Puluhan Pekerja Jembatan Diduga Dibunuh KKB di Papua

31 pekerja pembangun di pegunungan Nduga, Papua menurut kepolisian tewas dibunuh Kelompok Kriminal Bersenjata. Penembakan dipicu akibat salah satu pekerja ketahuan memotret perayaan ulang tahun Organisasi Papua Merdeka.

Sekitar 150 petugas gabungan TNI-Polri dilaporkan telah berhasil masuk ke Distrik Yigi, Kabupaten Nduga, Papua untuk mengevakuasi seluruh jenazah yang disebutkan tersebar dan dijaga oleh kelompok bersenjata. Kepolisian Jayawijaya membenarkan 31 pekerja yang bertugas untuk membangun jembatan di kawasan terpencil di pegunungan Kali Yigi - Kali Aurak itu tewas tertembak pada hari Minggu  (02/12). Pelakunya diduga adalah Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) yang tidak disebut namanya.

"Dari informasi ada 14 orang yang terbunuh di penampungan pekerja. Sekitar delapan orang melarikan diri ke rumah pemerintah lokal. Tapi tujuh dari mereka dilaporkan tewas, sedangkan satu orang lainnya melarikan diri," kata Kapolres Jayawijaya AKBP Yan Pieter Reba seperti dikutip dari tribunnews.com.

Menurut kesaksian sejumlah orang, pembunuhan terhadap pekerja yang mengungsi dari teror tersebut dilakukan orang sekelompok orang bersenjata. Kelompok ini menurut kepolisian sudah berupaya untuk membebaskan diri dari Indonesia sejak 50 tahun terakhir.

Polemik Emas Ilegal dari Limbah Freeport

Tambang Ilegal di Aikwa

Penambang emas mendulang emas di sungai Aikwa di Timika, Papua. Meski banyak penduduk suku Kamoro yang masih berusaha mencari uang sebagai nelayan, kegiatan penambangan emas merusak dasar sungai yang kemudian memangkas populasi ikan di sungai Aikwa.

Polemik Emas Ilegal dari Limbah Freeport

Emas Punya Siapa?

Sejumlah penduduk bahkan datang dari jauh untuk menambang emas di sungai Aikwa. Indonesia memproduksi emas yang mendatangkan keuntungan senilai 70 miliar Dollar AS setahun, atau sekitar 900 triliun Rupiah. Tapi hanya sebagian kecil yang bisa dinikmati penduduk lokal.

Polemik Emas Ilegal dari Limbah Freeport

Buruh Papua Mencari Kerja

Kebanyakan penduduk asli setempat telah terusir oleh kegiatan perluasan tambang. Saat ini Freeport mengaku memiliki hampir 30.000 pegawai, sekitar 30% berasal dari Papua, sementara 68% dari wilayah lain di Indonesia dan kurang dari 2% adalah warga asing. Berkat tekanan dari Jakarta, Freeport berniat menambah komposisi pekerja Papua menjadi 50%.

Polemik Emas Ilegal dari Limbah Freeport

Sumber Kemakmuran

Tambang Grasberg adalah sumber emas terbesar di dunia dan cadangan tembaganya tercatat yang terbesar ketiga di dunia. Dari sekitar 238.000 ton mineral yang diolah setiap hari, Freeport memproduksi 1,3% emas, 3,4% perak dan 0,98 persen tembaga. Artinya tambang Grasberg menghasilkan sekitar 300 kilogram emas per hari.

Polemik Emas Ilegal dari Limbah Freeport

Berjuta Limbah

Grasberg berada di dekat Puncak Jaya, gunung tertinggi di Indonesia. Setiap hari, tambang tersebut membuang sekitar 200.000 ton limbah ke sungai Aikwa. Pembuangan limbah tambah oleh Freeport ujung-ujungnya membuat alur sungai Aikwa menyempit dan dangkal.

Polemik Emas Ilegal dari Limbah Freeport

Nilai Tak Seberapa

Setiap tahun sebagian kecil dari jutaan gram emas yang ditambang di Grasberg terbuang ke sungai Aikwa dan akhirnya didulang oleh penduduk. Semakin ke hulu, maka semakin besar kemungkinan mendapatkan emas. Rata-rata penambang kecil di Aikwa bisa mendulang satu gram emas per hari, dengan nilai hingga Rp. 500.000.

Polemik Emas Ilegal dari Limbah Freeport

Simalakama Penambangan Ilegal

Pertambangan rakyat di sungai Aikwa selama ini dihalangi oleh pemerintah. Tahun 2015 silam TNI dan Polri berniat memulangkan 12.000 penambang ilegal. Pemerintah Provinsi Papua bahkan berniat mengosongkan kawasan sungai dengan dalih bahaya longsor. Namun kebijakan tersebut dikritik karena menyebabkan pengangguran dan memicu ketegangan sosial.

Polemik Emas Ilegal dari Limbah Freeport

Kerusakan Lingkungan

Asosiasi Pertambangan Rakyat Papua sempat mendesak pemerintah untuk melegalisasi dan menyediakan lahan bagi penambangan rakyat di sungai Aikwa. Freeport juga diminta melakukan hal serupa. Ketidakjelasan status hukum berulangkali memicu konflik antara kelompok penambang. Mereka juga ditengarai menggunakan air raksa dan menyebabkan kerusakan lingkungan yang dampaknya ditanggung penduduk setempat

Polemik Emas Ilegal dari Limbah Freeport

Persaingan Timpang

Konflik antara penambang antara lain disebabkan persaingan yang timpang. Ketika penduduk lokal masih mengais emas dengan kuali atau wajan, banyak pendatang yang bekerja dengan mesin dan alat berat. Berbeda dengan penambang kecil, penambang berkocek tebal bisa meraup keuntungan hingga 10 juta Rupiah per hari.

Polemik Emas Ilegal dari Limbah Freeport

Bisnis Gelap di Timika

Pertambangan rakyat di sungai Ajkwa turut menciptakan struktur ekonomi sendiri. Karena banyak pihak yang diuntungkan, termasuk bandar yang menampung hasil dulangan emas penduduk di Timika dan oknum pemerintah lokal yang menyewakan lahan penambangan secara ilegal. Situasi tersebut mempersulit upaya penertiban pertambangan rakyat di Papua. Penulis: Rizki Nugraha/ap (dari berbagai sumber)

"Ini adalah serangan terburuk yang dilakukan oleh KKB baru-baru ini, di tengah pembangunan intensif yang dilakukan pemerintah,” ungkap Kepala Sub Bidang Penerangan Masyarakat Polda Papua AKBP Suyadi Diaz kepada AP.

Indonesia | 25.04.2016

Kenapa pekerja bisa jadi sasaran?

Menurut Kapolres Jayawijaya, para pekerja pembangunan jembatan itu diduga dibunuh karena salah satu pekerja diketahui mengambil foto perayaan HUT Tentara Pembebasan Nasional Organisasi Papua Merdeka (TPN/OPM) yang tak jauh dari lokasi kejadian.

 "Saya terima informasinya seperti itu. Kalau kelompok KKB ada melakukan upacara dan salah satu dari pekerja tak sengaja melihatnya dan mengambil foto. Itu membuat mereka marah hingga kelompok ini pun membunuh para pekerja yang ada di kamp,” kata Kapolres Jayawijaya AKBP Yan Pieter Reba  kepada Kompas,com pada hari Senin (03/12).

Jokowi Blusukan di Papua

Delapan Kali di Papua

Selama lima jam Presiden Joko Widodo dan Ibu Negara Iriana Widodo menumpang pesawat kepresidenan ke Papua. Ini adalah kali ke-delapan presiden mengunjungi provinsi di ufuk timur Indonesia itu sejak dilantik Oktober 2014 silam.

Jokowi Blusukan di Papua

Sertifikat Tanda Kemakmuran

Dalam kunjungannya kali ini presiden mendapat agenda ketat. Setibanya di Jayapura, Jokowi dijadwalkan menyerahkan 3.331 sertifikat hak atas tanah kepada penduduk setempat. Ia berpesan agar penduduk menyimpan dokumen penting tersebut dengan aman. "Dimasukkan ke plastik, difotokopi, jadi kalau hilang ngurus-nya lebih gampang," ujar Presiden.

Jokowi Blusukan di Papua

Kepemilikan Permudah Pinjaman

Penyerahan sertifikat tanah dinilai penting sebagai pondasi kemakmuran. Kini penduduk bisa menggunakan sertifikat tersebut untuk menambah pinjaman usaha. "Tapi hati-hati untuk agunan ke bank tolong dihitung, dikalkulasi bisa mencicil, bisa mengembalikan ndak setiap bulan? Kalau ndak, jangan," ucap Presiden.

Jokowi Blusukan di Papua

Sertifikat Kurangi Konflik Tanah

Tahun 2017 silam pemerintah membagi-bagikan 70.000 sertifikat kepada penduduk Papua. Tahun ini Badan Pertanahan Nasional menargetkan penyerahan 20.000 sertifikat tanah tambahan.

Jokowi Blusukan di Papua

Rombongan Menteri di Jayapura

Selain presiden dan ibu negara, rombongan kenegaraan ini juga dihadiri Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala BPN Sofyan Djalil, Menteri Seketaris Negara Pratikno, Menteri PU dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimuljono dan Menteri Kesehatan Nila Moeloek.

Jokowi Blusukan di Papua

Blusukan Infrastruktur

Selain bertemu penduduk, rombongan presiden juga dijadwalkan mengunjungi sejumlah proyek infrastruktur vital, antara lain Pasar Mama Mama yang khusus dibangun buat kaum perempuan dan jembatan Holtekamp di atas Teluk Youtefa.

Jokowi Blusukan di Papua

Jembatan Memangkas Jarak

Jembatan sepanjang 732 meter ini menghubungkan Jayapura dengan Muara Tami. Keberadaan jembatan di atas Teluk Youtefa memangkas waktu perjalanan dari yang semula 2.5 jam menjadi hanya satu jam saja.

Baca juga: Warga Australia dan Ratusan Aktivis Papua Ditahan Usai Unjuk Rasa

Para pekerja pendatang di Papua

Para korban adalah bagian dari puluhan pekerja konstruksi asal Sulawesi yang direkrut oleh PT Istaka Karya, perusahaan konstruksi milih negara. Mereka ditugaskan untuk mendirikan 35 proyek jembatan yang menghubungkan jalan sepanjang 278 kilometer di Wamena. Akibat kejadian ini, pekerjaan proyek dihentikan. 

"Kejadian ini, dengan kejadian tadi seluruh pekerjaan kita hentikan", kata Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimuljono kepada Detik News. ""Di ruas ini dihentikan semua Mamugu sampai Wamena sambil tunggu sesuai rekomendasi Pangdam dan Kapolda," tambah Basuki.

Kepala Sub Bidang Penerangan Masyarakat Polda Papua AKBP Suyadi Diaz menyebutkan sejumlah pengendara ojek yang sebagian besar berasal dari luar Papua disebutkan tewas dalam beberapa serangan baru-baru ini. Menurut AKBP Suyadi Diaz, KKB yang diduga sebagai dalang dari penyerangan ini memandang para pendatang sebagai orang luar. Hingga saat ini, pemerintah Indonesia melarang atau membatasi liputan media ke Papua, sehingga sulit mengetahui kejadian yang sebenarnya.

FARC: Separuh Abad Memanggul Senjata

Nyawa Berbayar Nyawa

Perang saudara di Kolombia berawal tahun 1948, ketika pembunuhan terhadap pemimpin kaum kiri Jorge Eliecer Gaitan memicu konflik berdarah antara kaum liberal dan konservatif. Akibatnya lebih dari 200.000 orang tewas selama sepuluh tahun. Ketika militer pemerintah mulai menyerang fraksi komunis di seluruh negeri tahun 1964an, mereka bersatu membentuk Angkatan Bersenjata Revolusioner Kolombia, FARC

FARC: Separuh Abad Memanggul Senjata

Melawan Oligarki dan Tuan Tanah

Kendati berhaluan komunis, FARC tidak memiliki ideologi politik yang baku. Awalnya mereka ingin melucuti kekuasaan kaum Oligarki. Lalu pasukan pemberontak itu menuntut reformasi tanah. FARC tidak cuma bertempur melawan militer, melainkan juga milisi sayap kanan yang dibentuk bandar narkotika semisal United Self Defense Force, AUC.

FARC: Separuh Abad Memanggul Senjata

Dosa Politik

FARC mulai kehilangan dukungan penduduk setelah banyak melakukan penculikan untuk memanen uang tebusan. Kelompok yang berkekuatan hingga 10.000 pasukan itu juga dituding banyak melatih serdadu anak, menyebar ranjau darat yang membunuh warga sipil, menindas suku lokal dan aktif dalam perdagangan narkotika.

FARC: Separuh Abad Memanggul Senjata

Perang Narkoba

Perang melawan separatisme di Kolombia perlahan berubah menjadi perang narkoba. Pergeseran konflik mengundang campur tangan Amerika Serikat yang berkepentingan mencegah penyeludupan narkoba dari Amerika Selatan. Washington lalu meluncurkan program bantuan bernama Plan Colombia yang menjamin kucuran dana milyaran Dollar AS buat membantu militer Kolombia memerangi FARC dan kartel narkotika.

FARC: Separuh Abad Memanggul Senjata

Berjuta Derita

Perang sudara paling lama di Amerika Selatan ini bertanggungjawab atas kematian sedikitnya 220.000 orang dan jutaan pengungsi. Menurut data pemerintah Kolombia, korban perang saudara yang bersifat langsung atau tidak langsung mencapai 7,6 juta orang. Kolombia saat ini mencatat korban ranjau terbesar di dunia setelah Afghanistan

FARC: Separuh Abad Memanggul Senjata

Negosiasi Tanpa Henti

Perundingan damai antara FARC dan pemerintah pada pertengahan 80an menemui jalan buntu setelah 3000 kader partai politiknya dibunuh oleh milisi sayap kanan. Tahun 2002 negosiasi kembali gagal menyusul aksi para pemberontak membajak pesawat untuk menculik seorang senator. Upaya terakhir yang dimulai tahun 2012 di Havana akhirnya berujung perjanjian damai pada Agustus 2016.

FARC: Separuh Abad Memanggul Senjata

Demobilisasi Gerilayawan

"Kami sudah mencapai perjanjian final," untuk mengakhiri konflik dan menciptakan perdamaian yang stabil, kata Presiden Juan Manuel Santos. Juni silam kedua pihak menyepakati peta jalan damai yang antara lain mencantumkan demobilisasi dan resosialisasi 8000 gerilayawan FARC.

ts/hp (AP, AFP, Tribunenews.com, Kompas.com, Detik News)

Ikuti kami