Pemutaran dan Temu Fans "Aruna & Lidahnya" di Berlinale 2019

Sehari setelah pemutaran perdana di gedung Gropius Bau Berlin yang terkenal untuk karya seni kontemporer, film “Aruna & Lidahnya” diputar untuk kedua kalinya di ajang Berlinale 2019.

Lambang Berlinale langsung terlihat ketika mendekati Bioskop Cubix di Alexanderplatz, Berlin. Sepanjang festival bioskop ini memutar sejumlah film Berlinale dari berbagai kategori. Siang ini giliran pemutarann "Aruna & Lidahnya” dalam kategori Culinary Cinema. Sutradara Edwin, kedua produser Muhammad Zaidy dan Meiske Taurisia, serta para pemain utama Dian Sastrowardoyo, Nicholas Saputra dan Hannah Al Rashid, hadir di lokasi pemutaran dan terlihat santai.

Saskia dan Gina, dua mahasiswa yang sedang kuliah di Berlin, kelihatan bersemangat menonton film yang dibintangi Dian Sastro dan Nicholas Saputra ini karena sudah mendengar review yang bagus dari teman-temannya di Indonesia. "Film tentang kuliner Indonesia kan jarang, jadi penasaran. Selain itu ceritanya juga berbobot,” ujar mereka. Setelah pemutaran kedua teman ini sudah berencana akan makan makanan Indonesia

Ketika berbincang-bincang sebelum film dimulai, produser Muhammad Zaidy berkata, bahwa dirinya sangat menghargai hasil yang dicapai "Aruna & Lidahnya” sampai saat ini. "Memang tidak terlalu banyak film Indonesia yang mengangkat tema tentang persahabatan sekaligus juga  kuliner Indonesia. Menurut saya, ini memberi warna yang baru juga di perfilman Indonesia dan alhamdulillah film ini bukan hanya diterima di Indonesia tapi film ini bisa menjadi bagian dari Culinary Cinema di Berlin,” tuturnya.

Lokasi pemutaran kedua "Aruna & Lidahnya" di bioskop Cubix, Berlin

Muhammad Zaidy juga mengaku masih kagum dengan acara special dinner malam sebelumnya. "Pengalaman tadi malam itu juga sesuatu yang sangat baru bagi saya. Sehabis nonton bareng, kita bukan hanya berdiskusi dengan cinephile tapi juga dengan food anthusiast,” ceritanya.

Tema

Menu yang merupakan interpretasi makanan Indonesia oleh chef terkenenal asal Vietnam The Duc Ngo dinilainya unik. "Itu rasa-rasa yang baru bagi kami dalam konteks masakan Indonesia. Enak, tapi ini adalah sebuah interpretasi. Jadi memang bukan sesuatu yang super otentik tentunya,” papar sang produser dari Palari Films. Cheviche dan sambal matah karya chef The Duc Ngo baginya terasa sangat enak.

Menjelang dimulainya pemutaran kedua "Aruna & Lidahnya”, yang diangkat dari roman Laksmi Pamuntjak dengan judul yang sama, studio 8 di bioskop Cubix yang bisa menampung sekitar 300 penonton sudah hampir penuh. Sutradara Edwin dipanggil untuk memperkenalkan filmnya. Dia menyatakan sangat bangga akhirnya menjadi bagian dari Culinary Festival yang dulu tidak bisa ia hadiri, ketika pertama kali datang ke Berlinale dalam program Berlinale Talents Campus tahun 2005.

"Saya senang sekali kembali ke Berlinale. Berlinale ini salah satu festival yang membuat saya banyak belajar mengenai film,” katanya kepada DW. "Ketika saya pertama ke sini, program Culinary Cinema baru dipperkenalkan. Jadi saya juga tahu 13 tahun lalu ada sebuah program yang khusus mendedikasikan kepada cinema dan kuliner. Dan pastinya senang sekali ketika tahu film saya bisa berpartisipasi di sini,” tambahnya.

Sesi tanya jawab dengan tim "Aruna & Lidahnya"

Program Culinary Cinema ingin menunjukkan hubungan antara makanan dan budaya dan politik. Tahun ini dua film fiksi dan 10 film dokumenter dari seluruh dunia diputar di ajang festival film papan atas ini. Topik-topik yang diangkat beragam, dari perjuangan para koki perempuan profesional yang bekerja restoran-restoran ternama, perubahan iklim yang mengancam pencaharian para petani di Peru, sampai keseimbangan antara pekerjaan sebagai pemilik restoran dan kehidupan pribadi.

"Taste for Balance” dipilih menjadi benang merah yang menyambungkan semua film dalam kategori Culinary Cinema. Bagi Edwin, keseimbangan juga merupakan hal yang harus ia jaga ketika membuat film. "Film ini sendiri punya banyak elemen cerita, mulai dari perjalanan Aruna sendiri dengan flu burungnya itu, lalu ada kisah pertemanan dan sentuhan romantisnya antara Aruna dan Farish, lalu Nadhezda dan Bono, dan makanannya sendiri,” jelasnya. "Itu semua perlu dibikin seimbang, satu sama lain memang harus mendukung, tidak ada yang sendirian,” tambah Edwin, yang selanjutnya akan memfilmkan adaptasi dari karya Eka Kurniawan "Rindu Harus Dibayar Tuntas”.

Seusai penayangan film, banyak penonton banyak yang mengatakan: "Sekarang kita harus cari makanan Indonesia...” Sebelum meninggalkan bioskop, penonton diajak bergabung dalam sesi tanya jawab dengan seluruh tim film yang hadir. Banyak yang ingin tahu alasan pengangkatan tema kuliner dan apakah para pemain menyukai semua makanan yang dicoba.

Seorang pengunjung asal Berlin yang sudah berulang kali berkunjung ke Indonesia juga mengaku menjadi lapar di saat menonton "Aruna & Lidahnya. "Ini artinya, gambar-gambar kulinernya diambil dengan sangat bagus,” kata Paul. "Menurut saya juga menarik, bahwa hal keseharian seperti makan dihubungkan dengan isu-isu politis, kisah cinta dan sifat orang Indonesia yang kadang tidak mengungkapkan pendapat dengan terbuka dan karena itu bisa membuat hidup lebih rumit,” lanjutnya.

Setelah berbincang-bincang bersama penonton seusai pemutaran dan meladeni permintaan tanda tangan dan foto, tim "Aruna & Lidahnya” meninggalkan lokasi. Kunjungan singkat di Berlin juga akan mereka gunakan untuk menonton film-film lain yang meramaikan festival film internasional ini.

Nonton Aruna & Lidahnya Bersama Para Bintang

Hubungan antara makanan, budaya dan politik

“Aruna & Her Palate” adalah salah satu dari dua film fiksi yang tampil dalam kategori Culinary Cinema. Kategori film kuliner menampilkan seluruhnya 10 film dari berbagai negara, kebanyakan film dokumenter. Kategori ini tidak hanya ingin menunjukkan makanan saja, melainkan juga hubungan antara makanan, budaya dan politik.

Nonton Aruna & Lidahnya Bersama Para Bintang

Tim yang hadir di Berlin

Tim yang mendampingi pemutaran “Aruna & Lidahnya” di Berlin, dari kiri ke kanan: Muhammad Zaidy (produser), Hannah Al Rashid (Nadezhda), Edwin (sutradara), Dian Sastrowardoyo (Aruna), Nicholas Saputra (Bono) dan Meiske Taurisia (produser). Oka Antara (Farish) tidak bisa hadir di Berlinale karena kesibukannya dalam film terbaru.

Nonton Aruna & Lidahnya Bersama Para Bintang

Sutradara diapit para produser

Edwin (tengah) dan kedua produser dari Palari Films, Muhammad Zaidy (kiri) dan Meiske Taurisia (kanan) merasa sangat bangga, bahwa “Aruna & Lidahnya” berhasil masuk program Culinary Cinema di Berlin tahun ini. Sebelum di Berlinale, film ini sudah ditayangkan di Macau Festival.

Nonton Aruna & Lidahnya Bersama Para Bintang

Tiga pemeran utama: Hannah, Nico, Dian

Dalam film, tiga sekawan Nadezhda, Bono dan Aruna sangat bersemangat berburu kuliner nusantara yang unik. Pada Berlinale kali ini, selain sibuk dengan penayangan film dan acara-acara di seputarnya, mereka juga ingin mencoba dua makanan khas dari Berlin: Curry Wurst dan Döner Kebap.

Nonton Aruna & Lidahnya Bersama Para Bintang

Keragaman budaya dan kuliner

Tokoh utama Aruna diperankan oleh Dian Sastrowardoyo. Menurutnya film “Aruna & Lidahnya” pada awalnya saja terlihat ringan, namun sebenarnya banyak topik-topik tabu yang dijadikan bahan perbincangan selagi makan bersama. Bagi Dian, film ini merefleksikan betapa orang Indonesia sangat berbeda-beda namun tetap bisa berteman dan menikmati bersama-sama.

Nonton Aruna & Lidahnya Bersama Para Bintang

Chef Bono

Nicholas Saputra memerankan Chef Bono. Ini bukan pertama kali Nico datang ke Berlinale. Tahun 2012, film Kebun Binatang yang dia bintangi juga diputar di Berlinale untuk berkompetisi. Ada kesan tersendiri kali ini, setelah mencicipi menu khusus yang terinspirasi makanan Indonesia dalam acara special dinner setelah pemutaran perdana “Aruna & Lidahnya”.

Nonton Aruna & Lidahnya Bersama Para Bintang

Nadezhda

Hannah Al Rashid memerankan Nadezhda. Dia mengakui tertarik pada karakter kompleks ini: Seorang perempuan mandiri di tengah masyarakat Indonesia yang penuh tabu. Setelah penayangan film, tim Aruna & Lidahnya menjawab pertanyaan penonton dalam sesi tanya jawab singkat.

Nonton Aruna & Lidahnya Bersama Para Bintang

Berbaur dengan penonton dan fans

Usai sesi tanya jawab, para pemain, sutradara dan kedua produser film Aruna & Lidahnya masih berbaur dengan para penonton. Banyak orang Indonesia yang tinggal di Berlin dan sekitarnya mendapat kesempatan untuk berbincang-bincang, berfoto dan minta tanda tangan dari para bintang dan pelaku film. (Teks & Foto: Anggatira Gollmer/hp)

(ag/hp)


Ikuti kami