Pakar Politik Jerman: Ini Alasan Mengapa Islam Jadi Tema Utama di Pilpres 2019

Sejak reformasi 1998, banyak pengamat melihat Indonesia sebagai negara berpenduduk muslim yang berhasil mengembangkan demokrasi model barat. Tapi situasi sekarang berubah.

"Peran agama (dalam politik) di Indonesia sekarang sangar besar," kata Susanne Schröter, Direktur Pusat Penelitian Islam Global di Frankfurt, FFGI. "Agama sekarang jadi instrumen utama berpolitik, dan agama diinstrumentalisasi oleh semua pihak", tandasnya.

Profesor ilmu politik itu, yang juga ketua Yayasan Orientalis Jerman Deutsche Orient Stiftung (DOS), menggambarkan jalannya kampanye di Indonesia sebagai perebutan wacana Islam. Kubu Prabowo dulu menyerang Jokowi sebagai "kurang Islami", sedangkan tim kampanye Jokowi membantah dan mengatakan, Jokowi dulu sekolah di pesantren, hal yang tidak benar, kata Susanne Schröter. Di lain pihak, Prabowo sekarang yang sering diserang "tidak bisa shalat" dan tidak pandai membaca Al Quran.

Prof. Susanne Schröter

Selanjutnya Prof. Susanne Schröter menerangkan, meningkatnya intoleransi di Indonesia bersumber dari dua hal, faktor internal, yaitu sejarah kolonialisme dan konflik antar elit hingga saat ini, dan faktor eksternal, yaitu pengaruh dari politik negara asing.

Kelompok radikal manfaatkan demokratisasi

Sejak awal pendirian Republik Indonesia, kelompok-kelompok Islam sudah punya pengaruh besar di panggung politik, namun mereka tidak punya suara mayoritas. Karena itulah disepakati Indonesia tidak menjadi negara Islam, melainkan Negara Pancasila. Prinsip Lima Sila yang diperkenalkan oleh Soekarno itu kemudian dianggap sebagai "alat pemersatu" bagi berbagai kelompok etnis, budaya dan agama.

Selama pemerintahan Orde Baru Suharto, kubu Islam politik maupun Islam radikal ditindas. Namun sejak era "reformasi" 1998, mereka bisa menikmati kebebasan lagi untuk tampil di panggung politik. "Demokratisasi memang memberi ruang pada mereka untuk mengorgansiasi diri lagi", kata Susanne Schöter.

Selain itu, pengaruh ideologi Islam dari Timur Tengah, terutama dari Arab Saudi makin kuat. Konservatisme Islam, terutama Wahhabisme, berhasil mendominasi sistem pendidikan, sambung ilmuwan perempuan yang lama meneliti tentang politik Islam secara global. Arab Saudi memberi dana besar dan bea siswa kepada banyak orang Indonesia, yang pergi belajar ke Arab Saudi dan membawa pulang paham Islam yang sangat konservatif, kata Susanne Schröter. Kembali ke Indonesia, mereka menjadi "multiplikator" paham Islam yang ultra konservatif.

Kegagalan elit politik di Indonesia

Berthold Damshäuser, dosen Bahasa Indonesia yang sudah menerbitkan beberapa buku juga setuju dengan pandangan Susanne Schröter. Terutama kasus Ahok memberi contoh jelas mengenai "meningkatnya intoleransi" di Indonesia, katanya.

Berthold Damshäuser

Banyak kaum muda yang sekarang menyatakan setuju dengan penerapan Hukum Syariah di Indonesia, kata Berthold Damshäuser. Tidak hanya itu, banyak orang juga setuju dengan penggunaan kekerasan melawan apa yang mereka sebut "musuh Islam".

"Elit politik di Indonesia terlalu cepat melepaskan idealismenya dan berpaling pada populisme murahan", kritik Damshäuser. Tapi dia mengakui: "Mungkin ini langkah cerdik Jokowi agar berhasil merangkul kubu Islam politik."

Susanne Schröter juga menilai, meningkatnya Islamisme di Indonesia sebagai kegagalan elit politik. Mereka gagal mengisi falsafah Pancasila dan konstitusi yang demokratis dengan langkah-langkah nyata, katanya. Jokowi juga dinilainya tidak berhasil memenuhi "harapan tinggi" yang diembankan kepadanya ketika pertama kali terpilih sebagai presiden. Jokowi tidak mencapai apa-apa di bidang hak asasi manusia maupun dalam upaya menghentikan Islamisme, tambahnya.

Pemilu Serentak WNI di Jerman

Warga antusias

Suhu udara yang hanya empat derajat celcius di Frankfurt tidak membuat antusiasme warga surut untuk mendatangi TPS.

Pemilu Serentak WNI di Jerman

Pemilih di Hamburg

Surat suara yang tersedia di TPS di Hamburg berjumlah 1.035 sudah dengan surat cadangan 2% dari kebutuhan DPT TPS.

Pemilu Serentak WNI di Jerman

Dubes Indonesia untuk Jerman ikut memilih

Dubes Indonesia untuk Jerman, Arif Havas Oegroseno, memasukkan surat suaranya ke kotak suara di TPSLN di Berlin.

Pemilu Serentak WNI di Jerman

Contoh surat suara

Contoh surat suara untuk pemilihan calon anggota legislatif berikut cara pemilihan yang dianggap sah.

Pemilu Serentak WNI di Jerman

Surat suara tersegel

Logistik pemilu termasuk surat suara yang masih tersegel siap menanti para pemilih yang berhak mencoblos pada Sabtu (13/04) di Jerman.

Pemilu Serentak WNI di Jerman

Antusiasme pemilih muda

TPS di Berlin banyak didatangi kaum muda dan para pelajar Indonesia, slaah satunya yaitu Giovenny Rebeccamari Winardi (20) pelajar di Technische Universität Berlin.

Pemilu Serentak WNI di Jerman

Persiapan di TPS sejak dini hari

Berdasarkan pengamatan tim Deutsche Welle, panitia sudah terlihat membangun TPS mulai pukul 5 pagi waktu setempat. Berbagai logistik pemilu hingga makanan juga mulai dipersiapkan.

Pemilu Serentak WNI di Jerman

Pemilu serentak

Dalam pemilu kali ini, warga memilih calon presiden dan wakil presiden sekaligus anggota legislatif. (Teks dan Foto: Arti Ekawati, Anggatira Gollmer, Sorta Caroline, Geofani Anggasta, Caesaria Kusumawati)

Berthold Damshäuser menilai perkembangan Indonesia lebih optimistis dari Schröter. Para elit politik yang moderat di Indonesia memang perlu menimbang, "apa yang lebih berbahaya: Islamisme atau perpecahan negara?" Dia bisa memahami bahwa Jokowi memilih lebih mengalah pada tekanan Islam politik daripada mengambil risiko guncangnya stabilitas nasional. "Mungkin dia berharap, dengan cara ini bisa menjinakkan Islam politik dan mengintegrasikan mereka".

"Tapi kemunduran ke masa otoriter sebelum Reformasi, atau pembentukan sebuah Negara Islam (di Indonesia) sangat tidak mungkin", tandasnya. hp/vlz (dw)

Kampanye Akbar Penutup Masing-Masing Paslon

Ratusan ribu orang padati GBK

Ratusan ribu orang padati Stadion Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta, untuk mengikuti kampanye akbar paslon 01, Jokowi-Ma'ruf. Acara tersebut merupakan penutup rangkaian kampanye yang rencananya akan diisi orasi oleh Joko Widodo dan ditutup doa bersama dipimpin Ma'ruf Amin.

Kampanye Akbar Penutup Masing-Masing Paslon

Doa putihkan Indonesia

"Kalau putih-putih menang, Indonesia maju. Mari kita doa," kata Ma'ruf membuka doa bersama. "Jadikan 01 sebagai pemenang," lanjutnya di saat doa bersama. Selain orasi dan doa kampanye tersebut juga dihibur dengan konser lagu-lagu kebangsaan.

Kampanye Akbar Penutup Masing-Masing Paslon

GBK tak cukup tampung pendukung

Tak sedikit pendukung yang mengikuti kampanye tersebut dari luar arena stadion karena penuhnya Stadion GBK (maksimal sekitar 120 ribu kursi). Namun begitu mereka tetap marak mengikuti acara tersebut dengan bernyanyi dan berdoa bersama.

Kampanye Akbar Penutup Masing-Masing Paslon

Satukan suara di Tangerang

Sedangkan cawapres nomor urut 02, Sandiaga Uno, mengakhiri kampanye akbarnya di Alun-alun Kota Tangerang, Banten. Bersama para pendukungnya Sandiaga satukan suara bernyanyi "Indonesia Prabowo, Indonesia Sandiaga Uno, Indonesia Prabowo, Indonesia Sandiaga Uno".

Kampanye Akbar Penutup Masing-Masing Paslon

Dihadiri elit partai hingga pimpinan ormas

Dalam kampanye yang diikuti oleh ribuan pendukung paslon 02 tersebut turut hadir pula beberapa tokoh seperti Ketua FPI Ustaz Sobri Lubis, Ustaz Deri Sulaiman, Rhoma Irama, Narji hingga jubir BPN Andre Rosiade. Prabowo Subianto sendiri tidak hadir dalam kampanye tersebut dan dijadwalkan bertemu Sandiaga pada program debat malam ini. yp/hp (kompas, detik)

Ikuti kami