1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Meraup Untung dari Kemarahan

Kersten Knipp19 September 2012

Aksi protes terhadap film "Innocence of Muslims" menunjukkan perasaan religius yang terluka. Tapi itu juga hasil politisasi pihak tertentu dengan tujuan lain.

https://p.dw.com/p/16BZa
Kashmiri Muslims shout slogans during a demonstration against the controversial film "Innocence of Muslims" in Srinagar on September 13, 2012. The controversial low budget film -- reportedly made by an Israeli-American which portrays Muslims as immoral and gratuitous -- sparked fury in Libya, where four Americans including the ambassador were killed on Tuesday when a mob attacked the US consulate in Benghazi, and has led to protests outside US missions in Morocco, Sudan, Egypt, Tunisia and Yemen. AFP PHOTO/Tauseef MUSTAFA (Photo credit should read TAUSEEF MUSTAFA/AFP/GettyImages)
Foto: AFP/Getty Images

Bendera warna hijau yang dikibarkan, wajah yang terbakar amarah, anak-anak muda yang melemparkan batu, dan seruan untuk membela Nabi Muhammad apapun konsekuensinya. Dari Tunisia hingga Yaman, kaum muslim turun ke jalan untuk membela kehormatan agamanya.

"Seluruh dunia harus melihat kemarahan di wajah kalian, melihat kepalan tangan dan teriakan kalian," demikian dikatakan pemimpin Hisbullah Hassan Nasrallah, Senin (17/09) dalam demonstrasi di bagian selatan kota Beirut, yang didominasi warga Syiah. "Selama darah mengalir di pembuluh, kita tidak akan menerima penghinaan terdahap Nabi Muhammad."

Hisbullah Perjuangkan Citranya

Nasrallah sudah lama tidak tampil di muka umum. Konflik yang berlangsung di negara tetangga Suriah juga tidak dikomentarinya di depan publik. Hisbullah lebih memilih untuk mendukung rezim Bashar al Assad, yang bertahun-tahun mendukung Hisbullah. Desas-desus tentang pejuang Hisbullah di Suriah sudah terdengar sejak beberapa bulan lalu.

Hezbollah leader Sheik Hassan Nasrallah, left, speaks to a crowd of tens of thousands of supporters, not shown, during a rally denouncing an anti-Islam film that has provoked a week of unrest in Muslim countries worldwide, in the southern suburb of Beirut, Lebanon, Monday Sept. 17, 2012. Nasrallah who does not usually appear in public for fear of assassination called for Monday's protests in Beirut, saying the U.S. must be held accountable for the film because it was produced in America. Arabic reads, "the messenger of God." (Foto:Hussein Malla/AP/dapd).
Hassan Nasrallah di depan pendukungnya (17/09/12)Foto: AP

Tetapi solidaritas dengan Assad sudah menyebabkan simpati masyarakat kepada Hisbullah banyak berkurang. Sekarang mereka merasa terancam akibat kemungkinan jatuhnya Bashar al Assad. Mengapa sekarang Nasrallah berbicara kepada pendukungnya berkaitan dengan film "Innocence of Muslims"?

Karena dengan adanya film itu ia melihat kesempatan, untuk menampilkan diri sebagai pejuang melawan AS, sekaligus pembela Islam. Demikian dikatakan Lurdes Vidal, dari institut penelitian "Instituto Europeo del Mediterráneo" di Barcelona, Spanyol. Ia menggunakan kesempatan itu untuk memperbaiki citra. Demikian dijelaskan perempuan pakar ilmu Islam dan politik itu, sambil menambahkan, "Dengan kehadirannya di depan publik, Nasrallah berusaha memenangkan pendukung."

Tuntutan Ekstrimis

Seperti halnya di Libanon, kelompok-kelompok lain di dunia Islam juga memanfaatkan kemarahan atas film yang bersifat anti Islam. Mulai dari Afrika Utara (negara-negara Maghreb) hingga Semenanjung Arab, kemarahan itu jadi peluang untuk mendemonstrasikan kekuatan. "Lewat pendudukan lokasi-lokasi umum di negara-negara tempat terjadinya 'musim semi Arab', kaum Salafis ingin membuktikan, bahwa mereka menjadi kekuatan pendorong massa di jalanan." Demikian ditulis harian Arab, Al Hayat. "Mereka menuntut kekuatan-kekuatan, yang menampilkan diri sebagai alternatif yang mapan dan terorganisir, tetapi belum cukup membangun kekuasaan."

Sudanese demonstrators shout slogans during a protest against an amateur film mocking Islam outside the German embassy in Khartoum on September 14, 2012. The low-budget movie called "Innocence of Muslims", which ridicules the Prophet Mohammed and portrays Muslims as immoral and gratuitously violent, has triggered protests in several countries. AFP PHOTO / ASHRAF SHAZLY (Photo credit should read ASHRAF SHAZLY/AFP/GettyImages)
Demonstrasi di Khartum (14/09/12)Foto: AFP/Getty Images

Motif kaum ekstrimis hampir sama. Yang berbeda adalah konteks, di mana mereka bergerak. Di Libya, kelompok-kelompok ekstrimis, setidaknya yang dekat dengan Al Qaida, berusaha mendapat dukungan. Karena di negara itu pemerintah yang baru terpilih belum mampu menegakkan monopoli kekuasaan. Kelompok ekstrimis sudah mulai menyalahgunakan kelemahan ini Agustus 2012, yaitu dengan menghancurkan makam-makam yang dianggap suci oleh para Sufi.

Kemarahan yang timbul sekarang, menurut pakar Islam Reinhard Schulze, digunakan untuk mencapai tujuan-tujuan mereka. "Timbul kesan, seolah dalam kemarahan tentang film itu, orang-orang fanatik yang bertanggungjawab atas serangan menemukan semacam cara menerangkan kepada publik, sehingga serangan teror mereka dapat dinyatakan sebagai kemurkaan rakyat."

Pakar Manipulasi

Tetapi banyak warga Libya menjauhkan diri, baik dari perusakan makam Sufi maupun dari para teroris. Warga Mesir juga tidak ikut campur dengan keinginan dan masalah kaum Salafis. Tentu saja sebagian warga Mesir bersimpati dengan kaum radikal. Demikian dijelaskan pakar politik Gamal Soltan, yang mengajar di Universitas Amerika di Kairo. "Dua-duanya bisa ditemukan. Ada publik yang sebagian besar warga sederhana dan sangat peka secara religius, yang juga bisa disalahgunakan dan dimanipulasi. Di pihak lain juga ada orang-orang yang menyalahgunakan situasi bagi tujuan mereka sendiri."

Yemeni protestors climb the gate of the U.S. Embassy during a protest about a film ridiculing Islam's Prophet Muhammad, in Sanaa, Yemen, Thursday, Sept. 13, 2012. Dozens of protesters gather in front of the US Embassy in Sanaa to protest against the American film "The Innocence of Muslims" deemed blasphemous and Islamophobic. (Foto:Hani Mohammed/AP/dapd)
Aksi protes di depan Kedutaan Besar AS di Sanaa (13/09/12)Foto: AP

Soltan berpendapat, demonstrasi adalah bagian dari konflik lebih luas. "Kaum Salafis bersaing dengan Hisbullah walaupun ideologinya sama. Jadi tidak ada dari mereka yang tertarik pada dialog nasional. Apakah masalah ekonomi atau video anti Islam, semua bisa digunakan untuk menggoyahkan legitimasi pemerintah dan mencapai tujuan sendiri."

Hamas Perjelas Profil

Gerakan Islam Hamas yang berkuasa di Jalur Gaza juga menggunakan kesempatan. Seruan mereka untuk mempertahankan Islam bertepatan dengan kemunduran politis yang terus berlangsung, dijelaskan Lurdes Vidal. Politik pemukiman Yahudi yang terus berjalan di Tepi Barat Yordan tidak bisa mereka halangi.

Selain itu Hamas tidak semaju saingan mereka, yaitu gerakan Fatah. Dengan adanya permintaan pengakuan Palestina sebagai negara pengamat di PBB, citra Fatah semakin baik. Sedangkan Hamas sama sekali tidak dapat menunjukkan kesuksesan seperti itu. Lagi pula, karena begitu lama menunda pemutusan hubungan dengan rezim Assad, Hamas kehilangan simpati. "Karena semua itu, Hamas menampilkan diri sebagai pembela Islam. Selain itu, mereka menjelek-jelekkan AS. Dengan cara itu mereka menajamkan profil, yang dulunya semakin kabur."

Sudan dan Utangnya

Di Sudan situasinya berbeda. Di negara itu pemerintah ikut menyebabkan kekerasan, setidaknya sebagian kekerasan, lewat media miliknya. Demikian dijelaskan Reinhard Schulze. "Di negara itu prosesnya diarahkan. Saya tidak bisa bayangkan, bahwa rakyat Sudan bisa mengadakan protes semacam itu, jika tidak ada pengarahan apapun," ditambahkan Schulze.

Pakistani lawyers burn a US flag as they attempt to reach the US embassy in the diplomatic enclave during a protest against an anti-Islam movie in Islamabad on September 19, 2012. Up to 500 Pakistani lawyers on managed to enter the heavily guarded diplomatic enclave in a fresh wave of protests that erupted across Pakistan to denounce an anti-Islam film. More than 30 people worldwide have died in incidents linked to the trailer for "Innocence of Muslims," a US-made film that depicts the Prophet Mohammed as a thuggish womaniser. AFP PHOTO / AAMIR QURESHI (Photo credit should read AAMIR QURESHI/AFP/GettyImages)
Aksi protes di Pakistan. Para pengacara membakar bendera AS (19/09/12)Foto: AFP/Getty Images

Aksi protes tersebut juga berguna bagi pemerintah. Karena tahun lalu Sudan Selatan memisahkan diri dan merdeka. Dengan perubahan itu, Sudan kehilangan sebagian besar pemasukannya lewat minyak, karena daerah kaya minyak sebagian besar termasuk wilayah Sudan selatan. Pemerintah Sudan berusaha mengkompensasi kehilangan pemasukan itu lewat langkah penghematan besar-besaran. Banyak orang memprotes pembatasan dan kenaikan harga yang berkaitan dengan langkah penghematan pemerintah, dalam beberapa bulan terakhir.

Jadi aksi protes terhadap film itu bisa menjadi cara menguntungkan bagi pemerintah, untuk mengalihkan kemarahan rakyat. Tetapi Schulze menjelaskan, dengan cara itu masalah tidak akan menjadi lebih mudah bagi pemerintah. "Di satu pihak pemerintah bertanggungjawab melaksanakan program penghematan, juga menyelesaikan pembayaran utang negara. Di lain pihak pemerintah berusaha mencegah terjadinya semacam "musim semi Arab" di Sudan," demikian Schulze.