1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Akses Internet di Jerman Sangat Lelet

19 Januari 2018

Siapa sangka negara berteknologi canggih seperti Jerman memiliki akses internet yang lelet. Namun, demikianlah kesimpulan studi terbaru: kecepatan internet di negara ini tidak sesuai janji provider.

https://p.dw.com/p/2r9Hv
Computer Mouse mit Schneckenhaus, Zwei Klassen Internet, Netzneutralität
Foto: picture-alliance/dpa/C.Ohde

Hasil laporan yang dirilis oleh Badan Pengawas Jaringan Federal Jerman (BNetzA) Rabu (17/01), mengungkapkan, Jerman – yang dikenal sebagai negara yang efisien dan unggul dalam ilmu pengetahuan – memiliki akses internet secepat "siput." Studi yang dilakukan terhadap pengguna provider internet terkemuka di negara itu dilaksanakan dalam rentang waktu Oktober 2016 hingga September 2017.

29 persen pengguna internet di Jerman mengaku broadband internet yang mereka miliki jauh lebih lambat dari yang dijanjikan oleh provider dalam kontrak mereka. Dan hampir tak seorang pun, bahkan mereka yang membayar premi untuk pelayanan terbaik, mencapai kecepatan "maximum" sesuai janji perusahaan penyedia jasa. Kecepatan koneksi mobile internet bahkan lebih buruk lagi. Hanya 18.6 persen pengguna telepon pintar yang bandwidth internetnya setengah dari yang tercantum dalam kontrak. Situasi ini jauh lebih parah dibandingkan tahun 2015 yang persentasinya mencapai 27,6 persen.

Di Jerman, adalah hal yang umum menjalin kontrak dengan provider tertentu untuk kurun waktu panjang. Di Eropa, dan di belahan dunia lainnya, operator telekomunikasi tidak terikat secara hukum untuk menyediakan layanan broadband dengan tingkat kecepatan tertentu. Para provider di Jerman mengklaim menyediakan paket internet dengan kecepatan berkisar 2 sampai 50 megabits per detik.  

Di balik kedok 'gangguan teknis'

Studi ini menjadi semakin penting mengingat Jerman adalah salah satu negara pertama di Eropa yang mengadopsi teknologi Long Term Evolution (LTE) berkecepatan tinggi secara nasional. Namun, hasil penelitian menunjukkan bahwa hanya 1,6 persen dari pengguna telepon pintar di Jerman yang mencapai kecepatan internet yang dijanjikan provider mereka.

Meskipun temuan BNetzA ini membuka kedok buruknya layanan intenet di Jerman, namun sanksi maupun denda bagi penyedia tidak ada. Asosiasi industri Bitkom menanggapi laporan tersebut dengan mengatakan jawaban „terjadi gangguan teknis" " kadang-kadang menjadi kedok yang dipakai perusahaan untuk menyediakan layanan sesuai yang dijanjikan.

Penyedia seakan tidak peduli, bahwa pelayanan buruk mereka bisa mempengaruhi ekonomi Jerman, karena kecepatan internet yang lamban bisa turut menghambat persaingan bisnis di tingkat internasional.

Bagaimana dengan Indonesia?

Riset Akamai, perusahaan pemantau internet dari Korea Selatan, menyebutkan kecepatan rata-rata koneksi di Indonesia membaik dari tahun ke tahun. Kini Indonesia menempati peringkat ke 80 dunia dengan kecepatan koneksi berkisar 6,7 Mbps. Namun Indonesia masih sangat jauh tertinggal dengan negara tetangga Malaysia yang menikmati kecepatan koneksi rata – rata 23, 6 Mbps.

Kualitas mobile internet yang belum baik di Indonesia tak sepenuhnya salah operator, meski penggunan data seluler di Indonesia harusnya lebih efisien dengan mengoptimalkan jaringan yang mampu menggunakan bandwidth internet dengan lebih hemat. Selain itu, masalah besar lainnya adalah  ketersediaan dan pemerataan infrastuktur teknologi komunikasi di berbagai pelosok Indonesia serta regulasi pemerintah.  

Elizabeth Schumacher (Ed: ts/hp) (New York Times, kompas.com, selular.id,)