Perempuan Iran Tuntut Perubahan di Negaranya

40 tahun lalu Khomeini mendirikan Republik Islam Iran. Namun kini kegembiraan yang tersisa dari masa-masa itu makin sirna. Bahkan kekuatan pro-reformasi makin senyap, kecuali suara para perempuan.

Keadaan saat ini jauh berbeda dengan 40 tahun lalu. Ketika itu, lebih 90 persen rakyat Iran menyetujui revolusi dan deklarasi Republik Islam Iran. Ayatollah Khomeini didaulat sebagai pemimpin revolusi dan pemimpin negara yang baru.

Setelah kekalahan besar dalam perang Irak (1980-1988), kubu penguasa masih dapat mengkonsolidasikan kekuatannya. Namun muncul juga gerakan reformasi yang ingin perubahan. Tapi gerakan itu tidak mampu menghasilkan perubahan berkelanjutan.

Fase pertama gerakan reformasi ditandai dengan kemenangan Mohammed Khatami dalam pemilihan presiden tahun 1997. Khatami segera mencanangkan reformasi kultural, termasuk kebebasan budaya dan hak-hak perempuan dan warga minoritas. Tetapi para Mullah konservatif segera bereaksi.

Aksi-aksi protes mahasiswa menentang penutupan sebuah surat kabar di musim panas 1999 ditindas secara brutal. Ratusan orang ditangkap dan dituduh bekerjasama dengan kekuatan asing yang ingin menggulingkan kekuasaan para Mullah. Pers kritis lalu dibungkam, para intelektual moderat ditangkap, termasuk pengacara dan aktivis hak asasi ternama Shirin Ebadi, yang tahun 2003 dianugerahi Hadiah Nobel Perdamaian.

Tema

Gerakan perempuan dan harapan perubahan sosial

Revolusi Islam yang dicanangkan Khomeini memang tetap memberi hak pilih kepada perempuan, tetapi karena negara kemudian dipimpin oleh para Mullah, perempuan otomatis dirugikan dalam arena politik. Bahkan dalam keluarga, menurut aturan Syariah semua keputusan penting diambil oleh ayah atau suami. Setelah seorang perempuan menikah, sang suami yang memutuskan apakah istrinya boleh bekerja. Suami juga yang berhak menentukan di mana keluarga akan tinggal, dan apakah istrinya boleh bepergian ke luar negeri atau bahkan hanya meninggalkan kotanya

Tahun 2009, aksi protes kembali bergulir ketika Mahmud Ahmedinejad dinyatakan memenangkan pemilihan presiden atas calon oposisi, Hossein Mussawi. Banyak pemilih tidak percaya bahwa Ahmadnejad benar-benar memenangkan 63 persen suara dan menduga terjadi manipulasi. Ratusan ribu orang ketika itu turun ke jalan sebagai protes. Dalam setahun, aksi-aksi itu juga dibungkam oleh aparat keamanan dan Garda Revolusi Iran, yang menikmati keuntungan dari sistem yang ada.

"Bagian penting dari protes ini (tahun 2009) datang dari para perempuan," kata aktivis Mansoureh Shojaee kepada DW. Dia merujuk pada sejarah panjang gerakan perempuan di Iran, yang dimulai bahkan sebelum revolusi konstitusional tahun 1906.

"Terutama dalam sepuluh tahun terakhir, perempuan telah menggunakan setiap kesempatan untuk menegaskan tuntutan mereka, bahkan dari dalam penjara", tuturnya. Di bawah pemerintahan Ahmedinejad, pengacara HAM Nasrin Sotoudeh menggelar aksi mogok memrotes aturan berpakaian bagi perempuan, yang mengharuskan perempuan memakai chador, kerudung untuk seluruh tubuh. Sotoudeh akhirnya "menang", aturan itu dihapuskan bagi perempuan di dalam penjara.

Presiden Iran Hassan Rouhani

Namun situasi perempuan di Iran tetap berada dalam tekanan. Nasri Sotoudeh pada tahun 2018 ditangkap lagi atas tuduhan spionase dan mendukung gerakan anti-kerudung. Dia masuk penjara lagi. Tetapi dia dan aktivis perempuan lainnya tetap berjuang sambil menekankan keyakinan mereka pada perubahan melalui cara-cara damai, kata Mansoureh Shojaee.

Dia menambahkan: "Gerakan perempuan di Iran sedang mencoba memperbaharui dirinya. Berusaha memperjuangkan hak-hak sipil dan mendukung tuntutan umum masyarakat untuk untuk perubahan".

Banyak yang kecewa

Pemilihan Presiden Hassan Rouhani tahun 2013 sempat membangkitkan harapan, namun sejauh ini tidak membawa perubahan apa pun di mata aktivis perempuan Iran.

"Jika sebuah sistem politik tidak menemukan cara untuk mereformasi dirinya dan memenuhi tuntutan warganya, cepat atau lambat akan mengarah pada krisis serius, ke revolusi atau kehancuran," kata Abbas Abdi kepada DW. Dia salah satu yang ikut menyerbu Kedutaan Besar AS tahun 1979, namun kemudian menjadi pengeritik rezim para Mullah.

Banyak warga Iran yang menyaksikan revolusi 40 tahun lalu kecewa, kata Abbas Abdi. "Kalau kita tahu bahwa tuntutan kita tidak terpenuhi selama 40 tahun ke depan, kita dulu tidak akan mendukung revolusi," tandasnya.

Saat Perempuan Iran Masih Boleh Mengamen

Artis dari Shiraz

Seni musik dan tari berkembang pesat di Iran pada masa kekuasaan dinasti Naser al-Din Shah Qajar (1848- 1896). Perempuan juga memainkan peran mereka dalam bidang tersebut. Perempuan asal kota Shiraz ini tak hanya piawai memainkan alat dawai petik tradisional Iran yang disebut “tar“ atau sejenis sitar, namun juga pandai menari.

Saat Perempuan Iran Masih Boleh Mengamen

Memetik 'tar'

Alat musik Iran yang disebut “tar“ ini bentuknya seperti biola dengan tangkai panjang. Alat musik ini menggunakan dawai simpatetik dan dawai biasa, serta memiliki ruang resonansi yang bisa menghasilkan suara unik. “Tar“ atau sitar merupakan alat musik yang sering digunakan dalam seni musik klasik Hindustan sejak abad pertengahan. Instrumen ini juga mengalami banyak perubahan.

Saat Perempuan Iran Masih Boleh Mengamen

Perempuan ini Khusus Menari untuk Pangeran

Selain alat musik, seni tari juga berkembang di era Qajar. Negar Khanoom adalah salah satu perempuan pada era Qajar yang khusus mempersembahkan pertunjukannya di hadapan pangeran Mohammad Hassan Mirza.

Saat Perempuan Iran Masih Boleh Mengamen

Penari top dari Era Qajar

Penari yang satu ini sangat terkenal di era Qajar. namanya Fathi Zangi. Sejak Revolusi Iran tahun 1979, banyak kelas-kelas di akademi musik ditutup, terutama bagi perempuan

Saat Perempuan Iran Masih Boleh Mengamen

Berpindah tempat

Para perempuan kelompok penari jalanan ini, sebagaimana kelompok pemusik dan penari lainnya, juga mengadakan pertunjukan dengan berpindah tempat. Mereka berasal dari distrik Salmas.

Saat Perempuan Iran Masih Boleh Mengamen

Memainkan bermacam instrumen musik

Sementara para perempuan yang tergabung dalam kelompok seni ini memainkan berbagai jenis instrumen musik sambil menari.

Saat Perempuan Iran Masih Boleh Mengamen

Laki-laki dan perempuan

Kalau kelompok yang satu ini terdiri dari jenis kelamin perempuan dan laki-laki. Di masa lalu, mereka saling berbaur dalam mengembangkan seni musik dan tari bersama-sama.

Saat Perempuan Iran Masih Boleh Mengamen

Tar jadi favorit

“Tar“ boleh dibilang merupakan jenis instrumen musik paling digemari pada era Qajar. Tak cuma laki-laki, perempuan juga berkesempatan untuk memainkannya.

Saat Perempuan Iran Masih Boleh Mengamen

Memainkan tabuh

Selain alat musik petik, perempuan-perempuan Persia juga bisa memainkan alat musik perkusi.

Saat Perempuan Iran Masih Boleh Mengamen

Kelompok seni menjamur

Jumlah kelompok-kelompok seni yang tumbuh di era Qajar pun sangat banyak.

Saat Perempuan Iran Masih Boleh Mengamen

Perbedaan zaman

Semua pemainnya perempuan. Pada era tersebut, perempuan boleh bermain musik dan menari dengan bebas di muka publik. Hal ini jarang ditemui pada masa sekarang. Di masa sekarang ini, jika perempuan bermain musik atau menari jalanan, maka polisi akan datang dan menyuruh pergi.

Saat Perempuan Iran Masih Boleh Mengamen

Kebebasan dan larangan

Jika dulu perempuan Iran mempunyai kebebasan mutlak untuk berkesenian di muka publik, pada masa sekarang ini biasanya mereka hanya boleh bermain musik di konser atau tempat tertutup, itupun terbatas.. Pertunjukan solo perempuan juga dilarang.

Saat Perempuan Iran Masih Boleh Mengamen

Barat dan tradisional

Ada yang mengenakan pakaian tradisional, ada pula yang mengenakan pakaian barat. Yang jelas mereka menikmati kebebasan mereka dalam berkesenian.

Saat Perempuan Iran Masih Boleh Mengamen

Kini langka

Tak hanya di jalan-jalan, pada masa sekarang ini jarang perempuan tampil di televisi. Pemain musik pun harus mengikuti kaidah Islam yang berlaku jika tampil di layar kaca. Menurut hukum pidana Iran 1983, seorang yang mengenakan hijab yang buruk dihukum dengan 74 kali dera. Hukuman ini lalu diturunkan pada 1996 dengan penjara atau membayar denda dengan jumlah tertentu.

Saat Perempuan Iran Masih Boleh Mengamen

Mereka pun berpindah-pindah

Mereka adalah kelompok musik dari etnis Kurdi. Mereka tergolong piawai dalam berkesenian. Dengan busana unik perpaduan tradisional dan barat, warga Kurdi ini mempertunjukan bakat seni mereka dari satu tempat ke tempat lainnya.


Artikel lainnya

Ikuti kami