa hari, karena ada sumber magma yang konstan. Gas pun naik ke permukaan dan melepaskan energi.

Bahaya apa yang mengintai penduduk di pulau tersebut?

Pada letusan yang terakhir, sebagian besar korban tewas akibat aliran piroklastik. Itu adalah gas panas, abu vulkanik dan bebatuan yang bergerak cepat meluncur menuruni sisi gunung. Ini adalah ancaman terbesar.

Itu adalah peristiwa yang sangat cepat: aliran piroklastik memiliki kecepatan hingga ratusan kilometer per jam. Tidak seorang pun dapat luput. Anda harus berada sangat jauh dari gunung berapi  - dan cukup dini – agar dapat selamat.

Bahaya besar lainnya adalah "lahar". Kata itu berasal dari bahasa Indonesia yang berarti aliran lumpur yang terbentuk ketika material dari letusan gunung berapi bercampur dengan air hujan. Lahar ini mengalir melalui sungai dan lembah yang turut membawa material bebatuan yang besar. Alirannya dapat menghancurkan jembatan dan rumah-rumah, bahkan bisa menimbun desa-desa. Itu adalah bahaya kedua terbesar akibat letusan gunung api.

Selain itu, debu vulkanis juga dapat terlontar hingga ketinggian 20 kilometer. Debu yang padat ini bisa turun di atas permukiman. Bahaya lainnya adalah aliran lava yang panas.

Gunung Agung Masuki Fase Aktivitas Vulkanik Sangat Kritis

Seberapa jauh warga harus menghindari gunung berani yang demikian? Apakah lebih baik jika meninggalkan pulau tersebut?

Ada beberapa simulasi untuk beberapa gunung berapi yang berbahaya, tergantung pada dampak letusannya. Lembaga yang berwenang melakukan perhitungan, tapi sayangnya tidak seorang pun bisa yakin 100 persen.

Pada kasus gunung Agung, area yang dievakuasi berada pada radius 12 kilometer dari gunung Agung. Lebih dari 80.000 orang telah meninggalkan rumah mereka.

Lava diperkirakan berpotensi untuk mengalir hingga beberapa kilometer dari gunung api. Aliran piroklastik dapat mencapai lebih jauh, bahkan belasan kilometer. Pada letusan gunung Agung yang terakhir, aliran lava bergerak hingga tujuh kilometer dan aliran piroklastik hingga 10 kilometer.

Awan abu bahkan bisa mencapai area yang lebih jauh. Ini dapat mempengaruhi jalur penerbangan dan menyebabkan warga kesulitan untuk bernafas. Di Jerman saja, misalnya, kita terkena dampak letusan gunung berapi yang terjadi di Islandia.

Ada juga bebatuan besar yang terlontar ke sekitar gunung dan disebut sebagai "bom". Seberapa besarkah itu?

Itu tergantung pada letusannya.  Sebelumnya  letusan Gunung Agung melontarkan bebatuan seukuran kepala. Sekarang, pihak berwenang memperingatkan perkiraan diameter bebatuan yang terlontar bisa mencapai puluhan sentimeter. Tapi ada juga kasus dimana "bom" berukuran beberapa meter kubik dan beratnya beberapa ton. Itu semua tergantung pada intensitas letusan dan jarak ke kawah. Pada prinsipnya: semakin jauh dari kawah maka "bom" pun semakin kecil.

Letusan terdasyat gunung tersebut adalah tahun 1963/64. Itu sekitar setengah abad lalu. Apakah ada durasi tertentu kapan gunung meletus?

Kita tidak dapat memastikan aturan yang demikian. Kita mengetahui bahwa letusan Gunung Agung terbesar terjadi tahun 1843, tapi kita hanya mengetahui sedikit sekali apa yang sebenarnya terjadi.

Ada beberapa gunung berapi yang tampaknya mengikuti siklus tertentu, tapi itu adalah pengecualian. Kita tidak dapat berpedoman pada prognosis yang didasarkan pada faktor tersebut, atau mencoba memprediksi letusan berikutnya berdasarkan model tersebut.

Kita harus tetap ingat, pada kasus gunung berapi yang meletus secara rutin, warga kerap kali sudah terbiasa berhadapan dengan situasi tersebut. Seperti pada kasus yang terjadi di Gunung Etna di Sisilia. Penduduk di sana sudah pernah mengalami nya. Di Bali, sebagian besar warga tidak lagi mengingat letusan sebelumnya.

Vanuatu Vulkan
Gunung berapi Manaro di kepulauan Ambae Vanuatu melepaskan awan abu serta melontarkan bebatuanFoto: picture-alliance/AP Photo/New Zealand Defense Force

Gunung berapi lainnya yang juga terletak di cincin api pasifik baru saja meletus – Gunung Manaro di Vanuatu. Pihak berwenang di san telah mengevakuasi 7.000 warga dari total populasi sebanyak 10.000 orang.  Apakah kedua letusan ini saling terkait?

Vanuatu letaknya sekitar 5.000 kilometer dari Bali. Keduanya memiliki batas lempeng tektonik yang berbeda, bahkan komposisi bebatuannya juga berbeda. Lava di Vanuatu jauh lebih cair dan membentuk danau lava. Sangat sulit untuk membandingkan keduanya. Ketika kedua peristiwa terjadi pada waktu yang bersamaan hanya suatu kebetulan.

Tapi bukan berarti gunung berapi di Vanuatu kurang berbahaya. Ada danau di kawah Gunung Manaro. Ketika air segar dalam jumlah besar bercampur dengan lava panas maka ada potensi bahaya tambahan. Itu dapat memicu ledakan, dan air dari danau juga bisa menghasilkan lahar. Letusannya akan terbentuk secara berbeda dibandingkan di Bali. Meski demikian, bahaya yang mengancam di sana juga melibatkan abu vulkanik, gas, "bom," lava dan aliran piroklastik.

Dr. Jacqueline Salzer bekerja di Pusat Penelitian Geosains Jerman bidang gempa bumi dan fisika gunung berapi. Secara khusus, geofisika memantau gunung berapi aktif lewat kamera dan data yang berasal dari satelit observasi radar bumi TerraSAR-X. Fokus utama penelitiannya adalah mempelajari perubahan geometri dari gunung berapi sebelum, selama dan setelah letusan.

Interview dipandu oleh Fabian Schmidt.