1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Raja Belgia Umumkan Penyerahan Tahta

Christoph Hasselbach4 Juli 2013

Raja Albert II dari Belgia mengumumkan akan turun dari tahtanya tanggal 21 Juli mendatang. Ia menyerahkan tahta kepada anaknya, Pangeran Phillippe.

https://p.dw.com/p/191we
Belgium's King Albert II gives a televised address to the nation July 3, 2013.
Raja Albert II BelgiaFoto: Reuters

Ketika berkunjung ke Thailand belum lama ini, wartawan bertanya kepada Pangeran Philippe, apakah ia siap naik tahta. Philippe kelihatan terkejut atas pertanyaan itu dan menjawab: "Kami akan lihat, kapan saat itu akan tiba." Kini Pangeran Philippe harus segera bersiap naik tahta.

Raja Belgia Albert ke-II secara mendadak Rabu malam (03/07) mengumumkan bahwa ia akan segera menyerahkan tahta kepada pewarisnya. Penyerahan tahta akan dilangsungkan tanggal 21 Juli, Hari Besar Nasional untuk memperingati pengangkatan raja pertama Belgia, Leopold I. Sebagai alasan, Raja Albert menyebut kondisi kesehatan dan usia lanjutnya.

Tokoh Pemersatu Belgia

Albert II sudah memerintah selama 20 tahun. Ia terpaksa menjadi raja karena kakaknya, Baudouin tahun 1993 meninggal. Sebelumnya, Albert dikenal sebagai anggota kerajaan yang lebih tertarik bersenang-senang.

Namun ia kemudian menjadi Raja yang dihormati karena berusaha mempertahankan persatuan Belgia. Negara kecil ini terbagi atas daerah Flamen (Vlandrian) yang berbahasa Belanda dan daerah Wallonen (Walonia) yang berbahasa Perancis. Kedua kelompok sering terlibat sengketa politik. Kelompok Flamen beberapa kali mengancam akan memisahkan diri.

Belgium s royal family - King Albert II, Crown Prince Philippe.
Raja Albert II (kiri) dan Pangeran Philippe (kanan)Foto: Imago

Pertikaian politik ini berkembang menjadi krisis pemerintahan selama tahun 2010 dan 2011. Tidak ada kelompok yang mampu membentuk pemerintahan. Belgia selama satu setengah tahun sempat mengalami kekosongan pemerintahan. Negara itu hampir terpecah.

Pada puncak krisis, Raja Albert pada Pidato Natal 2010 mengimbau para politisi agar mencari solusi dan mempertahankan persatuan nasional. "Kelihatannya, seni mencari kompromi politik telah dilupakan selama beberapa tahun terakhir," kata Albert.

Albert mengimbau para pimpinan politik Belgia untuk berunding. "Saatnya telah tiba untuk menunjukkan keberanian sejati, yaitu berupaya keras mencari kompromi yang mempersatukan, bukan yang memperuncing perbedaan." Belgia akhirnya berhasil membentuk pemerintahan baru di bawah Perdana Menteri Elio di Rupo.

Keluarga Kerajaan Dikritik

Beberapa waktu terakhir muncul kritik atas keluarga kerajaan yang dianggap terlalu banyak menghabiskan dana negara. Apalagi Belgia sedang menghadapi krisis ekonomi. Anggaran keluarga kerajaan kemudian dipotong. Mereka juga diharuskan membayar pajak seperti warga Belgia yang lain.

Raja Albert juga sedang menghadapi gugatan. Seorang wanita berusia 45 tahun, Delphine Boel, menuntut agar diakui sebagai anaknya. Tapi sebagai raja, Albert tidak bisa dipaksa melakukan tes genetika. Masih belum jelas, apakah ia harus melakukan tes itu jika sudah turun tahta.

Sekarang, suara-suara yang menuntut perpecahan Belgia mulai bungkam. Apakah Pangeran Philippe sebagai raja yang baru akan bisa menjadi tokoh pemersatu seperti ayahnya, masih harus ditunggu.

Selain penduduk berbahasa Belanda dan Perancis, sebenarnya masih ada kelompok kecil yang tidak terlalu berpengaruh, yaitu penduduk yang berbahasa Jerman. Belgia mengakui ketiga bahasa sebagai bahasa resmi. Raja Belgia yang pertama memang berdarah Jerman. Raja Albert tidak pernah melupakan komunitas berbahasa Jerman. Ketika mengumumkan penyerahan tahta Rabu malam, ia juga berpidato dalam bahasa Jerman.