Panjat Sosial Gerakan Indonesia Tanpa-Tanpaan

Indonesai Tanpa JIL, Indonesia Tanpa Pacaran, Indonesia Tanpa Femisnis - lalu berikutnya mau Indonesia tanpa apa lagi? Ini yang terjadi saat negara-negara lain berkompetisi teknologi. Simak opini Nadya Karima Melati

Pada tahun 2013 telah dideklarasikan gerakan ITJ atau Indonesia Tanpa JIL di Cisarua. Gerakan ITJ muncul atas respon kehadiran Jaringan Islam Liberal dan berusaha menjadi anti tesisnya. JIL adalah aliran liberalisme Islam yang mengedepankan rasionalisme dan memperbaharui tafsir-tafsir usang supaya Islam bisa kompetibel dengan moderenisasi abad ke-21. JIL memang sangat terkenal. Muncul pada awal 2001 sebagai mailing list kemudian melakukan diskusi offline dan sangat populer di kalangan kampus dan aktivisme. Hingga deklarasi ITJ tahun 2013, gerakan JIL masih di atas angin dan nama organisasi ITJ langsung ikut melejit bersama kepopuleran JIL. 

Bagaimana menurut Anda?

Klik di sini untuk mengikuti diskusi

Penulis: Nadya Karima Melati

Sedangkan pada tahun 2015 dan seterusnya muncul trend komedi baru di Indonesia bernama Stand Up Comedy. Tren ini dimulai ketika Raditya Dika roadshow tentang buku-buku humor yang berisi kehidupan pribadinya dan seketika menjadi gaya baru menulis pop di Idnonesia. Tiap kali roadshow peluncuran buku, Radit melakukan Stand Up Comedy dan tidak butuh waktu lama gaya komedi ini menyeruak.

Ciri khas Radit dalam komedinya adalah menyindir kaum jomblo, dan di atas kepopuleran Radity Dika dan Stand Up Comedy, muncul deklarasi Indonesia Tanpa Pacaran disingkat ITP. Tidak butuh lama untuk ITP populer, cukup mendompleng budaya jomblo-shaming dan mereka sudah menjadi buah bibir. Beda dengan pendahulunya, ITP lebih komersil dan membuat banyak pelatihan bagi muda-mudi.

Pada akhir Maret 2019, muncul kembali  gerakan dengan embel-embel "Indonesia Tanpa- ….” dengan isu yang lebih mutakhir dan menyesuaikan dengan tren populer- yakni Indonesia Tanpa Feminis dan cuma butuh waktu beberapa hari sampai mereka diangkat oleh media utama.

Perempuan Palestina Menyulam bagi Emansipasi

Sejarah perempuan selama 3.000 tahun tersirat pada baju

"Tatreez" adalah kata bahasa Arab bagi gaya unik sulaman tusuk silang asal Palestina. Yang khas adalah warna warni dan texturnya. Seni ini berasal dari Timur Tengah sekitar 3.000 tahun lalu. Sebagai fotografer, Fatima Abbadi jelaskan, sulaman ini sejak dulu eksklusif bagi perempuan. Seni diwariskan dari ibu ke putrinya. Seperti halnya resep makanan, seni ini tambah kaya dari generasi ke generasi.

Perempuan Palestina Menyulam bagi Emansipasi

Kode tersembunyi pada sulaman

Tapi bagi perempuan Palestina, Tatreez bukan sekedar dekorasi dari masa lalu. Di dalamnya tercantum ratusan simbol. Misalnya status sosial pemakainya, juga kesehatan, status pernikahan, bahkan suasana hati pemakainya. Motif berwarna biru, contohnya, menunjukkan pemakainya seorang janda, sementara merah menunjukkan masa berdukanya sudah berakhir.

Perempuan Palestina Menyulam bagi Emansipasi

Sulaman bisa jadi sumber penghasilan keluarga

Setiap daerah punya pola berbeda, dan tidak ada museum yang simpan kekayaan ini. Di masa lalu, banyak keluarga menyimpan pakaian berharga ini, dan menjual sedikit demi sedikit di masa krisis. Dari penjualan lengan baju, perawatan di rumah sakit bisa dibayar. Dari sebuah baju bisa diperoleh uang untuk pendidikan anak. "Itu sedikit kenangan yang hidup kembali dari setiap potong busana," kata Abbadi.

Perempuan Palestina Menyulam bagi Emansipasi

Dari kamp pengungsi, menyebar ke dunia

Akibat pengungsian warga Palestina selama abad ke-20, Tatreez jadi punya dimensi politik. Ini kerap jadi sumber penghasilan bagi perempuan yang tinggal di kamp pengungsi. Program-program seperti "Darzah" atau "Tatreez," yang didukung Uni Eropa, bantu mereka dirikan studio dan ekspor hasilnya ke Barat. Mereka juga belajar untuk dirikan bisnis. Ini kepandaian penting untuk capai emansipasi.

Perempuan Palestina Menyulam bagi Emansipasi

Bagaimana menjadikan tradisi bagian fesyen

Agar sukses di pasar internasional, Tatreez harus "trendy" dan bersifat kontemporer. Oleh sebab itu desainer fesyen muda menambah warna-warna baru, bahkan menambah sulaman pada busana Eropa. Berkat merek seperti All Things Mochi atau SEP Jordan, yang beroperasi dari kamp pengungsi Gaza, Tatreez kini dibeli retailer papan atas, bahkan muncul di Vogue.

Perempuan Palestina Menyulam bagi Emansipasi

Hampir punah

Inisiative seperti ini menolong perempuan Palestina untuk menyokong keluarga mereka, dan memperbaiki kualitas hidup di kamp konsentrasi, di samping menjamin bahwa seni ini tidak punah akibat situasi ekonomi, sosial dan politis yang berat. Biar bagaimanapun, Tatreez adalah simbol identitas nasional. "Sulaman ini selalu bisa dilihat di hari raya, pernikahan dan festival-festival," demikian Abbadi.

Perempuan Palestina Menyulam bagi Emansipasi

Kisah seni yang terancam punah

Namun mengembangkan tradisi di tengah diaspora sulit. "Proyek saya adalah dokumentasi bagaimana situasinya saat ini, agar bisa diwariskan bagi generasi mendatang," kata Abbadi. Dan ia tidak sendirian. Buku "Tatreez & Tea" dari tahun 2016 juga berfokus pada warisannya. Tatreez juga dipamerkan di galeri-galeri di AS, berkat karya seniman kontemporer seperti Jordan Nassar. Penulis: Jan Tomes (ml/ap )

Di Balik Gerakan Tanpa ini dan itu

Jika menggunakan dialektika ala Hegel Tesis + Antitesis = Sintesis. Gerakan Tanpa ini-itu bahkan tidak pantas jika disebut antitesis.

Mereka hanya mendompleng kepopuleran gerakan massa sebelumnya dan menggunakan kosa kata mereka. Sekedar kosa kata dan bukan definisi atau terminologi. Untuk itu kata-kata yang mereka gunakan tidak punya pijakan dan produknya jualannya adalah kelas motivasi.

Gerakan Tanpa ini dan itu terkesan gerakan sosial dan menggunakan nilai dan moral konservatif sebagai argumen utamanya tapi itu justru kekuatan mereka.

Di balik brand nama yang berubah-ubah, mereka punya nilai konservatif sama dan sesungguhnya mereka adalah gerakan politik. Bukan sosial.

Tujuan mereka adalah mendapat sebanyak mungkin pendukung dan mengubah Indonesia sesuai dengan ideologi mereka yang konsevatif. Moral selalu mereka kedepankan untuk berargumen karena hanya itu yang mereka punya. Mereka bahkan bukan Islam dan tidak berdakwah. Mereka hanya menggunakan Islam sebagai justifikasi dan simbol kelompok. Tidak lebih.

Gerakan Indonesia Tanpa JIL, Indonesia Tanpa Pacaran dan Indonesia Tanpa Feminis punya rumusan yang sama: mereka melakukan anti tesis dengan menggunakan kosa kata dari gerakan yang populer terlebih dahulu.

Begitu pula dengan nama yang digunakan, Indonesia + Tanpa + Gerakan yang sedang Hype. Terlalu naif jika bilang bahwa orang yang berada di balik brand ini adalah orang yang sama. Tokoh-tokohnya mungkin berbeda tapi mereka punya garis nafas ideologi yang sama yakni konservatif. Gerakan ITJ misalnya digawangi oleh kelompok FPI yang bersinggungan dengan HTI.

Gerakan ITP diinsiasi oleh La Ode Munafar dalam laman Facebooknya sendiri terang-terangan mengaji HTI sejak kelas 2 SMA. Menolak Feminisme sudah gencar sudah di lakukan oleh sayap muslimah HTI. Tercatat sejak tahun 2015 mereka melakukan demonstrasi anti-Feminis namun Gerakan Indonesia Tanpa Feminis baru meledak pada akhir 2019 ini.

Perempuan Saudi Ini Belajar Mengemudi Harley Davidson

Belajar Hingga ke Jiran

Perempuan Arab Saudi tidak menunggu hingga dekret kerajaan yang membolehkan perempuan mengemudi mobil berlaku. Sebagian mulai berlatih di negeri jiran agar bisa secepatnya menikmati kebebasan baru tersebut. Salah seorangnya adalah Maryam Ahmed yang mencintai sepeda motor.

Perempuan Saudi Ini Belajar Mengemudi Harley Davidson

Perempuan Pertama di Roda Dua

Maryam yang juga menggemari olahraga menyelam dan karate ingin menjadi perempuan pertama yang mengendarai sepeda motor di Arab Saudi. Tidak tanggung-tanggung, dia memilih jenis sepeda motor berbobot paling berat, yakni Harley Davidson. "Sejujurnya saya agak ragu tentang apa yang akan dikatakan orang tentang olahraga ini, karena biasanya cuma diperbolehkan buat laki-laki," ujarnya.

Perempuan Saudi Ini Belajar Mengemudi Harley Davidson

Dukungan Keluarga

Dia lalu menyebrang ke Bahrain untuk mengambil kursus berkendara. "Setelah mengendarai motor, saya mendapat banyak komentar positif dari orang-orang di sekitar saya, terutama teman-teman. Keluarga saya malah mendorong saya melakukan apapun yang saya gemari," imbuhnya lagi.

Perempuan Saudi Ini Belajar Mengemudi Harley Davidson

Kebebasan Menjadi Celah Bisnis

Euforia berkendara saat ini sedang melanda perempuan Arab Saudi. Sejumlah universitas perempuan juga sudah menawarkan kursus mengemudi. Perusahaan dan produsen kendaraan melirik celah bisnis dan mulai aktif menebar iklan untuk menyambut kehadiran konsumen baru, seperti Maryam Ahmed.

Perempuan Saudi Ini Belajar Mengemudi Harley Davidson

Perempuan di Kehidupan Publik

Reformasi yang digulirkan kerajaan Arab Saudi antara lain mendorong perempuan untuk lebih terlibat di arena olahraga. Tidak hanya kendaraan bermotor, perempuan mulai diizinkan mengunjungi stadion olahraga atau bahkan membuka sasana tinju sendiri. Khusus untuk perempuan yang ingin belajar berkendara, sekolah mengemudi pertama juga sudah dibuka di kota Riyadh.

Perempuan Saudi Ini Belajar Mengemudi Harley Davidson

Modernisasi Demi Masa Depan

Dekrit kerajaan yang mengizinkan perempuan berkendara baru akan berlaku bulan Juni mendatang. Keputusan itu mengakhiri praktik diskriminasi gender yang meluas. Reformasi di Arab Saudi melekat pada sosok Pangeran Mohammed bin Salman yang didapuk sebagai putera mahkota. Ia ingin memodernisasi negerinya untuk mempersiapkan Arab Saudi setelah era kejayaan minyak bumi berakhir. (rzn/hp: rtr, gulfnews)

Saya tidak mau berasumsi apakah mereka mereka punya hubungan, dibutuhkan penelitian lebih lanjut untuk itu. Tapi saya mencurigai hal tersebut melalui pola yang sama pada organisasi sebelumnya dan simbol-simbol yang mereka gunakan.

Kita tidak boleh melihat gerakan Indonesia Tanpa-tanpaan sebagai sesuatu yang putus satu sama lain. Gerakan penolakan feminisme sudah dilakukan melalui mimbar akademik ataupun gerakan akar rumput, secara akademik mereka memiliki thinktank dan melalui thinktank ini wacana mereka menolak ideologi yang sedang pop dibentuk. Adalah INSIST (Institute for the Study of Islamic Thought and Civilizations) yang bermarkas di Kalibata, Jakarta Selatan. INSIST rajin mencetak buku tentang bahaya Jaringan Islam Liberal dan sayap perempuannya membentuk organisasi AILA (Aliansi Cinta Keluarga) yang gencar menolak RUU PKS hingga membuat Judisial Review ke MK supaya LGBT dipenjara.

Mereka murni gerakan politik yang ingin mengubah sesuatu sesuai dengan ideologi mereka. Mereka ingin pengikut sebanyak-banyaknya. Oleh karena itu tanpa harus bersusah-susah berpikir dari dasar, lebih baik ambil yang sedang populer kemudian bikin versi negatifnya. Islam hanya digunakan sebagai kamuflase untuk justifikasi gerakan ini, karena jika memang penganutnya benar-benar beragama mengamalkan agama Islam, mereka tidak akan menolak pencerahan dan kesetaraan dalam kemanusiaan.

Bagaimana Menyikapi Gerakan Seperti Ini?

Kini ketika Feminisme menjadi kosakata yang trendi pasca merebaknya perlawanan terhadap pelecehan, kelompok politik konservatif ini menggunakannya. Mereka tidak perlu capek-capek mempelajari teologi Mutazillah dan membuat argumen, tidak perlu juga membuat materi humor apalagi susah payah belajar tentang feminisme. Hal yang diperlukan oleh mereka adalah mengambil elmen-elmen budaya populer dan menjadi kontra dari hal tersebut. Seperti petisi anti-Blackpink atau mengharamkan PUBG.

Gerakan Indonesia Tanpa-tanpaan hanyalah strategi marketing politik yang memanfaatkan tren ideologi atau budaya yang sedang populer untuk menjadi sarana mereka panjat sosial khususnya melalui media. Dengan pemberitaan dan terus-terusan kita membahas mereka, kita sama saja memberikan jalan bagi agenda politik mereka untuk berkembang.

Lantas apa yang dilakukan untuk menyikapi kelompok politik konservatif semacam ini? Pertama kita harus melihat ke dalam diri kita. Siapakah yang mempopulerkan mereka? Itu adalah diri kita sendiri. Kita masih berpikir dalam kerangka persaingan bahwa gerakan kita lebih baik dari mereka. Lalu kita beramai-ramai melakukan hinaan kepada mereka. Popularitas mereka berada pada jari jemari kita. Kita yang memberikan peluang bagi orang-orang yang sedang ingin mencari tahu terarah pada wacana Indonesia Tanpa Ini dan Itu. Foucault menyatakan di mana ada kekuasaan, di situ ada perlawanan. Perjuangan kelompok feminis menghasilkan banyak kemajuan bagi kelompok perempuan di Indonesia mulai dari UU Anti KDRT hingga afirmasi dalam pencalonan legislatif. Jangan biarkan wacana feminisme yang kita bangun hari ini menjadi teralih. Jangan sampai kita akan sibuk "membela” bahwa feminisme tidak begitu dan begini dibandingkan membangun pemikiran dan cara bagaimana feminisme memanusiakan perempuan.

Penulis @Nadyazura adalah essais dan pengamat masalah sosial.

*Setiap tulisan yang dimuat dalam #DWNesia menjadi tanggung jawab penulis

*Bagaimana  komentar Anda atas opini di atas? Silakan tulis dalam kolom komentar di bawah ini.

Saat Perempuan Iran Masih Boleh Mengamen

Artis dari Shiraz

Seni musik dan tari berkembang pesat di Iran pada masa kekuasaan dinasti Naser al-Din Shah Qajar (1848- 1896). Perempuan juga memainkan peran mereka dalam bidang tersebut. Perempuan asal kota Shiraz ini tak hanya piawai memainkan alat dawai petik tradisional Iran yang disebut “tar“ atau sejenis sitar, namun juga pandai menari.

Saat Perempuan Iran Masih Boleh Mengamen

Memetik 'tar'

Alat musik Iran yang disebut “tar“ ini bentuknya seperti biola dengan tangkai panjang. Alat musik ini menggunakan dawai simpatetik dan dawai biasa, serta memiliki ruang resonansi yang bisa menghasilkan suara unik. “Tar“ atau sitar merupakan alat musik yang sering digunakan dalam seni musik klasik Hindustan sejak abad pertengahan. Instrumen ini juga mengalami banyak perubahan.

Saat Perempuan Iran Masih Boleh Mengamen

Perempuan ini Khusus Menari untuk Pangeran

Selain alat musik, seni tari juga berkembang di era Qajar. Negar Khanoom adalah salah satu perempuan pada era Qajar yang khusus mempersembahkan pertunjukannya di hadapan pangeran Mohammad Hassan Mirza.

Saat Perempuan Iran Masih Boleh Mengamen

Penari top dari Era Qajar

Penari yang satu ini sangat terkenal di era Qajar. namanya Fathi Zangi. Sejak Revolusi Iran tahun 1979, banyak kelas-kelas di akademi musik ditutup, terutama bagi perempuan

Saat Perempuan Iran Masih Boleh Mengamen

Berpindah tempat

Para perempuan kelompok penari jalanan ini, sebagaimana kelompok pemusik dan penari lainnya, juga mengadakan pertunjukan dengan berpindah tempat. Mereka berasal dari distrik Salmas.

Saat Perempuan Iran Masih Boleh Mengamen

Memainkan bermacam instrumen musik

Sementara para perempuan yang tergabung dalam kelompok seni ini memainkan berbagai jenis instrumen musik sambil menari.

Saat Perempuan Iran Masih Boleh Mengamen

Laki-laki dan perempuan

Kalau kelompok yang satu ini terdiri dari jenis kelamin perempuan dan laki-laki. Di masa lalu, mereka saling berbaur dalam mengembangkan seni musik dan tari bersama-sama.

Saat Perempuan Iran Masih Boleh Mengamen

Tar jadi favorit

“Tar“ boleh dibilang merupakan jenis instrumen musik paling digemari pada era Qajar. Tak cuma laki-laki, perempuan juga berkesempatan untuk memainkannya.

Saat Perempuan Iran Masih Boleh Mengamen

Memainkan tabuh

Selain alat musik petik, perempuan-perempuan Persia juga bisa memainkan alat musik perkusi.

Saat Perempuan Iran Masih Boleh Mengamen

Kelompok seni menjamur

Jumlah kelompok-kelompok seni yang tumbuh di era Qajar pun sangat banyak.

Saat Perempuan Iran Masih Boleh Mengamen

Perbedaan zaman

Semua pemainnya perempuan. Pada era tersebut, perempuan boleh bermain musik dan menari dengan bebas di muka publik. Hal ini jarang ditemui pada masa sekarang. Di masa sekarang ini, jika perempuan bermain musik atau menari jalanan, maka polisi akan datang dan menyuruh pergi.

Saat Perempuan Iran Masih Boleh Mengamen

Kebebasan dan larangan

Jika dulu perempuan Iran mempunyai kebebasan mutlak untuk berkesenian di muka publik, pada masa sekarang ini biasanya mereka hanya boleh bermain musik di konser atau tempat tertutup, itupun terbatas.. Pertunjukan solo perempuan juga dilarang.

Saat Perempuan Iran Masih Boleh Mengamen

Barat dan tradisional

Ada yang mengenakan pakaian tradisional, ada pula yang mengenakan pakaian barat. Yang jelas mereka menikmati kebebasan mereka dalam berkesenian.

Saat Perempuan Iran Masih Boleh Mengamen

Kini langka

Tak hanya di jalan-jalan, pada masa sekarang ini jarang perempuan tampil di televisi. Pemain musik pun harus mengikuti kaidah Islam yang berlaku jika tampil di layar kaca. Menurut hukum pidana Iran 1983, seorang yang mengenakan hijab yang buruk dihukum dengan 74 kali dera. Hukuman ini lalu diturunkan pada 1996 dengan penjara atau membayar denda dengan jumlah tertentu.

Saat Perempuan Iran Masih Boleh Mengamen

Mereka pun berpindah-pindah

Mereka adalah kelompok musik dari etnis Kurdi. Mereka tergolong piawai dalam berkesenian. Dengan busana unik perpaduan tradisional dan barat, warga Kurdi ini mempertunjukan bakat seni mereka dari satu tempat ke tempat lainnya.


Ikuti kami