1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Paranoia Bayang-Bayang Rezim Orde Baru

5 April 2017

Muramnya Monumen Trisula Blitar bisa dijadikan tanda bahwa elemen pendukung Orde Baru mulai melemah. Dengan kata lain, tidak cukup ruang bagi  kembalinya bayang-bayang Soeharto. Berikut opini Aris Santoso.

https://p.dw.com/p/2ai1z
Indonesien General Suharto Beerdigung Generäle

Dalam sebuah kerja lapangan di Blitar (Jatim) baru-baru ini, saya sempat melintas di depan Monumen Trisula, monumen untuk mengenang operasi pembersihan sisa-sisa gerakan PKI, di kawasan Blitar bagian selatan, pada seputar tahun 1968-1969. Operasi ini diberi nama sandi Operasi Trisula.

Sebagaimana umumnya sebuah monumen, yang  didirikan untuk menandai sebuah era, demikian juga dengan Monumen Trisula, yang bisa dibaca sebagai tanda dimulainya era Orde Baru. Fungsinya kira-kira mirip dengan Monumen Lubang Buaya di Jakarta (Timur).

Kini monumen itu sudah terlihat kusam, dan sudah jarang pula dikunjungi orang. Beberapa pelajar sekolah menengah di Kota Blitar yang saya temui, umumnya sudah tidak tahu-menahu soal keberadaan monumen itu. Lokasi monumen memang agak jauh di luar kota, sekitar 25 km dari pusat kota, jadi masuk wilayah Kabupaten Blitar.

Penulis: Aris Santoso
Penulis: Aris Santoso Foto: privat

Kusamnya kondisi monumen, serta tidak tahu-menahunya sejumlah pelajar di Kota Blitar, bisa jadi merupakan sinyal bahwa Orde Baru pada dasarnya sudah menjadi masa silam. Bila pada hari-hari ini publik politik Jakarta, tiba-tiba mengangkat wacana soal kerinduan terhadap figur Soeharto, ibarat mimpi di siang bolong, yang sulit untuk dinalar.

Brigif 18 dan Akmil 1965

Sebagai salah satu ikon Orde Baru, bisa jadi monumen itu sudah menjadi silam. Namun Operasi Trisula masih meninggalkan jejak lain, yang dampaknya masih terasa sampai jauh di kemudian hari bahkan saat ini, masing-masing adalah Brigade Infanteri Lintas Udara 18/Trisula Kostrad (Brigif 18 Trisula) dan lulusan Akademi Militer 1965.

Brigif 18 Trisula (markas di Malang) adalah satuan yang sengaja disiapkan untuk mengatasi gerakan sisa-sisa PKI di Blitar Selatan. Sejak dibentuk tahun 1966, secara tradisional, satuan itu selalu diperbandingkan dengan satuan lain yang setara, yakni Brigif Linud 17/Kujang I Kostrad (Cijantung, Jaktim).

Kompetisi antara dua satuan elit ini masih berlangsung hingga sekarang. Pimpinan TNI AD umumnya pernah bertugas pada dua satuan tersebut. Kabar terakhir menyebutkan, bahwa kualifikasi dua brigade tersebut sudah ditingkatkan, termasuk bataliyon di bawahnya. Dari lintas udara menjadi para ‘raider', dengan demikian sebutan untuk satuan juga disesuaikan.

Tokoh utama dalam Operasi Trisula adalah Kolonel Witarmin, selaku Komandan Brigif 18 Trisula, perwira asal Kodam V/Brawijaya. Setelah operasi berakhir, Witarmin memperoleh reward yang luar biasa tinggi, masing-masing sebagai Komandan RPKAD (kini Danjen Kopassus, 1970-1975) dan Pangdam VIII/Brawijaya (kini Kodam V/Brawijaya).

Pengangkatan Witarmin sebagai Komandan RPKAD saat itu, sebetulnya agak aneh, bagaimana mungkin seorang perwira yang praktis tidak pernah bertugas di lingkungan Baret Merah, bisa memimpin satuan tersebut. Tampaknya Soeharto turun tangan langsung, mengingat Operasi Trisula adalah bagian dari proyek politik Soeharto di awal kekuasaannya.

Berikutnya adalah tentang lulusan Akmil 1965. Generasi ini sudah sangat identik dengan Orde Baru, sejak dilantik sebagai perwira muda hingga purnawirawan, semuanya terjadi di masa Orde Baru. Angkatan ini juga sangat khas, baik dari segi jumlah lulusan dan munculnya beberapa figur yang menonjol. Untuk korps infanteri saja jumlah lulusannya sekitar 225 perwira, artinya lebih besar dari rata-rata lulusan Akmil (secara keseluruhan) di era sekarang, yang berkisar 200 perwira per tahunnya.

Di masa puncak karir lulusan Akmil 1965 pada sekitar tahun 1993-1995, mereka pernah menjadi panglima pada tujuh Kodam secara bersamaan, kecuali Pangdam Jaya yang diisi oleh Mayjen Hendro Priyono (Akmil 1967). Beberapa figur yang menonjol dari angkatan ini antara lain: Yunus Yosfiah, Syamsir Siregar, Tarub, Soejono, Theo Sjafei, dan seterusnya.

Di antara figur tersebut, dari perjalanan waktu kita bisa mengetahui, bahwa mereka memiliki orientasi politik yang berbeda-beda. Letjen TNI (Purn) Soejono misalnya, sampai sekarang masih dikenal sebagai die hard pendukung Soeharto, berhubung saat masih berpangkat kolonel pernah menjadi ADC (ajudan) Soeharto. Namun ada juga figur kuat lain seperti Mayjen TNI (Purn) Theo Sjafei (almarhum) yang bisa menjadi penyeimbang, karena dianggap lebih dekat dengan figur Benny Moerdani.

Terkait dengan Operasi Trisula di Blitar Selatan, operasi ini menjadi tonggak penting bagi lulusan Akmil 1965. Mengingat pada operasi inilah, seorang perwira lulusan Akmil 1965 untuk pertama kalinya gugur, atas nama Letda. Inf. Kartomo, seorang perwira muda di bawah Brigif 18. Letnan Kartomo tewas dengan cara tragis, dia terhanyut derasnya arus sungai.

Elemen Pendukung Melemah

Muramnya Monumen Trisula dan berakhirnya era Akmil 1965, bisa dijadikan tanda bahwa sebenarnya elemen pendukung Orde Baru sudah mulai melemah. Dengan kata lain, tidak cukup ruang bagi  kembalinya bayang-bayang Soeharto.

Demikian juga dengan Brigif 18/Trisula. Kini sebagian besar perwira yang masuk unsur pimpinan Brigif 18, adalah lulusan Akmil pasca 1998, artinya sudah berjarak dengan figur Soeharto. Pengetahuan mereka terhadap Operasi Trisula hanya berdasarkan teks, karena para perwira senior pelaku langsung Operasi Trisula sebagian besar sudah meninggal. Mayjen TNI Witarmin misalnya, sudah meninggal pada awal tahun 1980-an, saat menjabat Pangdam VIII/Brawijaya.

Secara kebetulan di Kota Blitar juga ada "monumen” lain, yang senantiasa masuk dalam memori bangsa, yaitu pusara Bung Karno. Meski berada di kota yang sama, namun makam Bung Karno bisa dianggap antitesis dari Monumen Trisula.

Di masa Orde Baru, warga sedikit was-was dan sembunyi-sembunyi bila akan berkunjung ke makam Bung Karno. Kini zaman telah berganti, bahkan Presiden Jokowi (sebagai kader PDI-P) sudah beberapa kali ziarah ke makam tersebut.

 

Penulis:

Aris Santoso, sejak lama dikenal sebagai pengamat militer, khususnya TNI AD. Kini bekerja sebagai editor buku paruh waktu.

*Setiap tulisan yang dimuat dalam #DWnesia menjadi tanggung jawab penulis