Ratusan Tentara Anak Bertempur Bagi ISIS di Marawi

Live
00:39 menit
Marawi masih membara. Militer Filipina terus lancarkan gempuran, namun seratusan milisi ISIS masih bertahan. Kaum jihadis kini juga mengerahkant tentara anak-anak dan perisai hidup dari warga yang disandera.

Militer Filpina terus menggempur posisi pertahanan teroris Maute yang berafiliasi dengan ISIS di Marawi. Manila melaporkan, memasuki pekan ketujuh gempuran, diduga hanya tersisa 100 milisi teroris yang masih bertahan. 

Tapi saat terkepung oleh pasukan reguler, milisi teror itu merekrur ratusan anak-anak menjadi jihadis dengan propaganda bohong dan iming-iming bayaran uang. 
Berapa jumlah tentara anak-anak ini sulit diprediksi. 

Seorang ex tentara anak bernama Abdul (17) berhasil melarikan diri, setelah menyusup masuk ke mesjid yang dipenuhi warga sipil, lalu menukar baju seragamnya. Abdul yang direkrut saat berumur 12 tahun mengatakan, ratusan anak bahkan ada yang baru berumur 7 tahun, bertempur di pihak pemberontak. 

Perekrutan anak-anak menjadi kader ISIS dan penimbunan senjata serta amusisi telah dilakukan jauh sebelum milisi Maute bergerak. Propagandanya dengan membohongi anak-anak bahwa militer Filipina membunuhi perempuan Muslim. Abdul yang beranjak dewasa mengetahui bahwa ini bohong dan kabur dan cengkraman ISIS. 

Laporan resmi pemerintah, sejauh ini sudah 366 jihadis tewas, selain itub  39 warga sipil dan 87 pasukan pemerintah juga meninggal. Lebih 400.000 orang terpaksa mengungsi meninggalkan kampung halaman mereka yang porak peranda dihantam pertempuran. Kota Marawi dilaporkan jadi kota hantu yang hanya dihuni segelintit jihadis ISIS serta warga yang dijadikan perisai hidup.

as/vlz(reuters)

Marawi: Menyerah atau Mati

Jihadis ISIS Masih Bertahan

Militer Filipina belum berhasil sepenuhnya membebaskan kota Marawi dari cengkraman jihadis Islamic State (ISIS). Sampai hari ke-8 operasi militer, masih terus terdengar kontak senjata di jalanan kota di selatan Filipina itu.

Marawi: Menyerah atau Mati

Kibaran Bendera Hitam Teroris

Milisi gerombolan "Maute" menyerang kota dan mengibarkan bendera hitam ISIS, setelah militer menangkap salah satu pentolannya di kota Marawi. Milisi Maute di Mindanao telah menyatakan kesetiaan kepaada kalifat ISIS.

Marawi: Menyerah atau Mati

Korban Tewas di Pinggir Jalan

Teroris kalifat Islamic State (ISIS) menunjukkan kebrutalannya dalam perang melawan tentara pemerintah Filipina. Kaum jihadis juga tak kenal ampun membunuh anak-anak dan melemparkan jasadnya ke parit di pinggir jalan.

Marawi: Menyerah atau Mati

Helikopter Ganggu Puasa Ramadan

Militer Filiipina juga gempur jihadis "Maute" dari udara menggunakan helikopter. Seorang jurubicara pemerintah meminta maaf kepada warga Muslim Marawi, karena dengan itu menganggu ibadah puasa mereka.

Marawi: Menyerah atau Mati

Darurat Militer Basmi Separatisme

Presiden Rodrigo Duterte menetapkan status darurat perang di kawasan Marawi dan sekitarnya. Ia juga menyerukan kelompok separatis moderat untuk bergabung dalam ketentaraan. Sejak tahun 1960-an militer berperang untuk menumpas kaum separatis Muslim di kawasan selatan Filipina.

Marawi: Menyerah atau Mati

Warga Mengungsi

Lebih 90 persen penduduk kota Marawi telah mengungsi meninggalkan kotanya yang dikoyak pertempuran. Banyak yang tergesa-gesa dan panik menyelamatkan diri dengan meninggalkan harta benda miliknya.

Marawi: Menyerah atau Mati

Marawi Membara

Kontak senjata hebat terus terjadi di sejumlah bagian kota. Marawi kian membara. Jumlah korban tewas terus bertambah, banyak jasad bergelimpangan di jalanan. Organisasi bantuan lokal melaporkan lebih 100 orang tewas dalam pertempuran.

Marawi: Menyerah atau Mati

Terkepung dan Mengharap Evakuasi

Lebih 2000 warga masih terjebak di dalam kota dan mengharap segera dievakuasi. Saat ini mereka tersebar di 38 kamp penampungan sementara di kota Marawi yang terus dikoyak kontak senjata.

Marawi: Menyerah atau Mati

Yakin Menang

"Mereka yang tidak mau menyerah, akan mati". Begitu ancaman jurubicara militer terhadap jihadis "Maute" di kota Marawi. Tapi militer masih harus bekerja keras bertempur melawan kaum militan, untuk merebut kawasan kota, jalan demi jalan dan rumah demi rumah. Penulis: Peter Hille (as/ml)

Ikuti kami