1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
PendidikanJerman

Merantau dan Belajar Musik di Negeri Bach

Sorta Caroline
5 April 2021

Giovani Biga dan Dionisia Rasta Sitepu adalah dua mahasiswa Indonesia yang kini tengah belajar musik di Jerman. Bagaimana cara para perantau ini memasuki sekolah musik Jerman yang penuh persaingan?

https://p.dw.com/p/3rXUx
Giovani Biga  Orchester Indonesien
Foto Giovani Biga bersama rekan-rekan orkestraFoto: Cherly Susanti

Giovani Biga dan Rasta memang sudah hobi menyanyi sejak kecil. Namun sayangnya, Biga mengalami masalah dengan pita suaranya kala itu. Ia pun mulai mengalihkan kegemaran bermusiknya dengan bermain biola di usia tujuh tahun. “Ada vibra dari biola yang bisa mengimitasi suara manusia, kalau piano ada suatu limitasi - dengan biola tidak,” jelas Biga soal pilihan instrument musik. “Aku pertama kali suka biola bukan karena Bach, tapi justru karena lihat musisi yang sering ada di restoran yang sering dikunjungi keluargaku, duh mainnya kok bagus banget, biolanya hijau pula! Terima kasih bapak!” ujar Biga humoris. Kini Biga sedang menempuh program Master Concertmeister di Hochschule für Musik Hanns Eisler Berlin.

Sedang Rasta mulai menggemari dunia piano sejak kelas dua SD atau di usia enam tahun. “Waktu itu karena sering lihat keluarga main musik atau nyanyi kali ya, jadi aku iseng coba-coba main not-not piano, eh kok bisa! Lanjutlah aku dengan les privat,” ingatnya. Kini Rasta di semester keempatnya di Hochschule für Musik Würzburg mengambil jurusan Bachelor of Musik, Künstlericsh-pädagogische.

Perjuangan mereka untuk bisa diterima di Sekolah Musik Jerman

Baik Biga dan Rasta mengakui bahwa untuk dapat diterima di sekolah musikJerman, sangatlah sulit. Dari seratus pelamar, biasanya hanya tiga terbaik yang dipilih. Biga sudah membangun karier bermusiknya dengan menjadi bagian dari Youth Orcestra garapan Addie MS sejak duduk di bangku sekolah menengah pertama. Saat duduk di bangku SMA kelas dua, ia terus aktif bermain di orchestra sembari mengambil kursus biola privat, dan mulai mempelajari Bahasa Jerman, hingga belajar teori musik dalam Bahasa Jerman. Dari Indonesia, Biga pun mendaftar empat sekolah di Detmold, Rostock, Freiburg, dan Lübeck.

Biga pun dipanggil untuk audisi di keempat sekolah tersebut. Tes pertama adalah Hochschule für Musik Detmold. “Ada tes khusus untuk masuk sekolah musik di Jerman, biasanya tes teori, praktik, dan Gehörbildung (red. tes pendengaran),” jelas Biga. Baginya tes pendengaranlah yang tersulit karena harus mendikte melodi yang dimainkan profesor pengujinya. “Wah gak lulus aku! Tapi saat itu untungnya profesor ada yang mau “mengambilku” untuk masuk, dengan catatan percobaan satu semester! Kalau setelah satu semester dites dan enggak lulus, aku harus cari sekolah lain,” ingat Biga akan masa sulitnya.

Biga pun meminta bantuan kakak kelas jurusan Gehörbildung untuk memberikannya kursus intensif untuk lolos tes. Biga pun berhasil lolos tes bisa meneruskan kuliah di Detmold dan lulus dengan predikat Cum Laude. “Sekolah musik enggak harus di universitas besar, yang penting ketemu guru yang pas, yang buat kita nyaman berkarya,” pesan Biga, setelah beberapa tahun dibawah bimbingan Profesor Ulrike Anima Mathé, profesor musik dan soloist biola yang telah memenangkan banyak penghargaan internasional. Biga tak mencoba sekolah lain saat pertama melamar karena baginya Hochschule für Musik Detmold mendekatnya pada musik sang legenda Biola, Tibor Varga.

Lulus di Detmold, ia pun melanjutkan studinya ke Hanns Eisler Berlin, salah satu sekolah musik ternama di Jerman. Namun, Biga merasa persaingan lebih kompetitif di sekolah ini. “Untuk proses masuknya sama dengan bachelor dulu tapi lebih kompetitif lagi dari 300 pelamar mungkin hanya dua violist yang diambil dan biasanya mereka memilih musisi yang jam terbangnya tinggi atau yang sudah punya nama,” jelas Biga.

Meski Biga telah dikenal di dunia musik klasik tanah air dan telah memenangkan ragam pertandingan musik Internasional, Biga mengakui persaingan ketat di Hanns Eisler kadang bisa membuatnya kurang percaya diri saat bermusik, meski Hanns Eisler punya nilai lebih dalam networking atau koneksi dalam dunia musik Jerman bahkan dunia. “Aku lebih nyaman di Detmold, di sana aku bisa lebih nyaman berkarya dan berkembang dari segi musikalitas dan segi pribadi. Mungkin nanti bisa mengambil master lagi disana.”

Giovani Biga Violaspieler
Giovani BigaFoto: Mudita

Jika ingin masuk sekolah musik di Jerman namun belum menimba banyak pengalaman bermain di orkestra seperti Biga, jangan khawatir, karena mungkin Anda bisa juga belajar dari Rasta. Saat duduk di bangku SMA kelas dua Rasta kian belajar piano secara intensif. Di kelas tiga SMA Rasta pun belajar Bahasa Jerman dan mulai mencicil untuk tes teori musik dalam Bahasa Jerman. Setelah lulus SMA ia sempat mengambil gap year untuk belajar musik, baru kemudian ia berani mendaftarkan diri di tiga sekolah musik di Jerman sembari terus mengambil les piano intensif di Jakarta.

Rasta bahkan sempat mengunjungi Jerman untuk mengambil kursus singkat dengan para profesor di sekolah musik yang ingin ditujunya. “Hitung-hitung untuk kenal calon-calon penguji nanti seperti apa audisinya, meski ini tidak menjamin masuk loh ya,” jelas Rasta.

Ketiga sekolah yang dilamarnya pun mengirimkan undangan untuk audisi.”Audisi untuk program Bachelorku ada tiga: praktik sight reading dari potongan piece musik yang mungkin belum pernah kita mainkan sebelumnya, teori musik berbahasa Jerman, dan Gehörbildung,” jelas Rasta. Berbeda dengan Biga, Rasta merasa dirinya lebih menyukai tes Gehörbildung dibanding tes lainnya, “Kurasa yang paling sulit itu malah side reading! Tapi harus enjoy setiap prosesnya ya, karena kalau stres enggak akan bisa main benar,” pesan Rasta.

Sempat menyerah dan ingin kembali ke tanah air setelah ditolak dua sekolah, Rasta tak menyangka sekolah terakhir yang didaftarnya memberi lampu hijau untuk menimba ilmu bermusik di Jerman.

Dionisia Rasta Sitepu indonesische Klavierspielerin
Dionisia Rasta SitepuFoto: privat

Setelah masa belajar usai…

Bagi yang tumbuh besar di Eropa terutama Jerman dan Austria tentunya sudah akrab dengan musik klasik garapan sang maestro musik, Johann Sebastian Bach. “Karya Bach itu bisa dibilang seperti buku sucinya para pemusik, tanpa Bach tidak akan ada musisi-musisi dunia lainnya seperti the Beatles, Michael Jackson. Aku kadang enggak merasa pantas main musiknya Bach, perlu mental dan fisik yang kuat apalagi musiknya yang penuh filosofi dan buat kita yang mainkan musiknya terasa transparan, enggak ada tempat sembunyi,” jelas Biga.

Bagi Biga, Bach seperti menjelaskan realita naik turunnya hidup sebagai manusia, terutama lewat Karya Dissonance. Senada dengan Biga, Rasta pun mengungkap hal yang sama, karya-karya jenius penuh makna dari Bach sangat disukainya.

Lantas setelah studi apakah Biga dan Rasta akan melanjutkan berkompetisi di dunia musik klasik di Jerman? “Aku ingin kembali ke Indonesia, di Jerman memang sangat bagus untuk membangun karier bermusik, tapi aku harus mulai lagi dari nol, kalau di Indonesia setidaknya aku sudah mulai dari usiaku 14 tahun,” terang Biga yakin.

Selama pandemi COVID-19, Biga tak berhenti bermusik dan berkarya, ia memberi banyak kursus online hingga berpartisipasi dalam konser online. "Beda sekali ajang konser di masa pandemi, tidak ada kontak langsung dengan audience, tatapan mata bahkan tepuk tangan audience itu berharga sekali saat manggung," ujar Biga soal panggung yang berbeda setelah pandemi COVID-19 melanda.

Seusai studi, Biga berencana kembali ke tanah air dan menjadi concertmeiser, mengajar di Universitas, bahkan mengajar musik di rumah. ”Aku enggak mau sekedar bagus main solo biola, tapi jadi musisi yang bisa main di orchestra dan juga chamber musician,” ujar Biga yakin.

Sementara Rasta berencana melanjutkan studi master seusai studinya di Jerman. Selama pandemi, mahasiswa di Jerman dapat mengajukan bantuan kepada pemerintah Jerman melalui überbrückungshilfe, karena banyak mahasiswa yang tidak bisa bekerja sampingan untuk kebutuhan hidupnya selama pandemi.

Kedua musisi Indonesia ini kian mewarnai dunia musik klasik Indonesia dengan karya mereka. Apa resep sukses bermusik? “Dimulai dari self discovery dan respecting your value, be yourself ( red. Proses pengenalan diri, mencintai nilai-nilai yang kita punya, dan jadi diri sendiri). Lalu jangan berhenti berlatih dan mencoba hal baru. Musik adalah attitude dan workethic juga,” ujar Biga menutup wawancara hari itu.