PLTA Batangtoru Dilanjutkan, Orangutan Tapanuli Terancam Punah

Gugatan Wahana Lingkungan Hidup Indonesia atas pembangunan Pembangkit Listrik tenaga Air (PLTA) Batangtoru ditolak majelis hakim Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Medan. Akibatnya Orangutan Tapanuli terancam punah.

Majelis hakim PTUN Medan yang diketuai Jimmy Claus Pardede memutuskan menolak seluruh gugatan Walhi terkait perizinan pembangunan PLTA Batangtoru. "Menyatakan eksepsi tergugat tidak diterima dan menolak gugatan penggugat seluruhnya, serta menghukum penggugat membayar biaya perkara," ucap Jimmy seperti yang dikutip dari laman kompas.com.

Vice President Communications and Social Affairs PT North Sumatera Hydro Energy (PT NSHE), Firman Taufick mengatakan pihaknya akan meneruskan pembangunan PLTA Batangtoru dari kapasitas 500 MW menjadi 510 MW dan perubahan lokasi quarry di Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara. Persoalan Walhi akan melakukan banding menurutnya "ini antara Walhi dengan Gubernur Sumut, kami sebenarnya tidak terkait langsung. Mungkin pertanyaan ini lebih relevan kalau ditujukan kepada pemerintah Provinsi Sumatera Utara. Apa yang akan mereka persiapkan jika nanti menghadapi proses banding tersebut".

Bukti Kekejaman Manusia Pada Orangutan

Kenalkan, Ini Dina…

Dina masih bayi saat diselamatkan petugas konservasi dari aksi perdagangan ilegal. Di Taman Nasional Gunung Leuser Sumatera, banyak anak-anak orangutan tumbuh tanpa ibu, karena induk mereka dibunuh pemburu liar. Anak-anaknya diperjualbelikan.

Bukti Kekejaman Manusia Pada Orangutan

Tumbuh tanpa ibu

Orangutan biasanya sering tinggal dengan induknya sampai mereka berusia enam atau tujuh tahun. Mereka benar-benar tergantung pada ibu mereka selama dua tahun pertama kehidupan mereka, dan disapih pada usia sekitar lima tahun. Di pusat konservasi Sumatran Orangutan Conservation Programm (SOCP), Sumatera Utara, mereka dirawat.

Bukti Kekejaman Manusia Pada Orangutan

Butuh waktu lama

Oleh karenanya, orangutan tanpa induk di pusat konservasi Sumatran Orangutan Conservation Programm (SOCP), Kuta Mbelin, Sumatera Utara ini dididik untuk bisa bertahan hidup di hutan - sebuah proses yang memakan waktu berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun.

Bukti Kekejaman Manusia Pada Orangutan

Jauhi predator

Mereka juga belajar bagaimana membangun sarang di pohon-pohon dan menjauhi jangkauan predator. Pemburu liar umumnya beroperasi di ekosistem Leuser yang luasnya 2,5 juta hektar, yang menjadi habitat sekitar 6.700 orangutan, dan juga badak, gajah, harimau dan macan tutul.

Bukti Kekejaman Manusia Pada Orangutan

Rumah mereka dibabat

Penebangan hutan di Singkil, Leuser, yang merupakan rumah bagi orangutan dan satwa liar lainnya. Pembukaan hutan untuk perkebunan kelapa sawit selama ini dianggap sebagai biang keladi kepunahan satwa langka termasuk orangutan, disamping menggilanya perburuan liar.

Bukti Kekejaman Manusia Pada Orangutan

Operasi

Operasi dilakukan terhadap orangutan yang terluka di di konservasi Sumatran Orangutan Conservation Programm (SOCP), Kuta Mbelin, Sumatera Utara.

Bukti Kekejaman Manusia Pada Orangutan

Ditembaki senapan angin

Ini hasil rontgen seekor orangutan bernama Tengku yang diselamatkan dari perburuan liar. Di tubuhnya bersarang 60 peluru senapan angin.

Bukti Kekejaman Manusia Pada Orangutan

Pakai kutek

Staf SOCP membubuhi kutek di kuku seekor orangutan yang baru selesai dioperasi dan masih kesakitan, agar orangutan tersebut dapat teralihkan pikirannya dari rasa sakit yang diderita pasca operasi.

Bukti Kekejaman Manusia Pada Orangutan

Dilepas kembali ke alam liar

Setelah melewati masa perawatan di SOCP, adaptasi di lokasi konservasi, dan dianggap siap, mereka mulai dilepaskan kembali ke hutan dan dipantau. Perpisahan antara petugas yang merawat mereka dengan kasih sayang tentu bukan perkara mudah.

Bukti Kekejaman Manusia Pada Orangutan

Terancam kehidupannya

Orangutan Sumatera maupun Kalimantan, saat ini berada dalam status konservasi sangat terancam. Berdasarkan status yang dilabelkan Lembaga Konservasi Satwa Internasional IUCN, orangutan Kalimantan dikategorikan spesies genting (endangered), sementara orangutan Sumatera dianggap lebih terancam lagi nasibnya karena masuk kategori kritis (critically endangered). Penulis: Ayu Purwaningsih (vlz)

Dalam gugatannya, Walhi berpendapat bahwa penerbitan izin bermasalah karena kurangnya diskusi dan partisipasi dari penduduk setempat, serta potensi masalah ekologis yang disebabkan oleh bendungan PLTA. Lokasi situs juga rentan terhadap gempa bumi. "Kami akan mengambil semua jalur hukum yang tersedia," kata Direktur Eksekutif Walhi Sumut, Dana Prima Tarigan. Walhi kecewa atas putusan majelis hakim yang hanya melihat dari sisi administratif namun tidak dari sisi lingkungan dan konservasi.

Proyek bernilai 22 triliun Rupiah tersebut akan mengancam habitat Orangutan Tapanuli di ekosistem hutan Batangtoru. Orangutan yang karakteristik unik (berambut kusut dan memanggil kawananya dengan suara yang panjang) serta spesisesnya baru saja terungkap oleh ilmuwan November tahun lalu kini terancam puncah. Dengan populasinya yang diprediksi hanya sekitar kurang dari 800 ekor, diperkirakan satwa tersebut akan berpindah habitat ke dataran yang lebih tinggi. Namun, dataran yang tinggi tak menyediakan makanan yang cukup untuk populasi hewan tersebut.

Alba, Orangutan Albino Langka dari Borneo

Dibebaskan dari penangkapan

Akhir April 2017, seekor orangutan albino diselamatkan oleh tim BOS Foundation dan Balai Konservasi dan Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Tengah di Desa Tanggirang, Kecamatan Kapuas Hulu, Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah. Aksi penyelamatan ini dilakukan setelah tim menerima informasi dari kepolisian Kapuas Hulu.

Alba, Orangutan Albino Langka dari Borneo

Si putih bermata biru

Matanya biru, bulu rambutnya terang. Orangutan betina berusia lima 5 tahun itu diselamatkan dari penangkapan di desa yang terletak di Kalimantan. Alba merupakan orangutan albino pertama yang akan ditemukan oleh BOS Foundation dan Balai Konservasi dan Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Tengah tersebut dalam 25 tahun terakhir.

Alba, Orangutan Albino Langka dari Borneo

Putih dan fajar

Orangutan Albino langka yang diselamatkan di Indonesia dinamakan "Alba". Nama itu dipilih dari berbagai usulan nama yang dikirim masyarakat dari seluruh dunia. Arti nama Alba adalah "putih" dalam bahasa Latin dan "fajar" dalam bahasa Spanyol.

Alba, Orangutan Albino Langka dari Borneo

Dehidrasi dan lemah

Orangutan albino tersebut mengalami dehidrasi, dalam kondisi lemah dan menderita infeksi parasit saat diselamatkan. Setelah berhari-hari menjalani perawatan khusus, nafsu makan Alba mulai meningkat dan berat tubuhnya bertambah beberapa kilogram.

Alba, Orangutan Albino Langka dari Borneo

Sensitif cahaya

Hewan luar biasa itu memiliki kulit dan rambut pucat dan mata yang sensitif terhadap cahaya.Orangutan, primata yang biasanya berwarna kemerahan yang terkenal dengan sifat lembut dan cerdas, hidup di alam liar Sumatera dan Kalimantan.

Alba, Orangutan Albino Langka dari Borneo

Populasi orangutan menurun

International Union for Conservation of Nature IUCN memperkirakan bahwa jumlah orangutan di Borneo telah turun hampir dua pertiganya, sejak awal tahun 1970-an dan selanjutnya menurun terus menjadi 47.000 ekor pada tahun 2025.

Alba, Orangutan Albino Langka dari Borneo

Perkebunan kelapa sawit jadi salah satu biang kerok

IUCN memasukkan orangutan Borneo dalam daftar hewan yang sangat terancam keberadaannya. Menurunnya jumlah orangutan ini tidak lain di antaranya karena perburuan dan konflik dengan pekerja perkebunan kelapa sawit. (Ed:ap/rzn)

yp/ap  (guardian, kompas)



Ikuti kami