1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Satu Orang Bunuh Diri Setiap 40 Detik

5 September 2014

Satu orang bunuh diri setiap 40 detik – lebih banyak dari total jumlah korban perang dan bencana alam selama setahun – dengan angka tertinggi terjadi diantara orang tua, demikian laporan PBB.

https://p.dw.com/p/1D7Y3
Foto: vkara - Fotolia.com

Dalam laporan pertama mereka mengenai bunuh diri, badan kesehatan PBB, WHO, menyalahkan peliputan media yang intens dalam kasus bunuh diri para selebritas sebagai pemicu masalah.

“Bunuh diri dalah sebuah kasus kesehatan masyarakat yang luar biasa. Ada satu kasus bunuh diri setiap 40 detik – itu adalah jumlah yang besar,“ kata Shekhar Saxena, direktur kesehatan mental WHO.

“Bunuh diri membunuh lebih banyak orang daripada konflik, perang dan bencana alam,“ kata dia Jenewa. “Ada 1,5 juta kematian akibat kekerasan setiap tahun di dunia, yang 800.000 diantaranya adalah bunuh diri.“

Beberapa kawasan yang tingkat bunuh dirinya tinggi ditemuka di Eropa bagian tengah dan timur serta Asia, dengan 25 persen kasus terjadi di negara-negara kaya, kata laporan tersebut.

Laki-laki hampir dua kali lipat lebih banyak dibanding perempuan yang mencabut nyawa mereka sendiri. Metode umum yang bisa dipakai adalah gantung diri, menembak diri sendiri, dan khususnya di wilayah terpencil mereka menggunakan racun serangga.

“Secara global, tingkat bunuh diri tertinggi dunia terjadi pada orang-orang berusia 70 tahun keatas. Namun pada beberapa negara, tingkat tertinggi ditemukan pada mereka yang masih muda,“ kata WHO. “Secara khusus di seluruh dunia, bunuh diri adalah penyebab kedua tertinggi kematian diantara orang berumur 15-29 tahun.“

Jangan mengagungkan bunuh diri

Alexandra Fleischmann, salah seorang penulis laporan tersebut, mengatakan sebagian kesalahan ada pada publikasi atas kasus bunuh diri orang-orang terkenal, seperti antara lain yang terjadi pada actor Hollywood, Robin Williams. (Baca:

Ella Arensman, presiden International Association for Suicide Prevention, mengatakan bahwa setelah kemunculan berita kematian Robbin Williams, ia menerima “lima surat elektronik dari orang-orang yang pulih (dari) krisis bunuh diri dan menyatakan mereka kini kembali berpikir untuk bunuh diri.”

Liputan luar biasa atas kasus bunuh diri orang terkenal bisa memiliki efek penularan kepada orang-orang yang rentan,” kata dia, mengacu kepada “peningkatan tajam” kasus bunuh diri setelah pemain bola Jerman Robert Enke bunuh diri pada 2009.

”Bunuh diri seharusnya tidak diglamorisasi atau disensasionalkan,” kata Fleischmann, sambil menyerukan kepada media massa agar tidak menyebut bunuh diri sebagai penyebab kematian pada bagian pertama laporan, namun menempatkan mereka di bagian akhir,” dengan menyebut di mana (para audiens) bisa meminta pertolongan.”

WHO, yang menyebut bunuh diri sebagai masalah kesehatan mental utama masyarakat yang harus dihadapi dan dikurangi jumlahnya, mempelajari kasus bunuh diri di 172 negara selama sepuluh tahun terkahir.

Dalam laporan, pada 2012, negara-negara berpenghasilan tinggi mempunyai tingkat bunuh diri sedikit lebih tinggi – 12,7 jiwa untuk setiap 100.000 orang, dibanding 11,2 di negara berpenghasilan rendah atau menengah.

Namun mengingat populasi kedua kategori terakhir ini lebih tinggi, maka mereka menyumbang angka yang lebih besar tiga perempat dari total di seluruh dunia.

Asia Tenggara, termasuk Korea Utara, India, Indonesia dan Nepal, menyumbang lebih dari sepertiga kasus bunuh diri tahunan di seluruh dunia.

WHO memperingatkan bahwa jumlah kasus bunuh diri sering tidak lengkap, dengan banyak negara yang gagal melakukan perhitungan akurat.

Sebagai tambahan, ”ada banyak percobaan bunuh diri untuk setiap kematian,” kata kepala WHO Margaret Chan.

“Dampak pada keluarga, teman, dan masyarakat sangat buruk dan jauh jangkauannya, bahkan lama setelah orang-orang terkasih mereka melakukan bunuh diri,” tambah dia.

Bunuh diri dan percobaan bunuh diri dianggap sebagai kejahatan di 25 negara, sebagian besar di Afrika, Amerika Selatan dan Asia, termasuk Indonesia.

Negara paling banyak mengalami kasus bunuh diri adalah Guyana (44.2 per 100.000), disusul Korea Utara dan Selatan (38.5 and 28.9 respectively).

Berikutnya Sri Lanka (28.8), Lithuania (28.2), Suriname (27.8), Mozambik (27.4), Nepal dan Tanzania (masing-masing 24.9), Burundi (23.1), India (21.1), dan Sudan Selatan (19.8).

Berikutnya adalah Rusia dan Uganda (keduanya 19.5), Hungaria (19.1), Jepang (18.5), dan Belarusia (18.3).

Tantangan terbeesar, adalah para korban bunuh diri seringkali adalah mereka yang terpinggirkan dari masyarakat, banyak diantaranya miskin dan rentan.

ab/rn (afp,ap,rtr)