1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
Musik

Musisi Anti-Israel Memboikot Festival Musik Berlin

23 Agustus 2017

Enam seniman dari berbagai negara di Arab dan Inggris memboikot "Festival Pop-Kultur 2017" di Berlin akibat panitia festival tahunan itu menerima donasi dari Israel. Dana yang disumbang relatif kecil, hanya 500 Euro.

https://p.dw.com/p/2ihKZ
Syrischer Rapper Mohammad Abu Hajar
Foto: Enrico Incerti

Antrean para pengunjung Fesival Pop Kultur 2017 yang dimulai Rabu (23/8) lebih pendek dari yang semula direncanakan. Empat musisi yang berasal dari berbagai negara Arab dan satu grup musik kolaborasi asal Inggris serta seorang peserta panel kelahiran Inggris tidak akan muncul pada festival musik tahunan tersebut.

Aksi ini mereka lakukan sebagai bentuk protes atas perlakukan Israel terhadap warga Palestina dan pendudukan di Tepi Barat dan Jalur Gaza.

"Kami anti-rasisme dan kami menolak gagasan bahwa menentang penindasan terhadap warga Palestina berarti kami anti-semitisme atau mendukung terorisme," tulis grup musik asal Inggris Iklan & Law Holt. Musisi lain asal Tunisia, Emel Mathlouthi menulis alasannya menarik diri di laman Facebook-nya. “Saya sangat menantikan kesempatan untuk tampil… di Berlin, hingga akhirnya saya menyadari festival tersebut disponsori oleh kedutaan Israel."

Screenshot pop-kultur.berlin Iklan featuring Law Holt
Penyelenggara menginformasikan di laman website bahwa grup "Iklan & Law Holt" batal tampil di Pop Kultur 2017Foto: pop-kultur.berlin

Aksi boikot diserukan oleh kelompok internasional BDS (Boikot, Divestasi, Sanksi) cabang Berlin. Kelompok yang dibentuk sejak 12 tahun lalu itu dikenal lewat gerakan anti-apartheid di Afrika Selatan dan didukung musisi seperti Pink Floyd dan Steven Van Zandt. Terkait festival di Berlin, mereka menyuarakan agar penyelenggara "Pop-Kultur“ mengembalikan dana sponsor yang diberikan kedutaan Israel.

Bantuan sebesar 500 Euro atau setara 4.500.000 Rupiah diberikan untuk menutupi biaya perjalanan para peserta festival yang berasal Israel. Kedutaan Israel hanya satu dari sekian banyak mitra penyelenggara yang terdaftar di poster acara.

Dalam sebuah pernyataan resmi, pihak penyelenggara festival menyebut kampanye BDS telah memberi tekanan yang besar bagi para musisi dari negara Arab dan menampik bahwa Pop-Kultur dibiayai oleh pemerintah Israel. Mereka beralasan niat awal acara justru untuk "menjadi jembatan lintas batas".

Senator Kebudayaan Berlin, Klaus Lederer menjelaskan bahwa dana untuk acara tersebut sebagian besar berasal dari pemerintah Jerman, Uni Eropa, dan pemerintah Berlin. Kepada surat kabar Berlin Tagesspiegel ia menyampaikan kekecewaannya “seruan boikot adalah tidak tepat dan –saya tak memiliki kata lain– kebencian telah mempengaruhi festival ini. Di sisi lain, para seniman yang memboikot festival menampik aksi mereka sebagai anti-semitisme. Grup musik asal Mesir, Islam Chipsy, beralasan musik juga sebagai jalan mereka menolak kekerasan dan diskriminasi dalam bentuk apapun dan kepada siapapun.