1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Puluhan Ribu Demonstran Lumpuhkan Pusat Hong Kong

12 Juni 2019

Puluhan ribu pengunjuk rasa melumpuhkan pusat kota Hong Kong hari Rabu (12/6). Mereka memprotes rencana pemerintah otonomi khusus yang ingin memungkinkan ekstradisi ke Cina daratan.

https://p.dw.com/p/3KCsV
Hongkong Demonstration gegen das Zulassen von Auslieferungen nach China
Foto: Reuters/T. Siu

Para demonstran berpakaian hitam, kebanyakan kaum muda dan mahasiswa, memblokir kantor-kantor pemerintah dan arus lalu lintas di pusat Hong Kong hari Rabu (12/6). Aksi protes massal yang berawal akhir minggu lalu dilanjutkan untuk memprotes Rancangan Undang-Undang yang dipersiapkan pemerintahan daerah khusus Hong Kong.

Aturan baru itu akan memungkinkan ekstradisi dari kawasan khusus Hong Kong ke Cina daratan. Para aktivis di Hong Kong melihat ini sebagai serangan terhadap demokrasi dan hak-hak warga Hong Kong yang dijamin dalam perjanjian serah terima Hong Kong dari Inggris ke Cina tahun 1997.

Dalam kesepakatan serah terima antara Inggris dan Cina disepakati status istimewa Hong Kong dalam modus "satu negara, dua sistem". Kesepakatan yang berlaku selama 50 tahun itu antara lain menjamin status otonomi khusus, kebebasan berkumpul, pers bebas dan peradilan yang independen.

Para demonstran khawatir, aturan ekstradisi yang baru akan membuat warga Hong Kong bisa diadili di Cina daratan, di mana sistem peradilan dipandang tidak independen dan hanya tunduk pada perintah Partai Komunis Cina.

Hongkong Demonstration gegen das Zulassen von Auslieferungen nach China
Sebagian demonstran berusaha menerobos barikade menuju gedung pemerintahanFoto: Getty Images/AFP/A. Wallace

Parlemen tunda pembahasan RUU

Para pengunjuk rasa berdemonstrasi terutama berkumpul di di dalam dan di sekitar Lung Wo Road, jalan arteri utama timur-barat dekat kantor Kepala Eksekutif Hong Kong, Carrie Lam. Ratusan polisi anti huru hara, beberapa bersenjatakan tongkat dan perisai plastik dikerahkan untuk menghentikan mereka.

Aksi protes massal sebelumnya terhadap RUU ini pada hari Minggu (9/12) sempat ricuh, ditandai bentrokan antara aparat keamanan dan demonstran. Untuk mencegah kericuhan, barisan polisi anti huru hara yang diturunkan hari Rabu  jauh lebih sedikit daripada sebelumnya.

Menjelang pagi, ketika kerumunan massa terus bertambah, dewan legislatif Hong Kong Legco, yang didominasi oleh para loyalis Beijing, mengatakan akan menunda pembahasan kedua tentang RUU itu "ke tanggal kemudian". Belum jelas kapan pembahasan akan dilanjutkan. Sebelumnya, pemungutan suara untuk RUU yang baru dijadwalkan pada 20 Juni.

Hongkong Demonstration gegen das Zulassen von Auslieferungen nach China
Polisi menggunakan semprotan air untuk menghalau demonstranFoto: Getty Images/AFP/A. Wallace

Pusat kota lumpuh

Lebih dari 100 bisnis di Hong Kong mengatakan mereka akan tutup hari Rabu sebagai tanda solidaritas dengan para demonstran. Serikat mahasiswa terbesar mengumumkan akan memboikot pelajaran dan kuliah untuk ikut demonstrasi.

Sederetan serikat pekerja di sektor transportasi, pekerjaan sosial dan tenaga pengajar juga menyatakan akan ikut aksi protes atau mendorong anggota untuk berpartisipasi. Serikat pengemudi bus menyatakan akan mendorong anggotanya untuk mengemudi dengan lambat untuk mendukung protes.

Pasar saham Hong Kong merosot di perdagangan pagi lebih dari 1,6 persen di tengah gejolak di seluruh kota. Warga Hong Kong selama ini memang menikmati kebebasan politik yang tidak ada di Cina daratan.

hp/vlz (rtr, afp, ap)