1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Hong Kong Tangkap Taipan Media Pro-Demokrasi 

10 Agustus 2020

Pemerintah Hong Kong menangkap taipan media, Jimmy Lai, atas dugaan berkolusi dengan kekuatan asing. Dia adalah salah satu tokoh pro-demokrasi paling berpengaruh. Aktivitasnya sejak lama membuat gusar pemerintah Beijing

https://p.dw.com/p/3ghrE
Pemilik tabloid Apple Daily dan Next Magazine, Jimmy Lai.
Pemilik tabloid Apple Daily dan Next Magazine, Jimmy Lai.Foto: picture-alliance/AP Photo/V. Yu

Penangkapan terhadap Jimmy Lai diyakini berkaitan dengan pemberitaan kritis tabloid Apple Daily miliknya. Dia ditangkap usai polisi menggerebek kantor harian tersebut. Lai diamankan bersama anaknya, Timothy dan Ian, serta sejumlah anggota eksekutif senior perusahaan. 

Mereka dituduh berkolusi dengan negara asing, kata kepolisian. Proses penggerebekan sendiri disiarkan secara langsung oleh pegawai tabloid melalui kanal media sosial. Dalam tayangan itu, polisi terlihat menunjukkan surat perintah dari pengadilan, 

"Katakan kepada rekan Anda supaya berhenti (menggeledah) sampai pengacara kami memeriksa surat perintahnya,” tukas Editor Kepala Law Wai-kwong. Tidak lama berselang Lai terlihat sudah diborgol, sembari diapit aparat kepolisian. 

Chris Yeung, Presiden Asosiasi Jurnalis Hong Kong, menggambarkan situasi di kantor Apple Daily, “mengejutkan dan menakutkan,” kata dia. “Ini tidak biasa dan sesuatu yang tidak bisa dibayangkan dua bulan lalu,” imbuhnya. 

Law mengirimkan nota kepada para pegawai agar “bertahan di pos masing-masing,” dan terus bekerja untuk memublikasikan edisi terbaru tabloid tersebut. 

Aktivis pro-Demokrasi dalam bidikan 

UU Keamanan Nasional disahkan oleh Beijing untuk meredam aksi protes yang telah berlangsung sejak tahun lalu. Sebagai buntutnya, Cina dibanjiri kritik oleh negara-negara barat dan berujung sanksi Amerika Serikat

Tabloid Apple Daily dan Next Magazine yang dimiliki Lai sejak awal bersikap pro-demokrasi dan kritis terhadap Beijing. Sang pengusaha sendiri kerap menjadi sasaran amuk media-media Cina, antara lain dicap “pengkhianat” dan sebagai “tangan hitam” di balik aksi demonstrasi massal di Hong Kong. 

Tuduhan bahwa Lai berkolusi dengan pihak asing mulai menyeruak ketika dia bertemu Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo dan Wakil Presiden Mike Pence tahun lalu. Dia beralasan setiap warga Hong Kong bebas bertemu dengan politisi asing. 

“Saya siap dipenjara,” katanya saat diwawancara AFP Juni silam, dua pekan sebelum 
pemberlakuan UU Keamanan Nasional. 

Dia meyakini legislasi tersebut merupakan “lonceng kematian bagi Hong Kong.” Dia saat itu sudah mengkhawatirkan pemerintah akan membidik para jurnalis yang bekerja untuk medianya. 

Dibesarkan oleh sinisme terhadap Partai Komunis Cina 

Seperti kebanyakan pengusaha Hong Kong, Lai dibesarkan di dalam kemiskinan. Dia sebetulnya dilahirkan di sebuah keluarga kaya di provinsi Guangdong Cina. Namun kemakmuran tersebut direnggut ketika Partai Komunis Cina mengambilalih kekuasaan pada 1949. 

Lai yang kala itu berusia 12 tahun diselundupkan ke Hong Kong. Awalnya dia bekerja sebagai buruh, sebelum belajar bahasa Inggris secara otodidak dan kelak mendirikan rumah fesyen, Giordano, yang merambah hingga ke Cina dan Timur Tengah. 

Kesadaran politiknya baru lahir ketika pemerintah Cina mengirimkan tank dan kendaraan lapis baja buat menghalau aksi demonstrasi di Lapangan Tiananmen, Beijing, tahun 1989. Tidak lama kemudian, dia mendirikan harian Apple Daily, yang lantang mengritik pemerintah Cina. 

Beijing bereaksi dengan menutup semua gerai milik Giordano di Cina. Lai lalu menjual sahamnya di perusahaan tersebut dan menggunakan uangnya untuk membiayai operasi Apple Daily.  

Ketika ditanya kenapa dia tidak menutup mulut dan menikmati kekayaannya seperti pengusaha Hong Kong lain, Lai menjawab “mungkin saya dilahirkan sebagai pemberontak, mungkin saya adalah seseorang yang membutuhkan arti kehidupan di samping uang.” 

rzn/as (ap,rtr,dpa)