Pengalaman Pertama Menginjakkan Kaki di Eropa

Saat itu waktu menunjukkan pukul 6 pagi di Frankfurt International Airport. Saya segera bergegas menuju tempat pengambilan bagasi. Petualangan pun dimulai. Oleh Rizki Akbar Putra.

Saya ingin membagikan kisah perjalanan saya ke Jerman. Menyongsong tahun baru 2019, lembaran baru kehidupan saya pun dimulai. Tepat tanggal 1 Januari saya mulai mengikuti program magang di Deutsche Welle, Bonn, Jerman. Saya terbang dari Jakarta pada tanggal 1 malam menuju Frankfurt setelah transit terlebih dahulu di Singapura sekitar 1 jam. Setelah menempuh total perjalanan  lebih kurang 15 jam, akhirnya saya mendarat di Frankfurt International Airport pada tanggal 2 Januari waktu setempat. Saat itu waktu menujukkan pukul 6 pagi.

Dari Frankfurt saya masih harus melanjutkan perjalanan menggunakan kereta cepat menuju Cologne Central Station, Köln. Tetapi sebelumnya saya harus melalui bagian imigrasi. Disini saya diperiksa sekitar 10 menit. Seluruh berkas-berkas administrasi yang saya bawa diperiksa satu per satu. Sempat terjadi tanya jawab singkat dengan petugas disitu. Saya ditanya tentang tujuan saya kemari, dimana saya akan tinggal, dan berapa lama saya akan berada di Jerman. Akhirnya saya pun diizinkan melanjutkan perjalanan menuju Köln. Saya bergegas menuju tempat pengambilan bagasi.

Über die Erfahrung in Deutschland zu leben und zu arbeiten

Rizki Akbar Putra di kereta ICE menuju Köln.

Saya sedikit khawatir karena koper saya tak kunjung muncul, sementara jam sudah menunjukkan pukul 06.40 dan kereta yang saya naiki akan berangkat pada pukul 07.05. Setelah beberapa saat menunggu, akhirnya conveyor pun beroperasi dan nampak koper biru muda milik saya dari kejauhan. Setelah koper di tangan, saya langsung berlari menuju stasiun kereta cepat peron T6. Di Jerman, bandar udara langsung berintegrasi dengan stasiun kereta sehingga memudahkan perjalanan para warganya. Setelah cukup lelah berlari, saya akhirnya tiba di peron T6. Tidak lama kemudian kereta yang hendak saya tumpangi datang.

Memakan waktu perjalanan lebih kurang 1 jam untuk sampai di Cologne Central Station, Köln. Sesampainya di Köln saya pun sudah ditunggu oleh Mr. Reisich, seorang pria paruh baya yang memang ditugaskan Deutsche Welle untuk menjemput saya dari Colgne Central Station menuju tempat tingal saya di Bonn. Ia berdiri di pintu keluar sambil memegang papan nama bertuliskan nama lengkap saya. Tanpa ragu saya pun langsung menghampiri beliau. Indikator suhu di smartphone saya menunjukkan 4 derajat celcius. Karena dingin menerpa, saya meminta Mr. Reisich agar langsung mengantar saya ke Bonn.

Tema

Tak jauh dari pintu keluar stasiun, sudah terparkir mobil Mercedes Benz hitam yang akan saya tumpangi. Selama perjalanan Mr. Reisich banyak sekali bertanya kepada saya tentang Indonesia, saya cukup senang  karena hal ini sekaligus membantu saya mengusir hawa dingin yang menyerang. Maklum perjalanan kali ini merupakan kali pertama saya menyambangi Benua Eropa. Apalagi pada bulan Januari seperti sekarang ini sedang memasuki musim dingin. Langit Köln tampak kelabu tanda akan turunnya hujan. Saya sempat takjub dengan pemandangan yang ada saat mobil yang saya naiki menyeberangi Sungai Rhein, sungai terpanjang di Eropa. Dengan background Kölner Dom yang megah, saya pun berbisik dalam hati saya harus mengunjungi tempat itu suatu saat.

Über die Erfahrung in Deutschland zu leben und zu arbeiten

Sampai di kota Bonn

Pagi itu jalanan terlihat lengang, maklum masih dalam suasana tahun baru. Aktivitas masih belum begitu banyak terlihat, orang-orang masih banyak yang mengambil cuti untuk berlibur. Singkat cerita, setelah 30 menit berkendara saya pun tiba di rumah yang akan menjadi tempat tinggal saya selama di Bonn. Lokasinya ada di distrik Friesdorf, sekitar 30 menit dari pusat Kota Bonn. Sesampainya saya segera menurunkan semua barang-barang bawaan dari mobil. Hanya sampai disini Mr. Reisich menemani saya, ia lantas kembali pulang.

Selanjutnya saya bertemu dengan pemilik rumah yakni Thomas, ia mengajak saya berkeliling untuk melihat-lihat kondisi rumah. Rencananya saya akan tinggal bersama Thomas dan keluarganya. Thomas menyewakan satu lantai rumahnya untuk saya tempati. Selesai berkeliling, saya pun segera membereskan semua barang bawaan saya agar saya bisa beristirahat sejenak.

Membeli Tiket Transportasi Umum Bulanan

Sekitar pukul 12.30 waktu setempat, smartphone saya pun berbunyi. Tampak notifikasi WhatsApp dari rekan kerja saya di Deutsche Welle, Mas Pamuncak. Ia sudah lebih dulu bekerja di DW selama 1 tahun terakhir. "Gimana lancar?" ia bertanya. "Gw lagi di kota nih bar. Lu berani ke kota sendirian gak?" tambahnya. "Lo masih lama? Berani mas, sekalian beli tiket bulanan kereta." saya membalas.

Ya, di Jerman tiket transportasi umum dijual secara bulanan. Tapi jangan khawatir, kita juga bisa membeli secara mingguan, harian, bahkan setiap satu kali perjalanan. Tetapi kalau dikalkulasi akan lebih murah jika membeli secara bulanan. Terlebih lagi tiket disini sudah terintegrasi untuk semua moda transportasi, dari kereta, bus, hingga tram.

Dari rumah saya pun harus berjalan kaki sejauh 900 meter menuju shelter kereta terdekat, namanya Plittersdorf Hochkreuz. Kejadian lucu terjadi disini, karena tiket bulanan hanya bisa dibeli di stasiun utama yakni Bonn Hauptbahnhof, mau tidak mau saya harus membeli satu tiket sekali jalan seharga 2 Euro menuju stasiun tersebut.

Über die Erfahrung in Deutschland zu leben und zu arbeiten

Tiket bulanan transportasi umum di Bonn.

Disini pembelian tiket menggunakan mesin otomatis dan harus menggunakan pecahan mata uang maksmial 20 Euro. Karena pecahan yang saya miliki masih berupa 50 Euro hasil penukaran di valuta asing, saya pun berinisiatif bertanya kepada orang-orang sekitar apakah mereka memiliki pecahan kecil untuk ditukar. Orang-orang di sekitar pun memandangi saya penuh rasa heran. Dari empat orang yang saya tanya mereka kompak tidak memiliki, alhasil saya menuju ke pom bensin yang ada di seberang shelter dan menukarnya di kasir.

Singkat cerita saya pun tiba di stasiun Bonn Hauptbahnhof. Disitu Mas Pamuncak beserta istri dan putrinya yang masih berusia 5 bulan, sudah menunggu saya. Senang rasanya bertemu mereka. Saya pun diantar ke tempat pembelian tiket transportasi bulanan di stasiun tersebut. Dengan membayar sebesar 98,50 Euro saya pun sudah bisa menikmati semua moda transportasi Kota Bonn selama satu bulan penuh.

Über die Erfahrung in Deutschland zu leben und zu arbeiten

Berbelanja bahan-bahan makanan di salah satu supermarket.

Membeli Beras dan Bahan-Bahan Soto Ayam

Selanjutnya saya diajak Mas Pamuncak mengelilingi pusat Kota Bonn. Jam tangan saya menunjukkan pukul 15.30 waktu setempat. Yang saya heran, cahaya langit di Bonn sudah terlihat mulai meredup, waktu maghrib pun kian dekat. Saya baru sadar, siang saat musim dingin di Eropa lebih pendek waktunya dibandingkan saat musim panas. Jika musim panas tiba, lamanya siang bisa mencapai 15 jam.

Yang menarik di pusat kota Bonn ada patung komponis legendaris Ludwig van Beethoven. Ya, Bonn merupakan kota kelahiran Beethoven dan warga Bonn sangat bangga akan hal ini. Saya pun tidak melewatkan kesempatan berswafoto dengan patungnya.

Tak jauh nampak sebuah supermarket dan kami sepakat untuk membeli sayur-sayuran dan bahan-bahan pelengkap untuk makan malam. Istri Mas Pamuncak berencana memasak soto ayam. Saya pun juga harus membeli beras untuk keperluan logistik selama saya di Jerman. Disini beras bisa kita jumpai di Toko Asia. Mas Pamuncak akhirnya mengantar saya ke Toko Asia terdekat milik seorang Vietnam yang membuka usaha minimarket berisi makanan-makanan dan bumbu-bumbu khas Asia. Kami naik tram nomor 61 menuju Toko Asia tersebut. Tak sampai lima menit menggunakan tram dan kami pun sampai. Disitu saya membeli bahan-bahan makanan yang sekiranya saya butuhkan di rumah.

Über die Erfahrung in Deutschland zu leben und zu arbeiten

Swafoto bersama Mas Pamuncak dan keluarga.

Untuk orang Indonesia yang tinggal di Jerman, memasak merupakan hal yang lumrah untuk mengurangi besarnya pengeluaran bulanan. Saya pun termasuk kedalam kategori pepatah lama orang Indonesia, 'kalau belum ketemu nasi belum kenyang'.

Ternyata rumah Mas Pamuncak hanya berjarak 500 meter dari Toko Asia tersebut, dan kami memutuskan berjalan kaki sampai ke rumah. Selama perjalanan Mas Pamuncak berbagi cerita tentang kehidupannya selama di Jerman satu tahun terakhir ini. Beratapkan senja yang hendak berganti malam, obrolan terasa sangat menyenangkan, apalagi sesekali diinterupsi oleh tawa putri Mas Pamuncak. Sesampainya di rumah, Mas Pamuncak dan istri mengajak saya untuk makan malam bersama. Akhirnya hari pertama saya di Jerman pun ditutup dengan makan soto ayam bersama, ditemani secangkir teh hangat. Tak lupa kami saling berbagi cerita satu sama lain. Merupakan pengalaman yang tak terlupakan bisa berkunjung ke Jerman, dan saya berharap bisa menyelesaikan program magang saya di DW dengan baik.


**DWNesiaBlog menerima kiriman blog tentang pengalaman unik Anda ketika berada di Jerman atau Eropa. Atau untuk orang Jerman, pengalaman unik di Indonesia. Kirimkan tulisan Anda lewat mail ke: dwnesiablog@dw.com. Sertakan 1 foto profil dan dua atau lebih foto untuk ilustrasi. Foto-foto yang dikirim adalah foto buatan sendiri.

Pendidikan

Ikuti organisasi kegiatan positif

Salah satu cara agar punya banyak teman dan jaringan di luar negeri adalah dengan mengikuti berbagai organisasi yang positif. Putri misalnya, pernah aktif selama satu tahun di Bonn International Model of United Nation. Di sini, Putri yang sedang mendalami Ilmu Politik di Universitas Bonn mengaku banyak belajar dan bekerja sama secara profesional dengan mahasiswa asing dan mahasiswa Jerman.

Pendidikan

Berani memulai

Beberapa orang memang sangat pemalu. Tapi Putri menyarankan untuk mengatasi sifat ini dan berani mengambil inisiatif awal. Pertemanan bisa dimulai dari hal-hal kecil seperti bertanya apakah boleh ikut di kegiatan sederhana seperti mengerjakan tugas kuliah bersama atau "boleh tidak ikut masak-masak bareng?" ujarnya mencontohkan.

Pendidikan

Tidak "terlalu diambil hati"

Dalam interaksi sehari-hari terkadang timbul kesalahpahaman akibat perbedaan budaya dan gaya berkomunikasi. Mahasiswi tingkat tiga ini menyarankan agar tidak terlalu serius memikirkan itu semua sehingga jadi beban. "Jangan terlalu diambil hati. Kadang orang tidak menyapa bukan karena sedang marah kepada kita. Bisa jadi karena capek atau sedang buru-buru."

Pendidikan

Ramah tapi hargai privasi

Sama seperti di Indonesia, salah satu hal yang bisa mengawali persahabatan adalah senyuman. Jadi saran Putri, bersikap ramah dan terbukalah kalau ingin punya banyak teman. Namun ia mengingatkan bahwa: "Yang khas di Jerman kita sangat menghargai privasi. Di sini contoh kecilnya kita tidak pernah mengunci pintu kamar. Tapi kalau ingin masuk ke kamar orang lain harus ketuk pintu dulu."

Pendidikan

Punya pendirian

Putri mengakui kalau hal yang paling berbeda dari pergaulannya di Jerman adalah mereka sering kumpul bersama di bar, minum bir atau anggur. "Tapi kita tidak harus ikut-ikutan minum alkohol kalau tidak mau. Pada dasarnya orang Jerman akan menghargai pendirian kita," kata mahasiswi asal Jakarta itu.