Publikasi Buku Harian Perjalanan Ungkap 'Sisi Rasis' Albert Einstein

Pemikiran rasis Albert Einstein terhadap orang Cina terungkap menyusul publikasi buku harian yang menjadi teman perjalanannya saat berkunjung ke Asia di tahun 1920an.

Publikasi buku harian pribadi Albert Einstein yang merinci perjalanannya di Asia pada tahun 1920 mengungkap sisi rasis sang fisikawan dan ikon kemanusiaan ini terhadap orang-orang yang ditemuinya, terutama orang Cina.

Buku harian ini diterbitkan oleh Princeton University Press dan mendokumentasikan perjalanan selama lima setengah bulan antara 1922 dan 1923 ke Cina, Spingaura, Hong Kong, dan Jepang, serta Palestina dan Spanyol.

Penerbit menggambarkan buku harian tersebut sebagai pemikiran Einstein yang "aneh, ringkas, dan kadang tidak sopan" tentang sains, filsafat, seni dan politik. Buku harian yang ditulis dengan tangan tersebut juga mengungkapkan cara Einstein mengkategorikan orang dari berbagai negara dan pandangannya tentang ras.

Sosial

J. - Penjaga toko,, Spanyol

"Saya dibesarkan di sebuah desa di Spanyol. Saya sering diganggu di sekolah. Ketika berusia sekitar 13 tahun, seorang anak lelaki yang lebih tua mendekati saya waktu saya sedang duduk di bangku dan membaca. Dia mengatakan 'Kamu kotor!' Dan dia menuangkan sebotol susu cokelat pada saya. Saya kaget, sementara orang-orang di sekitar saya tertawa dan menatap saya seolah-olah saya adalah monster. "

Sosial

A. - Perancang mode, Spanyol

"Saya bekerja di lingkungan yang sangat 'machista'. Meskipun tidak ada yang menindas saya secara pribadi, saya melihat apa yang terjadi pada orang gay yang lebih muda yang bekerja dengan saya. Apa arti 'maskulin'? "Apakah kita semua harus muda dan kuat? Apakah kita semua harus berotot? Apakah kita hanya objek seksual?"

Sosial

D. - Manajer IT, Belgia

"Waktu saya masih tinggal dengan orang tua, saya bekerja shift malam di toko roti lokal. Tiga hari setelah saya mengakui homoseksualitas saya kepada orang tua, di pagi hari Ibu masuk ke kamar saya. Dia kelihatan panik dan bertanya, "Kamu harus bilang siapa yang melakukan, ya?" Ternyata seseorang telah menulis kata 'homo' di kap mobil saya... Tapi saya anggap saja itu sebagai suatu kehormatan."

Sosial

D. - Manajer pemasaran, Italia

"Saya dari dulu sudah 'gendut.' Anak-anak di sekolah sering mengejek saya. Saya tumbuh di kota kecil di Italia dan tidak pernah menyatakan orientasi seksual saya. Pada usia 30, saya meninggalkan Italia dan pindah ke Perancis karena perspektif kehidupan gay lebih baik. "Saya pernah mengalami krisis dan merasa sangat kacau. Sekarang, saya mencoba menerima diri saya dan bahagia dengan badan saya."

Sosial

S. - Aktor, Perancis

"Di Eropa Timur, saya tinggal di apartemen seorang perempuan tua, di sebuah menara yang sudah kusam. Dia mengundang cucunya bertemu saya. Kami minum vodka, langsung dari botol. Dia mulai berbicara tentang apa arti keluarga dan bertanya, apa yang saya pikir tentang itu? 'Saya tidak tahu,' kata saya (berbohong). 'Saya tidak pernah benar-benar memikirkan mereka'.

Sosial

Tiberiu Capudean, fotografer Rumania dan aktivis LGBT

"Pria telanjang di foto-foto ini adalah aspek yang paling tidak penting. Tujuan saya adalah untuk menunjukkan bahwa keragaman adalah sesuatu yang normal, baik itu menyangkut orientasi seksual, bentuk tubuh, usia atau ras." (Teks: Lavinia Pitu/hp/ )

Dalam satu kutipan, yang dilihat oleh The Guardian, Einstein menggambarkan orang Cina sebagai "orang yang rajin, kotor, dan bodoh," kemudian menyebut mereka "negara yang seperti kawanan aneh ... sering lebih mirip mesin daripada manusia."

"Akan sangat disayangkan jika orang-orang Cina ini menggantikan semua ras. Untuk orang-orang seperti kami, pikiran tersebut membuat suram," tambahnya.

Einstein juga menggambarkan bagaimana "orang Tionghoa tidak duduk di bangku saat makan tetapi jongkok, seperti yang orang Eropa lakukan ketika mereka buang hajat di hutan rindang. Semua ini terjadi dengan tenang dan sopan. Bahkan anak-anak tidak bersemangat dan terlihat bodoh. ”

Buku The Travel Diaries of Albert Einstein: The Far East, Palestine, and Spain, 1922–1923, diedit oleh Ze'ev Rosenkranz, editor senior dan asisten direktur Proyek Einstein Papers di California Institute of Technology.

Budaya

Freddie Mercury

Vokalis band Queen ini lahir dengan nama Farrokh Bulsara tahun 1946. Ia berasal dari keluarga Parsi India, dan tinggal di pulau Zanzibar. Akibat revolusi berdarah di pulau itu, keluarganya mengungsi ke London, di mana ia menyelesaikan sekolah kemudian bertemu dengan musisi lain.

Budaya

Gloria Estefan

Ia disebut "Queen of Latin Pop." Sampai usia dua tahun ia tinggal di Havana, Kuba. Ketika terjadi revolusi komunis yang dipimpin Fidel Castro 1959, keluarganya lari ke Miami, AS. Ayahnya ikut dalam serangan Teluk Babi 1961 yang gagal. Di AS, Gloria Estefan sukses sebagai musisi. Lebih dari 100 juta album terjual, dan ia menang tujuh penghargaan Grammy.

Budaya

Albert Einstein

Pemenang Nobel, Albert Einstein yang berasal dari keluarga Yahudi sedang mengunjungi AS 1933, ketika Jerman dikuasai NAZI. Penemu teori relativitas ini mengungkapkan.tentang eksilnya di AS, bahwa ia merasa termasuk kaum elit karena bisa tinggal di Princeton. "Tapi malu karena bisa hidup tenang di saat orang lain menderita."

Budaya

Siegmund Freud

Bapak psikoanalisa dan pengggas teori cara manusia berpikir, jadi pengungsi menjelang akhir hidupnya. Ketika NAZI mulai menguasai Jerman, mereka membakar buku-buku Freud. Tahun 1938 NAZI menguasai Austria, dan Freud beserta istrinya lari dari Wina ke London. Ia meninggal di ibukota Inggris itu setahun setelahnya.

Budaya

Madeleine Albright

Menlu perempuan pertama AS (1997-2001) lahir 1937 di negara yang dulu bernama Cekoslowakia. Keluarganya lari dari rejim NAZI saat Perang Dunia II. Sempat kembali ke neghara asalnya tapi dipaksa pergi lagi, ketika komunis menguasai negara itu mulai 1948. Di AS ia aktif dalam politik sampai mencapai karir tinggi di negara itu.

Budaya

Henry Kissinger

Ia pernah jadi profesor di Universitas Harvard dan menteri luar negeri AS ke-56, yang ikut membentuk politik negara itu. Kisinger lahir di negara bagian Bayern, Jerman. Tahun 1938 ia lari dari rejim NAZI yang menguasai Jerman. Walau sudah hidup lama di AS, Kissinger mengatakan beberapa tahun lalu, Jerman akan terus jadi bagian hidupnya.

Budaya

Luol Deng

Ia lahir 1985 di tengah perang saudara Sudan. Keluarganya lari dari pertempuran ketika ia masih kecil. Pertama-tama ke Mesir, kemudian ke Inggris. Ia kemudian kuliah di AS. Setelah itu memulai karir sebagai pemain basket profesional, dan jadi bintang NBA. Ia pernah bermain untuk Chicago Bulls dan Miami Heat.

Budaya

Iman

Kudeta1969 dan kekerasan berdarah yang terjadi setelahnya di Somalia memaksa keluarga Iman Mohamed Abdulmajid lari ke Kenya. Bertahun-tahun kemudian seorang fotografer melihat bakatnya. Itu jadi awal karir sebagai supermodel di AS. Di sana ia mendirikan perusahaan kosmetik, jadi bintang film, bekerja untuk proyek kemanusiaan dan menikah dengan David Bowie.

Budaya

Marlene Dietrich

Ia penyanyi dan bintang film Jerman yang terkenal dengan suara serak dan seksi. Ia sudah terkenal ketika tinggal di AS. 1939 ia jadi warga negara AS dan menolak NAZI. Sebagai pengungsi dan selebriti ia menyatakan menentang Hitler, dan bernyanyi bagi pasukan AS selama Perang Dunia II. Ketika itu film-filmnya dilarang di Jerman. Tapi ia mengatakan, "Saya lahir di Jerman dan terus jadi orang Jerman."

Budaya

Isabel Allende

Isabel yang jadi salah satu penulis paling terkenal saat ini, adalah anak saudara sepupu Presiden Chili Salvador Allende, yang dikudeta dan meninggal 1973. Ia lari ke Venezuela, setelah menerima ancaman pembunuhan, kemudian tinggal di AS. Buku-bukungnya yang jadi bestseller antara lain "The House of the Spirits", yang difilmkan 1993 dan "Paula". Penulis: Dagmar Breitenbach, CNN (ml/as)

Berbicara kepada The Guardian, Rosenkranz mengakui bahwa beberapa paragraf yang ditulis oleh Einstein "sangat tidak menyenangkan — apalagi yang dia katakan tentang orang Cina.”

"Pandangannya berbeda dengan imej publik sebagai ikon kemanusiaan yang hebat," tambahnya. "Saya pikir itu cukup mengejutkan untuk membacanya dan membedakannya dengan pernyataan publiknya yang lain. Ia menulisnya tanpa berpikir panjang dan tidak untuk dipublikasikan."

Einstein menjadi warga negara Amerika pada tahun 1940 setelah memutuskan dia tidak dapat kembali ke negara asalnya Jerman setelah bangkitnya partai Nazi dan Adolf Hitler. Ahli fisika pemenang Hadiah Nobel ini juga dikenal dengan kalimat yang menggambarkan rasisme sebagai "penyakit orang kulit putih" saat berpidato di Pennsylvania Lincoln University pada tahun 1946.

Tema

vlz/hp (theguardian, independent, yahoonews)

Iptek

Kerutan Ruang Waktu

Gelombang gravitasi diprediksi Albert Einstein seabad silam. Intinya, setiap gerakan obyek bermassa akan menimbulkan kerutan pada ruang waktu atau juga disebut gelombang gravitasi. Fenomena ini diamati oleh ilmuwan untuk pertamakali ketika dua lubang hitam bermassa 50 matahari saling berbenturan di jarak 1,3 milyar tahun cahaya dari Bumi.

Iptek

Mata Kedua

Ada dua cara buat mengamati alam semesta. Pertama, melalui gelombang elektromagnetik yang mencakup sinar gamma, sinar x, cahaya atau gelombang radio. Kedua, melalui gelombang gravitasi. Karena lubang hitam tidak memancarkan radiasi elektromagnetik, raksasa langit itu cuma bisa diamati lewat gelombang gravitasi. Menemukan gelombang ajaib itu berarti membuka jendela baru pengamatan luar angkasa

Iptek

Jala Angkasa

Einstein mengatakan, ruang dan waktu bukan dimensi terpisah, melainkan sebuah kesatuan. Ia membayangkannya seperti sebuah jala multidimensi yang bersifat plastis, dapat melengkung atau mengerut bergantung pada massa benda yang ada di dalamnya. Semakin berat benda itu, semakin tajam pula lengkungannya. Ketika sebuah benda berakselerasi, ia akan menimbulkan gelombang seperti riak di permukaan air

Iptek

Rahasia Gravitasi

Gravitasi tidak cuma memiliki gaya tarik, tetapi juga menyebabkan gangguan pada ruang waktu atau mengubah arah rambatan cahaya. Pada gambar ini misalnya gaya gravitasi yang dipancarkan sebuah lubang hitam mampu membelokkan cahaya yang dipancarkan galaksi di belakangnya. Lubang hitam juga menghentikan waktu dan dalam dimensi raksasa mampu memicu kerutan pada jala ruang waktu yang dapat dideteksi

Iptek

Cahaya Murni

Untuk membuktikannya, ilmuwan mengembangkan interferometer yang bisa mendeteksi perubahan terkecil sekalipun. Alat tersebut berupa sinar laser yang dibagi dua sepanjang empat kilometer. Teorinya karena gelombang gravitasi menyebabkan kerutan pada ruang waktu, panjang sinar laser semestinya juga akan berubah, kendati perubahannya cuma berukuran seperseribu diameter sebuah inti atom.

Iptek

Lubang Hitam

Berbekal penemuan tersebut, ilmuwan kini dapat mengamati fenomena lubang hitam di alam semesta dengan lebih akurat. Astronom malah membandingkan penemuan gelombang gravitasi dengan saat ketika Galileo pertama kali menggunakan teleskopnya. Energi yang dipancarkan benturan dua lubang hitam lewat radiasi gravitasi misalnya, tercatat lebih besar ketimbang semua energi yang diproduksi di jagad raya.

Iptek

Semesta yang Hilang

Pengetahuan mengenai gravitasi dapat membantu ilmuwan mengungkap misteri terbesar alam semesta, yakni partikel gelap. Partikel kasat mata ini bisa diamati dari gaya gravitasinya yang mempengaruhi pergerakan bintang di wilayah terluar galaksi. Diperkirakan 84,5% dari materi di alam semesta berupa materi gelap.