1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
Sosial

PBB: 350 Ribu Orang Terancam Kelaparan di Tigray

11 Juni 2021

Pakar PBB mengatakan sekitar 350.000 orang di Tigray terancam kelaparan, sementara jutaan orang lainnya berada dalam bahaya. Sejumlah pihak menyalahkan konflik berkepanjangan yang terjadi di Ethiopia tersebut.

https://p.dw.com/p/3ujp6
Warga dapat bantuan logistik
Bantuan kemanusiaan telah tiba di beberapa daerah, tetapi masih ada sejumlah wilayah yang tidak dapat diakses karena diblokir oleh kelompok bersenjataFoto: Ben Curtis/AP Photo/picture alliance

Laporan PBB pada Kamis (10/06) mengungkapkan sebagian besar dari 5,5 juta orang di provinsi Tigray, Ethiopia membutuhkan bantuan makanan. Badan-badan PBB mengatakan krisis pangan di Tigray merupakan peristiwa terburuk sejak kelaparan melanda Somalia tahun 2010-2012, yang menewaskan lebih dari seperempat juta warga.

Peringatan untuk dunia

Pada pertemuan virtual G7, Kepala Kemanusiaan PBB Mark Lowcock mengatakan ratusan ribu orang di Tigray mengalami kelaparan. Lowcock memperingatkan bahwa "kondisi ini akan menjadi jauh lebih buruk," seraya mengatakan "yang terburuk masih dapat dihindari" apabila ada tindakan yang diambil segera.

Organisasi Pangan dan Pertanian PBB, Program Pangan Dunia PBB, dan UNICEF pada Kamis (10/06) memperingatkan bahwa dua juta orang lainnya di Tigray "terancam tewas jika kelaparan terus terjadi."

Lowcock menyesalkan fakta bahwa beberapa badan kunci PBB yang berusaha membantu, justru "pada dasarnya tidak punya uang." "Kami benar-benar membutuhkan semua orang untuk membantu," katanya.

David Beasley, Kepala Program Pangan Dunia PBB, mengatakan banyak orang, terutama di daerah pedesaan, tidak dapat menerima bantuan karena kelompok bersenjata memblokir akses jalan.

Badan-badan tersebut menyatakan kesiapannya untuk memberikan bantuan, tetapi pertama-tama mereka membutuhkan akses ke wilayah yang hancur akibat konflik.

Apa yang ditemukan oleh analisis?

Analisis Klasifikasi Fase Ketahanan Pangan Terpadu (IPC), yang diterbitkan pada Kamis (10/06), mengatakan 350.000 orang hidup dalam fase "bencana" indeks yang paling akut. Sekitar 3,1 juta orang yang kekurangan pangan telah mencapai tingkat "krisis" dengan sekitar 2,1 juta orang hidup dalam kondisi "darurat".

"Krisis parah ini diakibatkan oleh efek konflik yang berjenjang, termasuk perpindahan penduduk, pembatasan pergerakan, akses kemanusiaan yang terbatas, hilangnya panen dan aset mata pencaharian, dan pasar yang tidak berfungsi atau tidak ada sama sekali,” kata laporan itu.

"Jika konflik semakin meningkat atau karena alasan lain dan bantuan kemanusiaan terhambat, sebagian besar wilayah Tigray akan berisiko kelaparan."

Namun, Menteri Luar Negeri Ethiopia Demeke Mekonnen menolak laporan PBB itu sebagai disinformasi.

ha/vlz (AFP, AP, dpa, Reuters)