1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
PolitikAmerika Utara

Saling Serang Trump dan Biden di Debat Perdana Capres AS

30 September 2020

Debat capres pertama antara Trump dan Biden yang berlangsung Selasa (29/09) malam waktu setempat didominasi dengan hujanan interupsi, diskusi panas, dan ejekan. Dari “apa kabarmu, Bung?” sampai “bisakah kau diam, Bung?”

https://p.dw.com/p/3jC06
Debat Perdana Capres AS antara Trump dan Biden
Debat Perdana Capres AS antara Trump dan Biden.Foto: Morry Gash/Reuters

Presiden Donald Trump dan Joe Biden, penantangnya dari Demokrat bertemu di panggung debat Selasa malam (29/09) di Cleveland, Ohio. Ini merupakan debat pertama dari tiga debat calon presiden (capres) yang akan digelar jelang pemilihan umum (pemilu) 3 November mendatang.

Debat pertama ini berfokus pada masalah domestik AS, dengan pandemi COVID-19, kekosongan jabatan Mahkamah Agung, ekonomi, dan keadilan rasial menjadi agenda utama.

Debat sebenarnya dimulai dengan cukup tenang, terlihat ketika Presiden Donald Trump melangkah menuju mimbarnya, Joe Biden memberi anggukan dan menanyakan kabarnya: “Bagaimana kabarmu, Bung?”

Namun, 15 menit berselang, debat kemudian dihujani interupsi satu sama lain sampai akhirnya Biden berseru: “Bisakah kau diam, Bung?”

Dua kandidat soal keadilan rasial

Mengenai masalah kerusuhan sipil dan protes yang meluas di AS, Trump ditanya apakah dia akan mengecam supremasi kulit putih dan kelompok ekstremis sayap kanan.

“Tentu, saya bersedia melakukan itu,” jawab Trump, tanpa membuat pernyataan secara spesifik. Dia kemudian memutar jawabannya untuk membidik kelompok-kelompok sayap kiri, menyalahkan mereka karena memicu kekerasan.

Sementara, Biden mengatakan bahwa dia “sangat menentang seruan pembubaran polisi,” yang datang dari pengunjuk rasa anti-rasisme setelah kebrutalan polisi terhadap warga kulit hitam di AS.

“Yang saya dukung adalah polisi diberi kesempatan untuk menangani masalah yang mereka hadapi… Mereka membutuhkan lebih banyak bantuan,” katanya.

“Kita harus memiliki polisi komunitas di mana petugas bisa mengenal orang-orang di masyarakat. Saat itulah kejahatan turun,“ kata mantan wakil presiden itu.

Trump merespons laporan NYT soal pajak

Trump menanggapi laporan New York Times (NYT) yang menuduhnya hanya membayar USD 750 (Rp 11 juta) dalam bentuk pajak penghasilan federal pada tahun 2016 dan 2017.

Dia mengaku telah membayar “jutaan dolar dalam bentuk pajak”.

“Itu adalah undang-undang perpajakan. Saya tidak ingin membayar pajak. Sebelum saya datang ke sini, saya adalah seorang pengembang swasta. Seperti setiap orang swasta lainnya, kecuali mereka bodoh, mereka mematuhi undang-undang dan begitulah adanya.”

“(Biden) mengesahkan UU pajak yang memberi kita semua hak istimewa untuk depresiasi dan kredit pajak, dan itu diberikan kepada saya oleh pemerintahan Obama,” kata Trump.

Di tengah pengungkapan bahwa Donald Trump diduga membayar sedikit atau tidak ada pajak selama 15 tahun, Joe Biden justru merilis pengembalian pajak 2019 miliknya satu jam sebelum debat dimulai. Biden dan istrinya, Jill membayar pajak pendapatan federal senilai hampir USD 288.000 (Rp 4 miliar).

Trump cemooh Biden soal masker

Dalam debat, Trump mengejek Biden terkait penggunaan masker. “Saya pakai masker kalau perlu saja. Saya tidak pakai masker seperti dia. Tiap kali kamu melihatnya, dia selalu memakai masker,” kata Trump. “Dia bisa saja berbicara dari jarak 200 kaki dan dia tetap muncul memakai masker terbesar yang pernah saya lihat,” tambahnya.

Joe Biden menanggapinya dengan mengatakan bahwa masker “membuat perbedaan besar”.

“Kepala CDC sendiri mengatakan jika semua orang mengenakan masker dan menjaga jarak sosial dalam periode sekarang dan Januari, kita akan menyelamatkan 100.000 nyawa,” kata Biden.

Debat panas antara Trump dan Biden terjadi saat membahas topik perawatan kesehatan, apakah Undang-Undang Perawatan Kesehatan yang Terjangkau – yang juga dikenal sebagai Obamacare – perlu dihapus atau tidak.

Ketika Trump menyela jawaban lawannya, Biden membalas dengan mengatakan: “Bisakah kau diam, Bung!”

Penanganan pandemi COVID-19

Joe Biden menyerang Trump atas ketidakmampuannya menangani pandemi virus corona yang telah menewaskan lebih dari 200.000 orang di AS.

“Dia panik, atau dia melihat pasar saham,” kata Biden, merujuk pada seruan Trump untuk membuka kembali ekonomi saat dia meremehkan ancaman virus. “Anda adalah presiden terburuk yang pernah dimiliki Amerika,” ujar Biden kepada Trump.

Trump kemudian menanggapinya dengan mengatakan bahwa pemerintahannya telah melakukan “pekerjaan yang hebat,” dan kemudian membalas rivalnya dengan mengatakan: “Tapi kukatakan padamu, Joe, kau tidak akan pernah bisa melakukan pekerjaan yang kami lakukan”.

Kedua kandidat soal penerimaan hasil pemilu

Ketika ditanya apakah mereka akan menerima hasil pemilu, Trump menangkis pertanyaan itu dan mengatakan bahwa hasil akhir dari pemilu tidak akan diketahui “selama berbulan-bulan”. Presiden AS berusia 74 tahun itu kembali menyalahkan sistem mail-in voting, menuduhnya sebagai kampanye “penipuan”.

Sementara Biden mengatakan dia akan menerima hasil pemilu jika dia kalah, tetapi mendorong para pemilih untuk membuat suara mereka didengar. Ia juga mengecam Trump atas apa yang dia katakan sebagai upaya seorang presiden untuk menahan suara.

“Anda memiliki kendali untuk menentukan seperti apa negara ini dalam empat tahun mendatang,” kata Biden.

Debat pertama capres AS berdurasi 90 menit ini digelar di sebuah atrium yang sebelumnya digunakan sebagai rumah sakit darurat pasien COVID-19. Karena pembatasan akibat virus corona, jumlah penonton yang hadir di dalam atrium hanya kurang dari 100 orang. Jabat tangan yang jadi salah satu tradisi dalam debat pun terpaksa dihilangkan karena pandemi yang sedang berlangsung. 

Debat dimoderatori oleh jurnalis kawakan dari Fox News, Chris Wallace. Ia juga menjadi moderator dalam debat capres pada tahun 2016.

gtp/rap (AP, Reuters)