1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Misi PBB di Suriah Diperpanjang 30 Hari

20 Juli 2012

Dewan Keamanan PBB memperpanjang misi pemantauan di Suriah selama 30 hari, tanpa syarat tertentu. Rusia mengancam akan menggunakan hak vetonya jika misi itu disertai tuntutan penarikan pasukan kepada pemerintah Suriah.

https://p.dw.com/p/15cTb
Members of the United Nations Security Council listen to Syria's U.N. Ambassador Bashar Ja'afari during a Security Council meeting on the situation in Syria at United Nations headquarters Thursday, July 19, 2012. Russia and China vetoed a U.N. resolution to imposes non-military sanctions on Syria. (AP Photo/Kathy Willens)
Dewan Keamanan PBB dalam rapat membahas resolusi damai SuriahFoto: dapd

Para pemantau asing yang ditempatkan oleh Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) di Suriah dapat bertahan lebih lama dari yang direncanakan. Dewan Keamanan PBB hari Jumat (20/7) menyepakati perpanjangan misi pemantau selama 30 hari untuk yang terakhir kalinya. Misi ini adalah bagian dari rencana damai Utusan Khusus PBB Kofi Annan.

Sebanyak 300 pengamat militer tidak bersenjata yang ditugaskan memantau jalannya gencatan senjata diturunkan selama beberapa bulan terakhir. Selain itu sekitar 100 petugas sipil ditugaskan mengawasi upaya dialog kedua belah pihak yang bertikai dan pelanggaran HAM.

Namun akibat eskalasi kekerasan dan pertempuran yang terus berkecamuk, misi ini dibekukan sejak 16 Juni lalu.

Saat ini militer pemerintah mulai menggelar operasi militer di Damaskus untuk merebut sebagian kawasan kota dan beberapa pos perbatasan yang sebelumnya didukui pasukan pemberontak. Laporan saksi mata mengabarkan ledakan bertubi-tubi di pusat kota. Sebagian besar penduduk di kawasan yang dilanda pertempuran mengungsi ke rumah-rumah ibadah.

Sementara itu, media-media Turki melaporkan seorang jendral dan 20 perwira tinggi militer Suriah melarikan diri ke Turki. Jumlah jendral yang melarikan diri ke negeri jiran kini bertambah menjadi 22 orang. Menurut pemerintah setempat, lebih dari 43.000 penduduk Suriah mendaftarkan diri sebagai pengungsi di kawasan perbatasan. Mereka ditempatkan di tenda-tenda dan kontainer.

Spekulasi soal mundurnya Presiden Bashar Assad ditampik oleh Kementrian Informasi Suriah. Sebelumnya Duta Besar Rusia di Paris, Alexander Orlov mengatakan, Assad memahami, dirinya sedang menghadapi jalan buntu. "Ia menerima pengunduran diri," kata Orlov kepada stasiun radio RFI, namun dengan syarat proses transisi yang aman dan tertib.

rzn/dpa/ap/rtr