1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

PM Israel Naftali Bennett Temui Presiden AS Joe Biden

26 Agustus 2021

PM Israel Naftali Bennett akan bertemu dengan Presiden AS Joe Biden di Gedung Putih untuk membahas serangkaian krisis di Timur Tengah.

https://p.dw.com/p/3zV64
PM Israel Naftali Bennett (kiri) dan Presiden AS Joe Biden (kanan)
PM Israel Naftali Bennett (kiri) dan Presiden AS Joe Biden (kanan)

Pertemuan Perdana Menteri Israel Naftali Bennett dengan Presiden Joe Biden hari Kamis (26/8) terjadi di tengah meningkatnya ketegangan regional dengan Iran, dan saat Israel menghadapi perlawanan baru dari kelompok militan Hamas di Jalur Gaza.

Naftali Bennett yang melakukan kunjungan luar negeri pertama ke AS sejak menjabat sebagai Perdana Menteri, hari Rabu (25/8) telah bertemu dengan Menteri Pertahanan Lloyd Austin dan Menteri Luar Negeri Antony Blinken.

Kepada Menlu AS, Naftali Bennett mengatakan dia akan membahas serangkaian masalah penting dengan Presiden Joe Biden, terutama tentang "bagaimana kita menangkis dan membatasi upaya Iran untuk senjata nuklir." Amerika Serikat. dan Israel juga diharapkan membahas pandemi virus corona, perubahan iklim, dan masalah ekonomi.

Israel melancarkan beberapa serangan roket ke Jalur Gaza setelah militan Hamas melakukan serangan balon api
Israel melancarkan beberapa serangan roket ke Jalur Gaza setelah militan Hamas melakukan serangan balon api ke wilayah Israel Foto: Ashraf Amra/AA/picture alliance

Menentang kesepakatan nuklir baru dengan Iran

Israel sebelumnya sudah menyatakan akan menentang kemungkinan pembahasan kesepakatan nuklir baru antara Iran dengan AS dan negara-negara yang tergabung dalam kelompok P5+1, yaitu Cina, Perancis, Jerman, Rusia dan Inggris. Naftali Bennet mengatakan, setiap kesepakatan harus bisa meredam "agresi regional Iran".

Awal pekan ini, PM Israel juga mengatakan dalam rapat kabinetnya, dia akan menyampaikan kepada Presiden AS "bahwa sekarang adalah waktu yang tepata untuk menghentikan Iran dalam hal ini '' dan tidak memasukkan kembali "kesepakatan nuklir yang telah kadaluwarsa dan tidak relevan, bahkan bagi mereka yang menganggapnya pernah relevan."

Ketegangan antara Israel dan kelompok militan Hamas di Gaza juga telah meningkat dalam tiga bulan terakhir, sejak perang 11 hari dengan Hamas yang menewaskan sedikitnya 265 orang di Gaza dan 13 orang di Israel. Selama satu minggu terakhir, militan Hamas kembali meluncurkan balon-balon api ke Israel selatan dan menggelar aksi demonstrasi diiringi kekerasan kekerasan baru.

Mengandalkan hubungan khusus AS-Israel

Sekalipun menghadapi berbagai krisis di kawasan, Naftali Benneth sebelum berangkat ke Washington menyatakan optimis pada hubungan AS-Israel yang akan membawa semangat baru.

"Ada pemerintahan baru di AS, dan pemerintahan baru di Israel, dan saya membawa semangat kerja sama baru dari Yerusalem, yang bertumpu pada hubungan khusus dan panjang antara kedua negara," kata Naftali Bennett sebelum lepas landas.

Bennett menjadi PM baru Israel dua bulan lalu setelah kesepakatan koalisi luas yang melibatkan ultranasionalis Yahudi hingga faksi Islam kecil menggulingkan pemimpin lama Benjamin Netanyahu.

hp/vlz (rtr, ap, afp)