1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

PBB Ingatkan Bencana Lingkungan Akibat Limbah Elektronik

21 Maret 2024

Jumlah limbah elektronik yang dihasilkan di dunia tidak sebanding dengan proses daur ulang terhadapnya, kata laporan PBB. Hanya 22% limbah elektronik saja yang didaur ulang dengan benar pada tahun 2022.

https://p.dw.com/p/4dxPF
Foto simbolis limbah elektronik
Dua badan PBB memperingatkan adanya 'bencana' akibat limbah elektronikFoto: Daniel Schäfer/dpa/picture alliance

PBB memperingatkan pada hari Rabu (20/03) bahwa limbah dari perangkat elektronik menciptakan bencana lingkungan yang begitu besar.

Sebuah laporan bersama dari Persatuan Telekomunikasi Internasional (ITU) PBB dan lembaga penelitian UNITAR mengungkapkan bahwa proses daur ulang terhadap limbah elektronik sangat tidak sebanding dengan jumlah limbah elektronik yang dihasilkan, termasuk ponsel atau telepon genggam, komputer, televisi, dan perangkat lainnya yang sudah tidak terpakai dan dibuang.

Limbah elektronik yang tak dikelola itu berbahaya

Laporan PBB tersebut mengungkapkan sekitar 62 juta ton limbah elektronik dihasilkan pada tahun 2022. Jumlah itu diprediksi bisa mencapai 82 juta ton pada tahun 2030 mendatang, kata laporan itu.

PBB juga mengatakan bahwa limbah elektronik yang tidak dikelola bisa menyebabkan 45.000 ton plastik berbahaya dan 58 ton merkuri masuk ke lingkungan setiap tahunnya.

Menurut laporan itu, hanya 22% dari jumlah limbah elektronik yang dikumpulkan, yang berhasil didaur ulang dengan benar pada tahun 2022. Sebagian besar limbah elektronik biasanya dibakar, dibuang ke tempat akhir pembuangan sampah, atau didaur ulang dengan kurang tepat.

Ayo berlangganan gratis newsletter mingguan Wednesday Bite. Recharge pengetahuanmu di tengah minggu, biar topik obrolan makin seru!

Rata-ratanya, setiap orang di Bumi menyumbang sekitar 7,8 kilogram limbah elektronik setiap tahunnya.

Tingkat daur ulang limbah elektronik tertinggi berada di negara-negara maju, sementara negara Afrika menjadi yang terendah.

Meski demikian, sebagian besar limbah elektronik di dunia justru dikirim ke negara-negara berkembang dari negara-negara kaya dan maju.

Sebanyak 18 juta ton limbah elektronik diolah dan diproses di negara-negara berkembang, di mana para pekerjanya sering kali tidak memiliki akses ke peralatan yang layak dan justru menyebabkan mereka terpapar oleh zat berbahaya.

Laporan ini juga memperkirakan adanya tantangan besar yang muncul dari perpindahan menuju sumber energi yang lebih bersih, akibat munculnya kebutuhan untuk membuang baterai, pompa panas, dan panel surya.

Sulit bagi konsumen untuk bertindak

"Ini adalah bencana besar bagi lingkungan," kata Kees Balde, penulis utama Laporan Pemantauan Limbah Elektronik Global terbaru itu, kepada kantor berita AFP.

Balde mengatakan bahwa sulit bagi konsumen untuk melakukan banyak hal demi membendung arus akumulasi limbah elektronik, jika pemerintah dan pebisnis tidak membuat perangkat-perangkat yang lebih mudah untuk didaur ulang.

"Sangat mudah untuk membeli sesuatu. Hanya dengan beberapa klik saja... Jauh lebih sulit untuk membuangnya," kata Balde.

Dia menambahkan bahwa limbah elektronik juga sering kali dihasilkan dari negara-negara maju dan dikirim ke negara-negara berkembang "dengan menyamar sebagai barang bekas."

kp/gtp (AFP, AP, dpa)

Foto simbolis limbah elektronik
Laporan PBB mengatakan bahwa negara-negara berkembang secara khusus menjadi yang paling terdampak limbah elektronik. Banyak pembuangan yang tidak tepat terjadi yang di sana sehingga memicu bahaya kesehatan.Foto: Thomas Imo/dpa/picture alliance