Mengapa Pasukan Khusus Selalu Aktual?

Ketika negara dalam kondisi damai, keberadaan pasukan khusus tetap diperlukan. Mengapa demikian? Simak opini Aris Santoso.

Contoh yang terkini adalah seperti yang dilakukan Sertu Hendra Syahputra (anggota Yontaifib Korps Marinir) baru-baru, yang berhasil mengangkat  "kotak hitam” dari dasar laut.

Bagaimana menurut Anda?

Klik di sini untuk mengikuti diskusi

Kotak hitam itu adalah kepingan penting pesawat Lion Air yang jatuh baru-baru ini, di pantai utara Kabupaten Karawang.

Di hadapan jurnalis, Sertu Hendra secara jelas mengatakan, bahwa misi pengambilan kotak hitam tersebut merupakan bagian dari OMSP (operasi militer selain perang)  TNI, sesuai amanat UU N0.34 tentang TNI (2004).

Indonesien Blogger Aris Santoso

Penulis: Aris Santoso

Dari segi kompetensi, tentu hanya bagi anggota TNI yang sudah dilatih khusus untuk tugas atau misi seperti itu.

Ketika dalam situasi perang, kemampuan anggota Yontaifib seperti Sertu Hendra tersebut, mungkin untuk infiltrasi ke garis belakang pertahanan lawan, atau meloloskan diri bila tertangkap musuh. Namun dalam kondisi damai, kemampuan itu tetap bisa dimanfaat bagi tugas-tugas kemanusiaan.

Pasukan lain yang memiliki kompetensi seperti itu adalah Korps Brimob, dalam hal ini kemampuan Jihandak (penjinakan bahan peledak). Seperti halnya Yontaifib dalam Korps Marinir, Brimob juga memiliki satuan khusus untuk penjinakan bom, kemampuan yang sangat signifikan terkait rasa aman masyarakat.

Sosial

Badan pesawat ditemukan dalam bentuk serpihan

Komandan Satuan Tugas SAR Kolonel Isswarto mengatakan, tim penyelam TNI Angkatan Laut (AL) menemukan badan pesawat Lion Air JT 610 dalam bentuk serpihan. Badan pesawat berada di kedalaman 25-35 meter pada titik jatuhnya. Jenazah penumpang pun ditemukan tak jauh dari puing-puing pesawat. Demikian dikutip dari Kompas.com.

Sosial

"Black box" ditemukan

Yang sering disebut "black box" sebenarnya terdiri dari dua alat perekam, yaitu perekam data penerbangan (flight data recorder-FDR) dan perekam suara di kokpit (cockpit voice recorder-CVR). "Black box" Lion Air JT610 sudah ditemukan dan akan diteliti tim khusus.

Sosial

Serpihan pesawat sudah ditemukan sebelumnya

Seorang anggota TNImembawa pecahan tubuh Lion Air JT610. Sehari setelah pesawat jatuh Senin 29 Oktober 2018, sejumlah pecahan tubuh pesawat sudah ditemukan tim Basarnas dan TNI.

Sosial

Temuan barang milik penumpang dan bagian tubuh korban

Hingga Rabu 31 Oktober malam tim SAR gabungan telah mengirimkan 56 kantong jenazah ke RS Polri. Kantong-kantong berisi bagian tubuh korban. Selain itu juga dikumpulkan pecahan bagian pesawat serta barang-barang milik penumpang yang ditemukan tim pencari di lokasi kecelakaan di Laut Jawa.

Sosial

Menatap harta milik keluarga

Anggota keluarga penumpang pesawat Lion Air hanya bisa menatap barang-barang milik penumpang yang ditemukan di laut, dan diangkut ke Posko pencarian di Tanjung Priok. Pencarian kini diarahkan kepada tubuh utama pesawat. Ed.: ml/as

Pasukan terlatih

Salah satu yang khas dari pasukan-pasukan di tanah air  adalah soal sikap rendah hatinya. Tidak ada yang merasa pasukannya sebagai pasukan hebat. Tagline yang biasa kita dengar adalah: kami bukan satuan hebat, namun terlatih. Prinsip ini juga yang menjadi pegangan anggota Marinir dan Brimob.

Pada awal dekade 1990-an, Dankormar (Komandan Korps Marinir) saat itu Mayjen (Mar) Baroto Sardadi, sempat mengatakan, Marinir bukan pasukan khusus, yang pasukan khusus hanyalah Kopassus (Kompas, 11/11/1992). Tentu ini adalah bentuk dari kerendahhatian seorang Komandan Marinir, mengingat tugas pasukan marinir tak kalah beratnya, dan dari segi nama, juga melegenda.

Tugas pokok Marinir bisa dilihat dari penggalan mars Marinir Fajar Telah Memerah, yang bait pertamanya berbunyi "Korps Marinir perintis jalan…..”. Syair lagu ini sudah menggambarkan apa tugas pokok Marinir, yaitu membuka jalan dengan merebut dan menguasai pantai, sehingga memudahkan akses bagi pasukan penyerbu berikutnya. Karena tugasnya yang penuh risiko inilah, Korps Marinir masuk kategori pasukan elite.

Sebagai pasukan elite, terkadang dalam sebuah operasi ada juga anggotanya yang bernasib malang. Kegagalan mereka tentu saja bukan karena kurang terlatih, namun semata-mata karena nasib, dimana kita sebagai manusia tidak kuasa menolaknya. Pada pertengahan Oktober lalu di media sosial muncul berita "50 tahun gugurnya Usman dan Harun di Singapura”.

Usman dan Harun adalah anggota Marinir (dahulu KKO-AL) yang gugur pada 17 Oktober 1968, dalam sebuah eksekusi di penjara Singapura. Kisah seputar misi mereka, termasuk proses bagaimana mereka tertangkap, merupakan cerita tersendiri. Namun pengorbanan dua prajurit tersebut tidak sia-sia, selain penghormatan di level negara, yang lebih bermakna adalah, keduanya telah menjadi inspirasi bagi anggota Marinir generasi berikutnya, maupun anggota pasukan khusus lainnya. Salah satunya adalah soal ketegaran dan ketenangan mereka saat menjelang eksekusi.

Heroisme Baret Merah

Tidak ada kekuatan tempur lain milik TNI yang memancing imajinasi heroik sekental Kopassus. Sejak didirikan pada 16 April 1952 buat menumpas pemberontakan Republik Maluku Selatan, satuan elit Angkatan Darat ini sudah berulangkali terlibat dalam operasi mengamankan NKRI.

Kecil dan Mematikan

Dalam strukturnya yang unik, Kopassus selalu beroperasi dalam satuan kecil dengan mengandalkan serangan cepat dan mematikan. Pasukan elit ini biasanya melakukan tugas penyusupan, pengintaian, penyerbuan, anti terorisme dan berbagai jenis perang non konvensional lain. Untuk itu setiap prajurit Kopassus dibekali kemampuan tempur yang tinggi.

Mendunia Lewat Woyla

Nama Kopassus pertamakali dikenal oleh dunia internasional setelah sukses membebaskan 57 sandera dalam drama pembajakan pesawat Garuda 206 oleh kelompok ekstremis Islam, Komando Jihad, tahun 1981. Sejak saat itu Kopassus sering dilibatkan dalam operasi anti terorisme di Indonesia dan dianggap sebagai salah satu pasukan elit paling mumpuni di dunia.

Terjun Saat Bencana

Segudang prestasi Kopassus membuat prajurit elit Indonesia itu banyak dilirik negeri jiran untuk mengikuti latihan bersama, di antaranya Myanmar, Brunei dan Filipina. Tapi tidak selamanya Kopassus cuma diterjunkan dalam misi rahasia. Tidak jarang Kopassus ikut membantu penanggulangan bencana alam di Indonesia, seperti banjir, gempa bumi atau bahkan kebakaran hutan.

Nila di Tanah Seroja

Namun begitu Kopassus bukan tanpa dosa. Selama gejolak di Timor Leste misalnya, pasukan elit TNI ini sering dikaitkan dengan pelanggaran HAM berat. Tahun 1975 lima wartawan Australia diduga tewas ditembak prajurit Kopassus di kota Balibo, Timor Leste. Kasus yang kemudian dikenal dengan sebutan Balibo Five itu kemudian diseret ke ranah hukum dan masih belum menemukan kejelasan hingga kini.

Pengawal Tahta Penguasa

Jelang runtuhnya ejim Orde Baru, Kopassus mulai terseret arus politik dan perlahan berubah dari alat negara menjadi abdi penguasa. Pasukan elit yang saat itu dipimpin oleh Prabowo Subianto ini antara lain dituding menculik belasan mahasiswa dan menyulut kerusuhan massal pada bulan Mei 1998.

Serambi Berdarah

Diperkirakan lebih dari 300 wanita dan anak di bawah umur mengalami perkosaan dan hingga 12.000 orang tewas selama operasi militer TNI di Aceh antara 1990-1998. Sebagaimana lazimnya, prajurit Kopassus berada di garda terdepan dalam perang melawan Gerakan Aceh Merdeka itu. Sayangnya hingga kini belum ada kelanjutan hukum mengenai kasus pelanggaran HAM di Aceh.

Neraka di Papua

Papua adalah kasus lain yang menyeret Kopasus dalam jerat HAM. Berbagai kasus pembunuhan aktivis lokal dialamatkan pada prajurit baret merah, termasuk diantaranya pembunuhan terhadap Theys Eluay, mantan ketua Presidium Dewan Papua. Tahun 2009 silam organisasi HAM, Human Rights Watch, menerbitkan laporan yang berisikan dugaan pelanggaran HAM terhadap warga sipil oleh Kopassus.

Tahun kelahiran Brimob

Sebagai satuan atau korps dengan nama besar, bukan berarti tahun kelahiran Brimob menjadi jelas di mata publik. Berdasarkan fakta historis, Brimob lahir pada 14 November 1946 di Purwokerto, sementara Korps Marinir pada 15 November 1945 di Tegal. Begitulah, dua korps yang tertanam kuat di memori publik ini memiliki tanggal hari jadi  berdekatan, namun beda tahun, dan publik (termasuk media) acapkali alpa soal ini.

Masalah utama kerancuan publik (termasuk media) adalah, adanya anggapan bahwa semua peristiwa besar  (termasuk kelahiran Brimob) terjadi pada tahun 1945, tanpa pernah memeriksa kembali soal kebenarannya.

Kita tidak pernah sadar, bahwa tidak semua satuan TNI atau kepolisian dilahirkan pada tahun 1945. Kalau Brimob lahir tahun 1945, memang terkesan janggal, berarti Brimob lebih tua dari induknya, yaitu Polri, yang baru resmi berdiri pada 1 Juli 1946.

Dua fakta historis berikut mudah-mudahan bisa menjelaskan ihwal kelahiran Brimob. Pertama, pada November 1945, pada peristiwa pertempuran 10 November di Surabaya, sejumlah anggota polisi istimewa (hasil didikan Jepang) melibatkan diri dalam pertempuran, di bawah pimpinan Iptu M Yasin (Komandan Brimob 1950-1959).

Pasukan polisi istimewa di bawah M Yasin inilah, yang kemudian menjadi embrio Brimob ketika didirikan pada bulan November tahun berikutnya. Artinya, tidak mungkin Brimob berdiri pada November 1945, karena situasinya masih genting

Kedua, adalah terkait hijrah Presiden Soekarno dan Wapres Hatta, dari Jakarta ke Jogja pada Januari 1946. Dalam perjalanan ke Jogja tersebut, rombongan Presiden dikawal sejumlah anggota polisi istimewa di bawah Inspektur Mangil Martowijoyo.

Pasukan di bawah Mangil ini kelak juga bergabung ke Brimob. Mangil sendiri kemudian menjadi Kepala DKP (Detasemen Kawal Pribadi) Presiden,  yang seluruh anggotanya berasal dari Brimob. Mangil selanjutnya dikenal sebagai pengawal pribadi Presiden Soekarno yang sangat setia, hingga Bung Karno lengser dari kekuasaan.

Pemahaman publik yang kabur soal hari jadi Brimob, bisa jadi adalah bagian dari pasang-surut citra Brimob itu sendiri. Bahkan, politisasi terhadap Brimob sudah terjadi sejak kelahirannya. Brimob lahir di era PM Sutan Sjahrir, sebagai Perdana Menteri, Sjahrir memiliki aspirasi agar Brimob bisa menjadi "penyeimbang” TNI AD, yang pada saat itu memang sangat dominan. Singkatnya, benih kompetisi antara Brimob dan AD, memang sudah terjadi ketika republik baru saja berdiri, yang terus berlangsung hingga puluhan tahun kemudian.

Persaingan paling tajam terlihat di masa kepemimpinan Pangab Jenderal Benny Moerdani  (1983-1988). Periode ini bisa disebut sebagai masa yang paling suram,  ketika Brimob hanya dipimpin seorang perwira menengah berpangkat Komisaris Besar (setara kolonel), itu pun bukan dalam komando tersendiri, namun di bawah Direktorat Samapta. Direktur (atau Kepala) Samapta sendiri berpangkat Brigjen.

Sementara pada waktu yang bersamaan, tokoh terkemuka Brimob (khususnya Resimen Pelopor) yaitu Jenderal Anton Sujarwo sedang menjabat Kapolri. Bagi yang paham zaman itu, memang seolah terjadi persaingan (terselubung) antara Benny dan Anton, mengingat keduanya adalah segenerasi dan sama-sama tokoh kebanggaan dari satuan asal.

Setelah periode Jenderal Benny, kebanggaan Korps Brimob secara bertahap mulai dipulihkan, ketika satuan ini kembali dipimpin perwira tinggi (pati) Polri bintang satu, yaitu Brigjen Pol Drs Sutiyono (1993-1998). Berlanjut pada pasca-Reformasi, ketika Polri dipisah dari TNI, terjadi validasi pimpinan Brimob, sehingga bisa dipimpin oleh pati bintang dua. Dan yang pertama kali memperoleh kehormatan ini adalah Irjen Pol Drs SY Wenas (2002-2009), salah seorang putera terbaik Korps Brimob.  SY Wenas selama bertahun-tahun memimpin satuan Gegana Polda Metro Jaya, rintisan satuan antiteror di jajaran Brimob.

Sinergi pasukan khusus

Salah satu isu yang selalu aktual bagi pasukan khusus adalah bagaimana membangun satuan antiteror yang andal. Secara kebetulan, tahun ini TNI telah membentuk Komando Operasi Khusus Gabungan, sebuah satuan gabungan antiteror. Komando Operasi Khusus  (selanjutnya Koopssus) dibentuk berdasar pemikiran tentang eskalasi ancaman terorisme yang semakin besar, sehingga perlu ada sinergi satuan antiteror di tiga matra, sekaligus backup terhadap Densus 88 Polri.

Salah satu legenda pasukan antiteror TNI, yakni Letjen (Purn) Sintong Panjaitan (Akmil 1963), sempat memberikan catatan kritisnya soal tren pembentukan pasukan antiteror di tiap matra, kemudian sekarang akan digabung pula. Sintong berpendapat, sebenarnya dari segi jumlah, pasukan antiteror tidak perlu terlalu besar.

Satu regu pun (sekitar 15 personel), bila dengan kualitas mumpuni, dan kesiapan tinggi, sudahlah cukup. Sintong mengajukan contoh di Inggris dan Jerman, yang hanya memiliki satu pasukan antiteror, masing-masing SAS (Inggris) dan GSG-9 (Jerman).

Dalam angan-angan Sintong, TNI harus membuat pasukan khusus dengan kualitas tinggi dan dilatih terus-menerus. Mengingat ancaman terorisme, seperti aksi pembajakan, atau aksi bom bunuh diri, sangat jarang terjadi. Namun masalahnya ancaman itu juga bernilai "strategis”, yang berdampak langsung pada kedaulatan negara dan pertaruhan nama bangsa.

Oleh karenanya pembentukan Koopssus bisa dibaca sebagai momentum, agar masing-masing satuan menanggalkan ego sektoralnya, untuk kemudian bersinergi dengan kemampuan terbaiknya. Mengingat situasi di luar semakin kompleks dan penuh ketidakpastian, pada titik ini keberadaan pasukan khusus menjadi aktual, dan menjadi dambaan masyarakat.

Penulis:

Aris Santoso, sejak lama dikenal sebagai pengamat militer, khususnya TNI AD. Kini bekerja sebagai editor buku paruh waktu.

*Setiap tulisan yang dimuat dalam #DWNesia menjadi tanggung jawab penulis.

*Silakan menulis pendapat Anda di kolom komentar yang tersedia di bawah ini.


Bencana

Terjebak di Rinjani

Ada sekitar 524 orang pendaki, sesuai catatan di buku register pengunjung, yang terperangkap di atas Gunung Rinjani akibat tanah longsor pasca gempa bumi berkekuatan 6,4 SR yang mengguncang Lombok. Kepala Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) Sudiyono menyebutkan para pendaki terjebak di dua lokasi, yakni Danau Segara Anak dan di Batu Ceper.

Bencana

Sebagian besar WNA

Gunung Rinjani adalah salah satu lokasi pendakian favorit di Indonesia bagi para turis. Tercatat 358 orang di antara para pendaki yang dievakuasi dari Rinjani adalah Warga Negara Asing. Pendaki asal Thailand adalah yang terbanyak, yaitu 174 orang. Sementara pendaki dari Jerman tercatat berjumlah 13 orang. Sementara WNI berjumlah 166 orang, sebagian besar berasal dari Jakarta dan Lombok.

Bencana

Satu pendaki tewas

Mochammad Ainul Takzim, pendaki asal Makassar tewas setelah mengalami pendarahan di bagian kepala saat berpencar untuk menyelamatkan diri.

Bencana

Evakuasi penuh tantangan

Tim gabungan TNI, Polri hingga Basarnas bekerja sama melakukan evakuasi di Gunung Rinjani. TNI bahkan mengerahkan 142 Prajurit Kopassus untuk mempercepat proses penyisiran sejumlah tempat di jalur yang mengarah ke puncak gunung di ketinggian 3.726 meter tersebut. Mereka juga akan membuka jalur bagi para pendaki. Jalur turun menuju basecamp tertutup material longsoran pasca gempa terjadi.

Bencana

Helikopter turunkan logistik

Saat masih terjebak di atas gunung, bantuan berupa makanan diturunkan dengan menggunakan helikopter. Proses evakuasi diperkirakan masih akan berlanjut hingga hari Selasa (31/07).

Bencana

Belasan korban tewas dan ratusan terluka

Sementara itu, gempa bumi di Lombok mengakibatkan 16 orang tewas dan lebih dari 150 orang yang terluka. Tak hanya warga Lombok, satu warga Malaysia terhitung di antara korban tewas. Ia meninggal dunia akibat tertimpa tembok roboh.

Bencana

Presiden temui para korban

Presiden Joko Widodo bersama Ibu Negara Iriana mengunjungi korban gempa yang mengungsi di tenda darurat di Desa Madayin, Kecamatan Sambelia, Kabupaten Lombok Timur. Jokowi berbincang dengan korban gempa untuk mengetahui bantuan jenis apa yang paling dibutuhkan masyarakat. BNPB merilis bahwa ada sekitar 5.141 orang yang mengungsi dan kini tinggal di tenda-tenda darurat.

Bencana

Bantuan tak hanya sembako

Usai berbincang dengan korban gempa bumi, Presiden Jokowi menginstruksikan agar selain makanan dan perlengkapan aktivitas sehari-hari, bantuan lain yang akan diberikan adalah uang tunai sekitar 50 juta Rupiah untuk membangun kembali rumah mereka yang rusak. Berdasarkan catatan BNPB ada sekitar 1.454 rumah yang roboh terkena gempa.

Bencana

Bantuan dan santunan

Selain bantuan berupa uang untuk merenovasi rumah yang roboh, pemerintah juga menyiapkan santunan bagi keluarga korban meninggal sebesar 15 juta Rupiah, sedangkan korban luka mendapat bantuan biaya pengobatan sebesar 2,5 juta Rupiah per orang. Seluruh bantuan ini disalurkan melalui BNPB.

Bencana

Duet Jokowi-TGB

Saat mengunjungi lokasi terdampak gempa, Jokowi juga ditemani Gubernur NTB Zainul Majdi yang dikenal sebagai Tuan Guru Bajang. Untuk menangani proses penyaluran bantuan kepada para korban, TGB diinstruksikan agar berkoordinasi dengan pemerintah pusat.

Bencana

Jauhi reruntuhan!

BMKG melaporkan gempa susulan masih terjadi, meski dengan magnitude yang lebih kecil. Sehari pasca gempa utama, tercatat ada 280 gempa susulan. Warga pun diimbau untuk tidak berada di dekat bangunan yang kondisinya rusak. Ada lebih dari seribu rumah yang rusak yang umumnya berada di Lombok Utara dan Lombok Timur.

Bencana

Gempa tektonik

Gempa bumi pertama yang terjadi Minggu pagi (29/07) dirasakan sekitar 10 detik di Lombok, NTB hingga Bali dan Sumbawa. Gempa bumi berkekuatan 6,4 SR tersebut merupakan jenis gempa bumi dangkal, yang diakibatkan aktivitas Sesar Naik Flores. Gempa yang dipicu deformasi batuan itu tidak berpotensi tsunami. Ed: ts/hp (dari berbagai sumber)