1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Pengunduran Diri Putra Mahkota Turki ‘Lukai’ Erdogan 

10 November 2020

Pengunduran diri menantu Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan sebagai menteri keuangan membuat berang petinggi Partai AKP. Langkah Berat Albayrak yang sudah dianggap putera mahkota dinilai mencederai reputasi presiden

https://p.dw.com/p/3l5Vu
Berat Albayrak (belakang) mendampingi Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan, saat menjamu Presiden Iran, Hassan Rouhani, dan Presiden Rusia, Vladimir Putin, di Istana Kepresiden di Ankara, April 2018.
Berat Albayrak (belakang) mendampingi Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan, saat menjamu Presiden Iran, Hassan Rouhani, dan Presiden Rusia, Vladimir Putin, di Istana Kepresiden di Ankara, April 2018.Foto: Imago Images/ITAR-TASS/Russian Presidential Press and Information Office/M. Klimentyev

Sebagai menteri keuangan, Berat Albayrak meniti dua tahun penuh ketidakpastian ekonomi, menyusul perlambatan pertumbuhan, pandemi Covid-19 dan anjloknya mata uang Lira sebanyak 45 persen. 

Namun pengunduran dirinya yang mendadak dan disampaikan dengan cara yang tak lazim Minggu (8/11) malam, yakni via Instagram, mengejutkan pemerintah, lapor kantor berita AP. Erdogan sering diklaim ingin menjadikan menantunya yang  berusia 42 tahun itu sebagai putra mahkota yang kelak menggantikannya di pucuk kepemimpinan partai.  

Albayrak mengundurkan diri hanya satu hari setelah Presiden Erdogan memecat gubernur Bank Sentral, dan mengabaikan usulan menantunya terkait siapa yang akan mengisi posisi kunci tersebut. Albayrak mengklaim unggahan di Instagram tidak dialamatkan kepada Erdogan, “tetapi buat masyarakat,” katanya. Dia mengaku keputusan itu diambil lantaran masalah kesehatan. 

Unggahan Albayrak diikuti sikap diam pemerintah yang membutuhkan hingga 24 jam untuk merespon pernyataan tersebut. Malam itu pula Erdogan sebenarnya dijadwalkan berpidato di Provinsi Kocaeli dalam Kongres AKP. Dia dikabarkan datang terlambat setelah dua jam. 

Presiden Erdogan, begitu tertulis dalam keterangan pers pemerintah, menerima pengunduran diri Albayrak. Selasa (10/11) pagi pemerintah Turki lalu mengumumkan bekas Wakil Perdana Menteri, Lutfi Elvan, akan mengisi posisi kunci di pucuk Kementerian Keuangan. 

Pengorbanan politik demi penerus tahta 

Perkembangan teranyar di Ankara itu dinilai partai oposisi, Partai Rakyat Republik (CHP), sebagai pertanda berkecamuknya “krisis negara”. Adapun televisi nasional yang diawasi pemerintah menolak memberitakan kisruh tersebut. 

Laku sang putra mahkota sebabnya mengundang sikap antipati di kalangan petinggi Partai AKP. “Mengundurkan diri dengan cara ini menciptakan kerusakan yang serius terhadap Erdogan dan partai,” kata seorang pejabat AKP yang enggan disebutkan namanya. 

Menurut sumber itu lagi, isi pernyataan Albayrak dan fakta bahwa Erdogan habis-habisan melecut karirnya, bukan tanpa ongkos politik, lapor Reuters. “Erdogan berinvestasi banyak kepada Berat. Dia bahkan mengecewakan banyak menteri dan birokrat,” tuturnya. 

Berat Albayrak memilih Instagram untuk mengumumkan pengunduran dirinya sebagai menteri keuangan Turki.
Berat Albayrak memilih Instagram untuk mengumumkan pengunduran dirinya sebagai menteri keuangan Turki.Foto: beratalbayrak/instagram

Pejabat AKP itu mengakui Erdogan secara perlahan melebarkan wewenang Albayrak hingga ke ranah keamanan nasional, yang berada di luar lingkupnya sebagai menteri keuangan. “Pada akhirnya, Erdogan akan membawanya ke pucuk kepemimpinan partai.” 

Erdogan yang berusia 66 tahun akan menghadapi pemilu kepresidenan pada Juni 2023. Sejauh ini dia tidak mengisyaratkan bakal pensiun. Namun krisis ekonomi dan lemahnya nilai tukar Lira diyakini akan terus menggerus dukungan terhadap sang presiden.  

Tiga sumber di pemerintahan Turki mengakui kepada Reuters, drama politik pada akhir pekan kemarin terjadi setelah rapat tertutup tim ekonomi di Istana Kepresidenan. Saat itu nilai tukar Lira sedang anjlok akibat keputusan Bank Sentral untuk tidak menaikkan suku bunga acuan dari 10,25% demi memangkas angka inflasi yang ngotot bertengger di kisaran 12%. 

Antara “kebenaran dan kebohongan”  

Erdogan sejak lama menentang kebijakan menaikkan suku bunga acuan untuk menghadang inflasi dan kenaikan harga kebutuhan pokok. Pada pertemuan itu, dia diberitahu cadangan devisa berkurang sebanyak USD 100 miliar karena digunakan bank sentral untuk menstabilkan nilai tukar Lira. 

“Ekonomi sedang rontok dan bahwa kondisi ini sepenuhnya disebabkan oleh kebijakan pemerintah bahkan menjadi jelas buat presiden,” kata Refet Gurkaynak, Guru Besar Ekonomi di Universitas Bilkent, Ankara. 

Enam pejabat pemerintah Turki yang ditanyai Reuters mengakui bekas menteri keuangan Naci Agbal yang ditunjuk Erdogan memimpin Bank Sentral bertentangan dengan keinginan Albayrak. “Sosok yang ditunjuk bukan figur yang bisa bekerja dengan Albayrak, bukan orang yang memiliki pandangan ekonomi yang sama,” kata salah seorang pejabat ekonomi Turki. 

Pernyataan pengunduran diri Albayrak sebaliknya tidak membiaskan adanya kisruh politik di Ankara. Namun dia mengisyaratkan ketegangan di “masa sulit seperti ini, di mana hal baik dan buruk bercampuran, di mana sangat sulit untuk membedakan antara kebenaran dan kebohongan.” 

Bagi Wolfango Piccoli, analis politik dari lembaga konsultan Teneo, mengatakan kisruh tersebut “memalukan secara politik” bagi Erdogan dan AKP. Menurutnya “Erdogan sudah menghabiskan banyak modal politik untuk membuka jalur karir bagi Berat di dalam partai,” katanya.  

“Dia memberikan menantunya itu kekuasaan dan pengaruh tak berbanding,” dan sepak terjangnya itu “mengasingkan figur-figur kunci di AKP.” 

rzn/as (rtr, ap, dpa)