1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Politik Perburuan Solusi Krisis Keuangan Eropa Mendidih

13 Oktober 2011

Krisis keuangan perbankan di Eropa dan rencana pertukaran tahanan antara Israel dan Palestina, menjadi sejumlah topik yang disoroti media-media internasional dalam pers internasional, Kamis (13/10).

https://p.dw.com/p/12rSs
Foto: Pictures4you - Fotolia.com

Harian berhaluan konservatif Norwegia Aftenposten menyoroti upaya pengamanan bank Eropa dalam krisis keuangan. Surat kabar yang terbit di Oslo itu menulis:

"Ketegangan politik dalam perburuan solusi krisis keuangan dari Eropa Utara hingga selatan kini mencapai titik didih. Kepercayaan terhadap bank dan antar bank saat ini berada di bawah tekanan berat. Nasionalisasi satu bagian perbankan Eropa mulai merangkak naik dalam agenda harian politik. Akibatnya, ada pemahaman mendalam tentang skala krisis bahwa hampir tidak ada lagi langkah penanggulangan, yang dianggap mustahil. Ini isyarat baik."

Surat kabar ekonomi Perancis Les Echos menulis tentang sikap Eropa di tengah krisis utang:

"Para pemimpin negara Eropa harus melewati dua rintangan. Sebelumnya, mereka harus mematuhi jadwal yang ketat. Suatu tantangan serius, jika mengenal perbedaan irama institusi di mana waktu berjalan sangat lambat, dan mengenal cekaknya pasar keuangan. Dalam hal itu mereka harus melawan godaan, terlalu banyak yang harus dilakukan agar krisis akhirnya bisa diatasi. Pada titik ini, awalnya sangat buruk. Karena Presiden Komisi Uni Eropa Jose Manuel Barroso kemarin tidak menyebut angka, maka para pialang sepakat menyimpulkan bahwa rekapitalisasi bank akan dilakukan berdasarkan tingkat minimal modal sendiri yaitu sembilan persen. Nilai ambang, yang jauh di atas spesifikasi, yang tercantum dalam aturan Basel III, yang sebelumnya dianggap terlalu tinggi. Dengan keinginan menunjukkan diri terlalu bijak, bisa membuat Uni Eropa meraih kebalikan dari yang mereka inginkan."

Sementara itu rencana pertukaran tahanan Israel dan Palestina atau tepatnya rencana pembebasan serdadu Israel Gilad Shalit dari Hamas yang ditebus dengan pembebasan lebih dari seribu warga Palestina yang ditahan Israel juga menjadi sorotan media internasional.

Harian Belanda de Volkskrant menulis:

"Di Israel, merupakan kehormatan jika membebaskan serdadu yang jatuh ke tangan musuh. Selain itu kasus penculikan Shalit lima tahun lalu menjadi terkenal berkat kampanye yang dilakukan keluarga dan temannya. Perdana Menteri Netanyahu merasakan tekanan dan akhirnya percaya pada satu titik bahwa „sekarang atau tidak sama sekali“. Ini merupakan momen yang ingin diraih Hamas dan untuk itu siap membatalkan persyaratan tambahan. Akhir-akhir ini gerakan islamis itu kehilangan prakarsa pada Presiden Abbas, yang tampil gemilang di PBB. Namun pembebasan lebih dari seribu warga Palestina menjadi bayangan gelap kemenangan simbolis di New York."

Suratkabar kanan liberal Spanyol El Mundo juga mengomentari rencana pertukaran seorang serdadu Israel yang ditahan Hamas dengan seribu warga Palestina yang ditahan Israel. Harian yang terbit di Madrid itu menulis:

"Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu melakukan langkah catur yang cerdas, karena perjanjian dengan Hamas melemahkan Presiden Palestina. Beberapa waktu lalu Mahmud Abbas menaikkan drastis peranannya dengan mengajukan permohonan keanggotaan penuh Palestina di PBB. Kini saingan terpentingnya Hamas, mengambil peranan utama itu dan membuktikan kemampuan dan bobot mereka sebagai mitra berunding.

Tidak diragukan bahwa saat ini Abbas yang kuat atau persatuan Palestina antara pengikut Fatah dan Hamas yang berseteru, tidak menjadi kepentingan pemerintah Israel. Namun bangsa Yahudi tahu bahwa rekonsiliasi kedua pihak sangat esensial, agar suatu hari bisa menandatangani perjanjian damai yang sesungguhnya."

Suratkabar Inggris, The Guardian, berusaha menemukan kemungkinan motif di balik serangan terencana terhadap duta besar Saudi Arabia di Washington. Harian berhaluan kiri liberal itu menulis:

"Dugaan konspirasi pembunuhan duta besar Saudi Arabia di Washington yang melibatkan agen Iran sekilas sangat fantastis hingga hampir tidak bisa dipercaya. Komplotan dahsyat dengan kualitas Hollywood, dengan rezim asing, kartel obat bius Meksiko, dan celah di pemerintahan, menjanjikan lebih dari yang bisa mereka tepati. Namun, kemungkinan keterlibatan aktif Garda Revolusi yang bersekutu dengan pimpinan Iran, jika benar, merupakan perkembangan serius. Bisa diterima bahwa sedikitnya terdapat keterlibatan pemerintah. Tapi mengapa?

Saudi Arabia dan Iran saat ini sedang dalam persaingan ketat memperebutkan hegemoni geopolitik di Teluk. Kekhawatiran Saudi terhadap kebangkitan Iran dan program atomnya sama besar seperti yang dirasakan Israel."

dpad/LS/HP