Minimnya Infrastruktur di Tana Toraja

Live
03:00 menit
Sulitnya infrasturktur di Tosik, Kecamatan Simbuang, Tana Toraja, Sulawesi Selatan, membuat puluhan warga harus bersusah payah melintasi medan yang berat. Bahkan untuk menjual hasil ladang agar dapat membeli kebutuhan pokok saja mereka harus berjalan kaki naik turun gunung hingga lima jam. Simak videonya berikut.

Ada 14.000 desa tertinggal yang masih memerlukan pembangunan infrastuktur, desa Tosik di Kecamatan Simbuang, Tana Toraja, Sulawesi Selatan, salah satunya. Demi menjual hasil ladang berupa jagung, warga Tosik terpaksa berjalan hingga 21 kilometer. Sebagai ganti jerih payah berjalan selama lima jam, warga hanya bisa membeli kebutuhan pokok dari hasil berjualan.

Baca juga: Jokowi: Demi Kemakmuran, Kita Harus Sakit Dulu

Toraja: Yang Mati dan Tidak Pernah Pergi

Bertukar Pakaian di Alam Baka

Kematian menemani kehidupan. Begitulah anggapan suku Toraja yang kaya dengan ritual kematian. Di sana jenzah keluarga yang telah dimakamkan, diangkat kembali untuk ditukar pakaiannya. Tradisi bernama Ma'nene itu digelar untuk menghormati leluhur yang telah tutup usia.

Toraja: Yang Mati dan Tidak Pernah Pergi

Berduka Dengan Waktu

Suku Toraja tidak mengusir kematian, melainkan menganggapnya bagian tak terpisahkan dari kehidupan. Kelompok adat yang hidup di jantung Sulawesi itu meyakini kematian tidak memutus ikatan keintiman. Maka tidak heran jika sebuah keluarga menyimpan jenazah selama berpekan-pekan di rumah sendiri dan diperlakukan layaknya seseorang yang masih hidup.

Toraja: Yang Mati dan Tidak Pernah Pergi

Rambu Solo yang Mahal

Adalah upacara pemakaman Rambu Solo' yang membuat Toraja dikenal dunia. Ritual yang penting dan berbiaya mahal tersebut bisa berlangsung selama berhari-hari. Karena ongkosnya yang tidak murah, Rambu Solo kadang baru bisa digelar setelah berminggu-minggu atau bahkan bertahun-tahun sejak kematian yang bersangkutan.

Toraja: Yang Mati dan Tidak Pernah Pergi

Menunggu Penutupan

Selama itu pula keluarga harus bisa mengumpulkan biaya pemakaman agar bisa menguburkan anggota keluarga yang meninggal dunia. Jika belum dikebumikan, jenazah biasanya dibalut kain dan di simpan di bawah rumah adat alias Tongkonan. Arwah yang meninggal dunia diyakini belum pergi selama upacara pemakaman belum dirampungkan.

Toraja: Yang Mati dan Tidak Pernah Pergi

Kemewahan di Balik Kematian

Kemegahan upacara Rambu Solo ditentukan oleh jumlah kerbau yang dikorbankan. Setiap elemen upacara pemakaman dibuat secara hirarkis untuk menegaskan status sosial keluarga yang ditinggalkan. Tidak jarang Rambu Solo berlangsung selama berhari-hari sebelum jenazah dibawa ke tempat peristirahatan terakhir.

Toraja: Yang Mati dan Tidak Pernah Pergi

Buat Kaum Kaya

Tapi uang pula yang membebani tradisi kuno ini. Seringkali keluarga harus berutang agar bisa membiayai Rambu Solo'. Tidak heran jika sejak awal upacara mewah ini hanya boleh dilakukan oleh kaum bangsawan yang menduduki kasta tertinggi dalam struktur sosial suku Toraja.

Toraja: Yang Mati dan Tidak Pernah Pergi

Sejarah Panjang Tradisi Toraja

Tidak ada yang tahu pasti kapan ritual kematian di Toraja mulai dipraktikkan. Namun penanggalan radiokarbon terhadap sebuah potongan peti mati yang dilakukan arkeolog Indonesia dan Malaysia mengindikasikan praktik pemakaman unik ini telah berlangsung sejak 800 SM. Suku Toraja mulai dikenal dunia setelah disambangi oleh penjelajah Belanda pada abad 19.

Kontributor: Jufri Tonapa

Editor Gambar: Rizki Putra

Ikuti kami