1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
SosialJerman

Sandiaga Uno: Indonesia Ingin ''Membumbui'' Dunia

Prita Kusumaputri
25 Agustus 2021

Lewat Indonesia Spice Up The World, nilai ekspor rempah dan bumbu khas Indonesia ditargetkan mampu mengalami peningkatan hingga 2 miliar dolar AS. Indonesia juga menargetkan 4.000 restoran nusantara di luar negeri.

https://p.dw.com/p/3zQFa
Menparekraf Sandiaga Uno
Menparekraf Sandiaga Uno optimistis Indonesia mampu menjangkau peningkatan ekspor rempah dan bumbu nusantara hingga dua miliar dolar ASFoto: Ministry of Tourism and Creative Economy

Indonesia berupaya memperkenalkan kekayaan rempah dan bumbu tradisionalnya ke luar negeri lewat program Indonesia Spice Up The World.

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Salahuddin Uno mengatakan peluang ekspor rempah dan bumbu masakan Indonesia perlu ditingkatkan, agar bisa menggerakkan ekonomi dan membuka lapangan kerja seluas-luasnya

‘'Jadi ini adalah reenacting ratusan tahun yang lalu, waktu itu orang Portugis, Belanda, Eropa, dan belahan dunia lain datang ke Indonesia untuk mencari rempah. Sekarang kita balik, bahwa kita yang "membumbui" dunia dengan program Indonesia Spice Up The World,'' ujar Sandiaga kepada DW Indonesia.

Meski diakuinya, kuliner Indonesia masih kalah populer dibandingkan kuliner restoran Cina, Jepang, India, Thailand, dan Malaysia, tetapi Indonesia punya peluang. Menurutnya, Indonesia perlu lebih menyinkronkan upaya memperkenalkan kuliner nusantara di mancanegera.

Sate menjadi salah satu di antara lima kuliner andalan khas nusantara
Sate menjadi salah satu di antara lima kuliner andalan khas nusantaraFoto: Ministry of Tourism and Creative Economy

Gaungkan lima kuliner andalan nusantara

Indonesia telah menetapkan lima kuliner andalan, yakni rendang, soto, sate, nasi goreng, dan gado-gado. Dari kuliner-kuliner ini, Sandiaga berharap nilai ekspor rempah dan bumbu masakan Indonesia bisa bertambah menuju peningkatan ekspor hingga dua miliar dolar AS dan menargetkan 4.000 restoran Indonesia di luar negeri. 

‘‘Kita akan merangkul diaspora. Saya sudah meluncurkan inisiatif yaitu 1.000 creative diaspora. Jadi untuk yang di Jerman silakan kita akan arahkan menuju Gen WI atau Generasi Wonderful Indonesia,'' tambahnya.

Peran serta diaspora Indonesia juga turut menentukan peningkatan kepopuleran kuliner Indonesia di luar negeri.

Dino Patti Djalal
Ketua Dewan Pembina Indonesian Diaspora Network (IDN) Dino Patti DjalalFoto: Privat

Tambah ketersediaan koki Indonesia di luar negeri

Ketua Dewan Pembina Indonesian Diaspora Network (IDN), Dino Patti Djalal, mengatakan para diaspora antusias menyambut ide ini. Pada dasarnya, keinginan memperkenalkan rempah nusantara ke luar negeri juga merupakan aspirasi mereka sejak dulu.

Namun, menurutnya pelaku kuliner Indonesia di luar negeri masih kalah daripada pelaku kuliner negara- negara lain.

‘'Tidak usah jauh-jauh di Asia Tenggara kita banyak ketinggalan dan itu harus dikejar karena makanan kita, mohon maaf, lebih enak daripada makanan Singapura atau makanan Filipina,'' ucap Dino kepada DW Indonesia. 

Menurutnya, tantangan utama minimnya restoran nusantara di luar negeri akibat kurangnya ketersediaan koki Indonesia. Selain itu, diaspora Indonesia lebih menyukai kerja professional di kantor dibandingkan membuka restoran.

‘'Kenapa tidak kita membuat suatu pool di mana chef yang sudah siap, yang sudah dilatih masakan Indonesia dan siap berangkat itu bisa dengan mudah dicari di sana (luar negeri),'' tambahnya. 

Butuh waktu dan usaha yang lebih lama

Seorang pelaku pariwisata ekonomi kreatif, sekaligus pemilik ‘‘Jawa Restaurant‘‘ di Hamburg, Jerman, Ming Hwee Lie, mengatakan perlu ada peningkatan sosialisasi kuliner Indonesia di luar negeri.

Menurut Lie, kebanyakan orang di luar negeri masih berpikir bahwa nasi goreng adalah masakan Asia, dan belum spesifik mengenalnya sebagai kuliner khas Indonesia. Oleh karena itu, diperlukan peningkatan sosialisasi terkait kuliner-kuliner khas nusantara.

‘‘Kita juga menerangkan ‘nasi‘ itu namanya saja sudah ‘nasi goreng‘. Namanya sudah Indonesia, restoran Cina itu mengambil (namanya) nasi goreng. Bahasa Jermannya kan "Reis" (…) tapi mereka tidak tahu bawa nasi goreng itu khasnya dari Indonesia,'' ujar Hwee Lie kepada DW Indonesia.

Lie menambahkan butuh waktu yang tidak sebentar untuk meyakinkan warga Jerman agar mau mencicipi nasi goreng khas Indonesia yang secara bentuk berbeda dengan nasi goreng dari restoran Asia kebanyakan. Namun, setelah menjalankan usaha kuliner selama puluhan tahun di Jerman, menurutnya lambat laun cita rasa nusantara diterima dengan baik oleh warga lokal.

(pk/ha)